
Kepatuhan Penggunaan Masker di Ruang Publik
Pendahuluan
Pada era pandemi penyakit menular seperti COVID-19 dan berbagai infeksi pernapasan lainnya, pemakaian masker di tempat umum menjadi sorotan utama dalam strategi pencegahan penularan. Di banyak negara, masker tidak sekadar menjadi alat pelindung, tetapi juga simbol kepatuhan masyarakat terhadap anjuran kesehatan publik. Kepatuhan ini melibatkan perilaku individu dan kolektif untuk mengenakan masker dengan benar ketika berada di ruang publik agar mampu mengurangi risiko transmisi droplet atau aerosoler penyebab penyakit. Menariknya, sejauh mana masyarakat benar-benar “patuh” menggunakan masker ternyata dipengaruhi oleh berbagai faktor individu seperti pengetahuan, persepsi risiko, hingga tingkat pendidikan serta edukasi kesehatan yang diterima. Kajian ilmiah di berbagai setting populasi menunjukan bahwa faktor-faktor ini memiliki dampak signifikan terhadap bagaimana masker digunakan, bukan hanya sekadar tersedia atau direkomendasikan saja. [Lihat sumber Disini - journal.mahesacenter.org]
Definisi Kepatuhan Penggunaan Masker
Definisi Kepatuhan Penggunaan Masker Secara Umum
Secara umum, kepatuhan penggunaan masker adalah perilaku atau tindakan konsisten yang dilakukan individu untuk mengenakan masker sesuai aturan atau anjuran kesehatan, terutama ketika berada di ruang publik atau di lingkungan yang berisiko tinggi terkena penyakit pernapasan. Dalam konteks kesehatan masyarakat, ini bukan sekadar memakai masker, tetapi juga mengenakannya dengan benar (menutup hidung dan mulut) dan pada situasi yang tepat ketika risiko penularan tinggi, seperti berada di kerumunan atau tempat tertutup. [Lihat sumber Disini - ejournal.unklab.ac.id]
Definisi Kepatuhan Penggunaan Masker dalam KBBI
Meski Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak secara eksplisit memberikan entri untuk frasa “kepatuhan penggunaan masker”, istilah kepatuhan sendiri dalam KBBI diartikan sebagai sikap atau perilaku yang taat atau mengikuti aturan, norma, atau anjuran yang berlaku. Dalam konteks ini, kepatuhan merujuk pada sejauh mana seseorang mengikuti anjuran pemakaian masker seperti diatur oleh pedoman kesehatan. Istilah ini mencakup aspek tindakan fisik dan kesadaran terhadap kebutuhan penggunaan masker sesuai pedoman. [Lihat sumber Disini - ejournal.unklab.ac.id]
Definisi Kepatuhan Penggunaan Masker Menurut Para Ahli
-
Wulandari (2015), Kepatuhan diartikan sebagai sejauh mana perilaku individu atau kelompok sesuai (atau tidak sesuai) dengan rencana promosi kesehatan yang telah disetujui antara individu dan tenaga kesehatan profesional. Ini termasuk perilaku menggunakan masker ketika diwajibkan. [Lihat sumber Disini - ejournal.unklab.ac.id]
-
Rani (2022), Kepatuhan penggunaan masker adalah derajat seseorang yang mau mengikuti aturan organisasi atau pedoman kesehatan dalam menggunakan masker untuk melindungi diri dari penyakit. [Lihat sumber Disini - jom.htp.ac.id]
-
Ong et al. (2023), Dalam penelitian epidemiologi, “full compliance” berarti menggunakan masker yang sesuai (mis. menutupi hidung dan mulut sepenuhnya) sedangkan “poor compliance” mencakup pemakaian yang tidak benar atau tidak konsisten. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Shockey et al. (2025), Menyatakan bahwa perilaku memakai masker merupakan bagian dari rangkaian tindakan kesehatan yang dipengaruhi oleh faktor sosial dan perilaku individu selain sekadar aturan formal. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Tingkat Kepatuhan Masyarakat dalam Penggunaan Masker
Tingkat kepatuhan penggunaan masker berbeda-beda antar populasi dan setting, tergantung pada faktor demografis, sosial, dan lingkungan. Sebagai contoh, dalam penelitian di DKI Jakarta terkait pekerja sektor formal, ditemukan bahwa 43, 8 % pekerja tidak mematuhi protokol kesehatan dan hanya sebagian kecil yang menggunakan masker dengan benar atau jenis masker yang lebih efektif seperti N95/KN95/KF94. [Lihat sumber Disini - journal.mahesacenter.org]
Di satu set populasi di Sulawesi Utara, mayoritas responden memiliki pengetahuan dan sikap yang baik terhadap masker, dengan tingkat kepatuhan hingga 80, 3 % dalam penggunaannya yang benar untuk pencegahan penularan COVID-19. Faktor seperti ketersediaan sarana dan kenyamanan menggunakan masker turut mempengaruhi tingkat kepatuhan tersebut. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Studi lintas negara juga menunjukan variasi kepatuhan, dimana tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan usia menjadi prediktor signifikan untuk kepatuhan dalam memakai masker. Individu dengan pendidikan tinggi dan persepsi risiko yang lebih baik umumnya menunjukkan tingkat patuh yang lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - ijphs.iaescore.com]
Faktor Individu yang Mempengaruhi Kepatuhan
Kepatuhan individu terhadap penggunaan masker dipengaruhi oleh sejumlah faktor psikososial dan demografis:
Pengetahuan dan Sikap
Pengetahuan yang baik tentang risiko penularan penyakit dan manfaat masker berkorelasi dengan kepatuhan yang lebih tinggi. Beberapa studi Indonesia menemukan bahwa pengetahuan yang baik didukung dengan sikap positif berpengaruh terhadap tingkat kepatuhan penggunaan masker yang lebih tinggi dalam populasi seperti ibu hamil atau masyarakat umum. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-denpasar.ac.id]
Usia dan Gender
Penelitian menunjukkan bahwa kelompok usia dan gender tertentu mungkin memiliki tingkat kepatuhan berbeda. Sebagai contoh, wanita dan kelompok dengan persepsi risiko lebih tinggi lebih cenderung mematuhi pemakaian masker dibandingkan laki-laki atau mereka dengan persepsi risiko rendah. [Lihat sumber Disini - ijphs.iaescore.com]
Pendidikan dan Status Sosial Ekonomi
Individu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi umumnya memiliki kesadaran yang lebih kuat akan pentingnya masker dan mematuhi pedoman kesehatan dengan lebih konsisten. Selain itu, motivasi dan akses terhadap informasi yang benar juga mendukung perilaku patuh. [Lihat sumber Disini - ijphs.iaescore.com]
Faktor Psikologis dan Persepsi Risiko
Persepsi bahwa penyakit menular seperti COVID-19 dapat menyebabkan dampak serius meningkatkan kemungkinan individu untuk mengenakan masker secara konsisten. Studi internasional menemukan bahwa persepsi tentang penyakit serius atau risiko infeksi menjadikan individu lebih patuh terhadap pedoman masker. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Persepsi Risiko Penyakit Menular
Persepsi risiko adalah bagaimana seseorang menilai kemungkinan mereka akan terinfeksi penyakit serta dampaknya jika terinfeksi. Individu yang menilai risiko tinggi terhadap penyakit menular, seperti virus SARS-CoV-2, cenderung lebih konsisten memakai masker, karena masker dipandang sebagai langkah protektif penting. Penelitian global bahkan mencatat persepsi risiko sebagai salah satu faktor psikologis utama yang memprediksi perilaku patuh terhadap pedoman masker. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Persepsi risiko ini tidak hanya dipengaruhi oleh informasi medis tetapi juga pengalaman pribadi, informasi media, dan kejadian di lingkungan sosial individu. Mereka yang merasakan langsung dampak pandemi atau memiliki anggota keluarga rentan sering kali lebih patuh terhadap tanggapan kesehatan masyarakat ini. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Hubungan Edukasi Kesehatan dengan Kepatuhan
Edukasi kesehatan memainkan peran sentral dalam membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang manfaat penggunaan masker. Edukasi yang tepat mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat sehingga mendorong sikap positif terhadap pemakaian masker yang benar dan konsisten.
Studi di lingkungan akademik dan masyarakat umum menunjukkan bahwa intervensi edukatif meningkatkan sikap positif masyarakat dan berujung pada tingkat kepatuhan yang lebih tinggi. Informasi yang akurat dan edukasi yang tepat sasaran terbukti menjadi prediktor penting dalam perubahan perilaku kesehatan publik ini. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkes-denpasar.ac.id]
Dampak Penggunaan Masker terhadap Pencegahan Penularan
Penggunaan masker bukan sekadar simbol kepatuhan, tetapi merupakan alat pencegahan efektif dalam konteks penyakit droplet dan pernapasan. Penelitian di lingkungan pendidikan menemukan bahwa implementasi penggunaan masker yang konsisten berkorelasi dengan penurunan kasus infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dan penurunan penyebaran patogen. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]
Analisis global bahkan menunjukkan bahwa peningkatan kepatuhan terhadap pemakaian masker secara luas dikaitkan dengan penurunan tingkat insiden penyakit serta kematian akibat infeksi pernapasan, menjadikan masker bagian integral dari paket intervensi kesehatan masyarakat saat wabah penyakit menular. [Lihat sumber Disini - gh.bmj.com]
Kesimpulan
Kepatuhan penggunaan masker di ruang publik merupakan perilaku kesehatan masyarakat yang kompleks dan dipengaruhi oleh banyak faktor. Secara umum, kepatuhan mencakup perilaku individu dalam memakai masker sesuai pedoman kesehatan yang berlaku, dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap, pendidikan, dan persepsi risiko terhadap penyakit menular. Edukasi kesehatan yang kuat terbukti memperkuat perilaku patuh, sedangkan persepsi risiko memperkuat motivasi individu untuk mengenakan masker secara benar dan konsisten.
Berbagai studi di Indonesia maupun internasional menunjukkan bahwa tingkat kepatuhan masyarakat bervariasi berdasarkan konteks sosial demografis, namun secara keseluruhan, kepatuhan yang tinggi terhadap penggunaan masker berkaitan dengan penurunan penularan penyakit droplet dan pernapasan. Oleh karena itu, strategi kesehatan masyarakat yang menggabungkan edukasi, kebijakan yang jelas, dan komunikasi risiko yang efektif sangat penting untuk meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap penggunaan masker guna pencegahan penyakit menular di ruang publik.