Terakhir diperbarui: 24 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 24 December). Risiko Kekerasan pada Pasien Gangguan Mental: Konsep, Pencegahan, dan Kontrol. SumberAjar. Retrieved 24 February 2026, from https://sumberajar.com/kamus/risiko-kekerasan-pada-pasien-gangguan-mental-konsep-pencegahan-dan-kontrol  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Risiko Kekerasan pada Pasien Gangguan Mental: Konsep, Pencegahan, dan Kontrol - SumberAjar.com

Risiko Kekerasan pada Pasien Gangguan Mental: Konsep, Pencegahan, dan Kontrol

Pendahuluan

Perilaku kekerasan pada pasien dengan gangguan mental merupakan fenomena kompleks yang berdampak besar pada pasien itu sendiri, tenaga kesehatan, lingkungan rumah sakit, serta masyarakat luas. Kekerasan ini dapat terjadi dalam bentuk fisik, verbal, maupun psikologis, dan sering kali bersifat tidak terduga serta agresif. Studi internasional menunjukkan bahwa hingga sekitar 50% pasien dengan gangguan mental dapat menunjukkan gejala agresi atau kekerasan dibandingkan populasi umum yang jauh lebih rendah, menunjukkan kebutuhan penanganan yang sistematis dan terintegrasi dalam praktik klinik dan komunitas kesehatan mental. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Fenomena ini memiliki wawasan penting baik bagi tenaga kesehatan, perawat, keluarga pasien, maupun pembuat kebijakan kesehatan, karena kekerasan tersebut tidak hanya berdampak secara fisik tetapi juga emosional dan sosial. Upaya pencegahan dan kontrol yang efektif merupakan bagian tak terpisahkan dari standar praktik keperawatan jiwa, dan pemahaman yang lebih dalam terhadap konsep risiko kekerasan, faktor pemicunya, serta cara menilai dan mengelolanya secara komprehensif adalah kunci untuk menciptakan lingkungan perawatan yang aman dan humanistik. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Definisi Risiko Kekerasan pada Pasien Gangguan Mental

Definisi Risiko Kekerasan Secara Umum

Risiko kekerasan pada pasien gangguan mental dapat dipahami sebagai suatu keadaan di mana seseorang menunjukkan potensi atau perilaku yang mengancam keselamatan dirinya sendiri, orang lain, atau lingkungan di sekitarnya. Ini mencakup tindakan agresif baik secara verbal maupun fisik yang dapat menyebabkan cedera atau dampak psikologis. Perilaku ini bukan sekedar respon emosional sesaat, tetapi manifestasi yang dapat menimbulkan ancaman nyata bagi keselamatan dan keamanan dalam konteks klinis dan sosial. [Lihat sumber Disini - jkem.ppj.unp.ac.id]

Definisi Risiko Kekerasan dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kekerasan didefinisikan sebagai cara, perbuatan, tindakan yang menggunakan daya paksa, kekuatan, atau tekanan yang dapat menimbulkan penderitaan atau kerugian baik fisik maupun psikis pada individu lain atau lingkungan sekitarnya. Dalam konteks risiko kekerasan, istilah ini merujuk pada kemungkinan seseorang menunjukkan perilaku kekerasan sebagai akibat dari gangguan mental atau faktor predisposisi psikososial lainnya. (Definisi KBBI dapat diakses melalui situs resmi KBBI Online).

Definisi Risiko Kekerasan Menurut Para Ahli

  1. Pardede & Laia (2020), Risiko perilaku kekerasan didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang menunjukkan perilaku yang dapat membahayakan dirinya sendiri, orang lain, atau lingkungan melalui tindakan fisik, emosional, verbal, maupun seksual. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  2. Nanda (2016), Risiko kekerasan merujuk pada perilaku yang dapat menimbulkan ancaman atau bahaya terhadap keselamatan individu lain atau terhadap lingkungan secara keseluruhan, baik secara langsung maupun tidak langsung. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

  3. Feronica Sari et al. (2024), Perilaku kekerasan merupakan kondisi di mana individu menunjukkan perilaku yang berpotensi membahayakan diri sendiri dan orang lain melalui bentuk agresi fisik, emosional, maupun verbal. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]

  4. Indriyanti (2024), Perilaku kekerasan pada pasien gangguan mental dapat dilihat sebagai respons maladaptif terhadap stresor internal maupun eksternal yang menghasilkan ancaman keselamatan diri dan lingkungan sekitar. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.ac.id]


Faktor Risiko Terjadinya Perilaku Kekerasan

Faktor risiko kekerasan pada pasien gangguan mental muncul dari berbagai lapisan interaksi biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan. Banyak penelitian telah mengidentifikasi faktor-faktor tersebut secara empiris:

  1. Gangguan Mental Berat (psychotic, bipolar, skizoafektif)

    Pasien dengan gangguan psikotik, bipolar, atau skizoafektif menunjukkan kemungkinan perilaku agresif yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. [Lihat sumber Disini - journals.plos.org]

  2. Riwayat Perilaku Kekerasan Sebelumnya

    Individu yang memiliki riwayat agresi sebelumnya lebih berpotensi kembali menunjukkan perilaku yang sama di masa mendatang. [Lihat sumber Disini - journals.plos.org]

  3. Abuse Obat dan Zat (Substance Abuse)

    Konsumsi alkohol atau obat-obatan tertentu dapat meningkatkan impulsivitas dan agresi pada pasien dengan gangguan mental. [Lihat sumber Disini - jamanetwork.com]

  4. Faktor Demografis

    Usia muda dan jenis kelamin laki-laki ditemukan sebagai prediktor yang signifikan dalam sejumlah penelitian terkait agresivitas pada pasien gangguan mental. [Lihat sumber Disini - journals.plos.org]

  5. Faktor Lingkungan Ruang Perawatan

    Lingkungan yang penuh stres seperti suasana ruang rawat inap yang ramai, bising, atau kurang dukungan sosial dapat memperburuk gejala agresif. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]

  6. Stres dan Ketidakstabilan Emosional

    Tingkat stres yang tinggi serta ketidakmampuan mengelola emosi berkontribusi terhadap timbulnya kekerasan dalam perilaku individu. [Lihat sumber Disini - digilib.unisayogya.ac.id]


Tanda dan Gejala Risiko Kekerasan

Mengidentifikasi tanda dan gejala kekerasan lebih awal sangat penting dalam pencegahan insiden yang lebih serius. Tanda-tanda tersebut biasanya terbagi menjadi fisik dan verbal:

Tanda Fisik

Tanda Verbal

Gejala Psikologis

Pasien mungkin menunjukkan kegelisahan yang berlebihan, ketidakpercayaan ekstrem terhadap orang lain, atau respons emosional yang tidak proporsional terhadap kejadian kecil. Gejala-gejala ini kerap ditemukan pada pasien dengan gangguan realitas atau mood yang tidak stabil. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.ac.id]


Dampak Perilaku Kekerasan terhadap Pasien dan Lingkungan

Dampak pada Pasien

  • Cedera Fisik dan Psikologis, Tindakan fisik dapat menyebabkan luka atau trauma yang berkepanjangan.

  • Perburukan Kondisi Mental, Kekerasan yang tidak terkontrol memperburuk prognosis gangguan mental serta memicu isolasi sosial.

  • Stigma yang Meningkat, Kekerasan dapat memperkuat stigma negatif terhadap gangguan jiwa dalam masyarakat. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]

Dampak pada Lingkungan Klinis

  • Keselamatan Tenaga Kesehatan, Staf medis termasuk perawat berada pada risiko tinggi mengalami kekerasan fisik maupun verbal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Produktivitas Perawatan Menurun, Kekerasan dapat mengganggu layanan kesehatan, mempengaruhi workflow, dan menciptakan lingkungan kerja yang tidak aman.

  • Biaya Perawatan Meningkat, Penanganan insiden kekerasan, termasuk rehabilitasi pasien dan pelatihan staf, menambah beban biaya operasional. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Penilaian Keperawatan Risiko Kekerasan

Penilaian risiko kekerasan menjadi langkah awal dalam perencanaan asuhan keperawatan yang efektif. Beberapa komponen penting penilaian meliputi:

1. Riwayat Klinis

Evaluasi riwayat medis dan perilaku agresif sebelumnya membantu memprediksi kemungkinan kekerasan berulang. [Lihat sumber Disini - journals.plos.org]

2. Pengamatan Perilaku

Observasi langsung terhadap tanda fisik dan verbal yang telah diuraikan sebelumnya, serta pola interaksi pasien dengan lingkungan. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

3. Penilaian Lingkungan

Faktor ruang rawat yang penuh tekanan seperti overcrowding, bising, atau kurangnya privasi dapat memperberat perilaku agresif. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]


Pencegahan dan Kontrol Risiko Kekerasan dalam Keperawatan

Pendidikan dan Pelatihan Staf

Pelatihan de-escalation, komunikasi efektif, dan intervensi krisis dapat membantu mengurangi insiden kekerasan. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]

Manajemen Lingkungan

Penataan lingkungan rawat inap yang ramah dan tidak memicu stres tinggi, menjaga rasio staf-pasien yang seimbang, serta memastikan ruang yang aman dan terbuka dapat menekan agresi pasien. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]

Kolaborasi Multidisiplin

Intervensi yang melibatkan psikiater, psikolog, perawat, serta pekerja sosial memungkinkan rencana perawatan yang beragam dan komprehensif untuk mengelola risiko kekerasan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Intervensi Keperawatan Khusus

Pendekatan yang berorientasi pada pasien seperti terapi perilaku, teknik relaksasi, pemantauan obat, serta komunikasi yang empatik dapat membantu pasien mengelola gejala emosional dan meminimalkan eskalasi kekerasan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]


Kesimpulan

Risiko kekerasan pada pasien dengan gangguan mental merupakan masalah kompleks yang melibatkan berbagai faktor biopsikososial dan lingkungan. Perilaku ini muncul sebagai ancaman yang nyata terhadap keselamatan pasien sendiri, tenaga kesehatan, serta lingkungan perawatan. Identifikasi faktor risiko secara dini, observasi tanda dan gejala perilaku agresif, serta penilaian risiko yang sistematis penting dalam rencana asuhan keperawatan.

Upaya pencegahan dan kontrol melalui pelatihan staf, manajemen lingkungan perawatan yang aman, serta pendekatan multidisiplin terbukti efektif dalam mereduksi insiden kekerasan. Pendekatan keperawatan yang humanistik yang menggabungkan keterampilan komunikasi, teknik de-escalation, serta perhatian terhadap kebutuhan individual pasien menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan perawatan yang lebih aman, efektif, dan penuh empati.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Risiko kekerasan pada pasien gangguan mental adalah kondisi di mana individu memiliki potensi atau kecenderungan melakukan perilaku agresif yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain, atau lingkungan sekitar, baik secara fisik maupun verbal.

Faktor risiko meliputi gangguan mental berat seperti skizofrenia dan gangguan bipolar, riwayat kekerasan sebelumnya, penyalahgunaan zat, stres psikososial, ketidakmampuan mengontrol emosi, serta lingkungan perawatan yang tidak kondusif.

Tanda dan gejala meliputi wajah tegang, suara meninggi, ancaman verbal, perilaku gelisah, mondar-mandir, kontak mata tajam, mudah marah, serta peningkatan agitasi motorik dan emosional.

Penilaian keperawatan dilakukan melalui pengkajian riwayat perilaku agresif, observasi tanda fisik dan verbal, evaluasi kondisi psikologis pasien, serta analisis faktor lingkungan yang dapat memicu perilaku kekerasan.

Pencegahan dan kontrol dilakukan melalui komunikasi terapeutik, teknik de-eskalasi, manajemen lingkungan yang aman, pemantauan kepatuhan obat, pendidikan pasien dan keluarga, serta kolaborasi multidisiplin dalam asuhan keperawatan.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Risiko Kekerasan pada Pasien Gangguan Mental Risiko Kekerasan pada Pasien Gangguan Mental Status Mental Pasien: Konsep, Metode Penilaian, dan Klasifikasi Status Mental Pasien: Konsep, Metode Penilaian, dan Klasifikasi Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Status Mental Pasien: Pengertian dan Penilaian Status Mental Pasien: Pengertian dan Penilaian Perubahan Pola Komunikasi Pasien Perubahan Pola Komunikasi Pasien Edukasi Pasien Berkelanjutan Edukasi Pasien Berkelanjutan Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Konsep Kesehatan Mental Preventif Konsep Kesehatan Mental Preventif Kesehatan Mental Remaja Kesehatan Mental Remaja Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Respon Pasien terhadap Edukasi Obat Beban Mental: Konsep dan Performa Beban Mental: Konsep dan Performa Hubungan Komunikasi dan Kepuasan Pasien Hubungan Komunikasi dan Kepuasan Pasien Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Tingkat Pemahaman Pasien terhadap Informasi Obat Tingkat Pemahaman Pasien terhadap Informasi Obat Keamanan Pasien di Ruang Perawatan: Konsep, Prinsip, dan Penerapan Keamanan Pasien di Ruang Perawatan: Konsep, Prinsip, dan Penerapan Pelayanan Farmasi Berbasis Pasien: Konsep, Paradigma, dan Implementasi Pelayanan Farmasi Berbasis Pasien: Konsep, Paradigma, dan Implementasi Kepuasan Pasien: Konsep, faktor penentu, dan mutu pelayanan Kepuasan Pasien: Konsep, faktor penentu, dan mutu pelayanan Promosi Kesehatan Mental Promosi Kesehatan Mental Kesiapan Pasien Menghadapi Perubahan Kesehatan: Konsep, Adaptasi, dan Respons Kesiapan Pasien Menghadapi Perubahan Kesehatan: Konsep, Adaptasi, dan Respons Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Administrasi Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Administrasi
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…