Terakhir diperbarui: 10 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 10 January). Konsumerisme Modern: Konsep dan Kritik Sosial. SumberAjar. Retrieved 12 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/konsumerisme-modern-konsep-dan-kritik-sosial 

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Konsumerisme Modern: Konsep dan Kritik Sosial - SumberAjar.com

Konsumerisme Modern: Konsep dan Kritik Sosial

Pendahuluan

Dalam era modern, fenomena konsumsi telah menjelma menjadi salah satu ciri khas masyarakat kontemporer di banyak negara. Tidak lagi sekedar memenuhi kebutuhan dasar, konsumsi telah berubah menjadi gaya hidup yang menentukan bagaimana individu memaknai status sosial, identitas personal, dan bahkan kebahagiaan hidupnya. Munculnya budaya konsumtif ini tidak terlepas dari kemajuan teknologi, globalisasi, serta dominasi kapitalisme dalam struktur sosial ekonomi sehingga masyarakat semakin terdorong untuk berpartisipasi dalam pola konsumsi intensif. Konsumerisme modern telah memicu perubahan dalam cara berpikir dan bertindak, di mana kepemilikan barang dan jasa dianggap sebagai simbol prestise, kesuksesan, dan modernitas. Fenomena ini menarik untuk dikaji secara akademik karena turut memberikan dampak luas terhadap aspek sosial, budaya, psikologis, dan struktur masyarakat.


Definisi Konsumerisme Modern

Definisi Konsumerisme Modern Secara Umum

Konsumerisme modern dapat dipahami sebagai pola pikir dan perilaku konsumsi di mana individu secara terus menerus terdorong untuk membeli dan mengonsumsi barang-barang atau jasa-jasa melebihi kebutuhan dasar hidupnya, bukan semata untuk penggunaan fungsional, melainkan sebagai simbol status, prestise, dan identitas sosial dalam masyarakat kontemporer. Konsumerisme menempatkan konsumsi sebagai titik pusat kehidupan masyarakat modern yang mengaburkan batas antara kebutuhan dan keinginan, sehingga konsumsi menjadi alasan utama dalam kehidupan sosial dan ekonomi individu. Studi empiris menunjukkan bahwa konsumsi dalam budaya ini bukan sekadar kebutuhan ekonomi, tetapi juga sarana ekspresi diri dan komposisi identitas sosial. [Lihat sumber Disini - esiculture.com]

Definisi Konsumerisme Modern dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), konsumerisme didefinisikan sebagai gaya hidup atau pola perilaku yang menempatkan memperoleh dan memiliki barang-barang sebagai sumber kebahagiaan dan prestise sosial, di mana fokus utama individu bukan dilandasi oleh kebutuhan tetapi oleh dorongan untuk konsumsi yang terus meningkat. Konsep ini dipahami secara luas sebagai gaya hidup yang ditandai oleh konsumsi berlebihan yang sering dikaitkan dengan fenomena hedonisme dan tekanan sosial untuk selalu mengikuti tren. [Lihat sumber Disini - ocbc.id]

Definisi Konsumerisme Modern Menurut Para Ahli

  • Jean Baudrillard, Menurut Baudrillard, konsumerisme modern adalah budaya konsumsi yang menciptakan hasrat untuk konsumsi yang terus menerus, di mana makna dan nilai barang tidak hanya dilihat dari fungsi tetapi dari citra simboliknya dalam masyarakat modern. Konsumerisme mengubah barang menjadi tanda simbol status sosial, yang mendorong individu untuk membeli demi pengakuan sosial. [Lihat sumber Disini - ocbc.id]

  • Nur Riswandy Marsuki dkk. (2024), Penelitian ini menunjukkan konsumerisme sebagai budaya konsumsi yang memiliki kaitan erat dengan identitas sosial dan kelas dalam masyarakat urban, bahwa konsumsi tertentu dimaknai sebagai ekspresi kelas sosial serta standar yang dibentuk oleh pasar dan media sosial. [Lihat sumber Disini - esiculture.com]

  • Herbert Marcuse, Dalam perspektif kritik sosial, Marcuse menganggap konsumerisme sebagai bagian dari masyarakat industri maju di mana kebutuhan palsu diciptakan oleh sistem kapitalis melalui media dan industri komersial sehingga individu tergabung dan terikat secara ideologis ke dalam mesin produksi dan konsumsi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Teologi dan Budaya Populer (2024), Konsumerisme dipahami sebagai pola pikir dan tindakan membeli barang yang bukan didasari kebutuhan tetapi hasrat dan dorongan eksternal yang mengakar kuat dalam budaya populer modern, sehingga konsumsi diutamakan atas pertimbangan ekonomi rasional. [Lihat sumber Disini - j-innovative.org]


Ciri-Ciri Konsumerisme Modern

Konsumerisme modern memiliki sejumlah ciri khas yang secara jelas membedakannya dari pola konsumsi tradisional dan kebutuhan ekonomi dasar masyarakat.

  1. Konsumsi melebihi kebutuhan fungsional

    Ciri paling menonjol dari konsumerisme modern adalah dorongan untuk membeli barang dan jasa bukan semata karena kebutuhan primer, melainkan untuk tujuan penggunaan simbolik, citra sosial, dan kepuasan emosional yang bersifat sementara. Hal ini menjadikan konsumsi berlebihan sebagai karakteristik dominan masyarakat modern yang melampaui kebutuhan dasar seperti pangan, sandang, dan papan. [Lihat sumber Disini - ocbc.id]

  2. Penekanan pada citra dan identitas sosial

    Barang-barang tertentu, terutama yang bermerek atau branded, dianggap sebagai simbol strategi untuk menampilkan citra tertentu di mata publik. Kepemilikan barang-barang ini dipandang sebagai indikator status sosial, prestise, dan keberhasilan personal di berbagai konteks sosial. [Lihat sumber Disini - esiculture.com]

  3. Pengaruh tren dan budaya populer

    Konsumerisme modern sering kali dipacu oleh budaya populer, tren media sosial, serta industri hiburan yang mempromosikan gaya hidup tertentu dan menanamkan gagasan bahwa memiliki barang terbaru adalah bagian dari aktualisasi diri seseorang. [Lihat sumber Disini - ocbc.id]

  4. Keterkaitan erat dengan hedonisme

    Konsumerisme ditandai oleh motif hedonistik di mana kepuasan dan kesenangan personal menjadi pendorong utama dalam konsumsi, sehingga seseorang cenderung mengejar konsumsi yang memicu kenikmatan emosional dan pengalaman pleasurable daripada fungsionalitas barang yang dibeli. [Lihat sumber Disini - j-innovative.org]

  5. Tekanan sosial dan normatif untuk mengikuti tren

    Dalam masyarakat modern, terdapat tekanan sosial yang kuat untuk mengikuti tren konsumsi tertentu demi mendapatkan pengakuan sosial, diterima oleh kelompok sosial tertentu, atau tidak dianggap ketinggalan zaman, yang seringkali diperkuat oleh media sosial dan iklan komersial. [Lihat sumber Disini - ocbc.id]


Faktor Pendorong Konsumerisme

Konsumerisme modern tidak muncul secara spontan, melainkan dipengaruhi oleh kombinasi faktor struktural dan kultural yang saling berinteraksi dalam masyarakat kontemporer:

  1. Globalisasi Ekonomi dan Pasar

    Globalisasi telah memperluas akses terhadap barang dan jasa dari berbagai belahan dunia. Arus barang global yang cepat dan agresif menanamkan budaya konsumsi global, di mana batas-batas nasional melemah dan gaya hidup konsumtif menjadi terstandarisasi. Globalisasi juga memperkuat media dan iklan internasional yang mendorong kebutuhan konsumsi yang selalu meningkat.

  2. Kemajuan Teknologi dan Media Digital

    Hadirnya media sosial, e-commerce, dan teknologi digital telah merevolusi cara orang berinteraksi dengan produk dan informasi konsumsi. Teknologi memberikan akses instan terhadap barang-barang terbaru dan menawarkan normalisasi terhadap konsumsi yang intensif, serta meningkatkan tekanan psikologis untuk selalu mengikuti tren. [Lihat sumber Disini - ocbc.id]

  3. Budaya Populer dan Tren Gaya Hidup

    Budaya populer, termasuk musik, film, selebritas, dan influencer digital, memainkan peran penting dalam menyebarkan norma konsumsi modern melalui media massa. Gaya hidup dan barang-barang tertentu dipromosikan sebagai lambang kebahagiaan dan kesuksesan, sehingga mendorong masyarakat untuk ikut serta dalam pola konsumsi tersebut. [Lihat sumber Disini - ocbc.id]

  4. Tekanan Sosial dan Adrensi Komunitas

    Tekanan sosial, baik dari lingkungan keluarga, teman, maupun komunitas online, bisa menjadi pendorong kuat bagi individu untuk menyesuaikan dirinya dengan standar konsumsi tertentu. Kecenderungan “fear of missing out” (FOMO) dan kebutuhan untuk diterima dalam kelompok sosial dapat mendorong konsumsi berlebihan. [Lihat sumber Disini - ocbc.id]

  5. Kapitalisme dan Ideologi Pasar

    Sistem ekonomi kapitalis berfokus pada pertumbuhan pasar dan profit sehingga menciptakan kebutuhan baru terus-menerus melalui strategi pemasaran, inovasi produk, dan diferensiasi barang untuk menstimulasi permintaan yang tak pernah berakhir. Hal ini menanamkan ideologi konsumsi sebagai bagian dari identitas sosial dan tujuan hidup. [Lihat sumber Disini - academic.oup.com]


Konsumerisme dan Budaya Populer

Budaya populer modern merupakan arena penting di mana konsumerisme direproduksi, dirayakan, dan dipertahankan sebagai norma sosial dominan. Budaya populer, melalui film, acara televisi, musik, influencer, dan media digital, mengonstruksi narasi tentang konsumsi sehingga barang tertentu dipahami sebagai tanda gaya hidup ideal yang harus diikuti oleh individu dalam masyarakat. Konsumerisme dalam budaya populer sering kali dikaitkan dengan kesuksesan, kebahagiaan, dan pemenuhan diri. Barang-barang bermerek atau pengalaman konsumsi tertentu dipromosikan sebagai must-have item, di mana kepemilikan bukan hanya sekadar penggunaan tetapi ekspresi estetika dan identitas digital yang diperkuat oleh gambar dan narasi di media sosial. [Lihat sumber Disini - ocbc.id]

Fenomena konsumsi branded, tren fashion, dan peran influencer dalam menyebarkan gaya hidup tertentu menunjukkan bagaimana budaya populer memengaruhi preferensi konsumsi masyarakat modern. Konsumerisme ini bukan hanya tentang barang, tetapi juga tentang simbol status, antisipasi sosial, dan konformitas sosial. Selanjutnya, e-commerce dan algoritma digital memperkuat pola ini dengan menghadirkan iklan yang sangat personal sehingga dorongan untuk membeli barang menjadi semakin intens dan terus menerus. [Lihat sumber Disini - ocbc.id]


Dampak Konsumerisme terhadap Kehidupan Sosial

Konsumerisme modern memiliki dampak yang luas terhadap kehidupan sosial masyarakat, mencakup berbagai aspek psikologis, sosial, ekonomi, serta lingkungan:

  1. Individualisme dan Fragmentasi Sosial

    Konsumerisme mendorong orientasi individualistik, di mana pencapaian pribadi melalui barang dan pengalaman konsumsi menjadi ukuran utama keberhasilan hidup. Hal ini dapat mengurangi solidaritas sosial dan meningkatkan alienasi antara kelompok sosial, karena hubungan sosial menjadi bersifat kompetitif berdasarkan kepemilikan barang.

  2. Ketimpangan Sosial dan Stratifikasi Status

    Kepemilikan barang bermerek dan gaya hidup konsumtif sering kali dikaitkan dengan status sosial tertentu. Akibatnya, konsumerisme dapat memperkuat ketimpangan sosial karena individu dan kelompok yang tidak mampu mengikuti pola konsumsi tertentu akan mengalami marginalisasi atau merasa rendah dibandingkan mereka yang mampu. [Lihat sumber Disini - esiculture.com]

  3. Tekanan Psikologis dan Kesejahteraan Mental

    Dorongan terus-menerus untuk mengikuti tren konsumsi dan membandingkan diri dengan standar yang dibentuk oleh media dapat memicu tekanan psikologis, kecemasan, serta ketidakpuasan terhadap diri sendiri, terutama di kalangan generasi muda yang sangat aktif di media sosial.

  4. Pemborosan dan Dampak Lingkungan

    Konsumerisme modern, terutama dalam produk elektronik dan mode cepat (fast fashion), menghasilkan limbah yang besar serta konsumsi sumber daya alam yang intensif, sehingga berdampak negatif terhadap lingkungan hidup. [Lihat sumber Disini - ejournal.goacademica.com]

  5. Perubahan Nilai Budaya

    Nilai-nilai sosial tradisional yang menekankan kebersamaan, pertimbangan moral, dan kesejahteraan kolektif bisa tergeser oleh orientasi konsumtif yang menempatkan kepemilikan barang sebagai standar utama keberhasilan hidup.


Kritik Sosial terhadap Konsumerisme Modern

Konsumerisme modern menghadapi kritik sosial dari berbagai sudut pandang, terutama dalam kerangka analisis kritis terhadap kapitalisme, struktur sosial, dan budaya:

  1. Konsumsi Sebagai Kebutuhan Palsu

    Ahli kritik sosial seperti Herbert Marcuse berpendapat bahwa konsumerisme menciptakan kebutuhan palsu yang diproduksi oleh sistem kapitalis melalui media dan industri komersial, sehingga individu terikat pada pola konsumsi yang sebenarnya tidak memberikan kebahagiaan sejati, melainkan ilusi pemenuhan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  2. Alih Fungsi Barang Menjadi Tanda Sosial

    Kritik lain menyatakan bahwa dalam masyarakat konsumeris, barang lebih dilihat sebagai tanda sosial daripada fungsinya. Kepemilikan barang menjadi tujuan utama sehingga hubungan antara barang dan kebutuhan manusia menjadi kabur.

  3. Eksploitasi Sumber Daya dan Ketidakadilan Global

    Konsumerisme modern juga dikritik karena mengakibatkan eksploitasi tenaga kerja, sumber daya alam, dan pasar global yang tidak setara. Sistem produksi dan konsumsi massal sering dirancang untuk keuntungan korporasi besar, sementara dampaknya terhadap buruh dan lingkungan sering diabaikan.

  4. Pengaruh Ideologi Pasar

    Konsumerisme dipandang sebagai penyebar ideologi pasar yang mendominasi cara berpikir individu dan struktur sosial, di mana nilai humanistik dan etika sering diabaikan demi pertumbuhan ekonomi dan profit. [Lihat sumber Disini - academic.oup.com]

  5. Individualisme Ekstrem dan Fragmentasi Sosial

    Kritik terhadap konsumerisme juga datang dari perspektif sosial yang menilai bahwa fokus berlebihan pada konsumsi individu memperlemah jaringan sosial dan solidaritas bersama, serta memperkuat ketimpangan sosial.


Kesimpulan

Konsumerisme modern merupakan fenomena sosial kompleks yang mencerminkan transformasi masyarakat dari sekedar memenuhi kebutuhan dasar menjadi masyarakat yang menempatkan konsumsi sebagai pusat kehidupan sosial, identitas, dan nilai budaya. Konsumerisme ini dipengaruhi oleh globalisasi, teknologi, budaya populer, serta ideologi pasar kapitalis yang terus memproduksi kebutuhan baru. Dampaknya dirasakan secara luas mulai dari individualisme, tekanan psikologis, ketimpangan sosial, hingga degradasi lingkungan. Kritik sosial terhadap konsumerisme modern menyoroti bagaimana pola konsumsi berlebihan ini menciptakan kebutuhan palsu, memperkuat ketidakadilan sosial, serta mengaburkan hubungan antara barang dan nilai kehidupan sejati. Pemahaman kritis terhadap konsumerisme penting agar masyarakat dapat menilai kembali prioritas nilai dan mengembangkan cara hidup yang lebih berkelanjutan dan manusiawi.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Kebudayaan Kontemporer: Konsep, Unsur, dan Ciri Obyektivisme: Pengertian dan Kritiknya Homogenisasi Budaya: Konsep dan Kritik Sosial Teori Kritis Habermas: Prinsip dan Contoh dalam Riset Sosial Relativisme Ilmiah: Pengertian dan Kritiknya Hegemoni: Pengertian, Karakteristik, dan Contoh dalam Kajian Sosial Positivisme: Pengertian dan Kritiknya dalam Dunia Ilmiah Paradigma Postmodern dalam Ilmu Pengetahuan Ontologi Kritis: Definisi dan Contoh dalam Ilmu Sosial Paradigma Postmodernisme dalam Dunia Akademik Paradigma Kritis: Tujuan dan Penerapannya dalam Kajian Sosial Metode Historis: Langkah dan Contohnya Sistem Mobile Kotak Saran Siswa Fixed Mindset: Ciri dan Dampaknya Gaya Hidup Modern: Konsep dan Fenomena Sosial Falsifikasi: Pengertian, Fungsi, dan Contohnya dalam Filsafat Ilmu Epistemologi Modern: Perkembangan dan Implikasinya Teori Pengetahuan: Perspektif Kritis dan Modern Paradigma Ilmu Sosial: Pengertian dan Klasifikasinya Relativisme Akademik: Pengertian dan Dampaknya
Artikel Terbaru
Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah: Konsep dan Legitimasi Kebijakan Publik: Konsep dan Dampak Sosial Advokasi Sosial: Konsep dan Perubahan Kebijakan Good Governance: Konsep dan Akuntabilitas Sosial Civil Society: Konsep dan Peran Sosial Demokrasi Sosial: Konsep dan Partisipasi Warga Identitas Kolektif: Konsep dan Pembentukan Kelompok Dinamika Kelompok Sosial: Konsep dan Interaksi Internal Inklusi Sosial: Konsep dan Keadilan Sosial Eksklusi Sosial: Konsep dan Marginalisasi Minoritas Sosial: Konsep dan Relasi Kekuasaan Mayoritas Sosial: Konsep dan Dominasi Sosial Polarisasi Sosial: Konsep dan Konflik Kepentingan Interaksi Antarbudaya: Konsep dan Tantangan Sosial Relasi Sosial Virtual: Konsep dan Perubahan Makna