
Neurotisisme: Konsep dan Implikasi Psikologis
Pendahuluan
Neurotisisme merupakan salah satu dimensi utama dalam kajian kepribadian yang memiliki dampak luas terhadap kehidupan individu, termasuk regulasi emosional, kesehatan mental, dan interaksi sosial. Tingkat neurotisisme yang tinggi sering dikaitkan dengan pengalaman emosi negatif yang lebih intens serta respons yang kurang adaptif terhadap situasi stres. Pemahaman yang mendalam tentang neurotisisme sangat penting dalam psikologi karena trait ini tidak hanya berpengaruh pada kesejahteraan psikologis individu tetapi juga dapat memengaruhi dinamika hubungan interpersonal dan fungsi sehari-hari. Kajian ilmiah dalam dekade terakhir semakin menguatkan peran neurotisisme sebagai prediktor penting dalam berbagai fenomena psikologis, mulai dari gangguan mood hingga kemampuan menghadapi tekanan hidup.
Definisi Neurotisisme
Definisi Neurotisisme Secara Umum
Neurotisisme dalam psikologi didefinisikan sebagai salah satu dimensi kepribadian dalam teori Big Five yang mencerminkan kecenderungan individu untuk mengalami emosi negatif seperti kecemasan, kemarahan, depresi, dan ketidakstabilan emosional. Individu dengan skor tinggi pada neurotisisme cenderung lebih reaktif terhadap stres dan melihat situasi netral sebagai ancaman atau sumber kekhawatiran, serta mengalami mood yang fluktuatif dan lebih rentan terhadap tekanan psikologis dibandingkan orang dengan skor rendah pada trait ini. Sebagai trait kepribadian, neurotisisme menunjukkan konsistensi dalam pola emosional dan perilaku sepanjang waktu, meskipun intensitasnya dapat dipengaruhi pengalaman hidup dan konteks lingkungan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Neurotisisme dalam KBBI
Istilah neurotisisme sendiri belum secara eksplisit tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai entri terpisah. Namun, konsep terkait seperti neurosis dijelaskan dalam KBBI sebagai kondisi fungsional dari sistem saraf tanpa kerusakan organik yang seringkali mencerminkan adanya gejala psikologis seperti kecemasan atau depresi. Penggunaan istilah neurotisisme dalam kajian psikologi modern adalah perkembangan dari konsep ini, menekankan pada sifat kepribadian individu yang cenderung merasakan dan bereaksi terhadap emosi negatif secara intens. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
Definisi Neurotisisme Menurut Para Ahli
Widiger (2017): Neurotisisme merupakan disposisi trait untuk mengalami afek negatif termasuk kemarahan, kecemasan, dan depresi, serta ketidakstabilan emosional yang memengaruhi respons terhadap stres dan ketidaknyamanan dalam kehidupan sehari-hari. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Model Big Five (SimplyPsychology): Neurotisisme menggambarkan kecenderungan untuk mengalami emosi negatif seperti stres, kekhawatiran, dan ketidakstabilan emosi; individu dengan tingkat rendah menunjukkan stabilitas emosional dan ketenangan. [Lihat sumber Disini - simplypsychology.org]
Study.com: Neurotisisme menggambarkan sejauh mana seseorang menunjukkan afek negatif, termasuk kecemasan dan kegelisahan, sebagai bagian dari lima dimensi kepribadian yang berkontribusi pada perilaku dan pengalaman emosional. [Lihat sumber Disini - study.com]
Wikipedia Big Five: Trait neurotisisme menunjukkan kecenderungan untuk mengalami emosi negatif dan reaktivitas emosional yang tinggi serta interpretasi yang lebih ancaman terhadap situasi sehari-hari, berlawanan dengan stabilitas emosional. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Pengertian Neurotisisme
Neurotisisme adalah salah satu trait utama dalam teori kepribadian Big Five yang berfokus pada pengalaman emosional negatif dan reaktivitas terhadap stres. Individu dengan skor tinggi dalam neurotisisme cenderung rentan terhadap mood yang berubah-ubah, kecemasan yang tinggi, serta kecenderungan untuk merasakan emosi negatif yang lebih intens. Trait ini memainkan peran penting dalam bagaimana individu menangani tekanan dan pengalaman emosional kompleks dalam kehidupan mereka sehari-hari, sehingga memiliki implikasi besar dalam pemahaman psikologis terhadap perilaku manusia. [Lihat sumber Disini - simplypsychology.org]
Karakteristik Individu dengan Neurotisisme Tinggi
Individu yang memiliki tingkat neurotisisme tinggi menunjukkan sejumlah karakteristik psikologis yang konsisten dalam berbagai penelitian. Ciri paling menonjol dari mereka adalah kecenderungan menghasilkan dan mempertahankan emosi negatif yang kuat, seperti rasa cemas, ketakutan, sedih, atau marah. Mereka juga sering kali mengalami mood swing, perubahan suasana hati yang cepat dan tidak terduga. Secara umum, individu dengan neurotisisme tinggi kurang mampu mengendalikan reaksi emosional mereka ketika menghadapi situasi stres, sehingga respons mereka terhadap masalah cenderung lebih intens daripada individu dengan tingkat neurotisisme rendah. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Selain itu, individu yang tinggi dalam neurotisisme biasanya memandang situasi netral sebagai ancaman yang mengkhawatirkan, yang memperkuat kecenderungan mereka untuk merasa terancam atau stres meskipun tidak ada ancaman objektif. Mereka juga cenderung menafsirkan kesulitan kecil sebagai masalah besar, yang dapat meningkatkan kecenderungan untuk merasa frustrasi atau putus asa secara berlebihan. Pemahaman mengenai karakteristik ini sangat penting, tidak hanya untuk identifikasi trait kepribadian, tetapi juga dalam intervensi psikologis yang ditujukan untuk membantu mereka mengelola reaktivitas emosional dan stres. [Lihat sumber Disini - britannica.com]
Selain pengalaman emosional, neurotisisme tinggi juga sering dikaitkan dengan self-consciousness atau rasa tidak percaya diri yang kuat dalam situasi sosial, yang dapat memengaruhi perilaku interpersonal dan hubungan personal mereka. Oleh karena itu, trait ini berkaitan erat dengan kecenderungan overthinking, kekhawatiran berlebihan, dan bahkan kemungkinan mengalami gangguan mood kronis jika tidak ditangani dengan strategi koping yang efektif. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Faktor Pembentuk Neurotisisme
Berbagai studi mengemukakan bahwa neurotisisme dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan sepanjang kehidupan seseorang. Faktor genetik menunjukkan bahwa level neurotisisme dapat diwariskan melalui komponen biologis tertentu, sehingga predisposisi terhadap trait ini dapat diturunkan dari orang tua ke anak. Selain itu, struktur otak dan sistem neurokimia juga memainkan peran dalam menentukan tingkat kecenderungan terhadap emosi negatif dan reaktivitas terhadap stres. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dari sisi lingkungan, pengalaman hidup yang signifikan sejak masa kanak-kanak seperti trauma, hubungan yang kurang mendukung, atau stres kronis dapat memperkuat respon emosional dan membentuk cara individu bereaksi terhadap tekanan. Interaksi antara faktor lingkungan ini dan predisposisi biologis membentuk pola neurotisisme sepanjang kehidupan seseorang. Selain itu, kurangnya keterampilan koping atau pengalaman sosial yang buruk juga dapat memperkuat trait neurotisisme, terutama ketika individu terpapar secara terus-menerus pada situasi stres tanpa dukungan yang memadai.
Faktor lingkungan dan pengalaman hidup seperti pola asuh, trauma, paparan stres kronis di sekolah atau pekerjaan juga dilaporkan berkontribusi terhadap cara individu mengembangkan trait neurotisisme mereka. Dalam beberapa kasus, pengalaman negatif yang berulang dapat meningkatkan kecenderungan untuk menafsirkan pengalaman masa depan secara pesimis, memperkuat karakteristik neurotisisme dengan waktu. [Lihat sumber Disini - study.com]
Neurotisisme dan Regulasi Emosi
Regulasi emosi merupakan kemampuan untuk memantau, mengevaluasi, dan menyesuaikan respon emosional dalam menghadapi situasi tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa neurotisisme tinggi secara signifikan berkaitan dengan defisit dalam regulasi emosi, yaitu kemampuan individu dalam mengendalikan emosi negatif secara adaptif. Individu dengan tingkat neurotisisme yang tinggi sering kali menunjukkan kesulitan dalam mengatur respon emosional mereka, yang mencerminkan pola regulasi emosi yang kurang efisien dibandingkan individu dengan neurotisisme rendah. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Beberapa riset juga menemukan bahwa neurotisisme berkaitan dengan kecenderungan menggunakan strategi regulasi emosi yang tidak sehat, seperti expressive suppression yang justru memperburuk pengalaman emosional negatif, dibandingkan strategi yang lebih adaptif seperti cognitive reappraisal. Strategi regulasi emosi maladaptif ini sering kali memperkuat respons emosional negatif dan mempersulit individu untuk kembali ke keadaan emosional yang stabil setelah mengalami stres. [Lihat sumber Disini - psychopediajournals.com]
Dengan demikian, keterbatasan dalam regulasi emosi yang dimiliki oleh individu neurotik menjadi salah satu mekanisme utama yang menjelaskan mengapa trait ini sering berkaitan dengan hasil kesehatan mental yang buruk, seperti suasana hati yang buruk yang berkelanjutan atau kecemasan yang meningkat dalam menghadapi situasi sulit. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Implikasi Neurotisisme terhadap Kesehatan Mental
Neurotisisme berimplikasi besar terhadap kesehatan mental individu. Trait ini secara konsisten dikaitkan dengan sejumlah kondisi kesehatan mental negatif karena kecenderungan untuk mengalami emosi negatif secara intens, reaktivitas emosional yang tinggi, serta regulasi emosi maladaptif. Individu dengan neurotisisme tinggi lebih rentan terhadap gangguan mood seperti kecemasan dan depresi, karena pola emosional negatif yang berulang. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Selain itu, neurotisisme juga menjadi prediktor kuat untuk gejala stres kronis serta gangguan psikologis lainnya. Dalam konteks kesehatan mental, neurotisisme sering dipandang sebagai faktor risiko yang membuat individu lebih rentan menghadapi tekanan dan kejadian yang mengancam kesejahteraan psikologis mereka, karena respons emosional yang kuat dan kesulitan dalam mengelola tekanan tersebut. [Lihat sumber Disini - journals.kmanpub.com]
Neurotisisme dalam Interaksi Sosial
Dalam ranah interaksi sosial, neurotisisme juga memengaruhi hubungan interpersonal individu. Trait ini berkaitan dengan sensitivitas tinggi terhadap isyarat sosial yang negatif seperti penolakan atau kritik, sehingga individu score tinggi dalam neurotisisme sering menunjukkan perilaku interpersonal yang disfungsional atau pola komunikasi yang lebih emosional dan tidak stabil. [Lihat sumber Disini - e-journals.unmul.ac.id]
Kecenderungan untuk mengalami emosi negatif dan kurangnya kemampuan regulasi emosi juga dapat menyebabkan konflik interpersonal yang lebih sering dan intens, karena respons terhadap situasi sosial yang menekan dapat lebih tajam. Dalam hubungan sosial, individu tersebut mungkin rentan terhadap perasaan kesepian atau isolasi karena persepsi negatif berlebih terhadap dinamika sosial yang sebenarnya netral atau tidak mengancam. [Lihat sumber Disini - e-journals.unmul.ac.id]
Kesimpulan
Neurotisisme adalah dimensi kepribadian yang mencerminkan kecenderungan untuk mengalami dan mempertahankan emosi negatif serta respons emosional yang intens terhadap stres. Trait ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor genetik dan lingkungan serta memainkan peran penting dalam kemampuan regulasi emosi, kesehatan mental, dan kualitas hubungan interpersonal. Individu dengan neurotisisme tinggi sering mengalami lebih banyak kesulitan dalam mengelola stres dan mempertahankan kesejahteraan psikologis, yang pada akhirnya memengaruhi cara mereka berinteraksi dengan orang lain. Pemahaman mendalam tentang neurotisisme sangat penting dalam psikologi untuk mengembangkan strategi intervensi yang efektif guna meningkatkan kualitas hidup dan fungsi psikologis individu yang memiliki tingkat neurotisisme tinggi.