
Perilaku Konsumsi Susu pada Remaja
Pendahuluan
Remaja adalah fase penting dalam perjalanan hidup yang ditandai oleh percepatan pertumbuhan fisik dan perubahan perilaku, termasuk pada pola konsumsi makanan dan minuman seperti susu. Konsumsi susu pada masa remaja tidak hanya sekadar kebiasaan makan, namun juga merupakan bagian esensial dari asupan nutrisi untuk mendukung pertumbuhan yang optimal serta menjaga kesehatan tulang dan gigi. Di Indonesia, meskipun konsumsi susu per kapita mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir, angka tersebut masih relatif rendah jika dibandingkan dengan rekomendasi asupan gizi seimbang, bahkan sering kali diabaikan dalam pola makan harian remaja karena berbagai faktor ekonomi, sosial, hingga persepsi masyarakat terhadap produk susu. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Perilaku konsumsi susu remaja memiliki implikasi jangka panjang terhadap kesehatan, termasuk kepadatan tulang dan pencapaian massa tulang puncak yang bisa memengaruhi risiko osteoporosis di kemudian hari. Artikel ini akan membahas secara komprehensif perilaku konsumsi susu pada remaja, faktor-faktor yang mempengaruhinya, peran susu dalam pertumbuhan dan kepadatan tulang, kebiasaan konsumsi di kalangan remaja, dampak jika konsumsi susu kurang mencukupi, serta edukasi nutrisi yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan dan praktik konsumsi susu yang sehat. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Perilaku Konsumsi Susu pada Remaja
Definisi Perilaku Konsumsi Susu pada Remaja Secara Umum
Perilaku konsumsi susu pada remaja secara umum merujuk pada frekuensi, jumlah, dan pola minum susu oleh individu dalam kelompok usia remaja, biasanya antara usia 10 hingga 24 tahun berdasarkan rentang WHO. Ini mencakup bagaimana remaja memilih susu (misalnya susu sapi, susu bubuk, susu UHT), kapan mereka mengonsumsinya, serta preferensi rasa dan aspek kebiasaan lainnya terkait minum susu. Perilaku ini dipengaruhi oleh banyak faktor termasuk lingkungan keluarga, pengetahuan gizi, ketersediaan produk susu, hingga preferensi pribadi yang berubah seiring dengan pertumbuhan dan aktivitas harian. [Lihat sumber Disini - repository.ipb.ac.id]
Definisi Perilaku Konsumsi Susu dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), konsumsi adalah tindakan mengkonsumsi atau menggunakan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan, sedangkan susu adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar mammae mamalia, termasuk sapi, kambing, dan lain-lain. Secara sederhana, perilaku konsumsi susu merujuk pada tindakan atau kebiasaan minum susu oleh seseorang sebagai bagian dari pola makan sehari-hari. Remaja sendiri dalam KBBI didefinisikan sebagai masa peralihan dari anak-anak ke dewasa, ditandai oleh perubahan biologis dan psikologis yang signifikan. (Asumsi KBBI umum, dicari langsung pada laman resmi KBBI untuk definisi spesifik)
Definisi Perilaku Konsumsi Susu pada Remaja Menurut Para Ahli
-
Moore et al. (2008), Konsumsi produk susu selama masa pertumbuhan anak dan remaja dikaitkan dengan peningkatan massa tulang dan kepadatan tulang yang berkelanjutan selama fase akumulasi massa tulang puncak. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Komarudin (Repository IPB), Perilaku konsumsi susu remaja dipengaruhi oleh kondisi sosial ekonomi keluarga, sikap, motivasi, dan tingkat pendidikan orang tua yang menentukan jumlah uang jajan dan frekuensi pembelian susu. [Lihat sumber Disini - repository.ipb.ac.id]
-
Hidayat (2021), Konsumsi susu masyarakat termasuk remaja dipengaruhi oleh pendapatan, harga, serta kebiasaan konsumsi yang telah terbentuk sejak dini. [Lihat sumber Disini - semagri.upnjatim.ac.id]
-
Shari & Sari (2025), Pengetahuan tentang nilai gizi susu dan edukasi dapat menentukan perilaku konsumsi susu generasi muda, termasuk remaja generasi Z. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Faktor yang Mempengaruhi Konsumsi Susu
Perilaku konsumsi susu pada remaja tidak terjadi secara kebetulan, melainkan dipengaruhi oleh berbagai kondisi yang saling berkaitan. Faktor-faktor tersebut memengaruhi apakah seorang remaja akan rutin minum susu atau justru jarang melakukannya.
1. Faktor Sosial Ekonomi
Pendapatan keluarga menjadi salah satu determinan utama dalam konsumsi susu remaja. Remaja dari keluarga dengan pendapatan rendah cenderung memiliki frekuensi dan jumlah konsumsi susu yang lebih rendah dibandingkan dengan remaja dari keluarga berpendapatan lebih tinggi, karena susu sering dipandang sebagai produk yang relatif mahal dibandingkan kebutuhan makanan lainnya. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
2. Pendidikan dan Pengetahuan Nutrisi
Tingkat pendidikan orang tua dan remaja sendiri berhubungan dengan perilaku konsumsi susu. Individu dengan pemahaman nutrisi yang baik cenderung lebih sadar akan manfaat susu, sehingga memiliki kebiasaan minum susu yang lebih baik pula. Edukasi yang tepat mengenai kandungan kalsium, protein, dan vitamin dalam susu dapat meningkatkan minat konsumsi di kalangan remaja. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
3. Persepsi dan Sikap terhadap Susu
Persepsi negatif seperti anggapan bahwa minum susu menyebabkan kegemukan atau hanya cocok untuk anak-anak dapat mengurangi konsumsi susu pada remaja. Sebaliknya, pemahaman tentang manfaat susu untuk kesehatan tulang, gigi, dan kekebalan tubuh dapat meningkatkan konsumsi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
4. Ketersediaan dan Harga Produk Susu
Harga susu dan ketersediaan produk di lingkungan sekitar, sekolah, minimarket, atau rumah, juga memengaruhi perilaku konsumsi. Ketika susu mudah diakses dan harganya terjangkau, remaja cenderung lebih sering mengonsumsinya. [Lihat sumber Disini - semagri.upnjatim.ac.id]
5. Pengaruh Keluarga dan Lingkungan Teman Sebaya
Dukungan keluarga yang mendorong konsumsi susu dan kebiasaan minum susu yang dilakukan bersama teman atau keluarga menjadi faktor penting dalam pembentukan pola konsumsi remaja.
Peran Susu dalam Pertumbuhan dan Kepadatan Tulang
Susu memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung proses pertumbuhan dan pembentukan tulang, khususnya pada masa remaja, ketika tubuh mengalami percepatan pertumbuhan dan akumulasi massa tulang puncak.
Nutrisi Kunci dalam Susu
Susu merupakan sumber nutrisi yang kaya dan lengkap, termasuk kalsium, protein, vitamin D, fosfor, magnesium, dan sejumlah vitamin B yang penting untuk metabolisme dan pertumbuhan tulang. Nutrisi tersebut berperan secara sinergis untuk mendukung pembentukan jaringan tulang yang kuat dan meningkatkan kepadatan tulang. [Lihat sumber Disini - jurnal.stkipmb.ac.id]
Kalsium dan Vitamin D
Kalsium adalah mineral utama yang membentuk struktur tulang, sedangkan vitamin D membantu tubuh menyerap kalsium secara efisien. Kekurangan asupan kalsium dan vitamin D selama masa remaja dapat menghambat pencapaian massa tulang puncak yang optimal, sehingga meningkatkan risiko osteoporosis di usia dewasa. [Lihat sumber Disini - jurnal.stkipmb.ac.id]
Dampak pada Kepadatan Tulang
Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi susu secara teratur selama masa remaja dikaitkan dengan peningkatan bone mineral content (BMC) dan bone mineral density (BMD), indikator utama kesehatan tulang, jika dikombinasikan dengan aktivitas fisik yang memadai. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Kebiasaan Konsumsi Susu pada Remaja
Kebiasaan konsumsi susu pada remaja dapat bervariasi berdasarkan frekuensi, jenis susu yang dikonsumsi, dan konteks sosial budaya.
Frekuensi dan Jumlah Konsumsi
Survei menunjukkan bahwa banyak remaja sering memiliki frekuensi konsumsi susu yang rendah, dengan hanya segelintir yang mengonsumsi susu lebih dari sekali sehari, sementara sebagian besar mengonsumsi kurang dari satu gelas per hari. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Jenis Produk Susu yang Dikonsumsi
Remaja biasanya lebih memilih susu kemasan (UHT atau bubuk) karena lebih mudah didapat dan memiliki umur simpan yang lebih panjang dibandingkan susu segar. Pilihan ini juga dipengaruhi oleh preferensi rasa dan kebiasaan keluarga. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Pengaruh Gaya Hidup dan Kebiasaan Sehari-hari
Perubahan gaya hidup remaja modern, termasuk preferensi terhadap minuman manis atau minuman kemasan lainnya, kadang menggeser konsumsi susu. Edukasi gizi yang kurang serta pola makan yang kurang seimbang turut memengaruhi konsumsi susu yang rendah di kalangan remaja. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dampak Kurangnya Konsumsi Susu
1. Risiko Kepadatan Tulang Rendah dan Osteoporosis
Kurangnya konsumsi susu dan asupan kalsium dapat berdampak negatif pada pembentukan massa tulang puncak selama masa remaja, yang merupakan periode kritis pembentukan tulang. Hal ini berisiko meningkatkan kemungkinan terkena osteoporosis di usia dewasa. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
2. Pertumbuhan Fisik Kurang Optimal
Asupan nutrisi yang tidak mencukupi, termasuk kalsium dan protein dari susu, dapat menghambat pertumbuhan fisik yang optimal pada remaja, termasuk tinggi badan. [Lihat sumber Disini - journal.maranatha.edu]
3. Gangguan Status Gizi
Kurangnya konsumsi susu dapat berkontribusi terhadap status gizi yang tidak optimal, terutama bila pola makan sehari-hari tidak seimbang dan kurang beragam dalam sumber nutrisi penting.
Edukasi Nutrisi tentang Manfaat Produk Susu
Edukasi nutrisi yang efektif adalah kunci meningkatkan perilaku konsumsi susu yang sehat di kalangan remaja. Edukasi ini mencakup:
Peningkatan Pengetahuan Gizi
Program pendidikan gizi di sekolah dan komunitas dapat membantu remaja memahami kandungan nutrisi dalam susu serta manfaatnya bagi kesehatan tulang, pertumbuhan fisik, serta fungsi tubuh lainnya. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Kampanye Kesadaran Keluarga dan Sekolah
Libatkan orang tua dan guru dalam kampanye tentang pentingnya konsumsi susu sejak usia dini hingga remaja untuk menanamkan kebiasaan sehat lebih awal.
Penggunaan Media Informasi yang Relevan
Konten edukatif di media sosial, poster edukatif di sekolah, dan pembelajaran interaktif tentang nutrisi dapat membantu remaja membuat pilihan konsumsi yang lebih baik.
Kesimpulan
Perilaku konsumsi susu pada remaja merupakan aspek penting dalam upaya meningkatkan status gizi dan kesehatan jangka panjang. Suatu kombinasi faktor ekonomi, pendidikan, persepsi, dan lingkungan memengaruhi bagaimana remaja memilih dan mengonsumsi susu dalam kehidupan sehari-hari. Susu memiliki peran vital dalam mendukung pertumbuhan fisik, terutama kepadatan tulang dan massa tulang puncak, yang menjadi dasar kesehatan tulang di masa dewasa.
Kurangnya konsumsi susu dapat berdampak negatif pada pencapaian pertumbuhan optimal dan kesehatan tulang, sehingga diperlukan pendekatan edukasi nutrisi yang komprehensif dan berkelanjutan untuk mendorong budaya minum susu yang sehat di kalangan remaja. Program pendidikan di sekolah, dukungan keluarga, serta kampanye informasi gizi yang tepat dapat menjadi strategi penting untuk menjadikan konsumsi susu sebagai bagian dari pola makan sehat remaja.