
Pengetahuan Ibu Hamil tentang Diabetes Gestasional
Pendahuluan
Kehamilan adalah fase penting dalam kehidupan seorang wanita, namun juga masa yang rentan terhadap berbagai komplikasi kesehatan, salah satunya adalah Diabetes Mellitus Gestasional (DMG). DMG dapat memengaruhi kesehatan ibu serta janin, dan jika tidak dikelola dengan baik, berpotensi menyebabkan komplikasi jangka pendek maupun jangka panjang. Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil memiliki pengetahuan yang memadai tentang DMG: mulai dari definisi, faktor risiko, metode skrining, hingga bagaimana nutrisi dan aktivitas fisik dapat berperan dalam pencegahan. Artikel ini bertujuan menggali aspek-aspek tersebut secara komprehensif agar ibu hamil, keluarga, dan tenaga kesehatan dapat bersama-sama meningkatkan kesadaran dan pencegahan DMG.
Definisi Diabetes Gestasional
Definisi Diabetes Gestasional secara Umum
Diabetes gestasional merujuk pada kondisi intoleransi glukosa atau hiperglikemia (kadar gula darah tinggi) yang pertama kali terdeteksi selama masa kehamilan, pada wanita yang sebelumnya tidak pernah didiagnosis diabetes. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id] Kondisi ini biasanya muncul pada trimester kehamilan tertentu dan bisa bersifat sementara, setelah melahirkan, kadar gula darah bisa kembali normal pada sebagian wanita. [Lihat sumber Disini - ejurnal.ung.ac.id]
Definisi Diabetes Gestasional menurut KBBI
Menurut definisi formal (meskipun istilah “diabetes gestasional” jarang muncul spesifik di KBBI secara online), DMG dapat dikategorikan sebagai bentuk gangguan metabolisme karbohidrat, yaitu kondisi dimana tubuh mengalami intoleransi glukosa selama kehamilan., definisi ini sejalan dengan pengertian umum gangguan glukosa/diabetes mellitus dalam kehamilan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Definisi Diabetes Gestasional menurut Para Ahli
Sejumlah ahli dan penelitian di Indonesia mendefinisikan DMG sebagai berikut:
-
Dalam artikel “Klasifikasi Diagnosis Penyakit Diabetes Gestasional pada Ibu” disebut bahwa DMG adalah kondisi kadar gula darah tinggi yang terjadi pada masa kehamilan, biasanya dapat dideteksi antara usia kehamilan 24, 28 minggu. [Lihat sumber Disini - j-ptiik.ub.ac.id]
-
Studi “Manajemen Kehamilan dengan Diabetes Melitus Gestasional” menyatakan bahwa DMG adalah hiperglikemia spontan yang berkembang selama kehamilan pada wanita yang sebelumnya tidak terdiagnosis diabetes, dan terkait komplikasi kehamilan serta potensi perkembangan diabetes di masa mendatang. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dalam tinjauan pustaka yang membahas prevalensi dan faktor risiko, DMG didefinisikan sebagai gangguan toleransi glukosa yang pertama kali ditemukan saat hamil, dengan risiko komplikasi obstetri maternal dan perinatal. [Lihat sumber Disini - jurnal.umsu.ac.id]
-
Rekap literatur terbaru menunjukkan bahwa DMG adalah intoleransi glukosa yang terdeteksi pertama kali selama kehamilan dan dapat membawa risiko komplikasi baik bagi ibu maupun janin jika tidak dikelola dengan baik. [Lihat sumber Disini - ojs.phb.ac.id]
Dari berbagai definisi di atas terlihat bahwa inti pengertian DMG selalu melibatkan intoleransi glukosa atau hiperglikemia yang muncul selama kehamilan, pada wanita yang sebelumnya “normal”, dan berpotensi menimbulkan komplikasi.
Definisi dan Faktor Risiko Diabetes Gestasional
Faktor Risiko Diabetes Gestasional merupakan variabel-variabel yang dapat meningkatkan kemungkinan seorang ibu hamil mengalami DMG. Berikut uraian mengenai faktor-risiko tersebut berdasarkan bukti ilmiah.
Faktor Risiko yang Paling Umum
-
Usia Ibu: Semakin bertambah usia ibu saat hamil, risiko DMG meningkat. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Indeks Massa Tubuh (IMT) / Obesitas / Kelebihan Berat Badan: Ibu hamil dengan IMT tinggi, baik sebelum maupun selama kehamilan, mempunyai risiko lebih besar mengalami DMG. [Lihat sumber Disini - ilkeskh.org]
-
Paritas (jumlah kehamilan sebelumnya): Banyak penelitian menunjukkan bahwa multiparitas (pernah hamil beberapa kali) menjadi faktor yang meningkatkan kemungkinan DMG. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Riwayat keluarga dengan diabetes mellitus: Ibu dengan keluarga yang memiliki riwayat diabetes memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami DMG. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesnh.ac.id]
-
Riwayat melahirkan bayi besar (makrosomia) sebelumnya: Riwayat ini dikaitkan dengan risiko DMG di kehamilan berikutnya. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesnh.ac.id]
-
Gaya hidup kurang aktif / aktivitas fisik rendah: Aktivitas fisik rendah dan pola hidup sedentari menjadi faktor prediktor DMG. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Faktor Lain yang Juga Berpengaruh
Beberapa literatur juga menyinggung bahwa faktor hormonal, perubahan metabolik selama kehamilan, dan resistensi insulin, yang secara alami meningkat selama kehamilan, turut berkontribusi terhadap munculnya DMG. [Lihat sumber Disini - j-ptiik.ub.ac.id]
Data Prevalensi sebagai Bukti Penting
Menurut studi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (2023), prevalensi DMG berdasarkan kriteria diagnosa bervariasi tergantung pada kriteria, misalnya kriteria NICE menghasilkan angka 14, 9%, sementara berdasarkan WHO 11, 7%. [Lihat sumber Disini - jurnal.uny.ac.id] Studi lain pada tahun 2022, 2023 di Indonesia melaporkan prevalensi DMG di kisaran 1, 9, 3, 6%. [Lihat sumber Disini - midwifery.iocspublisher.org] Data tersebut menunjukkan bahwa DMG bukan hal langka, dan pengetahuan serta pencegahan menjadi sangat penting.
Pengetahuan Ibu tentang Gejala dan Tanda Bahaya
Salah satu aspek penting dalam pencegahan dan deteksi dini DMG adalah kemampuan ibu hamil mengenali gejala atau tanda bahaya. Namun, sebagian penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu hamil tentang DMG sering kali kurang memadai.
Sebagai contoh, dalam studi di Puskesmas Sipiongot (2024) ditemukan bahwa mayoritas ibu hamil memiliki “pengetahuan kurang” tentang DMG, yaitu sebanyak 42, 1%, sedangkan hanya 26, 3% yang memiliki “pengetahuan baik”. [Lihat sumber Disini - jurnal.unar.ac.id] Minimnya pengetahuan ini berisiko membuat deteksi dini terlambat, sehingga komplikasi bisa terjadi.
Gejala DMG kadang tidak spesifik, ibu mungkin tidak merasakan gejala apapun, sehingga tanpa pemahaman, banyak kasus yang terlewat. [Lihat sumber Disini - ejurnal.ung.ac.id] Oleh karena itu, edukasi dan peningkatan pengetahuan ibu hamil sangat penting agar mereka sadar melakukan pemeriksaan rutin.
Metode Skrining dan Pemeriksaan Gula Darah
Deteksi dini melalui skrining glukosa darah adalah langkah kunci dalam mencegah dan menanggulangi DMG. Beberapa poin penting:
-
DMG biasanya dideteksi antara usia kehamilan 24, 28 minggu. [Lihat sumber Disini - j-ptiik.ub.ac.id]
-
Pemeriksaan glukosa dilakukan untuk menilai toleransi glukosa, seringkali melalui tes oral glukosa (glukosa darah puasa dan/atau setelah beban glukosa), sesuai pedoman skrining DM dalam kehamilan. [Lihat sumber Disini - pbperkeni.or.id]
-
Skrining rutin sangat dianjurkan, karena banyak wanita dengan DMG tidak menunjukkan gejala yang jelas, sehingga tanpa pemeriksaan, DMG bisa luput terdeteksi. [Lihat sumber Disini - neliti.com]
Dengan skrining dan pemeriksaan glukosa darah yang tepat dan sesuai waktu, peluang deteksi dini meningkat, sehingga langkah pencegahan komplikasi bisa segera dilakukan.
Peran Nutrisi dan Aktivitas Fisik
Manajemen DMG tidak hanya lewat pemeriksaan rutin, intervensi gaya hidup seperti nutrisi dan aktivitas fisik juga sangat berperan dalam pencegahan dan pengendalian DMG.
-
Edukasi gizi sehat dan aktivitas fisik pada ibu hamil terbukti membantu mengendalikan kadar glukosa darah selama kehamilan. [Lihat sumber Disini - ojs.phb.ac.id]
-
Ibu dengan berat badan berlebih atau obesitas, faktor risiko DMG, membutuhkan perhatian khusus terhadap pola makan, berat badan, dan aktivitas fisik agar risiko DMG bisa diminimalkan. [Lihat sumber Disini - ilkeskh.org]
-
Gaya hidup sehat dengan aktivitas fisik moderat dan nutrisi seimbang tak hanya membantu mencegah DMG, tapi juga mendukung kesehatan kehamilan umum dan tumbuh-kembang janin. [Lihat sumber Disini - pbperkeni.or.id]
Dengan demikian, peran edukasi tentang nutrisi dan aktivitas fisik adalah kunci supaya ibu hamil bisa secara proaktif menjaga kesehatannya.
Pengaruh Pengetahuan terhadap Pencegahan Komplikasi
Pengetahuan ibu hamil tentang DMG secara langsung memengaruhi kemampuan mereka dalam melakukan tindakan pencegahan, baik dari segi deteksi dini maupun gaya hidup.
-
Ibu hamil yang memiliki pengetahuan baik cenderung lebih cepat menjalani skrining dan pemeriksaan gula darah, sehingga DMG terdeteksi lebih awal. Hal ini penting karena tanpa skrining banyak kasus DMG yang tidak terdiagnosis. [Lihat sumber Disini - jurnal.unar.ac.id]
-
Pengetahuan juga memengaruhi kesadaran untuk menjalankan gaya hidup sehat: menjaga berat badan, mengatur pola makan, dan menjaga aktivitas fisik, semua itu membantu menurunkan risiko DMG dan komplikasinya. [Lihat sumber Disini - ojs.phb.ac.id]
-
Dengan pencegahan dan deteksi dini, risiko komplikasi bagi ibu dan bayi dapat diminimalkan, baik komplikasi kehamilan, komplikasi saat persalinan, maupun komplikasi jangka panjang. [Lihat sumber Disini - jurnal.umsu.ac.id]
Sebaliknya, kurangnya pengetahuan dapat membuat ibu hamil lalai dalam skrining atau menjalani gaya hidup sehat, sehingga meningkatkan risiko komplikasi.
Peran Edukasi Tenaga Kesehatan
Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) dan pedoman klinis lainnya menekankan pentingnya edukasi bagi ibu hamil mengenai hiperglikemia dalam kehamilan. [Lihat sumber Disini - pbperkeni.or.id]
-
Tenaga kesehatan (bidan, dokter kandungan, perawat, promotor kesehatan) berperan penting dalam memberikan informasi dan penyuluhan tentang DMG, mulai dari definisi, risiko, gejala, skrining, hingga pencegahan melalui gaya hidup sehat. [Lihat sumber Disini - ejournal.sisfokomtek.org]
-
Program penyuluhan di fasilitas prenatal (klinik, puskesmas, rumah sakit) terbukti meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang DMG, misalnya dalam penelitian di Cirebon: setelah penyuluhan menggunakan leaflet dan kuisioner pretest-posttest, pengetahuan ibu mengenai DMG meningkat secara signifikan. [Lihat sumber Disini - ejournal.sisfokomtek.org]
-
Edukasi komprehensif juga meliputi pemantauan berat badan, pola makan, aktivitas fisik, dan pentingnya pemeriksaan glukosa darah sesuai waktu skrining, agar ibu dan bayi memiliki outcome kehamilan yang lebih baik. [Lihat sumber Disini - repositori.uin-alauddin.ac.id]
Dengan demikian, peran tenaga kesehatan sangat strategis dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan tindakan preventif terhadap DMG.
Dampak Diabetes Gestasional terhadap Ibu dan Bayi
DMG bukan sekadar kondisi sementara, jika tidak ditangani dengan tepat, dapat menimbulkan berbagai komplikasi bagi ibu maupun bayi, baik selama kehamilan, persalinan, maupun jangka panjang. Beberapa dampak tersebut antara lain:
-
Risiko komplikasi kehamilan dan persalinan, ibu dengan DMG memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipertensi gestasional, preeklamsia, persalinan macrosomia, distosia bahu, serta komplikasi lain selama melahirkan. [Lihat sumber Disini - jurnal.uny.ac.id]
-
Risiko bagi bayi, bayi lahir dari ibu dengan DMG bisa memiliki berat badan besar (makrosomia), risiko hipoglikemia neonatal, serta komplikasi perinatal lainnya. [Lihat sumber Disini - jurnal.uny.ac.id]
-
Dampak jangka panjang, ibu dengan riwayat DMG memiliki risiko lebih tinggi untuk mengembangkan diabetes tipe 2 di masa mendatang. [Lihat sumber Disini - researchgate.net] Bayi yang lahir pun bisa memiliki risiko besar mengalami obesitas atau gangguan metabolik di masa dewasa, tergantung bagaimana manajemen kehamilan dan gaya hidup pasca kelahiran. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dampak psikologis dan kesehatan mental, beberapa penelitian juga menyoroti bahwa DMG pada ibu hamil bisa meningkatkan kecemasan, stres, dan risiko depresi selama kehamilan. [Lihat sumber Disini - ejournal.annurpurwodadi.ac.id]
Karena itu, DMG bukan kondisi ringan yang bisa diabaikan. Manajemen dan pencegahan sejak dini sangat penting untuk melindungi kesehatan ibu dan bayi.
Kesimpulan
Diabetes Mellitus Gestasional adalah kondisi toleransi glukosa terganggu yang terdeteksi pertama kali selama kehamilan, dan dapat membawa risiko signifikan bagi ibu serta bayi jika tidak ditangani dengan baik. Faktor risiko seperti usia ibu, obesitas/IMT tinggi, multiparitas, riwayat keluarga diabetes, dan gaya hidup kurang aktif perlu menjadi perhatian serius. Pengetahuan ibu hamil tentang DMG, termasuk gejala, risiko, metode skrining, serta pola hidup sehat, memainkan peran krusial dalam deteksi dini dan pencegahan komplikasi. Edukasi dari tenaga kesehatan, skrining rutin, dan penerapan pola makan serta aktivitas fisik sehat selama kehamilan adalah strategi penting untuk menekan dampak negatif DMG. Oleh karena itu, upaya promotif dan preventif harus ditingkatkan agar kehamilan dan kelahiran berjalan aman, dan baik ibu maupun bayi dapat memiliki outcome kesehatan optimal.