Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Kebutuhan Spiritual Pasien. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/kebutuhan-spiritual-pasien  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Kebutuhan Spiritual Pasien - SumberAjar.com

Kebutuhan Spiritual Pasien

Pendahuluan

Kesehatan manusia tidak hanya menyangkut aspek fisik semata, melainkan juga aspek psikologis, sosial, dan spiritual. Dalam konteks pelayanan keperawatan, aspek spiritual sering kali menjadi komponen yang kurang mendapat perhatian, padahal bagi banyak pasien, terutama yang menghadapi penyakit serius atau kronis, kebutuhan spiritual dapat berperan penting dalam proses penyembuhan, menjaga semangat, dan memberikan ketenangan batin. Oleh karena itu, pemahaman dan pemenuhan kebutuhan spiritual pasien menjadi bagian integral dari asuhan keperawatan holistik. Artikel ini membahas secara mendalam konsep kebutuhan spiritual pasien, faktor-faktor yang mempengaruhinya, tanda gangguan spiritualitas, peran spiritualitas dalam penyembuhan, intervensi keperawatan dan peran keluarga serta tokoh agama, serta contoh penerapan perawatan spiritual dalam praktik keperawatan.


Definisi Kebutuhan Spiritual Pasien

Definisi Kebutuhan Spiritual secara Umum

Kebutuhan spiritual merujuk pada kebutuhan manusia untuk mencari makna, tujuan hidup, kedamaian batin, serta hubungan dengan sesuatu yang lebih besar daripada diri sendiri, misalnya hubungan dengan Tuhan, nilai-nilai moral, keutuhan diri, dan koneksi dengan orang lain. Spiritualitas memungkinkan individu untuk menemukan kedamaian, harapan, dan pemahaman akan kehidupan, terutama ketika menghadapi penderitaan, penyakit, atau krisis eksistensial.

Definisi Kebutuhan Spiritual dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “spiritualitas” berkaitan dengan hal-hal yang bersifat rohani, batiniah, dan menyangkut kejiwaan. Dalam makna umum, spiritualitas bisa diartikan sebagai hal-hal yang menyangkut kehidupan batin seseorang: keyakinan, keimanan, dan kesadaran akan nilai-nilai moral dan rohani. Dengan demikian, kebutuhan spiritual mencakup kebutuhan batiniah atau rohani manusia untuk merasa tentram, bermakna, dan terhubung dengan nilai-nilai transenden.

(Catatan: definisi persis KBBI dapat berbeda tergantung edisi; pembaca disarankan merujuk langsung ke platform resmi KBBI untuk kutipan lengkap.)

Definisi Kebutuhan Spiritual menurut Para Ahli

Berikut beberapa definisi menurut para ahli/peneliti:

  • Menurut Cone & Giske (dalam literatur keperawatan), spiritual care (perawatan spiritual) didefinisikan sebagai tindakan dan praktik yang dilaksanakan oleh perawat untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien, mencakup aspek emosional, moral, rohani, dan religius. [Lihat sumber Disini - jurnalilmiah.ici.ac.id]

  • Dalam studi di Indonesia oleh Rosnancy Renolita Sinaga, Donald Loffie Muntu, dan kolega tahun 2021, spiritualitas dan spiritual care didefinisikan sebagai dimensi penting dalam keperawatan holistik, di mana perawat tidak hanya merawat fisik pasien, tetapi juga memperhatikan aspek rohani dan psikososial pasien. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Menurut penelitian kuantitatif di Indonesia (2024), spiritual care mencakup penyediaan dukungan emosional, religius dan rohani, serta pendampingan agar pasien merasa dihargai, diakui, dan mendapat ketenangan batin. [Lihat sumber Disini - jurnalilmiah.ici.ac.id]

  • Studi tentang pasien kanker di RSUP dr. Kariadi menunjukkan bahwa kesejahteraan spiritual (spiritual well-being) mencakup kebutuhan atas keyakinan, hubungan dengan Tuhan, diri sendiri, dan orang lain, sebagai bagian dari upaya pemulihan dan “healing” meskipun penyakit mungkin tidak bisa disembuhkan sepenuhnya. [Lihat sumber Disini - repository.rskariadi.id]

Dari definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa kebutuhan spiritual pasien mencakup kebutuhan rohani, emosional, moral, religius, serta kebutuhan akan kedamaian, makna hidup, dan koneksi transenden, yang penting dalam proses penyembuhan dan pemenuhan kualitas hidup.


Faktor yang Mempengaruhi Kesejahteraan Spiritual Pasien

Beberapa faktor yang mempengaruhi kesejahteraan spiritual pasien, baik dalam konteks rumah sakit maupun perawatan jangka panjang:

  • Pengetahuan dan motivasi perawat: Penelitian di Rumah Sakit Awal Bros Batam menunjukkan bahwa pemenuhan spiritual care pasien sangat terkait dengan pengetahuan dan motivasi perawat. Perawat dengan pengetahuan dan motivasi yang baik cenderung mampu memenuhi kebutuhan spiritual pasien secara lebih optimal. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]

  • Kompetensi dan persepsi perawat terhadap spiritualitas dan spiritual care: Studi nasional di Indonesia (2024) menunjukkan bahwa persepsi positif perawat terhadap spiritualitas berkorelasi signifikan dengan praktik spiritual care, meskipun frekuensinya masih terbatas. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Pelatihan atau pendidikan spiritual care: Perawat yang mendapatkan pelatihan tentang spiritual care selama pendidikan cenderung memiliki persepsi dan kemampuan lebih baik untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Lingkungan institusi dan kebijakan pelayanan kesehatan: Ketersediaan fasilitas spiritual care, dukungan institusional, dan regulasi rumah sakit dapat mempengaruhi apakah spiritual care diimplementasikan secara konsisten. [Lihat sumber Disini - journal.unhas.ac.id]

  • Kondisi kesehatan pasien (fisik, psikis, kronis, kritis): Pasien dengan penyakit kronis, terminal, atau kondisi kritis biasanya memiliki kebutuhan spiritual yang lebih tinggi, karena mereka menghadapi ketidakpastian, rasa takut, dan stres psikologis. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-denpasar.ac.id]

  • Peran keluarga dan lingkungan sosial/pemahaman agama budaya pasien: Dukungan keluarga, keyakinan agama, dan lingkungan sosial dapat memperkuat atau justru melemahkan kesejahteraan spiritual pasien. Banyak pasien merasa lebih tenang dan memiliki harapan ketika keluarga dan komunitas mendukung aspek spiritual mereka. [Lihat sumber Disini - repository.rskariadi.id]


Tanda Pasien dengan Gangguan Spiritualitas / Kebutuhan Spiritual Tidak Terpenuhi

Gangguan spiritualitas atau ketidak-terpenuhinya kebutuhan spiritual pada pasien bisa tampak melalui beberapa tanda, baik secara psikis, emosional maupun perilaku:

  • Tingkat stres, kecemasan, dan ketakutan yang tinggi, terutama pada pasien rawat inap atau pasien dengan penyakit serius. Penelitian di RSI Banjarmasin 2025 menunjukkan bahwa ketidak-terpenuhinya kebutuhan spiritual berkorelasi dengan peningkatan stres pasien. [Lihat sumber Disini - journal.ummat.ac.id]

  • Rasa putus asa, kehilangan harapan, penurunan semangat ambil bagian dalam perawatan atau penolakan terhadap terapi, karena pasien merasa tidak ada makna atau dukungan spiritual. Banyak perawat melaporkan bahwa saat kebutuhan spiritual tidak diakomodasi, pasien menunjukkan penurunan kondisi emosional. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

  • Penurunan kualitas hidup, bagi pasien dengan penyakit kronis atau terminal, kekurangan spiritual care dapat membuat mereka merasa sendirian, tidak terpenuhi secara utuh sebagai manusia (tidak hanya sebagai “tubuh sakit”). [Lihat sumber Disini - repository.rskariadi.id]

  • Resistensi terhadap perawatan medis atau ketidakpatuhan terhadap regimen perawatan, karena pasien merasa tidak ada harapan, atau merasa bahwa kebutuhan batiniah mereka diabaikan, sehingga mereka kehilangan motivasi untuk mengikuti pengobatan. Beberapa literatur menyebut bahwa pemenuhan kebutuhan spiritual dapat meningkatkan keterlibatan pasien dalam perawatan. [Lihat sumber Disini - ijpbms.com]


Peran Spiritualitas dalam Proses Penyembuhan

Spiritualitas memiliki peran penting dalam mendukung proses penyembuhan pasien, bukan hanya penyembuhan fisik, tetapi juga pemulihan psikologis, emosional, dan sosial:

  • Memberikan harapan, kedamaian, dan ketenangan batin. Saat pasien merasa spiritualnya diperhatikan, mereka cenderung lebih sabar, tenang, tidak mudah cemas maupun putus asa, kondisi ini dapat mendukung stabilitas psikologis yang esensial dalam penyembuhan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unigal.ac.id]

  • Meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan spiritual (spiritual well-being), penelitian pada pasien kanker menunjukkan bahwa sekitar 52% responden memiliki kesejahteraan spiritual kategori baik, yang berkontribusi pada penerimaan penyakit, kekuatan batin, dan integritas diri. [Lihat sumber Disini - repository.rskariadi.id]

  • Mendukung komitmen dan kepatuhan terhadap rencana perawatan, spiritual care dapat memberikan motivasi dan rasa nilai diri kepada pasien, sehingga mereka lebih terbuka untuk berpartisipasi aktif dalam perawatan medis. [Lihat sumber Disini - ijpbms.com]

  • Membantu adaptasi psikologis terhadap penyakit kronis atau terminal, bagi pasien dengan penyakit jangka panjang, spiritualitas dapat menjadi sumber kekuatan dalam menerima kondisi, mengurangi kecemasan terhadap kematian, dan menjaga harapan hidup. [Lihat sumber Disini - journal.stikeswirahusada.ac.id]

  • Menjadi bagian dari asuhan holistik, perawatan yang memperhatikan aspek spiritual (bersama aspek fisik, psikologis, sosial) lebih sesuai untuk kebutuhan manusia secara menyeluruh, daripada perawatan yang hanya fokus fisik saja. [Lihat sumber Disini - jerkin.org]


Intervensi Keperawatan untuk Dukungan Spiritual

Langkah-langkah dan tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan spiritual pasien:

  • Pengkajian spiritual (spiritual assessment), perawat melakukan penilaian untuk memahami keyakinan, nilai, harapan, ketakutan, kebutuhan religius atau rohani pasien serta preferensi spiritual mereka. Ini langkah awal penting agar perawatan bisa sesuai dengan kebutuhan pasien. [Lihat sumber Disini - jurnal.kalimasadagroup.com]

  • Komunikasi terapeutik dan pendampingan emosional, perawat menyediakan ruang untuk pasien bercerita tentang kekhawatiran, ketakutan, harapan, memberikan empati, mendengarkan, serta mendampingi pasien saat mereka butuh dukungan batin. [Lihat sumber Disini - jerkin.org]

  • Fasilitasi praktik religius atau ibadah sesuai keyakinan pasien, seperti doa, membaca teks suci, meditasi, refleksi, atau aktivitas spiritual sesuai agama/kepercayaan pasien, bila pasien menginginkannya. [Lihat sumber Disini - icomesh.unila.ac.id]

  • Kolaborasi dengan keluarga dan tokoh agama/rohaniwan, melibatkan keluarga atau pemuka agama sebagai pendukung spiritual, terutama bila pasien menginginkan, untuk memberikan bimbingan, doa bersama, atau pendampingan rohani. [Lihat sumber Disini - journal.unhas.ac.id]

  • Pendidikan dan pelatihan spiritual care untuk perawat, meningkatkan pengetahuan, kompetensi, dan sensitivitas perawat untuk mengenali dan memenuhi kebutuhan spiritual pasien secara efektif. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  • Penyusunan kebijakan dan protokol spiritual care di institusi kesehatan, rumah sakit perlu mengintegrasikan spiritual care ke dalam layanan, menyediakan fasilitas spiritual, panduan, dan dukungan bagi tenaga kesehatan agar spiritual care diterapkan konsisten. [Lihat sumber Disini - journal.unhas.ac.id]


Peran Keluarga dan Tokoh Agama

Keluarga dan tokoh agama/rohaniwan memiliki peran signifikan dalam mendukung kebutuhan spiritual pasien:

  • Keluarga sebagai pendamping spiritual, keluarga dapat mendampingi pasien dalam doa, ibadah, refleksi, atau sekadar menjadi teman berbagi beban emosional dan spiritual. Kehadiran keluarga meningkatkan rasa aman, nyaman, dan diterima oleh pasien.

  • Tokoh agama/rohaniwan sebagai pemberi bimbingan spiritual, bagi pasien yang religius, tokoh agama bisa membantu memberikan nasihat, doa, keyakinan, dan harapan sehingga pasien merasa bahwa hidupnya dihargai dan ada harapan dalam kondisi sulit.

  • Kolaborasi keluarga, perawat, rohaniwan, integrasi antara perawat, keluarga, dan rohaniwan membantu memastikan bahwa kebutuhan spiritual pasien terpenuhi secara menyeluruh, dan intervensi spiritual care sesuai nilai dan keyakinan pasien.

  • Mendukung kontinuitas spiritual care di rumah, setelah pasien keluar dari fasilitas kesehatan, keluarga dan rohaniwan dapat membantu mempertahankan praktik spiritual, mendampingi dalam pemulihan emosional dan batin, serta menjaga kualitas hidup pasien.


Contoh Penerapan Perawatan Spiritual

Berikut beberapa contoh konkret penerapan spiritual care di fasilitas kesehatan:

  • Di rumah sakit Islam di Gombong, intervensi spiritual care melalui pendekatan religius dan empatik membantu meningkatkan kesejahteraan emosional dan spiritual pasien, mengurangi kecemasan, serta memberikan makna selama proses perawatan. [Lihat sumber Disini - ijpbms.com]

  • Di ruang rawat inap di hospital umum, perawat melakukan assessment spiritual, komunikasi terapeutik, dan menyediakan kesempatan bagi pasien untuk berdoa atau refleksi, yang terbukti berkontribusi pada peningkatan kenyamanan dan ketenangan batin pasien. [Lihat sumber Disini - jurnal.kalimasadagroup.com]

  • Dalam konteks pasien dengan penyakit serius atau kronis, seperti pasien kanker di RSUP dr. Kariadi, pemenuhan spiritual well-being menjadi bagian dari strategi “healing” meskipun kondisi medis tidak bisa disembuhkan sepenuhnya, membantu pasien menerima kondisi dan memperkuat ketenangan batin. [Lihat sumber Disini - repository.rskariadi.id]

  • Dalam praktik neonatal, pediatrik atau pasien anak-anak, perawatan spiritual disesuaikan dengan keyakinan orang tua/pasien, termasuk perawatan psikososial dan dukungan spiritual sesuai kebutuhan, menunjukkan bahwa spiritual care bukan hanya untuk pasien dewasa saja. [Lihat sumber Disini - jurnal.kalimasadagroup.com]


Kesimpulan

Pemenuhan kebutuhan spiritual pasien adalah aspek esensial dalam keperawatan holistik. Kebutuhan spiritual mencakup aspek rohani, emosional, moral, religius, serta kebutuhan akan makna hidup dan kedamaian batin. Banyak faktor memengaruhi pemenuhan kebutuhan ini, termasuk pengetahuan dan kompetensi perawat, lingkungan institusi, kondisi kesehatan pasien, dan peran keluarga serta tokoh agama. Ketika kebutuhan spiritual terpenuhi, pasien cenderung mengalami peningkatan kesejahteraan spiritual, ketenangan batin, harapan hidup, dan kualitas hidup secara keseluruhan, yang pada gilirannya mendukung proses penyembuhan fisik dan psikis. Oleh karena itu, intervensi keperawatan spiritual care harus menjadi bagian integral dari layanan kesehatan, dengan kolaborasi perawat, keluarga, rohaniwan serta dukungan kebijakan institusi.

Perhatian terhadap spiritualitas pasien bukanlah pelengkap semata, melainkan kebutuhan dasar manusia yang penting untuk kesehatan menyeluruh.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Kebutuhan spiritual pasien adalah kebutuhan rohani yang mencakup pencarian makna hidup, kedamaian batin, hubungan dengan Tuhan atau nilai transenden, serta dukungan moral dan emosional yang membantu pasien menghadapi penyakit.

Kebutuhan spiritual penting karena berpengaruh pada ketenangan batin, harapan, motivasi, dan kualitas hidup pasien. Pemenuhannya dapat mendukung penyembuhan fisik dan psikologis serta meningkatkan kepatuhan terhadap terapi.

Tanda gangguan spiritualitas meliputi kecemasan tinggi, putus asa, kehilangan makna hidup, penurunan motivasi, resistensi terhadap perawatan, dan kualitas hidup yang menurun.

Perawat berperan melakukan pengkajian spiritual, komunikasi terapeutik, mendampingi pasien, memfasilitasi ibadah atau praktik religius, berkolaborasi dengan keluarga dan tokoh agama, serta menerapkan intervensi spiritual care sesuai kebutuhan pasien.

Spiritualitas membantu meningkatkan ketenangan, harapan, ketabahan, serta penerimaan kondisi. Hal ini mendukung stabilitas psikologis dan fisiologis pasien sehingga proses penyembuhan lebih optimal.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Kebutuhan Spiritual Pasien: Konsep, Pendekatan, dan Peran Perawat Kebutuhan Spiritual Pasien: Konsep, Pendekatan, dan Peran Perawat Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Perilaku Caring dalam Keperawatan Perilaku Caring dalam Keperawatan Holistik: Definisi, Ciri, dan Contoh Pendekatan Ilmiah Holistik: Definisi, Ciri, dan Contoh Pendekatan Ilmiah Perubahan Pola Komunikasi Pasien Perubahan Pola Komunikasi Pasien Edukasi Pasien Berkelanjutan Edukasi Pasien Berkelanjutan Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Hubungan Komunikasi dan Kepuasan Pasien Hubungan Komunikasi dan Kepuasan Pasien Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Tingkat Pemahaman Pasien terhadap Informasi Obat Tingkat Pemahaman Pasien terhadap Informasi Obat Pelayanan Farmasi Berbasis Pasien: Konsep, Paradigma, dan Implementasi Pelayanan Farmasi Berbasis Pasien: Konsep, Paradigma, dan Implementasi Kepuasan Pasien: Konsep, faktor penentu, dan mutu pelayanan Kepuasan Pasien: Konsep, faktor penentu, dan mutu pelayanan Kesiapan Pasien Menghadapi Perubahan Kesehatan: Konsep, Adaptasi, dan Respons Kesiapan Pasien Menghadapi Perubahan Kesehatan: Konsep, Adaptasi, dan Respons Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Administrasi Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Administrasi Kepercayaan Pasien terhadap Tenaga Kesehatan: Konsep, Makna, dan Implikasi Kepercayaan Pasien terhadap Tenaga Kesehatan: Konsep, Makna, dan Implikasi Keamanan Pasien di Ruang Perawatan: Konsep, Prinsip, dan Penerapan Keamanan Pasien di Ruang Perawatan: Konsep, Prinsip, dan Penerapan Pendidikan Kesehatan Pasien: Konsep, Tujuan, dan Efektivitas Pendidikan Kesehatan Pasien: Konsep, Tujuan, dan Efektivitas Kesiapan Belajar Pasien: Indikator dan Penilaian Keperawatan Kesiapan Belajar Pasien: Indikator dan Penilaian Keperawatan Komunikasi Terapeutik Perawat Komunikasi Terapeutik Perawat
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…