
Hubungan Konsumsi Soda dengan Risiko Obesitas
Pendahuluan
Obesitas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang semakin meningkat di berbagai negara, termasuk Indonesia dan negara-negara berpenghasilan menengah, rendah. Peningkatan prevalensi obesitas tidak hanya berdampak pada kualitas hidup, tetapi juga menjadi faktor risiko penting untuk penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan gangguan metabolik lainnya. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap peningkatan obesitas adalah konsumsi soda dan minuman berpemanis. Minuman ini, yang menjadi bagian dari pola konsumsi modern dan gaya hidup urban, sering hadir dalam situasi sosial, iklan agresif, dan kemudahan akses. Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minuman berpemanis terkait dengan peningkatan asupan kalori yang tidak disadari dan kurangnya rasa kenyang yang memadai, sehingga berpotensi mendorong peningkatan berat badan dari waktu ke waktu. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Hubungan Konsumsi Soda dengan Risiko Obesitas
Definisi Hubungan Konsumsi Soda dengan Risiko Obesitas Secara Umum
Hubungan konsumsi soda dengan risiko obesitas secara umum merujuk pada keterkaitan antara frekuensi dan jumlah minuman bersoda yang dikonsumsi dengan kemungkinan mengalami kenaikan berat badan yang berlebihan hingga obesitas. Soda termasuk dalam kategori sugar-sweetened beverages (SSB) atau minuman berpemanis yang mengandung gula tambahan dalam jumlah tinggi. Ketika orang mengonsumsi minuman jenis ini secara rutin, asupan kalori harian meningkat tanpa disertai peningkatan rasa kenyang yang signifikan, sehingga total energi yang dikonsumsi melebihi kebutuhan tubuh. Ketidakseimbangan energi inilah yang pada akhirnya dapat menyebabkan akumulasi lemak tubuh dan obesitas. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Definisi Hubungan Konsumsi Soda dengan Risiko Obesitas dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), obesitas didefinisikan sebagai kondisi tubuh yang kelebihan lemak secara abnormal atau berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan. Kondisi ini biasanya ditentukan melalui indeks massa tubuh (IMT) yang tinggi. Konsumsi soda sendiri dapat didefinisikan dalam KBBI sebagai tindakan meminum minuman bersoda yang merupakan cairan berkarbonasi dengan tambahan gula, rasa, dan zat aditif lainnya. Dalam konteks hubungan ini, KBBI tidak secara langsung mendefinisikan hubungan antara konsumsi soda dan obesitas, tetapi keduanya merupakan istilah yang diakui dalam bahasa Indonesia yang menggambarkan perilaku konsumsi dan kondisi kesehatan. (Sumber: KBBI online, [Lihat sumber Disini - kbbi.kemdikbud.go.id])
Definisi Hubungan Konsumsi Soda dengan Risiko Obesitas Menurut Para Ahli
-
Menurut Forschner et al., hubungan antara konsumsi minuman berpemanis dan obesitas dijelaskan sebagai interaksi antara asupan energi yang tinggi dari gula tambahan dan respon fisiologis tubuh terhadap minuman dengan kandungan gula tinggi yang tidak memberikan rasa kenyang yang kuat, sehingga total energi harian bertambah secara signifikan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Li Ouardi (2025) menjelaskan bahwa konsumsi sugar-sweetened beverages menyebabkan kompensasi energi yang tidak adekuat, artinya tubuh tidak mengurangi asupan kalori dari sumber lain meskipun kalori dari minuman tinggi, sehingga terjadi kelebihan energi yang mendorong penimbunan lemak. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Menurut Emiliana (2024), penelitian literatur menyimpulkan bahwa frekuensi dan takaran konsumsi minuman berpemanis terutama di masa anak dan remaja berhubungan erat dengan peningkatan berat badan dan obesitas karena kontribusinya terhadap kelebihan asupan energi. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
-
Yulianti (2023) menegaskan bahwa konsumsi minuman manis berlebihan pada remaja tidak hanya berkorelasi dengan obesitas, tetapi juga dengan gangguan metabolik lainnya seperti sindrom metabolik sebagai akibat respon metabolik terhadap gula yang tinggi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikestrimandirisakti.ac.id]
Kandungan Gula dan Kalori pada Minuman Soda
Minuman soda umumnya mengandung jumlah gula yang sangat tinggi per porsi saji. Secara umum, soda dan minuman berpemanis lainnya memiliki gula tambahan signifikan yang dapat berkisar puluhan gram per 300, 500 mL sajiannya. Gula tambahan ini masuk ke dalam kategori simple sugars seperti sukrosa atau high-fructose corn syrup yang memberikan energi (kalori) tinggi tanpa memberikan zat gizi lain yang bermakna seperti protein, serat, atau vitamin. [Lihat sumber Disini - ejournal.unesa.ac.id]
Kandungan kalori minuman soda berasal hampir seluruhnya dari gula, yang menyumbang sekitar 4 kilokalori per gram. Sebagai contoh, minuman soda dengan 40, 50 gram gula per sajian dapat menyumbang sekitar 160, 200 kilokalori tanpa efek rasa kenyang yang memadai. Penelitian juga menunjukkan bahwa minuman dengan kandungan gula tinggi tidak memicu respons kenyang yang sama seperti makanan padat, sehingga individu cenderung menambah konsumsi kalori dari makanan lain tanpa sadar. Hal ini dapat mempercepat akumulasi energi dalam tubuh, memicu surplus energi, dan berpotensi menyebabkan penambahan berat badan serta obesitas. [Lihat sumber Disini - ejournal.unesa.ac.id]
Pola Konsumsi Soda di Masyarakat
Pola konsumsi soda di masyarakat modern telah mengalami peningkatan signifikan, terutama di negara-negara berkembang yang mengalami transisi nutrisi. Faktor-faktor seperti urbanisasi, pemasaran agresif oleh perusahaan minuman, kemudahan akses, dan perubahan gaya hidup berkontribusi pada tingginya konsumsi minuman bersoda. Sebuah penelitian tren konsumsi menunjukkan bahwa sebagian besar anak muda dan remaja mengonsumsi minuman berpemanis setidaknya sekali sehari, yang menunjukkan bahwa frekuensi konsumsi sudah menjadi bagian dari rutinitas diet harian. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
Selain itu, di Indonesia dan banyak negara lain, konsumsi soda juga berakar dalam kegiatan sosial seperti pertemuan keluarga, acara sekolah, dan aktivitas rekreasi, yang memperkuat persepsi bahwa soda adalah bagian dari gaya hidup modern. Tren ini terlihat jelas dari studi yang melaporkan peningkatan konsumsi sugar-sweetened beverages di kalangan remaja usia 15, 19 tahun serta peningkatan pola beli dan konsumsi melalui layanan pesan antar digital. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
Mekanisme Soda terhadap Peningkatan Berat Badan
Mekanisme bagaimana konsumsi soda dapat meningkatkan berat badan dan risiko obesitas berkaitan erat dengan asupan energi dan respon metabolik tubuh. Gula dalam soda menyebabkan lonjakan gula darah yang cepat setelah dikonsumsi, yang kemudian meningkatkan sekresi insulin. Insulin adalah hormon yang mendorong pengambilan glukosa oleh sel tubuh dan penyimpanan energi sebagai lemak. Respon insulin yang sering dipicu oleh konsumsi minuman berpemanis dalam jumlah besar dapat mempengaruhi metabolisme glukosa dan penyimpanan lemak jangka panjang. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Selain itu, soda memiliki efek poor satiety, yang berarti minuman ini tidak memicu perasaan kenyang yang kuat seperti makanan bertekstur padat. Ketika tubuh tidak merasakan kenyang yang cukup, individu cenderung mengonsumsi kalori tambahan dari makanan lain, sehingga total asupan energi harian meningkat. Akumulasi energi surplus inilah yang pada akhirnya disimpan sebagai lemak tubuh, sehingga berkontribusi pada peningkatan berat badan dan obesitas. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Faktor Perilaku yang Mendorong Konsumsi Soda
Beberapa faktor perilaku dapat mendorong tingginya konsumsi soda di masyarakat. Faktor pertama adalah preferensi rasa manis yang sering terbentuk sejak usia dini melalui paparan terhadap makanan dan minuman manis. Ini membuat individu, terutama anak-anak dan remaja, lebih memilih soda dibandingkan minuman rendah gula atau air putih. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id]
Faktor kedua adalah pemasaran dan iklan yang intensif. Industri minuman sering mempromosikan soda melalui berbagai platform media sosial, televisi, dan sponsor acara, yang secara psikologis mempengaruhi preferensi konsumen, khususnya generasi muda. Paparan iklan ini berkorelasi dengan peningkatan konsumsi dan persepsi sosial terhadap soda sebagai minuman yang diinginkan. [Lihat sumber Disini - ejournal.umkla.ac.id]
Faktor lain termasuk kebiasaan sosial dan lingkungan seperti konsumsi soda saat berkumpul, ketersediaan di sekolah atau tempat kerja, serta harga yang relatif terjangkau dibandingkan minuman sehat lainnya. Kombinasi berbagai faktor ini membuat konsumsi soda menjadi perilaku yang sulit diubah tanpa intervensi edukasi dan kebijakan kesehatan masyarakat. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesaceh.ac.id]
Upaya Pengurangan Konsumsi Minuman Manis
Upaya pengurangan konsumsi soda dan minuman berpemanis perlu dilakukan melalui pendekatan multisektoral yang mencakup edukasi kesehatan, kebijakan publik, dan intervensi komunitas. Program edukasi gizi di sekolah dan masyarakat dapat meningkatkan pemahaman tentang dampak negatif konsumsi gula berlebih terhadap kesehatan, termasuk risiko obesitas. Upaya ini juga dapat mendorong pilihan minuman yang lebih sehat seperti air putih. [Lihat sumber Disini - jak.ubr.ac.id]
Kebijakan publik seperti pemberlakuan pajak atas minuman berpemanis (soda tax), pembatasan iklan terhadap anak, dan pelabelan jelas pada produk juga terbukti efektif dalam menurunkan konsumsi sugar-sweetened beverages. Pajak ini bukan hanya menurunkan pembelian soda, tetapi juga dapat mendorong reformulasi produk oleh industri untuk mengurangi kandungan gula. [Lihat sumber Disini - repository.uki.ac.id]
Intervensi komunitas seperti kampanye kesadaran, penyediaan air minum bersih di fasilitas umum, dan program kesehatan di sekolah dapat mendukung perubahan perilaku secara berkelanjutan. Kombinasi pendekatan ini diharapkan dapat membantu individu membuat pilihan minuman yang lebih sehat dan mengurangi risiko obesitas dalam jangka panjang. [Lihat sumber Disini - jak.ubr.ac.id]
Kesimpulan
Konsumsi soda dan minuman berpemanis merupakan faktor yang signifikan berkontribusi terhadap peningkatan asupan energi harian, yang pada banyak kasus mendorong surplus energi dan akumulasi lemak tubuh. Bukti ilmiah dari berbagai penelitian mengindikasikan hubungan yang kuat antara konsumsi sugar-sweetened beverages dengan peningkatan risiko obesitas, terutama jika dikonsumsi secara rutin dan berlebihan. Faktor perilaku seperti preferensi rasa manis, paparan iklan, dan kebiasaan sosial turut memperkuat pola konsumsi yang tidak sehat. Upaya pengurangan konsumsi melalui edukasi, kebijakan publik, dan intervensi komunitas menjadi penting untuk mencegah obesitas dan masalah kesehatan terkait lainnya di masyarakat.