
Status Mental Pasien: Pengertian dan Penilaian
Pendahuluan
Penilaian status mental pasien menjadi aspek penting dalam keperawatan dan pelayanan kesehatan jiwa. Kondisi mental pasien, terutama pada pasien rawat inap, dapat berubah sewaktu-waktu akibat stres, penyakit, lingkungan rawat, maupun faktor internal. Oleh karena itu, pemahaman yang baik tentang apa itu status mental, bagaimana cara menilainya, serta peran perawat dalam memonitor dan mendeteksi perubahan sangat krusial untuk memberikan asuhan keperawatan yang tepat dan responsif. Artikel ini membahas pengertian status mental, komponen pemeriksaannya, faktor yang mempengaruhi perubahan, gejala gangguan mental pada pasien rawat inap, teknik penilaian, peran perawat, serta contoh kasus perubahan status mental.
Definisi Status Mental
Definisi Status Mental Secara Umum
Status mental dapat dipahami sebagai kondisi psikologis dan kognitif-emosional seseorang pada suatu titik waktu tertentu, mencakup pikiran, persepsi, suasana hati, kesadaran, orientasi, dan fungsi kognitif. Dalam konteks keperawatan dan psikiatri, status mental menggambarkan bagaimana individu berpikir, merasakan, dan berperilaku saat itu, serta bagaimana mereka bereaksi terhadap lingkungan sekitar.
Definisi Status Mental dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)
Menurut definisi dalam KBBI, “mental” berkaitan dengan jiwa atau psikis, sehingga “status mental” menunjuk pada keadaan jiwa/psikis seseorang pada suatu waktu. Meskipun KBBI tidak selalu memberikan istilah “status mental” spesifik, pemahaman istilah ini secara linguistik merujuk pada kondisi psikis/jiwa individu.
Definisi Status Mental Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi status mental menurut literatur keperawatan/psikiatri:
-
Menurut teori klinis dalam psikiatri, Mental Status Examination (MSE) adalah cara terstruktur untuk menggambarkan keadaan mental pasien pada satu titik waktu, meliputi domain appearance, behavior, mood/afek, bicara, proses dan isi pikiran, persepsi, kognisi, insight, dan judgement. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Dalam buku panduan keperawatan/psikiatri, status mental mencakup aspek kesadaran, aktivitas psikomotorik, orientasi, persepsi, bentuk dan isi pikir, mood dan afek, kontrol impuls, realitas (kemampuan membedakan realitas), tilikan/insight, serta fungsi fungsional. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
-
Dalam penelitian keperawatan kontemporer, status kesehatan mental dijelaskan sebagai kondisi individu yang dapat dibedakan antara “mental sehat” dan “indikasi kesehatan mental rendah / masalah kesehatan mental.” Individu dengan kesehatan mental baik cenderung mampu beradaptasi terhadap perubahan dan tuntutan hidup. [Lihat sumber Disini - ejournal.unuja.ac.id]
-
Secara umum, kesehatan mental didefinisikan sebagai keadaan sejahtera di mana seseorang menyadari kemampuannya sendiri, mampu mengatasi stres normal kehidupan, produktif bekerja, dan dapat berkontribusi ke masyarakat. [Lihat sumber Disini - ejournal.unuja.ac.id]
Komponen Pemeriksaan Status Mental (MSE)
Pemeriksaan status mental (MSE) adalah alat penting dalam keperawatan dan psikiatri untuk mengevaluasi fungsi mental dan psikologis pasien secara sistematis. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Komponen-komponen utama MSE antara lain:
-
Penampilan (appearance): mencakup pakaian, kebersihan, perawatan diri, ekspresi wajah, postur, perilaku fisik. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Sikap dan perilaku (attitude & behavior): termasuk sikap terhadap pemeriksa, kontak mata, tingkat aktivitas, gerak tubuh, respons terhadap lingkungan. [Lihat sumber Disini - id.wikipedia.org]
-
Bicara (speech): mencakup ritme, kecepatan, volume, artikulasi, spontanitas, serta kelancaran berbicara. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Mood dan afek (mood & affect): mood adalah suasana batin subjektif pasien, sedangkan afek adalah ekspresi emosional yang bisa diamati pemeriksa. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Proses dan isi pikir (thought process & thought content): mencakup logika berpikir, alur berpikir, keyakinan, ide delusi, obsesi, pikiran bunuh diri. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Persepsi (perception): termasuk halusinasi, ilusi, distorsi persepsi realitas seperti depersonalisasi atau derealisasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Kognisi (cognition): orientasi (waktu, tempat, orang), memori, perhatian, konsentrasi, kemampuan abstraksi, pemahaman, daya pikir. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Insight dan judgement: kemampuan pasien menyadari kondisi dirinya, serta kemampuan membuat keputusan yang wajar. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Status Mental
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perubahan status mental seseorang antara lain:
-
Faktor individu seperti kepribadian, kondisi emosional, daya adaptasi, menurut penelitian pada mahasiswa, kepribadian dan keharmonisan hidup berhubungan dengan status kesehatan mental. [Lihat sumber Disini - ejournal.unuja.ac.id]
-
Faktor stres dan tekanan psikososial: tekanan lingkungan, kondisi hidup, pengalaman traumatis, beban fisik maupun emosional dapat memperburuk kondisi mental. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Faktor penyakit fisik atau neurospsikiatrik: gangguan neurologis, efek samping obat, penyakit kronis bisa mempengaruhi kognisi dan persepsi. [Lihat sumber Disini - kedokteran.med.unhas.ac.id]
-
Faktor lingkungan sosial dan budaya: interaksi, dukungan sosial, lingkungan perawatan, terutama pada pasien rawat inap, lingkungan dan interaksi dengan perawat atau sesama pasien bisa mempengaruhi mood dan perilaku. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Gejala Gangguan Mental pada Pasien Rawat Inap
Pada pasien rawat inap, perubahan status mental bisa muncul dalam berbagai gejala sebagai berikut:
-
Perubahan penampilan dan perilaku: misalnya kurang perawatan diri, pakaian tidak rapi, postur tampak lesu atau acak-acakan, kurang kontak mata, menarik diri. [Lihat sumber Disini - repository.stikeshangtuah-sby.ac.id]
-
Gangguan bicara dan komunikasi: bicara lambat, terbata-bata, tidak koheren, monoton, atau sebaliknya terlalu cepat dan tidak terkontrol. [Lihat sumber Disini - alomedika.com]
-
Distorsi persepsi atau realitas: halusinasi (suara, visual), delusi, perasaan depersonalisasi atau derealisasi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Gangguan kognisi: kebingungan waktu/ruang, kehilangan orientasi, gangguan memori, perhatian menurun, konsentrasi buruk. [Lihat sumber Disini - kedokteran.med.unhas.ac.id]
-
Mood dan afek yang tidak stabil: pasien bisa tampak cemas, depresi, marah, takut, apatis, atau emosinya tidak sesuai dengan konteks. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Penurunan insight dan judgement: pasien bisa tidak menyadari bahwa ada perubahan mental, membuat keputusan yang impulsif atau tidak realistis. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Teknik Penilaian Status Mental
Penilaian status mental dilakukan melalui kombinasi observasi, wawancara, dan, jika diperlukan, tes kognitif. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Beberapa teknik dan metode:
-
Observasi langsung terhadap penampilan, sikap, perilaku, kontak mata, ekspresi, terutama saat pasien baru masuk atau saat perubahan perilaku. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
-
Wawancara terstruktur dan tidak terstruktur: untuk menggali suasana hati, isi pikiran, delusi, halusinasi, pandangan terhadap diri sendiri dan lingkungan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Tes kognitif sederhana (salah satu contohnya Mini, Mental State Examination / MMSE): untuk menilai orientasi, memori, perhatian, bahasa, fungsi kognitif dasar terutama pada pasien yang diduga mengalami gangguan kognitif. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Penilaian berulang / serial: untuk memantau perubahan status mental, apakah membaik, memburuk, atau fluktuatif, sangat berguna terutama di ruang rawat inap atau perawatan psikiatri. (pendekatan MSE dalam penilaian longitudinal) [Lihat sumber Disini - skillslab.fk.uns.ac.id]
Peran Perawat dalam Monitoring Status Mental
Perawat memiliki peran penting dalam mendeteksi, memantau, dan mencatat perubahan status mental pasien, serta melaporkan ke tim kesehatan agar penanganan tepat dapat dilakukan.
-
Melakukan observasi rutin terhadap penampilan, perilaku, suasana hati, interaksi, dan komunikasi pasien, terutama saat ada perubahan fisik atau perawatan.
-
Melakukan wawancara awal dan berkala untuk menilai mood, pikiran, persepsi serta fungsi kognitif pasien.
-
Menggunakan instrumen penilaian mental sederhana (misalnya MSE, MMSE) bila diperlukan, untuk membantu mendeteksi gangguan kognitif atau perubahan fungsi mental.
-
Dokumentasi hasil pemantauan secara sistematis, agar memudahkan tim medis/psikiatri mengambil keputusan, merencanakan intervensi atau merujuk pasien jika ada gejala gangguan mental serius.
-
Memberi dukungan, keamanan, dan lingkungan yang mendukung stabilitas mental, misalnya menjaga komunikasi, membangun trust, mengurangi stres lingkungan, serta memfasilitasi perawatan holistik.
Contoh Kasus Perubahan Status Mental
Misalnya, seorang pasien rawat inap di rumah sakit umum dengan penyakit kronis (misalnya sakit berat) semula tampil normal. Namun setelah beberapa hari di bangsal, kurang tidur, sakit, dan merasa stres, perawat mengamati bahwa pasien mulai tampak acuh terhadap kebersihan diri, rambut dan pakaian tampak berantakan, jarang kontak mata, bicara lebih pelan, sering diam, tampak sedih, dan sulit berkonsentrasi.
Kemudian dilakukan MSE sederhana: pasien menunjukkan orientasi waktu dan tempat agak kabur, kesulitan menjawab pertanyaan sederhana, mengaku sering merasa takut tanpa alasan jelas, dan tidak mampu menyampaikan pikirannya dengan koheren. Insight pasien juga tampak menurun, ia mengatakan “saya nggak tahu kenapa saya begini.” Dokumentasi oleh perawat serta pelaporan ke tim psikiatri membuat pasien kemudian direvaluasi lebih lanjut, mendapatkan intervensi psikososial, dan akhirnya membaik setelah beberapa hari dengan dukungan perawatan yang tepat.
Kasus semacam ini menggambarkan pentingnya peran perawat dalam mendeteksi perubahan status mental sedini mungkin, agar komplikasi psikologis tidak berkembang.
Kesimpulan
Status mental pasien adalah gambaran kondisi jiwa, kognisi, emosi, persepsi, dan perilaku seseorang pada suatu titik waktu, dan menjadi aspek penting dalam penilaian keperawatan dan pelayanan kesehatan jiwa. Pemeriksaan status mental melalui MSE dan/atau MMSE memungkinkan profesional kesehatan (termasuk perawat) untuk mengidentifikasi perubahan mental, mendeteksi potensi gangguan, serta merencanakan intervensi yang sesuai. Faktor yang mempengaruhi status mental beragam, mulai dari kondisi fisik, stres, lingkungan, hingga faktor kepribadian dan adaptasi. Oleh karena itu, peran perawat sebagai pemantau aktif sangat penting, terutama di ruang rawat inap. Dengan deteksi dini dan pemantauan kontinu, perubahan status mental bisa dikenali lebih cepat dan pasien mendapatkan perawatan yang tepat, mendukung pemulihan dan kesejahteraan psikologis.