Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Ketidakpatuhan Terhadap Program Diet. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/ketidakpatuhan-terhadap-program-diet  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Ketidakpatuhan Terhadap Program Diet - SumberAjar.com

Ketidakpatuhan Terhadap Program Diet

Pendahuluan

Manajemen gizi melalui diet medis/profesional menjadi pilar penting dalam pengendalian penyakit kronis seperti Diabetes Mellitus (DM), hipertensi, gagal ginjal, dan kondisi metabolik lainnya. Namun dalam praktiknya, banyak pasien gagal menjalankan diet yang telah direkomendasikan, fenomena ini dikenal sebagai ketidakpatuhan diet. Ketidakpatuhan tersebut dapat menghambat upaya pengelolaan penyakit, meningkatkan risiko komplikasi, memperburuk kualitas hidup, serta membebani sistem kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk memahami secara mendalam apa yang dimaksud ketidakpatuhan diet, apa faktor penyebabnya, dampaknya terhadap kesehatan, bagaimana menilai kepatuhan, serta strategi untuk meningkatkan kepatuhan melalui edukasi dan peran perawatan kesehatan. Artikel ini bertujuan memberikan tinjauan komprehensif mengenai ketidakpatuhan terhadap program diet, dengan fokus khusus pada literatur dan data empiris terkini.


Definisi Ketidakpatuhan Diet

Definisi Ketidakpatuhan Diet Secara Umum

Secara umum, ketidakpatuhan diet merujuk pada kondisi di mana individu tidak mengikuti rencana makan atau pola diet yang telah dianjurkan oleh profesional kesehatan, baik dari sisi jenis makanan, jumlah, jadwal maupun frekuensi sesuai rekomendasi. Diet yang dianjurkan biasanya disesuaikan dengan kondisi medis, tujuan pengobatan, dan kondisi metabolik individu. Ketidakpatuhan bisa bersifat parsial (misalnya mengabaikan satu aspek kecil seperti asupan gula, garam, atau jadwal makan) atau total, di mana individu sama sekali tidak melakukan diet sesuai rekomendasi.

Definisi Ketidakpatuhan Diet dalam KBBI

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “patuh” berarti “taat; menurut; tidak melawan”; dengan demikian ketidakpatuhan dapat diartikan sebagai "tidak taat" atau "tidak menurut" terhadap aturan atau anjuran, dalam hal ini anjuran diet. Dengan demikian, ketidakpatuhan diet berarti tidak menaati aturan diet yang sudah ditetapkan (jenis, jumlah, jadwal, frekuensi makanan) sesuai dengan pedoman diet medis. (Catatan: karena KBBI tidak secara spesifik mendefinisikan “ketidakpatuhan diet, ” definisi ini merupakan interpretasi dari istilah “patuh/taat” dalam konteks diet).

Definisi Ketidakpatuhan Diet Menurut Para Ahli

Sejumlah peneliti dan ahli kesehatan menyajikan definisi ketidakpatuhan diet dalam konteks penelitian klinis dan gizi. Berikut beberapa definisi menurut para ahli:

  • Menurut Arbie dkk. (2025), dalam penelitian “Hubungan pengetahuan gizi dan kepatuhan diet penderita diabetes mellitus”, kepatuhan diet diukur melalui instrumen Perceived Dietary Adherence Questionnaire (PDAQ). Ketidakpatuhan diet berarti skor kepatuhan rendah pada aspek pola makan sehat, sayur, buah, serta pemilihan lemak sehat. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]

  • Dalam studi oleh Ridwan (2024) mengenai “dukungan keluarga dan kepatuhan diet” pada pasien diabetes, ketidakpatuhan diet diidentifikasi ketika pasien gagal mempertahankan pola diet sesuai rekomendasi gizi, baik dari segi jenis makanan maupun frekuensi/mekanisme makan. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id]

  • Menurut penelitian di RS Muhammadiyah Gresik (2025), ketidakpatuhan diet pada pasien DM diartikan sebagai ketidakmampuan atau kegagalan menerapkan edukasi diet, tercermin dari rendahnya tingkat kepatuhan setelah intervensi, dan meningkatnya sisa makanan (food waste). [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]

  • Dalam riset terhadap pasien hipertensi, ketidakpatuhan diet didefinisikan sebagai perilaku makan yang tidak sesuai rekomendasi diet (misal garam, lemak, frekuensi) sehingga tidak mendukung kontrol tekanan darah. [Lihat sumber Disini - jurnal-ppni.org]

Dengan demikian, secara operasional dalam kontek kesehatan masyarakat dan klinis, ketidakpatuhan diet adalah kegagalan pasien untuk menjalankan diet yang telah disarankan secara konsisten, baik dalam hal jenis makanan, jumlah, jadwal, maupun frekuensi.


Faktor Penyebab Ketidakpatuhan Pasien

Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan ketidakpatuhan diet. Berdasarkan literatur penelitian mutakhir, berikut faktor-faktor tersebut:

Pengetahuan dan Pemahaman Gizi yang Rendah

Penelitian oleh Arbie dkk. (2025) menunjukkan bahwa di antara 141 responden dengan DM di Gorontalo, 36, 2% memiliki pengetahuan gizi rendah, dan 78, 7% menunjukkan tingkat kepatuhan diet yang rendah. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id] Kurangnya pengetahuan mengenai prinsip diet, seperti pemilihan karbohidrat rendah indeks glikemik, pengurangan gula/lemak jenuh, pemilihan lemak sehat, berkontribusi besar terhadap ketidakpatuhan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Motivasi, Sikap dan Efikasi Diri (Self-Efficacy)

Dalam konteks hipertensi, penelitian oleh Olpah (2023) menunjukkan hubungan positif antara efikasi diri (keyakinan bahwa seseorang mampu menjalankan diet) dengan kepatuhan diet. [Lihat sumber Disini - jurnal-ppni.org] Jika pasien tidak merasa yakin bahwa mereka bisa menjalani diet secara konsisten, misalnya karena sulit mengganti kebiasaan makan, kemungkinan untuk tidak patuh menjadi besar.

Lamanya Penyakit / Durasi Terdiagnosis

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa durasi penyakit berpengaruh pada kepatuhan diet. Misalnya, di skripsi NRS NST (2025), ditemukan bahwa semakin lama seseorang menderita DM, semakin besar kecenderungan untuk patuh diet. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id] Namun di sisi lain, bagi sebagian pasien kronis, durasi lama sakit bisa menyebabkan kejenuhan, kelelahan mental, atau putus asa, yang justru menurunkan kepatuhan. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]

Faktor Sosial dan Dukungan dari Keluarga / Tenaga Kesehatan

Dukungan keluarga terbukti signifikan dalam mempengaruhi kepatuhan diet. Studi oleh Ridwan (2024) menunjukkan bahwa pasien dengan dukungan keluarga lebih besar memiliki kepatuhan diet lebih baik. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id] Selain itu, penelitian terbaru pada 2025 menunjukkan bahwa dukungan petugas kesehatan (misalnya perawat, nutrisionis) memiliki kaitan signifikan dengan tingkat kepatuhan diet pada pasien DM, pasien dengan dukungan tinggi jauh lebih mungkin menunjukkan kepatuhan sedang, tinggi dibanding mereka dengan dukungan rendah (72% vs 38%). [Lihat sumber Disini - omnijournal.id]

Persepsi (Perceived Severity, Perceived Benefits, Cues-to-Action)

Dalam penelitian pada pasien hipertensi, variabel seperti persepsi terhadap seberapa serius penyakit dan manfaat diet, sinyal pemicu tindakan (cues to action), serta efikasi diri, terbukti mempengaruhi kepatuhan. [Lihat sumber Disini - ejournal.unuja.ac.id] Bila pasien tidak merasa diet itu penting atau tidak melihat manfaat nyata, motivasi untuk tetap patuh rendah. Selain itu, kurangnya “pemicu”, seperti pengingat dari keluarga, petugas kesehatan, atau media, membuat diet mudah diabaikan. [Lihat sumber Disini - ejournal.unuja.ac.id]

Faktor Eksternal: Kultur Makan, Akses dan Kemudahan Menu Sehat, Ekonomi

Dalam konteks riset di komunitas Indonesia, keberhasilan diet juga dipengaruhi oleh kemampuan mengakses bahan makanan sehat, ketersediaan menu bergizi, serta aspek ekonomi. Penelitian intervensi diet dengan menu tradisional di suku Mandar menunjukkan bahwa edukasi + menu tradisional memberikan peningkatan signifikan dalam kepatuhan, karena lebih sesuai budaya dan lebih mudah diterima individu. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id] Sebaliknya, jika diet tampak “asing”, mahal, atau sulit disesuaikan dengan kebiasaan makan sehari-hari, kemungkinan ketidakpatuhan bertambah.


Dampak Ketidakpatuhan terhadap Kondisi Kesehatan

Ketidakpatuhan diet, terutama pada penyakit kronis seperti DM, hipertensi, gagal ginjal, bisa membawa berbagai dampak negatif:

  • Pada pasien DM: ketidakpatuhan terhadap diet menyebabkan kadar gula darah tidak terkendali, yang meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang seperti gagal ginjal, penyakit kardiovaskular, stroke, amputasi, neuropati diabetik, dan penurunan kualitas hidup. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

  • Pada pasien hipertensi atau penyakit metabolic lainnya: diet yang tidak sesuai (misalnya konsumsi garam tinggi, lemak jenuh, gula) dapat menyebabkan tekanan darah tidak stabil, memperburuk kondisi, serta meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. [Lihat sumber Disini - e-journal.stikesponorogo.ac.id]

  • Selain itu, ketidakpatuhan diet pada pasien rawat inap dapat meningkatkan sisa makanan (food waste), menunjukkan bahwa diet tidak dimanfaatkan sebagaimana mestinya, yang pada gilirannya bisa mempengaruhi status gizi, efisiensi terapi, dan biaya layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]

  • Secara lebih luas, ketidakpatuhan diet menghambat tujuan pengobatan, baik stabilisasi metabolik maupun pencegahan komplikasi, sehingga mengakibatkan beban morbiditas yang lebih tinggi, beban ekonomi bagi pasien dan sistem kesehatan, serta menurunkan kualitas hidup jangka panjang. [Lihat sumber Disini - ejournal.itekes-bali.ac.id]


Cara Menilai Kepatuhan Diet

Menilai kepatuhan diet bukan hal trivial: dibutuhkan instrumen yang valid dan studi observasional atau self-report, maupun pengamatan perilaku makan. Berikut beberapa pendekatan dan instrumen yang umum digunakan:

  • Instrumen Perceived Dietary Adherence Questionnaire (PDAQ): digunakan dalam penelitian Arbie dkk., mengukur aspek konsumsi makanan sehat, buah/sayur, lemak sehat, dan perilaku makan. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]

  • Kuesioner perilaku diet (dietary behavior questionnaire / DBQ): dipakai dalam penelitian pada pasien DM di mana dukungan tenaga kesehatan dan kepatuhan diet diukur secara kuantitatif. [Lihat sumber Disini - omnijournal.id]

  • Observasi langsung dan metode timbangan sisa makanan (food-weighing): dalam penelitian di RS Muhammadiyah Gresik, sebelum dan setelah intervensi edukasi gizi dipantau kepatuhan dan sisa makanan sebagai indikator penerapan diet. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]

  • Monitoring parameter klinis: misalnya pengukuran gula darah acak (random blood glucose) atau indikator metabolik lain, penelitian terbaru 2025 menunjukkan hubungan antara kepatuhan diet dan kadar glukosa acak. [Lihat sumber Disini - jppipa.unram.ac.id]

Penilaian ideal mengombinasikan data perilaku (apa yang dimakan, seberapa sering, seberapa sesuai) + outcome klinis (kadar gula, tekanan darah, berat badan, komplikasi) + konteks (dukungan, lingkungan, hambatan).


Strategi Edukasi dan Konseling Nutrisi

Agar program diet berhasil dan pasien patuh, diperlukan strategi edukasi dan konseling yang sistematis, konteks­sensitif, dan berkelanjutan. Berikut beberapa pendekatan yang telah terbukti efektif:

Edukasi Gizi Terstruktur & Konseling

Penelitian eksperimental pada pasien Type 2 Diabetes Mellitus (DMT2) di suku Mandar menunjukkan bahwa edukasi diet dengan menu tradisional lokal meningkatkan pengetahuan dan kepatuhan secara signifikan (p < 0, 05). [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id] Begitu pula di RS Muhammadiyah Gresik, edukasi gizi (konseling + leaflet + bimbingan langsung) menaikkan kepatuhan diet dari 30% ke 75% serta menurunkan food waste dari 65% menjadi 20%. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]

Personalisasi Menu dan Adaptasi Budaya

Pemanfaatan menu tradisional atau makanan lokal yang familiar membantu penerimaan diet oleh pasien, karena lebih cocok dengan kebiasaan makan, preferensi rasa, ketersediaan bahan, dan aspek ekonomi. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id] Sesuai dengan konteks lokal Indonesia, hal ini relevan agar diet tidak dianggap “asing” dan berat dijalani.

Dukungan Keluarga dan Lingkungan Sosial

Dukungan keluarga terbukti signifikan meningkatkan kepatuhan diet pada pasien DM. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id] Selain itu, dukungan dari petugas kesehatan, melalui konseling rutin, motivasi, monitoring, pengingat, sangat penting. Penelitian 2025 menunjukkan korelasi kuat antara dukungan tenaga kesehatan dengan tingkat kepatuhan diet. [Lihat sumber Disini - omnijournal.id]

Monitoring dan Evaluasi Berkala

Menilai kepatuhan secara berulang, melalui kuesioner, observasi, timbangan sisa makanan, dan pemeriksaan klinis, membantu mengetahui apakah diet dijalankan, mengidentifikasi hambatan, dan melakukan intervensi jika perlu. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]

Pendidikan Berkelanjutan & Pemberdayaan Pasien

Edukasi tidak cukup dilakukan sekali. Literasi gizi, pemahaman manfaat diet, serta motivasi internal harus diperkuat secara berkelanjutan agar diet menjadi bagian dari gaya hidup. Studi menunjukkan keberhasilan lebih baik ketika edukasi rutin dilakukan oleh tenaga kesehatan. [Lihat sumber Disini - omnijournal.id]


Peran Perawat dalam Meningkatkan Kepatuhan Diet

Perawat, sebagai bagian dari tim perawatan, memiliki peran krusial dalam mendukung pasien agar patuh diet, antara lain:

  • Memberikan edukasi gizi dan konseling diet, menjelaskan tujuan, manfaat, dan implikasi diet sesuai kondisi pasien.

  • Menjadi penghubung antara pasien, keluarga, dan nutrisionis / dokter, mendorong dukungan sosial, lingkungan, dan konsistensi pelaksanaan.

  • Melakukan monitoring rutin: memantau asupan makanan, kebiasaan makan, berat badan, serta evaluasi hasil klinis atau self-report kepatuhan.

  • Memfasilitasi adaptasi diet terhadap kondisi pasien, misalnya mempertimbangkan preferensi makanan, budaya, ketersediaan bahan, ekonomi.

  • Memberikan motivasi, pengingat, serta pendampingan berkelanjutan, sehingga pasien termotivasi menjaga patuh diet dalam jangka panjang.

Bukti empiris menunjukkan bahwa dukungan petugas kesehatan (termasuk perawat) berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kepatuhan diet pada pasien DM. [Lihat sumber Disini - omnijournal.id]


Contoh Kasus Ketidakpatuhan Diet

Sebagai ilustrasi, berikut skenario kasus nyata berdasarkan data penelitian:

  • Misalnya seorang pasien DMT2 di Gorontalo, dari 141 responden penelitian Arbie dkk. (2025), 78, 7% menunjukkan kepatuhan diet rendah. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id] Penyebab utamanya adalah rendahnya pengetahuan gizi: banyak pasien masih rutin mengonsumsi nasi putih sebagai karbohidrat utama, jarang mengonsumsi sayur/ buah, dan jarang menggunakan lemak sehat (misalnya minyak sehat). [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]

  • Kasus lain, pasien hipertensi di wilayah kerja Puskesmas di Situbondo (2024), menunjukkan bahwa meskipun diberikan anjuran diet dan obat, banyak yang tidak patuh: analisis menunjukkan bahwa persepsi terhadap manfaat diet, persepsi keseriusan penyakit dan efikasi diri mempengaruhi kepatuhan. [Lihat sumber Disini - ejournal.unuja.ac.id]

  • Dalam konteks rawat inap, pasien DM yang dirawat di rumah sakit, sebelum intervensi edukasi, memiliki tingkat kepatuhan rendah (30%) serta tingkat sisa makanan tinggi (65%), menunjukkan bahwa diet yang diresepkan tidak diterapkan, bahkan banyak makanan yang terbuang. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]


Kesimpulan

Ketidakpatuhan terhadap program diet adalah fenomena kompleks dengan banyak determinan, mulai dari kurangnya pengetahuan, motivasi, efikasi diri, hambatan sosial dan ekonomi, hingga kurangnya dukungan dari lingkungan dan tenaga kesehatan. Dampaknya serius: kadar gula darah atau kondisi metabolik bisa tidak terkendali, risiko komplikasi meningkat, dan tujuan pengobatan bisa gagal tercapai.

Menilai kepatuhan harus dilakukan dengan instrumen valid dan dipadukan dengan outcome klinis serta observasi perilaku makan. Untuk meningkatkan kepatuhan, dibutuhkan strategi edukasi gizi berkelanjutan, konseling, dukungan sosial dan lingkungan (keluarga, petugas kesehatan), adaptasi menu sesuai budaya dan preferensi, serta pemantauan dan evaluasi rutin. Perawat, bersama tim kesehatan, memiliki peran penting untuk memfasilitasi, mendampingi, dan mendukung pasien agar diet tidak hanya dijalankan satu kali, tetapi menjadi bagian dari gaya hidup sehat jangka panjang.

Dengan pendekatan holistik seperti itu, program diet tidak hanya menjadi “anjuran” pasif, tetapi menjadi intervensi aktif yang dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Ketidakpatuhan terhadap program diet adalah kondisi ketika pasien tidak mengikuti anjuran pola makan yang telah ditetapkan oleh tenaga kesehatan, baik dari segi jenis makanan, jumlah, frekuensi, maupun jadwal konsumsi.

Penyebab ketidakpatuhan diet meliputi kurangnya pengetahuan gizi, motivasi rendah, efikasi diri rendah, dukungan keluarga yang minim, faktor ekonomi, kebiasaan makan, dan akses terbatas terhadap makanan sehat.

Ketidakpatuhan diet dapat menyebabkan kondisi penyakit tidak terkendali, meningkatkan risiko komplikasi seperti gangguan metabolik, penyakit jantung, dan komplikasi diabetes, serta menurunkan kualitas hidup pasien.

Kepatuhan diet dapat dinilai melalui kuesioner seperti PDAQ, observasi langsung, pemantauan sisa makanan, evaluasi parameter klinis seperti gula darah, dan wawancara terkait kebiasaan makan pasien.

Strategi meningkatkan kepatuhan diet mencakup edukasi gizi terstruktur, konseling nutrisi, dukungan keluarga dan tenaga kesehatan, adaptasi menu sesuai budaya, serta monitoring dan evaluasi berkala.

Perawat berperan memberikan edukasi, melakukan pemantauan asupan makanan, memotivasi pasien, memberikan pengingat, serta menjadi penghubung antara pasien, keluarga, dan ahli gizi.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Ketidakpatuhan Terhadap Terapi Medis Ketidakpatuhan Terhadap Terapi Medis Ketidakpatuhan Program Diet: Konsep, Faktor Perilaku, dan Dampak Ketidakpatuhan Program Diet: Konsep, Faktor Perilaku, dan Dampak Dampak Ketidakpatuhan Terapi terhadap Rehospitalisasi Dampak Ketidakpatuhan Terapi terhadap Rehospitalisasi Faktor Penyebab Ketidakpatuhan Pengobatan Kronis Faktor Penyebab Ketidakpatuhan Pengobatan Kronis Kepatuhan Minum Obat: Konsep, Determinan Perilaku, dan Hasil Terapi Kepatuhan Minum Obat: Konsep, Determinan Perilaku, dan Hasil Terapi Kepatuhan Pengisian Resume Medis Kepatuhan Pengisian Resume Medis Tingkat Kepatuhan Minum Obat Tingkat Kepatuhan Minum Obat Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Kronis Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Kronis Faktor Kepatuhan KB Faktor Kepatuhan KB Riset Evaluasi Program: Pengertian dan Penerapan Riset Evaluasi Program: Pengertian dan Penerapan Kepatuhan Pengobatan Penyakit Kronis Kepatuhan Pengobatan Penyakit Kronis Kepatuhan Imunisasi Dasar Kepatuhan Imunisasi Dasar Evaluasi Program Pendidikan: Langkah dan Contoh Evaluasi Program Pendidikan: Langkah dan Contoh Pola Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Pola Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi Kepatuhan Pengobatan TB Kepatuhan Pengobatan TB Analisis Kepatuhan Pasien terhadap Terapi Osteoporosis Analisis Kepatuhan Pasien terhadap Terapi Osteoporosis Tingkat Kepatuhan Minum Obat: Determinan dan Implikasi Terapi Tingkat Kepatuhan Minum Obat: Determinan dan Implikasi Terapi Model Evaluasi CIPP: Pengertian dan Penerapan Model Evaluasi CIPP: Pengertian dan Penerapan Adherensi Terapi Rehabilitasi Adherensi Terapi Rehabilitasi Suplementasi Zat Besi: Konsep, Kepatuhan, dan Manfaat Suplementasi Zat Besi: Konsep, Kepatuhan, dan Manfaat
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…