Terakhir diperbarui: 13 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 13 December). Pengaruh Konsumsi Junk Food terhadap IMT. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/pengaruh-konsumsi-junk-food-terhadap-imt  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Pengaruh Konsumsi Junk Food terhadap IMT - SumberAjar.com

Pengaruh Konsumsi Junk Food terhadap IMT

Pendahuluan

Konsumsi makanan tidak sehat, khususnya junk food, telah menjadi fenomena global yang semakin mengkhawatirkan. Dengan gaya hidup modern dan kemudahan akses makanan cepat saji, frekuensi konsumsi junk food terus meningkat di berbagai kelompok usia. Fenomena ini berimplikasi tidak hanya pada kebiasaan makan sehari-hari, tetapi juga pada parameter kesehatan seperti Indeks Massa Tubuh (IMT) dan kesehatan metabolik secara keseluruhan. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pola makan tinggi junk food cenderung berkontribusi pada peningkatan berat badan, gangguan metabolisme, dan risiko penyakit kronis. Konsumsi makanan tinggi kalori tetapi minim nutrisi ini juga sering terjadi bersamaan dengan gaya hidup kurang aktif, sehingga memperburuk profil kesehatan populasi. Dalam artikel ini akan dibahas secara komprehensif mengenai pengaruh junk food terhadap IMT, dimulai dari definisi, kandungan nutrisi, faktor pendorong konsumsi, hubungan konsumsi junk food dengan IMT, dampak kesehatan, hingga upaya mengurangi konsumsi junk food.


Definisi Pengaruh Konsumsi Junk Food terhadap IMT

Definisi Pengaruh Konsumsi Junk Food terhadap IMT Secara Umum

Pengaruh konsumsi junk food terhadap Indeks Massa Tubuh (IMT) secara umum merujuk pada dampak yang ditimbulkan oleh konsumsi makanan tinggi energi tetapi rendah nutrisi terhadap perubahan berat badan dan status gizi individu. Junk food biasanya merupakan makanan olahan atau ultra-processed foods yang kaya akan gula, lemak jenuh, dan garam, serta rendah serat, vitamin, dan mineral yang dibutuhkan tubuh. Asupan makanan seperti ini cenderung menyebabkan akumulasi energi dalam bentuk lemak tubuh jika dikonsumsi secara rutin tanpa diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup, yang akhirnya meningkatkan IMT yang menunjukkan overweight dan obesitas. Penelitian pada berbagai populasi menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi junk food seringkali berhubungan dengan kecenderungan peningkatan IMT dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsi jenis makanan ini. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Definisi Pengaruh Konsumsi Junk Food terhadap IMT dalam KBBI

Istilah yang relevan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) terkait junk food adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan makanan cepat saji atau makanan olahan yang disajikan dengan cepat dan umumnya tinggi kalori tetapi minim nutrisi penting. Dalam konteks kesehatan, konsumsi junk food yang berlebihan dikaitkan dalam KBBI dengan pola makan tidak sehat yang dapat mengakibatkan peningkatan berat badan serta gangguan status gizi seperti obesitas, yang tercermin melalui peningkatan IMT. IMT sendiri adalah ukuran yang digunakan untuk mengkalkulasi kategori berat badan berdasarkan rasio tinggi dan berat badan seseorang. [Lihat sumber Disini - eprint.ivet.ac.id]

Definisi Pengaruh Konsumsi Junk Food terhadap IMT Menurut Para Ahli

  1. Dr. Melisa Ariani (2023) menyatakan bahwa junk food adalah makanan tinggi energi yang tidak bergizi dan kurang baik untuk kesehatan tubuh. Konsumsi junk food secara berlebihan dapat menyebabkan kenaikan berat badan dan gangguan kesehatan lain, termasuk peningkatan Indeks Massa Tubuh. [Lihat sumber Disini - eprint.ivet.ac.id]

  2. Monteiro et al. (2019) menggambarkan junk food sebagai produk makanan ultra-olahan yang sangat tinggi gula, lemak, dan kalori tetapi rendah serat serta mikronutrien, sehingga memberi “empty calories” yang berkontribusi terhadap obesitas. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  3. IMB Ilmi (2024) dalam kajian akademiknya menjelaskan bahwa konsumsi makanan dengan densitas energi tinggi tetapi dengan nutrisional rendah akan meningkatkan risiko kelebihan berat badan karena perbedaan yang besar antara kalori masuk dan keluar. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]

  4. Soans et al. (2025) menyatakan bahwa konsumsi junk food yang intensif mengakibatkan pola makan yang buruk secara nutrisi, tinggi trans fat, gula, dan sodium, sehingga berpotensi mempercepat kenaikan IMT jika tidak diiringi dengan pola hidup sehat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Kandungan Nutrisi Rendah pada Junk Food

Kalangan ilmiah umum sepakat bahwa junk food umumnya memiliki profil nutrisi yang sangat buruk jika dibandingkan dengan makanan utuh dan alami. Makanan ini biasanya sangat tinggi kalori, gula sederhana, lemak jenuh, lemak trans, dan natrium, tetapi sangat rendah zat gizi mikro seperti vitamin, mineral dan serat. Kombinasi ini membuat junk food memberikan “empty calories”, kalori yang tidak dibarengi oleh nutrisi penting yang mendukung fungsi tubuh sehat. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Profil nutrisi seperti ini berkaitan erat dengan peningkatan IMT karena tubuh menerima energi dalam jumlah besar namun tidak mendapat sinyal kenyang yang memadai dari nutrisi berkualitas, sehingga asupan energi seringkali melebihi kebutuhan harian. Kalori yang berlebihan kemudian disimpan dalam bentuk lemak tubuh, yang merupakan mekanisme fisiologis utama kenaikan berat badan dan peningkatan BMI atau IMT. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Selain itu, makanan yang sangat diproses sering kali memiliki komponen tambahan seperti pengawet, perasa, dan pewarna buatan yang membuat makanan lebih menarik tetapi tidak meningkatkan nilai gizi. Kekurangan mikronutrien ini berarti tubuh tidak mendapatkan dukungan vitamin dan mineral penting, sehingga kesehatan metabolik menjadi terganggu meskipun asupan energi tinggi. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Mekanisme pemrosesan tersebut juga membuat makanan menjadi mudah dikonsumsi berlebihan karena kehilangan tekstur dan rasa kenyang alami yang diberikan oleh makanan utuh seperti sayuran, buah, dan protein tanpa lemak. Ketidakseimbangan nutrisi ini merupakan salah satu faktor utama mengapa konsumsi junk food berhubungan dengan kenaikan IMT di banyak populasi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Faktor yang Mendorong Konsumsi Junk Food

Perubahan gaya hidup modern merupakan salah satu pendorong utama konsumsi junk food. Faktor seperti kesibukan, akses cepat melalui layanan delivery, harga yang relatif terjangkau, serta pemasaran digital yang agresif mendorong konsumsi makanan cepat saji di banyak kelompok usia, terutama remaja dan dewasa muda. Perubahan pola ini berdampak pada seringnya individu memilih junk food dibandingkan pilihan makanan yang lebih sehat. [Lihat sumber Disini - ejurnal.kampusakademik.co.id]

Selain faktor lingkungan, alasan lain termasuk kebiasaan makan dalam keluarga, waktu terbatas untuk persiapan makanan, tekanan sosial, dan preferensi rasa yang tinggi pada makanan manis atau gurih. Kehadiran media sosial dan iklan digital yang intens juga memperkuat kebiasaan ini, terutama di kalangan generasi yang lebih muda. Gas murah dan promosi diskon membuat makanan tinggi kalori ini semakin sulit dihindari dalam rutinitas harian. [Lihat sumber Disini - ejurnal.kampusakademik.co.id]

Lingkungan pendidikan juga memainkan peran penting. Ketika junk food mudah ditemukan di sekitar sekolah atau kampus, siswa dan mahasiswa cenderung memilih makanan ini karena kenyamanan dan harga yang bersaing dibandingkan makanan bergizi. Faktor psiko-sosial seperti kebiasaan teman sebaya dan ritual makan bersama juga dapat meningkatkan konsumsi junk food. Semua faktor ini bekerja bersama untuk menciptakan pola konsumsi yang akhirnya mendorong kenaikan IMT di banyak populasi. [Lihat sumber Disini - ejurnal.kampusakademik.co.id]


Hubungan Konsumsi Junk Food dengan Peningkatan IMT

Berbagai studi menunjukkan adanya hubungan kuat antara konsumsi junk food dan kenaikan IMT. Penelitian pada mahasiswa di Indonesia menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi makanan cepat saji berkorelasi positif dengan kenaikan IMT; responden yang mengonsumsi makanan cepat saji ≥3 kali per minggu memiliki IMT kategori overweight lebih tinggi dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya. [Lihat sumber Disini - ejurnal.kampusakademik.co.id]

Studi lain juga menunjukkan bahwa konsumsi junk food yang tinggi sering kali berkaitan dengan status gizi lebih, di mana frekuensi konsumsi fast food berkorelasi dengan peningkatan status gizi lebih pada remaja. Hasil uji statistik memperlihatkan hubungan signifikan antara frekuensi konsumsi makanan cepat saji dengan status gizi IMT yang lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - nutrisiajournal.com]

Tinjauan internasional juga mendukung hubungan ini: penelitian pada populasi anak sekolah di Nigeria melaporkan bahwa konsumsi junk food berkontribusi pada indeks antropometri dan berdampak pada peningkatan BMI secara signifikan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Secara mekanisme, kandungan kalori tinggi junk food menyebabkan keseimbangan energi yang positif, di mana asupan energi lebih besar daripada pengeluaran energi, sehingga tubuh menyimpan energi ekstra sebagai lemak. Lama waktu dan frekuensi konsumsi makanan ini semakin menguatkan tren kenaikan berat badan serta IMT pada banyak kelompok usia. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Dampak Konsumsi Berlebih terhadap Kesehatan Metabolik

Konsumsi junk food bukan hanya meningkatkan IMT tetapi juga berpengaruh pada kesehatan metabolik secara keseluruhan. Pola makan tinggi kalori tetapi rendah nutrisi cenderung menyebabkan resistensi insulin, peningkatan kadar kolesterol jahat (LDL), dan disfungsi metabolik yang berpotensi memicu penyakit seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. [Lihat sumber Disini - ejurnal.kampusakademik.co.id]

Selain itu, makanan ultra-diproses sering kali memicu lonjakan gula darah yang cepat, yang kemudian diikuti oleh penurunan tajam sehingga meningkatkan risiko resistensi insulin, mekanisme yang merupakan faktor kunci dalam sindrom metabolik dan diabetes. [Lihat sumber Disini - verywellhealth.com]

Gangguan metabolik lain yang terkait dengan konsumsi junk food termasuk hiperlipidemia, tekanan darah tinggi, dan gangguan toleransi glukosa. Kombinasi dari status metabolik yang buruk dan IMT yang meningkat dapat memicu risiko jangka panjang yang lebih besar terhadap penyakit kronis, seperti penyakit jantung koroner dan stroke. [Lihat sumber Disini - ejurnal.kampusakademik.co.id]


Upaya Mengurangi Konsumsi Junk Food

Mengurangi konsumsi junk food memerlukan strategi multi-sektoral, termasuk edukasi gizi dalam masyarakat, kebijakan pembatasan pemasaran makanan tidak sehat kepada anak dan remaja, serta peningkatan akses makanan bergizi dan terjangkau. Pendidikan gizi di sekolah dapat membantu individu memahami nilai nutrisi dari makanan yang mereka pilih dan dampaknya pada tubuh. [Lihat sumber Disini - ejurnal.kampusakademik.co.id]

Intervensi di lingkungan kerja dan kampus juga dapat mengatur pilihan makanan sehat di kantin serta program aktivitas fisik untuk mengimbangi asupan kalori. Kebijakan pemerintah tentang pelabelan makanan, pajak untuk produk tinggi gula atau lemak jenuh, serta pembatasan iklan makanan tidak sehat dapat membantu menekan konsumsi junk food secara luas. [Lihat sumber Disini - ejurnal.kampusakademik.co.id]

Meningkatkan keterampilan memasak sehat di rumah dan mengurangi ketergantungan pada layanan delivery juga berperan penting dalam mengubah pola makan. Perubahan gaya hidup menuju konsumsi makanan utuh dan seimbang dapat mendorong keseimbangan energi yang sehat serta menurunkan IMT dalam jangka panjang. [Lihat sumber Disini - ejurnal.kampusakademik.co.id]


Kesimpulan

Pengaruh konsumsi junk food terhadap IMT merupakan fenomena yang kompleks namun konsisten dipahami dalam literatur ilmiah. Konsumsi makanan tinggi kalori tetapi rendah nutrisi seperti junk food berkaitan erat dengan peningkatan IMT, terutama bila dikombinasikan dengan gaya hidup sedentari. Profil nutrisi junk food cenderung menghasilkan energi berlebih yang disimpan sebagai lemak tubuh, sehingga meningkatkan risiko overweight dan obesitas. Dampak ini tidak hanya terbatas pada perubahan berat badan, tetapi juga meluas ke kesehatan metabolik seperti resistensi insulin, gangguan lipid, dan risiko penyakit kronis. Faktor sosial, ekonomi, dan perilaku memainkan peran signifikan dalam frekuensi konsumsi junk food, sehingga intervensi edukatif dan kebijakan kesehatan masyarakat menjadi kunci penting dalam upaya pencegahan dan kontrol. Secara keseluruhan, perubahan pola makan menuju pilihan makanan yang lebih sehat diperlukan untuk menurunkan IMT dan meningkatkan kualitas kesehatan populasi.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Konsumsi junk food yang tinggi kalori namun rendah nutrisi dapat menyebabkan surplus energi yang disimpan sebagai lemak tubuh. Hal ini menyebabkan peningkatan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan meningkatkan risiko overweight maupun obesitas.

Junk food umumnya tinggi gula sederhana, lemak jenuh, dan natrium. Kandungan ini dapat memicu resistensi insulin, meningkatkan kadar kolesterol buruk, memengaruhi tekanan darah, dan meningkatkan risiko penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2.

Faktor yang mendorong konsumsi junk food meliputi kesibukan, harga yang relatif murah, pemasaran digital, kemudahan akses melalui layanan pesan antar, kebiasaan sosial, serta preferensi rasa yang kuat terhadap makanan tinggi gula dan lemak.

Upaya yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan edukasi gizi, menyediakan pilihan makanan sehat di sekolah atau tempat kerja, membatasi iklan makanan tidak sehat, memasak makanan bergizi di rumah, serta meningkatkan aktivitas fisik untuk menjaga keseimbangan energi.

Junk food sering kali tinggi kalori tetapi rendah vitamin, mineral, dan serat. Proses ultra-prosesed membuat makanan minim manfaat gizi dan hanya memberikan energi kosong yang tidak mendukung kesehatan tubuh secara optimal.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Konsumsi Simbolik: Konsep dan Identitas Sosial Konsumsi Simbolik: Konsep dan Identitas Sosial Pola Konsumsi Buah pada Anak Sekolah Pola Konsumsi Buah pada Anak Sekolah Konsumsi Gula: Konsep, Risiko Metabolik, dan Pengendalian Konsumsi Gula: Konsep, Risiko Metabolik, dan Pengendalian Perilaku Konsumsi Susu pada Remaja Perilaku Konsumsi Susu pada Remaja Hubungan Pengetahuan Obat Vitamin dengan Kepatuhan Konsumsi Hubungan Pengetahuan Obat Vitamin dengan Kepatuhan Konsumsi Pola Konsumsi Alkohol Pola Konsumsi Alkohol Pola Konsumsi Kopi dan Kesehatan Pola Konsumsi Kopi dan Kesehatan Pola Konsumsi Suplemen Vitamin Harian Pola Konsumsi Suplemen Vitamin Harian Pola Konsumsi Fast Food Pola Konsumsi Fast Food Perilaku Konsumsi Gula Tinggi Perilaku Konsumsi Gula Tinggi Konsumsi Sayur Harian pada Masyarakat Urban Konsumsi Sayur Harian pada Masyarakat Urban Konsumerisme Modern: Konsep dan Kritik Sosial Konsumerisme Modern: Konsep dan Kritik Sosial Konsumsi Gula dan Penyakit Metabolik Konsumsi Gula dan Penyakit Metabolik Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Buah Harian Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Buah Harian Perilaku Konsumsi Suplemen Harian Perilaku Konsumsi Suplemen Harian Hubungan Konsumsi Soda dengan Risiko Obesitas Hubungan Konsumsi Soda dengan Risiko Obesitas Evaluasi Konsumsi Suplemen oleh Ibu Hamil Evaluasi Konsumsi Suplemen oleh Ibu Hamil Pengetahuan Remaja tentang Bahaya Minuman Manis Pengetahuan Remaja tentang Bahaya Minuman Manis Perilaku Konsumsi Suplemen Antioksidan Perilaku Konsumsi Suplemen Antioksidan Kelebihan Gula dan Risiko Diabetes Kelebihan Gula dan Risiko Diabetes
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…