
IMT Ibu Hamil: Konsep, Risiko Kehamilan, dan Pemantauan
Pendahuluan
Kehamilan merupakan fase penting dalam kehidupan wanita yang membawa perubahan fisiologis dan metabolik signifikan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin. Salah satu aspek penting dalam pemantauan kesehatan ibu hamil adalah Indeks Massa Tubuh (IMT), suatu parameter antropometri yang menjadi indikator status gizi sebelum dan selama kehamilan. IMT tidak hanya menunjukkan status gizi ibu, tetapi juga memiliki hubungan erat dengan risiko komplikasi kehamilan baik bagi ibu maupun janin. Berbagai studi menunjukkan bahwa baik IMT rendah maupun tinggi sebelum dan selama kehamilan dapat meningkatkan kejadian kehamilan berisiko tinggi, komplikasi obstetrik, serta dampak jangka panjang pada kesehatan anak setelah lahir. Oleh karena itu, pemahaman komprehensif mengenai konsep, klasifikasi, dampak dan pemantauan IMT dalam konteks kehamilan sangat penting bagi tenaga kesehatan dan calon ibu.
Definisi Indeks Massa Tubuh pada Ibu Hamil
Definisi Indeks Massa Tubuh pada Ibu Hamil Secara Umum
Indeks Massa Tubuh (IMT), dikenal juga sebagai Body Mass Index (BMI), adalah ukuran standar yang digunakan untuk menilai status gizi seseorang berdasarkan rasio antara berat badan (dalam kilogram) dan tinggi badan (dalam meter kuadrat). IMT merupakan alat sederhana dan umum dipakai dalam praktik klinis untuk mengkategorikan status berat badan individu dewasa, termasuk ibu hamil pada fase pra-kehamilan, meskipun interpretasinya perlu disesuaikan dengan konteks kehamilan. Nilai IMT dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan kuadrat tinggi badan dalam meter, sehingga memberikan gambaran kasar mengenai status gizi seseorang secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - perpus-utama.poltekkes-malang.ac.id]
Definisi Indeks Massa Tubuh pada Ibu Hamil dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Indeks Massa Tubuh (IMT) didefinisikan sebagai ukuran yang didasarkan pada perbandingan antara berat badan dan tinggi badan yang digunakan untuk menilai apakah berat badan seseorang ideal, kurang, atau berlebih. KBBI menekankan bahwa IMT adalah metode yang sederhana untuk menentukan kondisi berat badan secara kuantitatif pada individu dewasa yang sehat. <!-- (KBBI online link jika tersedia dapat dicantumkan) -->
Definisi Indeks Massa Tubuh pada Ibu Hamil Menurut Para Ahli
-
Supariasa dkk. (2016) menyatakan bahwa IMT adalah alat ukur standar yang digunakan di bidang kesehatan masyarakat untuk menilai kelebihan dan kekurangan berat badan, serta menilai risiko penyakit yang berkaitan dengan status berat badan. [Lihat sumber Disini - perpus-utama.poltekkes-malang.ac.id]
-
Ningrum & Cahyaningrum (2018) menjelaskan bahwa dalam konteks ibu hamil, nilai IMT yang digunakan sebagai pedoman bukanlah nilai selama kehamilan tetapi IMT sebelum hamil (pra-kehamilan), karena kenaikan berat badan selama kehamilan merupakan perubahan fisiologis yang wajar namun membuat pengukuran IMT selama hamil kurang akurat untuk status gizi awal. [Lihat sumber Disini - perpus-utama.poltekkes-malang.ac.id]
-
Park et al. (2025) dalam studi terbaru menunjukkan bahwa nilai BMI ibu sebelum kehamilan berkaitan dengan berbagai hasil kehamilan seperti berat lahir bayi, kejadian prematuritas dan risiko komplikasi neonatal. [Lihat sumber Disini - nature.com]
-
Voerman et al. (2019) menjelaskan bahwa BMI sebelum kehamilan dan kenaikan berat badan selama kehamilan saling terkait dengan risiko kesehatan jangka panjang pada anak seperti obesitas di masa kanak-kanak. [Lihat sumber Disini - journals.plos.org]
Klasifikasi IMT Ibu Hamil
Klasifikasi IMT pada ibu hamil umumnya mengacu pada kategori WHO atau rekomendasi IOM berdasarkan nilai IMT pra-kehamilan karena perubahan fisiologis selama kehamilan mengubah berat badan ibu. Klasifikasi ini membantu menentukan status gizi awal dan rekomendasi kenaikan berat badan selama kehamilan. [Lihat sumber Disini - perpus-utama.poltekkes-malang.ac.id]
Kategori IMT (BMI) berdasarkan WHO/IOM:
-
Underweight (Kurus / kurang berat badan): IMT < 18, 5 kg/m²
-
Normal: IMT 18, 5, 24, 9 kg/m²
-
Overweight (Kelebihan berat badan): IMT 25, 29, 9 kg/m²
-
Obesitas: IMT ≥ 30 kg/m² [Lihat sumber Disini - perpus-utama.poltekkes-malang.ac.id]
Setiap kategori ini memiliki implikasi klinis terhadap rekomendasi kenaikan berat badan selama kehamilan yang ditetapkan oleh Institute of Medicine (IOM). Misalnya, wanita dengan IMT bawah normal biasanya dianjurkan kenaikan berat badan yang lebih tinggi daripada wanita dengan IMT normal atau obesitas untuk mendukung pertumbuhan janin yang optimal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Risiko Kehamilan berdasarkan IMT
Nilai IMT sebelum dan selama kehamilan berperan penting sebagai prediktor risiko kehamilan. Kategori IMT di luar rentang normal telah dihubungkan dengan berbagai komplikasi obstetrik dan hasil kehamilan yang tidak optimal. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]
IMT Rendah (Underweight):
Ibu hamil dengan IMT <18, 5 kg/m² memiliki risiko lebih tinggi mengalami pertumbuhan janin terhambat, bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR), dan keguguran. Kekurangan status gizi ini juga dapat dikaitkan dengan tingginya risiko persalinan prematur dan kematian neonatal bila tidak diintervensi dengan asupan nutrisi yang adekuat. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]
IMT Normal:
Ibu dengan IMT normal umumnya memiliki hasil kehamilan yang lebih menguntungkan seperti berat lahir bayi yang sehat, risiko preeklampsia yang rendah serta risiko komplikasi yang minimal bila pemantauan dan asupan nutrisi sesuai rekomendasi.
IMT Overweight dan Obesitas:
IMT tinggi sebelum kehamilan sangat berkaitan dengan risiko komplikasi seperti preeklampsia, diabetes gestasional, dan operasi caesar. Obesitas maternal juga terkait dengan hasil buruk pada janin seperti makrosomia (bayi terlalu besar), cedera lahir akibat ukuran bayi yang besar, dan peningkatan risiko obesitas di masa kanak-kanak. [Lihat sumber Disini - obgyn.onlinelibrary.wiley.com]
Suatu studi di Puskesmas Simomulyo menemukan bahwa ibu hamil dengan IMT tidak normal memiliki peluang 4, 462 kali lebih besar mengalami kehamilan berisiko tinggi dibanding ibu dengan IMT normal. [Lihat sumber Disini - jurnal.syntaxliterate.co.id]
Dampak IMT Tidak Normal terhadap Ibu dan Janin
Dampak IMT Rendah:
-
Risiko berat badan lahir rendah (BBLR) pada bayi baru lahir. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]
-
Risiko persalinan prematur relatif lebih tinggi karena malnutrisi dan kurangnya cadangan nutrisi untuk pertumbuhan janin.
Dampak IMT Tinggi / Obesitas:
-
Risiko preeklampsia, hipertensi gestasional, dan diabetes gestasional meningkat. [Lihat sumber Disini - obgyn.onlinelibrary.wiley.com]
-
Pelebaran pelvis dan komplikasi mekanis saat persalinan, serta kemungkinan operasi caesar lebih tinggi.
-
Bayi lahir besar (makrosomia), risiko trauma lahir, dan metabolik yang buruk pada anak seperti risiko obesitas di masa kanak-kanak atau dewasa. [Lihat sumber Disini - journals.plos.org]
Pemantauan IMT selama Kehamilan
Pemantauan IMT dan kenaikan berat badan ibu hamil harus menjadi bagian integral dari layanan antenatal care (ANC). Penilaian status gizi awal melalui IMT pra-kehamilan membantu tenaga kesehatan menetapkan target kenaikan berat badan yang optimal selama kehamilan sesuai rekomendasi IOM. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Kenaikan berat badan yang sesuai dengan kategori IMT awal membantu mengurangi risiko hasil buruk seperti BBLR, preterm, atau makrosomia. Pemantauan berkala juga membantu menilai apakah kenaikan berat badan sesuai dengan pedoman atau memerlukan intervensi nutrisi.
Peran Tenaga Kesehatan dalam Pengelolaan IMT
Peran tenaga kesehatan, bidan, dokter, dan ahli gizi, sangat penting dalam pengelolaan status gizi ibu hamil. Intervensi yang diberikan mencakup:
-
Penilaian IMT pra-kehamilan dan edukasi nutrisi sejak pra-konsepsi.
-
Pemantauan kenaikan berat badan secara periodik selama ANC.
-
Rekomendasi diet seimbang sesuai kebutuhan energi dan mikronutrien untuk setiap kategori IMT ibu.
-
Identifikasi dini risiko komplikasi dan tindakan klinis sesuai protokol.
Tenaga kesehatan juga memainkan peran edukatif dalam meningkatkan kepatuhan ibu terhadap anjuran pemeriksaan kehamilan serta penyesuaian gaya hidup termasuk aktivitas fisik yang aman.
Kesimpulan
IMT merupakan parameter penting dalam menilai status gizi ibu sebelum dan selama kehamilan yang berkontribusi signifikan terhadap risiko kehamilan dan hasil klinis bagi ibu serta janin. Nilai IMT yang berada di luar rentang normal dapat meningkatkan risiko kehamilan berisiko tinggi termasuk BBLR, preeklampsia, diabetes gestasional, dan makrosomia. Pemantauan IMT dan kenaikan berat badan ibu oleh tenaga kesehatan sepanjang masa kehamilan, disertai intervensi nutrisi yang tepat, merupakan strategi kunci dalam memastikan kehamilan yang aman dan hasil kesehatan yang optimal. Implementasi pendekatan terpadu ini akan membantu memastikan kesehatan ibu dan bayi dalam jangka pendek maupun panjang.