Terakhir diperbarui: 12 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 12 December). Pengetahuan Remaja tentang Bahaya Minuman Manis. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/pengetahuan-remaja-tentang-bahaya-minuman-manis  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Pengetahuan Remaja tentang Bahaya Minuman Manis - SumberAjar.com

Pengetahuan Remaja tentang Bahaya Minuman Manis

Pendahuluan

Minuman manis kini menjadi bagian dari pola konsumsi remaja sehari-hari. Kehadirannya di sekolah, warung, dan media sosial membuat remaja semakin mudah mengaksesnya. Minuman manis sering dipersepsikan sebagai “teman nongkrong” yang menyegarkan, namun di balik rasanya yang disukai terdapat berbagai dampak negatif terhadap kesehatan, terutama bila dikonsumsi secara berlebihan dan rutin sejak usia muda. Tunaikan rasa ingin tahu pembaca dengan menjelaskan seberapa luas masalah ini terjadi, bagaimana minuman manis berkontribusi pada masalah kesehatan jangka pendek dan jangka panjang, serta pentingnya pemahaman yang benar agar remaja dapat membuat keputusan yang lebih sehat dalam konsumsi minuman mereka.


Definisi Pengetahuan Remaja tentang Bahaya Minuman Manis

Definisi Pengetahuan Remaja tentang Bahaya Minuman Manis Secara Umum

Pengetahuan remaja tentang bahaya minuman manis merujuk pada sejauh mana remaja memahami apa itu minuman manis, kandungan gula yang terdapat di dalamnya, dan berbagai risiko kesehatan yang dapat timbul akibat konsumsi berlebih. Pengetahuan ini mencakup aspek kognitif seperti fakta medis, dampak jangka panjang, serta hubungan antara konsumsi gula dan penyakit metabolik yang potensial. Pengetahuan yang memadai memungkinkan remaja untuk menyadari konsekuensi konsumsi minuman manis yang tinggi dan pada akhirnya dapat mempengaruhi perilaku konsumsi mereka.

Definisi Pengetahuan Remaja tentang Bahaya Minuman Manis dalam KBBI

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak memiliki entri khusus untuk frasa lengkap “minuman manis” sebagai istilah ilmiah, tetapi kata “manis” dijelaskan sebagai rasa seperti gula atau sesuatu yang menyerupai rasa gula. Dari pengertian ini, “minuman manis” dapat diartikan sebagai minuman yang memiliki rasa manis seperti gula, yang biasanya berasal dari penambahan gula atau pemanis lainnya dalam bahan minumannya. Definisi ini menggambarkan ciri sensori minuman tersebut, namun belum mencakup aspek nutrisi atau dampak kesehatannya secara eksplisit. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]

Definisi Pengetahuan Remaja tentang Bahaya Minuman Manis Menurut Para Ahli

  1. Menurut Bogart dan kolega (2017), minuman berpemanis atau Sugar-Sweetened Beverages (SSBs) adalah minuman yang diberikan tambahan gula atau pemanis sehingga meningkatkan jumlah gula bebas di dalamnya, yang menjadi sumber energi utama namun tanpa nilai gizi lain yang signifikan. [Lihat sumber Disini - pajak.go.id]

  2. Costa et al. (2022) menjelaskan bahwa minuman manis (SSBs) merupakan minuman yang mengandung pemanis tambahan seperti sukrosa atau sirup jagung fruktosa tinggi, yang meningkatkan total konsumsi gula dalam diet. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  3. Aranis (tahun terbit tidak disebutkan) juga mendefinisikan SSB sebagai minuman yang diperkaya dengan gula seperti gula sukrosa atau konsentrat buah manis yang menyebabkan kandungan kalori meningkat tanpa dilengkapi nutrisi lain. [Lihat sumber Disini - scholarhub.ui.ac.id]

  4. Frontiers in Nutrition menjelaskan bahwa SSBs adalah minuman non-alkohol yang mengandung gula tambahan dan merupakan bagian dari konsumsi gula tambahan dalam pola makan, termasuk soda, minuman buah, minuman energi, dan minuman olahraga. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]

Berdasarkan definisi-definisi ini, dapat disimpulkan bahwa pengetahuan remaja mencakup pengenalan apa itu minuman manis atau SSB, kandungan gula di dalamnya, serta implikasi kesehatannya.


Dampak Konsumsi Minuman Manis pada Kesehatan

Konsumsi minuman manis sering dikaitkan dengan sejumlah masalah kesehatan, terutama bila asupannya melebihi kebutuhan tubuh. Minuman ini merupakan sumber utama gula tambahan dalam diet remaja, yang dapat berdampak buruk terhadap berbagai aspek kesehatan.

Berbagai penelitian telah menunjukkan hubungan antara konsumsi minuman manis dan risiko kesehatan yang serius. Misalnya, asupan SSB dikaitkan dengan peningkatan berat badan, obesitas, dan gangguan metabolik pada anak dan remaja. SSB merupakan kontributor utama gula bebas dalam diet remaja dan hubungan kuat antara asupan ini dengan peningkatan berat badan dan komplikasi metabolik telah dilaporkan di literatur medis. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Selain itu, kebiasaan mengonsumsi minuman manis diketahui meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik, yang merupakan sekelompok kondisi (termasuk resistensi insulin dan obesitas perut) yang meningkatkan risiko penyakit kronis jantung dan pembuluh darah. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Dampak lain adalah gangguan gigi, karena gula merupakan media pertumbuhan bakteri yang menyebabkan karies gigi, serta kemungkinan meningkatnya risiko penyakit hati non-alkohol dan gangguan ginjal sebagai akibat konsumsi gula tinggi dalam jangka panjang. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]

Konsumsi minuman manis juga berkontribusi terhadap asupan energi yang tinggi tanpa memberikan rasa kenyang yang bermakna, sehingga mendorong konsumsi kalori ekstra yang dapat berkontribusi pada kelebihan berat badan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Tingkat Pemahaman Remaja mengenai Kandungan Gula

Pemahaman remaja terhadap kandungan gula dalam minuman manis sangat beragam. Survei di berbagai sekolah menunjukkan bahwa sebagian remaja memiliki pemahaman yang baik tentang minuman berpemanis, tetapi tidak semua remaja benar-benar mengetahui kandungan gizi serta risiko kesehatannya. Dalam penelitian di SMP 1 Muhammadiyah Surakarta, sekitar 59, 8% siswa memiliki pengetahuan baik tentang minuman berpemanis dan hubungannya dengan status gizi, menunjukkan bahwa banyak remaja dapat mengenali minuman manis dan implikasi kesehatannya. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

Namun, data lain menunjukkan bahwa belum semua remaja mampu menghubungkan pengetahuan mereka dengan perilaku konsumsi yang sehat; di sebuah studi di Jambi, 62, 1% responden sering mengonsumsi minuman kemasan meskipun banyak yang memiliki pengetahuan sedang tentang efek negatifnya. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan saja belum tentu mencegah perilaku konsumsi tinggi. [Lihat sumber Disini - jab.ubr.ac.id]

Perbedaan ini bisa disebabkan oleh faktor sosial, pemahaman media, kebiasaan keluarga, dan ketersediaan minuman manis dalam lingkungan mereka. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif tentang kandungan gula, termasuk jenis gula tambahan dan volume gula dalam kemasan minuman, tetap perlu diperkuat melalui edukasi yang tepat dan berkelanjutan.


Faktor yang Mendorong Konsumsi Minuman Manis

Beberapa faktor mendorong tingginya konsumsi minuman manis di kalangan remaja. Pertama, pemasaran dan ketersediaan minuman manis yang luas di sekolah, warung, dan restoran cepat saji membuat konsumsi menjadi hal yang mudah dan tampak normal. Faktor lingkungan ini memperkuat kebiasaan konsumsi yang tinggi. [Lihat sumber Disini - ulilalbabinstitute.id]

Kedua, minuman manis yang dipromosikan sebagai tren kekinian, terutama di media sosial, sering kali menambah daya tarik di kalangan remaja yang sangat dipengaruhi gaya hidup digital. Walaupun tidak selalu diteliti secara ilmiah di Indonesia, tren konsumsi yang meningkat secara global menunjukkan pola ini juga terjadi di kalangan remaja. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]

Ketiga, persepsi sosial dan pola konsumsi keluarga juga berperan signifikan; jika orang tua atau saudara sering mengonsumsi minuman manis, anak remaja cenderung meniru perilaku tersebut. Terakhir, kurangnya edukasi nutrisi yang terstruktur di sekolah dan rumah membuat remaja kurang memahami konsekuensi nyata dari konsumsi gula berlebihan.


Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Konsumsi

Hubungan antara pengetahuan tentang risiko kesehatan dari minuman manis dan perilaku konsumsi tidak selalu linier. Beberapa studi menunjukkan bahwa remaja yang memiliki pengetahuan lebih tentang risiko kesehatan terkait SSB cenderung memiliki pola konsumsi yang lebih rendah, namun penelitian lain menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak selalu mengurangi konsumsi harian secara signifikan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Contohnya, di sebuah penelitian di SMP IT Al-Azhar Kota Jambi, remaja dengan pengetahuan sedang tentang efek negatif tetap sering mengonsumsi minuman kemasan. Hal ini menunjukkan bahwa faktor kontekstual seperti lingkungan sosial dan kebiasaan keluarga juga memainkan peran penting dalam perilaku konsumsi. [Lihat sumber Disini - jab.ubr.ac.id]

Untuk mengurangi konsumsi minuman manis secara efektif, diperlukan kombinasi antara peningkatan pengetahuan, perubahan lingkungan konsumsi, dan dukungan dari orang tua serta kebijakan sekolah untuk menyediakan pilihan minuman yang lebih sehat.


Risiko Penyakit Metabolik pada Konsumsi Berlebih

Konsumsi minuman manis berlebihan pada remaja telah dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan metabolik seperti obesitas, prediabetes, dan diabetes tipe 2. Dalam sejumlah studi, asupan SSB yang tinggi telah dikaitkan dengan peningkatan berat badan dan risiko sindrom metabolik sejak usia muda, yang pada gilirannya dapat meningkatkan kemungkinan penyakit kronis di masa dewasa. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Selanjutnya, penelitian lokal di Indonesia mengemukakan bahwa konsumsi minuman manis >12 gram/hari merupakan faktor dominan risiko prediabetes di kalangan remaja, dengan risiko kejadian prediabetes meningkat secara signifikan dalam kelompok dengan konsumsi tinggi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-hi.ac.id]

Obesitas di usia remaja juga menjadi masalah karena predisposisi terhadap berbagai komplikasi seperti hipertensi, resistensi insulin, dan dislipidemia, yang merupakan komponen dari sindrom metabolik. Kondisi-kondisi ini dapat berlanjut hingga dewasa, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan lain seperti penyakit hati non-alkohol. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]

Selain itu, risiko gigi berlubang dan gangguan kesehatan oral lainnya juga meningkat seiring frekuensi konsumsi gula tinggi yang sering ditemukan pada minuman manis.


Kesimpulan

Pengetahuan remaja tentang bahaya minuman manis mencakup pemahaman tentang apa itu minuman berpemanis, kandungan gula di dalamnya, dan berbagai dampak negatif terhadap kesehatan. Minuman manis dengan tambahan gula merupakan sumber utama gula dalam diet remaja yang terkait dengan risiko obesitas, gangguan metabolik seperti diabetes tipe 2, dan masalah kesehatan lainnya jika dikonsumsi secara berlebihan. Pemahaman ini penting karena tingkat pengetahuan yang baik sering kali berkorelasi dengan perilaku konsumsi yang lebih sehat, meskipun pengetahuan saja belum cukup tanpa dukungan lingkungan dan edukasi yang berkelanjutan. Faktor sosial seperti pemasaran, kebiasaan keluarga, dan tren konsumsi juga mendorong konsumsi minuman manis di kalangan remaja. Oleh karena itu, kombinasi edukasi, kebijakan sekolah, dan perubahan lingkungan sangat diperlukan untuk mengurangi konsumsi minuman manis dan mencegah risiko penyakit metabolik di masa depan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Minuman manis adalah minuman yang mengandung gula tambahan seperti sukrosa, fruktosa atau pemanis lain yang membuat kadar gula totalnya tinggi. Contohnya teh kemasan, soda, minuman boba, dan jus dalam kemasan.

Remaja yang sering mengonsumsi minuman manis berisiko mengalami peningkatan berat badan, obesitas, gangguan metabolik seperti prediabetes dan diabetes tipe 2, serta kerusakan gigi.

Faktor pendorongnya meliputi promosi minuman kekinian, paparan media sosial, kebiasaan keluarga, ketersediaan di sekolah dan lingkungan, serta kurangnya edukasi mengenai dampak konsumsi gula berlebih.

Pengetahuan yang baik dapat membantu remaja membuat pilihan lebih sehat, namun perubahan perilaku juga dipengaruhi lingkungan, kebiasaan sosial, dan dukungan keluarga. Edukasi tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Risiko jangka panjangnya meliputi obesitas, penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2, hipertensi, dislipidemia, serta peningkatan risiko penyakit jantung di usia dewasa.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pengaruh Minuman Bersoda terhadap Efektivitas Obat Pengaruh Minuman Bersoda terhadap Efektivitas Obat Faktor Risiko Kehamilan Remaja Faktor Risiko Kehamilan Remaja Hubungan Konsumsi Soda dengan Risiko Obesitas Hubungan Konsumsi Soda dengan Risiko Obesitas Perilaku Konsumsi Gula Tinggi Perilaku Konsumsi Gula Tinggi Kesehatan Remaja Kesehatan Remaja Pola Konsumsi Gula Tersembunyi pada Remaja Pola Konsumsi Gula Tersembunyi pada Remaja Persepsi Remaja Putri terhadap Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi Rutin Persepsi Remaja Putri terhadap Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi Rutin Sikap Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukannya Sikap Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukannya Perilaku Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukan Identitas Perilaku Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukan Identitas Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi Kelebihan Gula dan Risiko Diabetes Kelebihan Gula dan Risiko Diabetes Pengetahuan Ibu tentang Tanda Bahaya Kehamilan Pengetahuan Ibu tentang Tanda Bahaya Kehamilan Dampak Stres terhadap Pola Konsumsi Remaja Dampak Stres terhadap Pola Konsumsi Remaja Konsumsi Gula: Konsep, Risiko Metabolik, dan Pengendalian Konsumsi Gula: Konsep, Risiko Metabolik, dan Pengendalian Tanda Bahaya Kehamilan: Konsep, Pengetahuan Ibu, dan Urgensi Edukasi Tanda Bahaya Kehamilan: Konsep, Pengetahuan Ibu, dan Urgensi Edukasi Konsumsi Gula dan Penyakit Metabolik Konsumsi Gula dan Penyakit Metabolik Krisis Identitas Remaja: Konsep dan Dinamika Sosial Krisis Identitas Remaja: Konsep dan Dinamika Sosial Persepsi Remaja Putri terhadap KB Pasca Nikah Persepsi Remaja Putri terhadap KB Pasca Nikah Perilaku Konsumsi Susu pada Remaja Perilaku Konsumsi Susu pada Remaja Pergaulan Remaja: Konsep dan Kontrol Sosial Pergaulan Remaja: Konsep dan Kontrol Sosial
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…