
Perilaku Caring dalam Keperawatan
Pendahuluan
Perilaku caring dalam keperawatan merupakan aspek fundamental yang membedakan profesi keperawatan dari sekadar pelayanan medis teknis. Caring bukan hanya mengenai tindakan fisik atau prosedural, melainkan pendekatan holistik yang melibatkan perhatian terhadap aspek fisik, psikologis, emosional, sosial, bahkan spiritual pasien. Dalam praktik keperawatan modern, penerapan caring mampu membangun hubungan perawat, pasien yang humanis, meningkatkan kualitas pelayanan, serta berpengaruh pada kepuasan dan hasil kesehatan pasien. Artikel ini bertujuan menguraikan konsep caring dalam keperawatan, dasar teoretisnya, elemen-elemen perilaku caring, serta relevansi dan tantangan penerapannya di praktik klinik.
Definisi Caring dalam Keperawatan
Definisi Caring Secara Umum
Secara umum, caring (kepedulian) dapat dipahami sebagai tindakan memberi perhatian, empati, dan dukungan kepada orang lain dengan tujuan membantu, melindungi, dan memperhatikan kebutuhan mereka. Dalam konteks keperawatan, caring mencakup usaha perawat untuk mendampingi pasien, menghargai martabat manusia, serta memberikan perawatan yang mempertimbangkan dimensi fisik, psikologis, sosial dan spiritual. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Definisi Caring dalam KBBI
Menurut arti kata “caring” dalam pengertian sehari-hari (meskipun KBBI tidak selalu mencantumkan istilah asing “caring”, konsep terjemahannya berkaitan dengan “peduli”, “mengasihi”, “memperhatikan” dan “menjaga”), caring dapat diartikan sebagai tindakan atau sikap yang menunjukkan rasa peduli, perhatian, dan keinginan melindungi atau membantu orang lain. Dalam konteks keperawatan, arti peduli ini diterjemahkan sebagai upaya menjaga dan memenuhi kebutuhan pasien secara manusiawi dan penuh empati. (Catatan: karena “caring” adalah istilah asing, definisi tepat dalam KBBI bisa berbeda, dalam praktik akademik, istilah ini biasanya dipahami sebagai “kepedulian / perhatian / perawatan manusiawi”).
Definisi Caring Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi caring menurut para ahli di bidang keperawatan:
-
Jean Watson, Ia mendefinisikan caring sebagai ideal moral keperawatan dengan tujuan melindungi, meningkatkan, dan melestarikan martabat manusia. Human caring melibatkan nilai-nilai, komitmen untuk merawat, pengetahuan, tindakan caring, dan akibat dari tindakan tersebut. [Lihat sumber Disini - graphyonline.com]
-
Studi konseptual menyebut caring sebagai kualitas kemanusiaan, kewajiban moral, hubungan interpersonal, atau tindakan peduli, inti dari praktik keperawatan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Definisi dalam analisis konseptual menyampaikan bahwa caring mencakup kindness (kebaikan), empati, perhatian, dan kasih sayang terhadap orang lain (dan diri sendiri), sebagai bagian dari human caring. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Dalam praktik penelitian keperawatan di Indonesia, caring didefinisikan sebagai sikap atau perilaku perawat yang menunjukkan kepedulian, perhatian, dan memenuhi kebutuhan pasien dengan empati, memperhatikan emosi pasien, sehingga menciptakan hubungan terapeutik. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]
Dengan demikian, caring dalam keperawatan merupakan konsep yang mencakup aspek moral, humanis, interpersonal, dan profesional, lebih dari sekadar tindakan klinis.
Teori Caring (Watson dan Lainnya)
Teori Caring Menurut Jean Watson
Jean Watson mengembangkan model Theory of Human Caring (kadang disebut “Transpersonal Caring”) sebagai landasan teoretis utama dalam keperawatan. Ia memandang bahwa keperawatan bukan hanya tentang mengobati penyakit secara fisik, melainkan merawat manusia secara utuh, fisik, emosional, dan spiritual. [Lihat sumber Disini - s1keperawatan.fk.unesa.ac.id]
Menurut Watson, konsep utama dalam human caring meliputi: manusia (human being), keperawatan, kesehatan, dan lingkungan/sosial. Caring memungkinkan terciptanya “moments of caring”, situasi di mana perawat hadir sepenuhnya, secara sadar dan empatik, untuk klien sebagai individu unik. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Teori ini menekankan pentingnya “faktor carative”, yaitu elemen nilai kemanusiaan, perhatian, empati, penghargaan terhadap martabat pasien, berbeda dari proses kuratif medis. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]
Dalam praktik, teori Watson telah terbukti efektif dalam meningkatkan mutu keperawatan, misalnya penelitian tahun 2025 menunjukkan bahwa pelatihan berdasarkan teori human caring meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan dibanding kelompok kontrol. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Teori/Model Caring Lainnya
Walaupun Watson adalah yang paling terkenal, ada teori caring lain yang juga diakui dalam keperawatan, misalnya Swanson’s Theory of Caring (oleh Kristen Swanson). Swanson menetapkan caring sebagai proses pemeliharaan hubungan melalui penghargaan terhadap orang lain, rasa tanggung jawab, dan perhatian atas kebutuhan mereka. Model ini membagi caring ke dalam lima dimensi: maintaining belief, knowing, being with, doing for, dan enabling. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Dengan demikian, teori caring berkembang tidak hanya dari satu teori tunggal, masing-masing menawarkan kerangka konseptual dan pendekatan praktik yang mendukung perawatan holistik dan humanis terhadap pasien.
Elemen Perilaku Caring
Berdasarkan literatur dan teori di atas, perilaku caring dalam keperawatan biasanya mencakup beberapa elemen penting berikut:
-
Empati / simpati: perawat mengerti dan merasakan kondisi emosi pasien serta menaruh perhatian dengan sungguh-sungguh. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Kehadiran penuh (being present): perawat hadir secara fisik dan emosional, memperlakukan pasien sebagai individu unik bukan sekadar “kasus”. [Lihat sumber Disini - watsoncaringscience.org]
-
Penghargaan terhadap martabat dan human dignity: menghormati pasien, memperlakukan mereka dengan hormat dan menjaga martabat manusia. [Lihat sumber Disini - graphyonline.com]
-
Komunikasi efektif dan peduli: mendengarkan, memberi informasi, menjawab kebutuhan dan kekhawatiran pasien. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Responsif terhadap kebutuhan pasien, baik fisik, emosional, psikologis, sosial, spiritual, secara holistik. [Lihat sumber Disini - s1keperawatan.fk.unesa.ac.id]
-
Tindakan nyata / konkret: bukan hanya sikap mental, tapi tindakan perawatan yang konsisten, penuh perhatian, dan manusiawi. [Lihat sumber Disini - graphyonline.com]
Elemen-elemen ini membentuk fondasi perilaku caring yang dapat dinilai, dipelajari, dan diterapkan dalam praktik keperawatan sehari-hari.
Pengaruh Caring terhadap Kepuasan Pasien
Penelitian empiris menunjukkan bahwa perilaku caring perawat sangat berpengaruh terhadap tingkat kepuasan pasien. Misalnya, ada studi literatur review dari 14 artikel (2018, 2023) yang menemukan bahwa sikap menghargai dan empati dari perawat berkorelasi dengan kepuasan pasien di layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikespantiwaluya.ac.id]
Selain itu, penelitian intervensi berbasis teori human caring menunjukkan bahwa setelah pelatihan caring, mutu pelayanan keperawatan meningkat secara signifikan dibanding kelompok kontrol. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Hal ini menunjukkan bahwa caring bukan sekadar “kemewahan emosional”, melainkan aspek kritis yang memengaruhi persepsi pasien terhadap kualitas layanan, rasa aman, nyaman, serta kepercayaan terhadap perawat dan institusi pelayanan.
Peran Caring dalam Hubungan Perawat, Pasien
-
Membangun hubungan terapeutik: Melalui caring, perawat dapat menciptakan kepercayaan, rasa aman dan nyaman bagi pasien, sehingga pasien merasa didengar dan dihargai, bukan hanya sebagai objek sakit, tetapi sebagai manusia utuh.
-
Memfasilitasi penyembuhan holistik: Karena caring memperhatikan aspek fisik, emosional, sosial dan spiritual, perawatan dapat lebih menyeluruh, mendukung proses penyembuhan atau adaptasi pasien terhadap kondisi kesehatan.
-
Menyediakan ruang kemanusiaan dan martabat: Dengan menghormati martabat pasien, caring menjaga agar pasien diperlakukan dengan manusiawi, bukan sekadar prosedural atau mekanis.
-
Meningkatkan kualitas layanan: Kepedulian dan empati dari perawat meningkatkan nilai mutu pelayanan keperawatan, serta citra profesi keperawatan sebagai profesi yang peduli dan profesional.
Tantangan dalam Menerapkan Caring di Praktik Klinik
Meskipun caring menjadi ideal dan idealisme penting, penerapannya dalam praktik klinis menghadapi sejumlah tantangan:
-
Beban kerja dan tekanan organisasi: Tuntutan produktivitas, banyaknya pasien, jam kerja padat, dapat menyulitkan perawat untuk hadir secara “holistik” dan personal pada tiap pasien. Banyak penelitian menunjukkan bahwa organisasi, beban kerja, dan sumber daya mempengaruhi kemampuan perawat menerapkan caring. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Kurangnya pelatihan atau pemahaman terhadap konsep caring: Tanpa pembekalan teori dan pemahaman mendalam, perawat bisa lebih fokus pada aspek teknis dan mengabaikan aspek humanis. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id]
-
Perbedaan persepsi antara perawat dan pasien: Kadang apa dianggap caring oleh perawat belum tentu dianggap caring oleh pasien, misalnya perbedaan budaya, ekspektasi, komunikasi, atau kebutuhan spesifik pasien. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Stigma atau bias dalam kondisi tertentu: Pada pasien dengan kondisi khusus (misalnya adiksi, gangguan mental, isolasi sosial), menerapkan caring membutuhkan kesadaran profesional tinggi agar tidak terjadi diskriminasi / bias. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Contoh Perilaku Caring dalam Situasi Perawatan
-
Saat pasien menjalani tindakan invasif (misalnya infus), perawat tidak hanya memperhatikan teknis pemasangan, tetapi sekaligus memberikan informasi dengan jelas, menjelaskan proses kepada pasien dan orang tua (jika anak), menenangkan, serta memberi dukungan emosional agar pasien merasa aman. Sebuah penelitian menunjukkan hubungan signifikan antara perilaku caring perawat (berdasarkan teori Watson) dengan keberhasilan prosedur infus pada anak pra-sekolah di rumah sakit. [Lihat sumber Disini - ejournal.stikku.ac.id]
-
Ketika pasien dalam kondisi isolasi (misalnya pasien Covid-19, pasien dengan gangguan persepsi sensorik, atau pasien di ruang perawatan intensif), perawat menunjukkan caring dengan kehadiran emosional, komunikasi empatik, perhatian terhadap kebutuhan psikologis/spiritual pasien, serta menjaga martabat dan kenyamanan pasien selama masa perawatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.umb.ac.id]
-
Perawat mendampingi pasien sebelum, selama, dan sesudah tindakan medis besar, memberikan penjelasan, menanyakan kecemasan atau kekhawatiran, mendampingi proses secara penuh, serta memberi rasa aman dan dukungan agar pasien merasa diperhatikan sebagai manusia, bukan sekadar objek medis. Contohnya, implementasi caring teori Watson pada pasien sebelum tindakan EGD menunjukkan penurunan kecemasan pasien. [Lihat sumber Disini - adisampublisher.org]
Kesimpulan
Perilaku caring adalah inti dari praktik keperawatan humanis, lebih dari sekadar tindakan medis, caring memadukan empati, perhatian, penghargaan terhadap martabat manusia, serta komitmen moral dan profesional. Konsep ini banyak dikaji, terutama melalui teori seperti Theory of Human Caring dari Jean Watson dan model caring lainnya seperti Swanson, yang menekankan pentingnya hubungan perawat, pasien sebagai manusia dengan kebutuhan fisik, emosional, dan spiritual.
Elemen-elemen caring, seperti empati, kehadiran penuh, menghargai martabat, komunikasi peduli, responsif terhadap kebutuhan holistik, dan tindakan nyata, membentuk fondasi perilaku caring. Penerapan caring terbukti berpengaruh positif terhadap kepuasan pasien, keberhasilan tindakan keperawatan, serta mutu layanan kesehatan.
Namun demikian, penerapan caring di praktik klinik menghadapi tantangan nyata: beban kerja, tekanan organisasi, keterbatasan sumber daya, kurangnya pelatihan, perbedaan persepsi, serta potensi bias dalam kondisi tertentu. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran, pelatihan, dan budaya organisasi yang mendukung agar caring dapat diterapkan konsisten.
Contoh perilaku caring dalam situasi nyata, seperti prosedur infus pada anak, perawatan pasien isolasi, tindakan medis invasif, memperlihatkan bagaimana caring bukan sekadar idealisme, melainkan aspek praktis yang memberi dampak nyata terhadap kenyamanan, rasa aman, kepercayaan, dan hasil klinis pasien.
Dengan demikian, penerapan caring dalam keperawatan harus dijadikan prioritas dalam pendidikan keperawatan, kebijakan institusi kesehatan, serta praktik harian perawat, agar perawatan menjadi lebih holistik, manusiawi, dan bermutu tinggi.