
Risiko Kekerasan pada Pasien Gangguan Mental: Konsep, Pencegahan, dan Kontrol
Pendahuluan
Perilaku kekerasan pada pasien dengan gangguan mental merupakan fenomena kompleks yang berdampak besar pada pasien itu sendiri, tenaga kesehatan, lingkungan rumah sakit, serta masyarakat luas. Kekerasan ini dapat terjadi dalam bentuk fisik, verbal, maupun psikologis, dan sering kali bersifat tidak terduga serta agresif. Studi internasional menunjukkan bahwa hingga sekitar 50% pasien dengan gangguan mental dapat menunjukkan gejala agresi atau kekerasan dibandingkan populasi umum yang jauh lebih rendah, menunjukkan kebutuhan penanganan yang sistematis dan terintegrasi dalam praktik klinik dan komunitas kesehatan mental. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Fenomena ini memiliki wawasan penting baik bagi tenaga kesehatan, perawat, keluarga pasien, maupun pembuat kebijakan kesehatan, karena kekerasan tersebut tidak hanya berdampak secara fisik tetapi juga emosional dan sosial. Upaya pencegahan dan kontrol yang efektif merupakan bagian tak terpisahkan dari standar praktik keperawatan jiwa, dan pemahaman yang lebih dalam terhadap konsep risiko kekerasan, faktor pemicunya, serta cara menilai dan mengelolanya secara komprehensif adalah kunci untuk menciptakan lingkungan perawatan yang aman dan humanistik. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Risiko Kekerasan pada Pasien Gangguan Mental
Definisi Risiko Kekerasan Secara Umum
Risiko kekerasan pada pasien gangguan mental dapat dipahami sebagai suatu keadaan di mana seseorang menunjukkan potensi atau perilaku yang mengancam keselamatan dirinya sendiri, orang lain, atau lingkungan di sekitarnya. Ini mencakup tindakan agresif baik secara verbal maupun fisik yang dapat menyebabkan cedera atau dampak psikologis. Perilaku ini bukan sekedar respon emosional sesaat, tetapi manifestasi yang dapat menimbulkan ancaman nyata bagi keselamatan dan keamanan dalam konteks klinis dan sosial. [Lihat sumber Disini - jkem.ppj.unp.ac.id]
Definisi Risiko Kekerasan dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kekerasan didefinisikan sebagai cara, perbuatan, tindakan yang menggunakan daya paksa, kekuatan, atau tekanan yang dapat menimbulkan penderitaan atau kerugian baik fisik maupun psikis pada individu lain atau lingkungan sekitarnya. Dalam konteks risiko kekerasan, istilah ini merujuk pada kemungkinan seseorang menunjukkan perilaku kekerasan sebagai akibat dari gangguan mental atau faktor predisposisi psikososial lainnya. (Definisi KBBI dapat diakses melalui situs resmi KBBI Online).
Definisi Risiko Kekerasan Menurut Para Ahli
-
Pardede & Laia (2020), Risiko perilaku kekerasan didefinisikan sebagai kondisi di mana seseorang menunjukkan perilaku yang dapat membahayakan dirinya sendiri, orang lain, atau lingkungan melalui tindakan fisik, emosional, verbal, maupun seksual. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Nanda (2016), Risiko kekerasan merujuk pada perilaku yang dapat menimbulkan ancaman atau bahaya terhadap keselamatan individu lain atau terhadap lingkungan secara keseluruhan, baik secara langsung maupun tidak langsung. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Feronica Sari et al. (2024), Perilaku kekerasan merupakan kondisi di mana individu menunjukkan perilaku yang berpotensi membahayakan diri sendiri dan orang lain melalui bentuk agresi fisik, emosional, maupun verbal. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
-
Indriyanti (2024), Perilaku kekerasan pada pasien gangguan mental dapat dilihat sebagai respons maladaptif terhadap stresor internal maupun eksternal yang menghasilkan ancaman keselamatan diri dan lingkungan sekitar. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.ac.id]
Faktor Risiko Terjadinya Perilaku Kekerasan
Faktor risiko kekerasan pada pasien gangguan mental muncul dari berbagai lapisan interaksi biologis, psikologis, sosial, dan lingkungan. Banyak penelitian telah mengidentifikasi faktor-faktor tersebut secara empiris:
-
Gangguan Mental Berat (psychotic, bipolar, skizoafektif)
Pasien dengan gangguan psikotik, bipolar, atau skizoafektif menunjukkan kemungkinan perilaku agresif yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lainnya. [Lihat sumber Disini - journals.plos.org]
-
Riwayat Perilaku Kekerasan Sebelumnya
Individu yang memiliki riwayat agresi sebelumnya lebih berpotensi kembali menunjukkan perilaku yang sama di masa mendatang. [Lihat sumber Disini - journals.plos.org]
-
Abuse Obat dan Zat (Substance Abuse)
Konsumsi alkohol atau obat-obatan tertentu dapat meningkatkan impulsivitas dan agresi pada pasien dengan gangguan mental. [Lihat sumber Disini - jamanetwork.com]
-
Faktor Demografis
Usia muda dan jenis kelamin laki-laki ditemukan sebagai prediktor yang signifikan dalam sejumlah penelitian terkait agresivitas pada pasien gangguan mental. [Lihat sumber Disini - journals.plos.org]
-
Faktor Lingkungan Ruang Perawatan
Lingkungan yang penuh stres seperti suasana ruang rawat inap yang ramai, bising, atau kurang dukungan sosial dapat memperburuk gejala agresif. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]
-
Stres dan Ketidakstabilan Emosional
Tingkat stres yang tinggi serta ketidakmampuan mengelola emosi berkontribusi terhadap timbulnya kekerasan dalam perilaku individu. [Lihat sumber Disini - digilib.unisayogya.ac.id]
Tanda dan Gejala Risiko Kekerasan
Mengidentifikasi tanda dan gejala kekerasan lebih awal sangat penting dalam pencegahan insiden yang lebih serius. Tanda-tanda tersebut biasanya terbagi menjadi fisik dan verbal:
Tanda Fisik
-
Wajah tampak tegang, merah
-
Mata melotot atau pandangan tajam
-
Otot yang kaku atau postur tubuh defensif
-
Gerakan mondar-mandir atau agitasi motorik tinggi
-
Pukulan atau tindakan agresif nyata [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
Tanda Verbal
-
Nada suara tinggi atau kasar
-
Mengancam secara langsung terhadap orang lain
-
Bicara tidak koheren yang menunjukkan ketidakstabilan emosional
-
Perintah atau tuntutan yang intens dan tidak rasional [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
Gejala Psikologis
Pasien mungkin menunjukkan kegelisahan yang berlebihan, ketidakpercayaan ekstrem terhadap orang lain, atau respons emosional yang tidak proporsional terhadap kejadian kecil. Gejala-gejala ini kerap ditemukan pada pasien dengan gangguan realitas atau mood yang tidak stabil. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.ac.id]
Dampak Perilaku Kekerasan terhadap Pasien dan Lingkungan
Dampak pada Pasien
-
Cedera Fisik dan Psikologis, Tindakan fisik dapat menyebabkan luka atau trauma yang berkepanjangan.
-
Perburukan Kondisi Mental, Kekerasan yang tidak terkontrol memperburuk prognosis gangguan mental serta memicu isolasi sosial.
-
Stigma yang Meningkat, Kekerasan dapat memperkuat stigma negatif terhadap gangguan jiwa dalam masyarakat. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Dampak pada Lingkungan Klinis
-
Keselamatan Tenaga Kesehatan, Staf medis termasuk perawat berada pada risiko tinggi mengalami kekerasan fisik maupun verbal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Produktivitas Perawatan Menurun, Kekerasan dapat mengganggu layanan kesehatan, mempengaruhi workflow, dan menciptakan lingkungan kerja yang tidak aman.
-
Biaya Perawatan Meningkat, Penanganan insiden kekerasan, termasuk rehabilitasi pasien dan pelatihan staf, menambah beban biaya operasional. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Penilaian Keperawatan Risiko Kekerasan
Penilaian risiko kekerasan menjadi langkah awal dalam perencanaan asuhan keperawatan yang efektif. Beberapa komponen penting penilaian meliputi:
1. Riwayat Klinis
Evaluasi riwayat medis dan perilaku agresif sebelumnya membantu memprediksi kemungkinan kekerasan berulang. [Lihat sumber Disini - journals.plos.org]
2. Pengamatan Perilaku
Observasi langsung terhadap tanda fisik dan verbal yang telah diuraikan sebelumnya, serta pola interaksi pasien dengan lingkungan. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
3. Penilaian Lingkungan
Faktor ruang rawat yang penuh tekanan seperti overcrowding, bising, atau kurangnya privasi dapat memperberat perilaku agresif. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]
Pencegahan dan Kontrol Risiko Kekerasan dalam Keperawatan
Pendidikan dan Pelatihan Staf
Pelatihan de-escalation, komunikasi efektif, dan intervensi krisis dapat membantu mengurangi insiden kekerasan. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]
Manajemen Lingkungan
Penataan lingkungan rawat inap yang ramah dan tidak memicu stres tinggi, menjaga rasio staf-pasien yang seimbang, serta memastikan ruang yang aman dan terbuka dapat menekan agresi pasien. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]
Kolaborasi Multidisiplin
Intervensi yang melibatkan psikiater, psikolog, perawat, serta pekerja sosial memungkinkan rencana perawatan yang beragam dan komprehensif untuk mengelola risiko kekerasan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Intervensi Keperawatan Khusus
Pendekatan yang berorientasi pada pasien seperti terapi perilaku, teknik relaksasi, pemantauan obat, serta komunikasi yang empatik dapat membantu pasien mengelola gejala emosional dan meminimalkan eskalasi kekerasan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Kesimpulan
Risiko kekerasan pada pasien dengan gangguan mental merupakan masalah kompleks yang melibatkan berbagai faktor biopsikososial dan lingkungan. Perilaku ini muncul sebagai ancaman yang nyata terhadap keselamatan pasien sendiri, tenaga kesehatan, serta lingkungan perawatan. Identifikasi faktor risiko secara dini, observasi tanda dan gejala perilaku agresif, serta penilaian risiko yang sistematis penting dalam rencana asuhan keperawatan.
Upaya pencegahan dan kontrol melalui pelatihan staf, manajemen lingkungan perawatan yang aman, serta pendekatan multidisiplin terbukti efektif dalam mereduksi insiden kekerasan. Pendekatan keperawatan yang humanistik yang menggabungkan keterampilan komunikasi, teknik de-escalation, serta perhatian terhadap kebutuhan individual pasien menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan perawatan yang lebih aman, efektif, dan penuh empati.