Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Kesiapan Peningkatan Pengetahuan Keluarga Pasien. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/kesiapan-peningkatan-pengetahuan-keluarga-pasien  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Kesiapan Peningkatan Pengetahuan Keluarga Pasien - SumberAjar.com

Kesiapan Peningkatan Pengetahuan Keluarga Pasien

Pendahuluan

Peran keluarga dalam mendampingi pasien selama masa perawatan, baik di rumah sakit maupun setelah pulang, memegang peranan sangat kritis dalam menunjang proses penyembuhan serta menjaga kualitas hidup pasien. Namun, efektivitas peran ini sangat bergantung pada kesiapan keluarga, terutama kesiapan dalam menerima informasi, memahami kondisi, dan menerapkan edukasi kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk memahami aspek-aspek yang membentuk kesiapan tersebut, indikator-indikatornya, serta bagaimana tenaga kesehatan dapat menyampaikan edukasi secara efektif kepada keluarga pasien. Tulisan ini mengulas konsep “kesiapan peningkatan pengetahuan keluarga pasien”, faktor yang mempengaruhinya, indikator kesiapan, materi edukasi sesuai kondisi pasien, strategi penyampaian, peran tenaga kesehatan, serta contoh implementasinya.


Definisi “Kesiapan Peningkatan Pengetahuan Keluarga Pasien”

Definisi Secara Umum

Kesiapan peningkatan pengetahuan keluarga pasien dapat diartikan sebagai kondisi di mana anggota keluarga pasien memiliki kesiapan, baik secara kognitif, emosional, dan praktis, untuk menerima, menyerap, dan menerapkan edukasi kesehatan yang diperlukan guna mendampingi pasien secara efektif. Artinya, keluarga tidak hanya harus “tersedia” tetapi juga “siap secara mental dan intelektual” untuk mendukung proses perawatan.

Definisi dalam KBBI

Meskipun istilah “kesiapan peningkatan pengetahuan keluarga pasien” tidak secara spesifik tercantum dalam kamus Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kita dapat memaknai kata “kesiapan” menurut arti umum dalam KBBI sebagai “keadaan siap; kecukupan persiapan” dan “pengetahuan” sebagai “segala hal yang diketahui; informasi atau pengertian yang diperoleh melalui belajar/ pengalaman”. Maka secara terjemahan sederhana, “kesiapan peningkatan pengetahuan” berarti kesiapan untuk menerima dan menambah informasi atau pengetahuan.

Definisi Menurut Para Ahli

  • Menurut Interest: Jurnal Ilmu Kesehatan (Fauzia et al., 2021), keluarga pasien dianggap “siap” bila terdapat komunikasi dan edukasi yang efektif antara tenaga kesehatan dan keluarga pasien, serta adanya prosedur standar (SOP) untuk edukasi keluarga. [Lihat sumber Disini - jurnalinterest.com]

  • Menurut Discover Social Science and Health (Specifically studi oleh Septianingrum dkk., 2024), kesiapan keluarga (caregiver readiness) untuk merawat pasien post-stroke setelah keluar rumah sakit sangat bergantung pada faktor demografi, misalnya usia, jenis kelamin, pendapatan, pekerjaan, status perkawinan, serta pengetahuan keluarga mengenai kondisi pasien. [Lihat sumber Disini - scholar.unair.ac.id]

  • Studi STIKes Santo Borromeus (Saptiningsih et al., 2022) menyatakan bahwa “kesiapan keluarga” dalam konteks perawatan pencegahan dekubitus pada pasien stroke meliputi aspek pengetahuan dan keterampilan, serta kesiapan untuk melaksanakan perawatan lanjutan di rumah. [Lihat sumber Disini - jurnalstikestulungagung.ac.id]

  • Menurut penelitian RS Haji Surabaya atas keluarga pasien kanker (2023), kesiapan keluarga tidak hanya terkait pengetahuan, tetapi juga sikap emosional dan kemampuan memberikan motivasi dan dukungan untuk pasien, menunjukkan bahwa kesiapan bersifat multidimensional (kognitif, emosional, dan sosial) dalam mendampingi perawatan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - journal.um-surabaya.ac.id]

Dengan demikian, “kesiapan peningkatan pengetahuan keluarga pasien” dapat dipahami sebagai kesediaan dan kemampuan keluarga untuk aktif memperoleh, memahami, dan menerapkan informasi kesehatan guna mendukung proses perawatan pasien secara optimal.


Faktor yang Mempengaruhi Kesiapan Keluarga

Banyak penelitian menunjukkan bahwa kesiapan keluarga tidak muncul begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang saling berkaitan. Faktor-faktor ini antara lain:

  • Pengetahuan dasar dan pengalaman sebelumnya, keluarga yang sudah pernah merawat atau mendampingi pasien, atau sudah pernah mendapat informasi sebelumnya, cenderung lebih siap. Studi pada keluarga pasien stroke menunjukkan bahwa pengalaman keluarga dan pemberian informasi sebelum pulang rumah sangat berpengaruh terhadap kesiapan merawat pasien. [Lihat sumber Disini - jurnalstikestulungagung.ac.id]

  • Karakteristik demografis, usia, jenis kelamin, pendapatan, pekerjaan, dan status perkawinan dapat mempengaruhi kesiapan. Dalam penelitian post-stroke di Indonesia, faktor demografi seperti usia, jenis kelamin, pendapatan, pekerjaan, dan status perkawinan terbukti signifikan berhubungan dengan kesiapan keluarga. [Lihat sumber Disini - scholar.unair.ac.id] Namun, menariknya, dalam studi tersebut tingkat pendidikan tidak terbukti signifikan (p = 0, 452), meskipun studi lain kadang menunjukkan pendidikan memengaruhi pengetahuan dan keterampilan keluarga. [Lihat sumber Disini - jurnalstikestulungagung.ac.id]

  • Pemberian edukasi sebelumnya / komunikasi efektif dari tenaga kesehatan, ketersediaan informasi yang akurat, jelas, dan disampaikan dengan baik merupakan faktor kunci agar keluarga bisa menerima dan memahami edukasi. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

  • Motivasi dan dukungan emosional dalam keluarga, dalam kasus penyakit kronis atau serius seperti kanker, kesiapan keluarga tidak hanya soal pengetahuan, tetapi juga kemauan dan kesiapan emosional untuk mendampingi pasien. [Lihat sumber Disini - journal.um-surabaya.ac.id]

  • Sosial-ekonomi dan kondisi lingkungan rumah, misalnya pendapatan, akses ke layanan kesehatan, beban kerja keluarga, dan lingkungan pendukung juga ikut menentukan apakah keluarga bisa menjalankan edukasi/ perawatan di rumah. [Lihat sumber Disini - scholar.unair.ac.id]


Indikator Keluarga Siap Menerima Edukasi

Untuk menentukan bahwa keluarga telah “siap” menerima edukasi kesehatan, beberapa indikator empiris dapat dijadikan acuan:

  • Keluarga menunjukkan kesediaan untuk menerima informasi, terbuka, menyediakan waktu, dan bersedia terlibat dalam sesi edukasi.

  • Keluarga memiliki erti pemahaman awal terhadap kondisi pasien, yakni kemampuan untuk memahami penjelasan medis atau non-medis yang diberikan.

  • Keluarga menunjukkan sikap positif terhadap peran mereka sebagai pendamping, misalnya niat untuk mendukung secara emosional dan praktis.

  • Keluarga menunjukkan kemampuan praktis atau skills, misalnya memahami cara perawatan dasar, perawatan gabungan, pencegahan komplikasi, atau instruksi medis sederhana bila diperlukan.

  • Ada dukungan struktural, misalnya keterlibatan anggota keluarga lain, dukungan finansial/ logistik, serta komunikasi baik dengan tenaga kesehatan.

  • Keluarga menunjukkan komitmen jangka panjang, memahami bahwa perawatan atau pendampingan mungkin berkelanjutan, terutama pada penyakit kronis atau kondisi pemulihan.

Indikator-indikator ini bukan hanya bersifat kognitif (pengetahuan) tetapi juga afektif (sikap), konatif (kemauan/komitmen), dan praktis (kemampuan).


Materi Edukasi yang Relevan Berdasarkan Kondisi Pasien

Tergantung kondisi medis pasien, materi edukasi untuk keluarga dapat berbeda. Beberapa contoh materi yang relevan antara lain:

  • Untuk pasien dengan penyakit kronis (misalnya hipertensi, diabetes, penyakit jantung, gagal ginjal): edukasi mengenai manajemen penyakit, pola hidup sehat, diet, pengobatan rutin, pemantauan kondisi, serta tanda-tanda komplikasi. Studi pada lansia hipertensi menunjukkan edukasi berbasis keluarga efektif meningkatkan dukungan keluarga dalam pengelolaan penyakit. [Lihat sumber Disini - journal.unikadelasalle.ac.id]

  • Untuk pasien stroke atau gangguan fungsional: edukasi perawatan lanjutan di rumah, pencegahan komplikasi (misalnya dekubitus), rehabilitasi, mobilisasi, nutrisi, serta pemantauan kesehatan. Studi di RSU menunjukkan perubahan signifikan dalam kesiapan keluarga setelah edukasi perawatan stroke. [Lihat sumber Disini - devotion.greenvest.co.id]

  • Untuk pasien kanker atau kondisi kompleks dengan perawatan jangka panjang: edukasi tentang pengobatan, efek samping, perawatan paliatif, dukungan emosional, komunikasi dengan pasien, dan motivasi serta pendampingan psikososial. Pengabdian di RS Haji Surabaya menunjukkan edukasi keluarga secara signifikan meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kemampuan memberikan motivasi. [Lihat sumber Disini - journal.um-surabaya.ac.id]

  • Untuk pasien selama rawat inap atau menjelang operasi/ tindakan medis besar: edukasi mengenai procedur, perawatan pasca tindakan, perawatan luka, rehabilitasi, serta peran keluarga dalam mendukung pemulihan dan perawatan pasca rawat. Studi pada keluarga pasien bedah saraf menunjukkan bahwa kesiapan keluarga dan dukungan keluarga sangat penting. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]


Strategi Penyampaian Edukasi Kesehatan

Agar edukasi keluarga efektif dan diterima dengan baik, strategi penyampaiannya harus tepat. Berikut beberapa pendekatan yang terbukti efektif:

  • Edukasi berbasis keluarga (family-based education), melibatkan seluruh anggota keluarga, bukan hanya satu orang, agar dukungan dan komitmen lebih kuat. Studi pada lansia hipertensi menunjukkan metode ini berhasil meningkatkan dukungan keluarga. [Lihat sumber Disini - journal.unikadelasalle.ac.id]

  • Komunikasi efektif dan SOP edukasi di fasilitas kesehatan, tenaga kesehatan harus memiliki prosedur standar untuk edukasi dan komunikasi dengan keluarga pasien. Penelitian di Sulawesi menunjukkan implementasi edukasi dan komunikasi efektif meningkatkan mutu layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - jurnalinterest.com]

  • Media edukasi yang sesuai, menggunakan leaflet, booklet, buku saku, atau materi tertulis yang mudah dipahami; bisa juga menggunakan visual atau media lain agar pesan lebih jelas. Penelitian pada pasien stroke menunjukkan bahwa edukasi dengan leaflets meningkatkan kesiapan keluarga secara signifikan. [Lihat sumber Disini - devotion.greenvest.co.id]

  • Pendekatan holistik, kognitif + emosional + praktis, tidak cukup hanya memberi informasi medis; perlu juga membangun sikap positif, dukungan emosional, motivasi, serta keterampilan praktis perawatan. [Lihat sumber Disini - journal.um-surabaya.ac.id]

  • Evaluasi dan tindak lanjut, setelah edukasi, harus ada evaluasi pemahaman dan kesiapan keluarga, serta tindak lanjut jika diperlukan, misalnya pelatihan praktis, konsultasi ulang, atau pendampingan lanjutan. [Lihat sumber Disini - ejournal.undip.ac.id]


Peran Tenaga Kesehatan dalam Edukasi Keluarga

Tenaga kesehatan, dokter, perawat, dan tenaga lainnya, berperan sangat penting sebagai fasilitator edukasi dan pendamping keluarga pasien. Beberapa peran penting mereka:

  • Menilai tingkat kesiapan keluarga, baik secara demografi, pengetahuan, dukungan sosial, serta kemampuan keluarga untuk menerima dan melaksanakan edukasi. Hal ini penting agar edukasi bisa disesuaikan dengan kondisi keluarga. [Lihat sumber Disini - scholar.unair.ac.id]

  • Menyediakan edukasi dengan komunikasi efektif dan sesuai kebutuhan, memakai bahasa yang mudah dipahami, menggunakan media edukasi yang tepat, dan memastikan keluarga memahami instruksi. [Lihat sumber Disini - jurnalstikestulungagung.ac.id]

  • Membimbing dan mendampingi keluarga selama proses perawatan, bukan hanya satu kali edukasi, tetapi pendampingan pasca rawat/pulang, konsultasi lanjut, serta pemantauan. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]

  • Mengintegrasikan edukasi keluarga ke dalam perencanaan perawatan pasien (termasuk proses discharge planning), agar transisi dari rumah sakit ke rumah menjadi lebih aman dan efektif. Studi pada perawatan penyakit kronis menunjukkan bahwa kesiapan keluarga sebaiknya dievaluasi sebagai bagian dari discharge planning. [Lihat sumber Disini - scholar.unair.ac.id]

  • Memfasilitasi dukungan emosional dan sosial, mendukung keluarga agar bukan hanya memahami secara teori, tetapi juga siap secara psikologis untuk mendampingi pasien, terlebih pada kondisi kritis atau kronis. [Lihat sumber Disini - journal.um-surabaya.ac.id]


Contoh Implementasi Edukasi Keluarga

Beberapa penelitian dan praktik nyata menunjukkan bagaimana edukasi keluarga berhasil diimplementasikan:

  • Di RS PKU Muhammadiyah Delanggu (2024): Edukasi dengan leaflets tentang perawatan pasien non-hemorrhagic stroke signifikan meningkatkan kesiapan keluarga untuk merawat pasien di rumah dari 37.5% tidak siap menjadi 87.5% siap. [Lihat sumber Disini - devotion.greenvest.co.id]

  • Program edukasi berbasis keluarga pada lansia dengan hipertensi di Sulawesi Utara (2023) berhasil meningkatkan dukungan keluarga setelah intervensi edukasi, menunjukkan efektivitas strategi family-based education. [Lihat sumber Disini - journal.unikadelasalle.ac.id]

  • Di RS Haji Surabaya (2023), pengabdian masyarakat untuk keluarga pasien kanker menunjukkan bahwa setelah edukasi, hampir semua peserta menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan, sikap dukungan, dan kemampuan motivasi bagi pasien, hal ini mendemonstrasikan pentingnya peran keluarga dalam perawatan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - journal.um-surabaya.ac.id]

  • Studi di RSUD Jawa Tengah (2022) pada keluarga pasien yang menjalani operasi bedah saraf menunjukkan bahwa keluarga yang siap (memahami informasi, diberi edukasi, dan siap mendampingi) lebih mungkin memberikan dukungan baik dan membantu proses perawatan, menegaskan bahwa kesiapan keluarga penting pada tindakan medis besar. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]


Tantangan dan Hambatan dalam Meningkatkan Kesiapan Keluarga

Meski banyak bukti mendukung pentingnya edukasi keluarga, dalam praktiknya terdapat beberapa tantangan:

  • Variabilitas tingkat literasi kesehatan keluarga (health literacy), tidak semua keluarga memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman kesehatan, sehingga informasi bisa sulit dipahami. Hal ini membuat penyampaian edukasi harus disesuaikan dengan kemampuan keluarga.

  • Beban emosional dan psikologis, keluarga mungkin mengalami stres, kecemasan, atau beban psikologis saat mendampingi pasien dengan kondisi serius, sehingga sulit menerima informasi atau menjalankan perawatan.

  • Keterbatasan sumber daya, mulai dari waktu, tenaga, ekonomi, hingga akses ke fasilitas kesehatan dan sumber informasi, bisa membatasi kemampuan keluarga untuk menerima edukasi dan melaksanakan perawatan.

  • Kurangnya standar implementasi edukasi keluarga di fasilitas kesehatan, tidak semua fasilitas memiliki SOP edukasi bagi keluarga, atau tenaga kesehatan belum dilatih secara memadai untuk memberikan edukasi efektif. Penelitian menunjukkan bahwa penerapan edukasi dan komunikasi keluarga kerap belum optimal. [Lihat sumber Disini - jurnalinterest.com]

  • Kurangnya tindak lanjut dan monitoring, edukasi sekali waktu tanpa pengawasan lebih lanjut dapat membuat keluarga lupa, salah memahami, atau tidak konsisten dalam perawatan.


Kesimpulan

Kesiapan peningkatan pengetahuan keluarga pasien merupakan elemen kunci dalam mendukung keberhasilan perawatan dan pemulihan pasien, terutama pada kondisi kronis, pasca rawat, atau pasca tindakan medis. Kesiapan ini bersifat multidimensional: mencakup aspek kognitif, emosional, sosial, dan praktis. Faktor-faktor seperti pengalaman sebelumnya, demografi, komunikasi dan edukasi efektif, motivasi, serta dukungan sosial dan ekonomi sangat mempengaruhi tingkat kesiapan keluarga.

Materi edukasi harus disesuaikan dengan kondisi medis pasien, dan strategi penyampaian perlu menggunakan pendekatan yang melibatkan keluarga secara aktif, komunikatif, dan holistik. Tenaga kesehatan berperan krusial dalam menilai kesiapan, menyampaikan edukasi, mendampingi keluarga, serta menjadikan edukasi keluarga sebagai bagian integral dari perencanaan perawatan dan discharge planning.

Implementasi edukasi keluarga dalam praktik nyata, seperti pada pasien stroke, hipertensi, kanker, maupun bedah saraf, menunjukkan bahwa intervensi edukasi yang baik mampu meningkatkan pengetahuan, sikap, motivasi, dan dukungan keluarga secara signifikan, yang pada akhirnya berdampak positif pada kualitas hidup pasien dan keluarga.

Namun, tantangan seperti literasi kesehatan, beban emosional, keterbatasan sumber daya, serta kurangnya standar dan tindak lanjut edukasi perlu mendapatkan perhatian lebih agar program edukasi keluarga dapat dijalankan secara konsisten dan efektif.

Dengan demikian, memperkuat program edukasi keluarga dan memastikan kesiapan keluarga adalah upaya penting bagi tenaga kesehatan, rumah sakit, dan semua pihak terkait, demi hasil perawatan optimal dan kesejahteraan pasien serta keluarganya.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Kesiapan peningkatan pengetahuan keluarga pasien adalah kondisi ketika keluarga memiliki kemampuan kognitif, emosional, dan praktik untuk menerima serta menerapkan edukasi kesehatan guna mendukung proses perawatan pasien secara optimal.

Kesiapan keluarga penting karena keluarga menjadi pendukung utama pasien selama perawatan. Keluarga yang siap dapat membantu mencegah komplikasi, meningkatkan kepatuhan terapi, serta mempercepat proses pemulihan pasien.

Faktor yang mempengaruhi kesiapan keluarga meliputi pengalaman sebelumnya, tingkat pengetahuan, karakteristik demografi, dukungan emosional, kondisi sosial-ekonomi, dan kualitas komunikasi dengan tenaga kesehatan.

Indikatornya antara lain kesediaan menerima informasi, pemahaman awal mengenai kondisi pasien, sikap positif terhadap peran pendampingan, kemampuan praktik dasar, dukungan emosional, dan komitmen jangka panjang dalam mendampingi pasien.

Contoh implementasi termasuk pemberian leaflets pada keluarga pasien stroke, edukasi berbasis keluarga pada pasien hipertensi, pendampingan keluarga pasien kanker, dan edukasi pra-bedah saraf untuk meningkatkan kesiapan menghadapi tindakan medis.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Kesiapan Belajar Pasien: Indikator dan Penilaian Keperawatan Kesiapan Belajar Pasien: Indikator dan Penilaian Keperawatan Kesiapan Peningkatan Pengetahuan Keluarga: Konsep, Indikator, dan Peran Kesiapan Peningkatan Pengetahuan Keluarga: Konsep, Indikator, dan Peran Kesiapan Pasien Menghadapi Perubahan Kesehatan: Konsep, Adaptasi, dan Respons Kesiapan Pasien Menghadapi Perubahan Kesehatan: Konsep, Adaptasi, dan Respons Kesiapan Peningkatan Kesehatan: Konsep, Makna, dan Implementasi Kesiapan Peningkatan Kesehatan: Konsep, Makna, dan Implementasi Kesiapan Belajar Pasien: Pengertian dan Indikator Kesiapan Belajar Pasien: Pengertian dan Indikator Kesiapan Belajar Mahasiswa: Konsep dan Indikator Kesiapan Belajar Mahasiswa: Konsep dan Indikator Kesiapan Pasien Menghadapi Perubahan Kesehatan Kesiapan Pasien Menghadapi Perubahan Kesehatan Kesiapan Keluarga Menyambut Bayi Kesiapan Keluarga Menyambut Bayi Kesiapan Kerja Psikologis: Konsep dan Faktor Kesiapan Kerja Psikologis: Konsep dan Faktor Kesiapan Ibu Menghadapi Persalinan Normal Kesiapan Ibu Menghadapi Persalinan Normal Kesiapan Menyusui: Konsep, Faktor Psikologis, dan Keberhasilan Laktasi Kesiapan Menyusui: Konsep, Faktor Psikologis, dan Keberhasilan Laktasi Kesiapan Perubahan Perilaku: Konsep, Tahapan Perubahan, dan Implikasinya Kesiapan Perubahan Perilaku: Konsep, Tahapan Perubahan, dan Implikasinya Hubungan Kesiapan Mental Ibu dengan Keberhasilan IMD Hubungan Kesiapan Mental Ibu dengan Keberhasilan IMD  Kesiapan Peningkatan Kesehatan: Definisi dan Implementasi Kesiapan Peningkatan Kesehatan: Definisi dan Implementasi Psychological Readiness: Konsep dan Implikasi Psychological Readiness: Konsep dan Implikasi Kesiapan Persalinan Normal: Konsep, Indikator, dan Kesiapan Ibu Kesiapan Persalinan Normal: Konsep, Indikator, dan Kesiapan Ibu Kesiapan Mental Ibu Menghadapi Menyusui Kesiapan Mental Ibu Menghadapi Menyusui Kesiapan Keluarga Menyambut Bayi: Konsep, Dukungan Sosial, dan Adaptasi Kesiapan Keluarga Menyambut Bayi: Konsep, Dukungan Sosial, dan Adaptasi Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Perubahan Pola Komunikasi Pasien Perubahan Pola Komunikasi Pasien
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…