
Risiko Perilaku Tidak Aman Pasien: Konsep, Determinan, dan Pencegahan
Pendahuluan
Keselamatan pasien merupakan salah satu aspek krusial dalam sistem pelayanan kesehatan global. Menurut data dari World Health Organization (WHO), sekitar 1 dari 10 pasien mengalami dampak buruk yang dapat dicegah selama perawatan kesehatan, dan lebih dari separuh kejadian tersebut disebabkan oleh layanan yang tidak aman atau bermasalah. Dalam konteks ini, perilaku tidak aman baik oleh tenaga kesehatan maupun pasien dapat menjadi pemicu utama terjadinya insiden yang membahayakan pasien, seperti kesalahan pengobatan, infeksi terkait layanan kesehatan, hingga jatuhnya pasien. Risiko perilaku tidak aman ini bukan hanya mengancam keselamatan fisik pasien, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan biaya pelayanan dan kerugian psikososial pasien serta keluarganya. Pemahaman menyeluruh tentang konsep, determinan, bentuk, serta pencegahan perilaku tidak aman sangat penting bagi tenaga kesehatan dan sistem layanan kesehatan secara umum untuk menurunkan kejadian yang tidak diinginkan tersebut. [Lihat sumber Disini - who.int]
Definisi Risiko Perilaku Tidak Aman
Definisi Risiko Perilaku Tidak Aman Secara Umum
Risiko perilaku tidak aman pasien merujuk pada tindakan atau kebiasaan yang dilakukan oleh pasien, tenaga kesehatan, atau lingkungan pelayanan kesehatan yang berpotensi menimbulkan bahaya atau gagal mencapai hasil pelayanan yang aman. Perilaku ini dapat mencakup kesalahan mengikuti instruksi medis, ketidaktahuan terhadap prosedur keselamatan, maupun respons yang buruk terhadap situasi yang berpotensi bahaya. Risiko perilaku tidak aman pada layanan kesehatan ditandai oleh kejadian seperti kesalahan pemberian obat, tidak mengikuti prosedur sterilisasi, atau reaksi pasien yang tidak terkendali saat berinteraksi dengan layanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - who.int]
Definisi Risiko Perilaku Tidak Aman dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perilaku tidak aman dapat diartikan sebagai “tindakan atau tingkah laku yang dapat membahayakan keselamatan diri sendiri atau orang lain”. Meski definisi KBBI tidak spesifik terhadap konteks medis, interpretasi ini relevan ketika diterapkan pada konteks pelayanan kesehatan, yang menekankan bahwa setiap aktivitas yang berpotensi membahayakan pasien atau staf kesehatan dikategorikan sebagai perilaku yang tidak aman.
Definisi Risiko Perilaku Tidak Aman Menurut Para Ahli
-
World Health Organization (WHO), WHO mendefinisikan keselamatan pasien sebagai ketiadaan dari tindakan yang dapat membahayakan pasien yang dapat dicegah selama proses pelayanan kesehatan. Dengan demikian, perilaku yang tidak selaras dengan prinsip keselamatan akan masuk dalam kategori risiko perilaku tidak aman dalam konteks klinis. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Suriyani (2024), Keselamatan pasien adalah suatu sistem yang berfokus pada pengurangan risiko dan pencegahan cedera yang tidak perlu melalui proses asuhan kesehatan yang aman dan standar; perilaku tidak aman pasien termasuk tindakan yang melanggar standar tersebut. [Lihat sumber Disini - repository.nuansafajarcemerlang.com]
-
Puspitaningrum (2025), Perilaku tidak aman mencakup kelupaan, kurangnya perhatian, kecerobohan, dan kemampuan mengabaikan serta mempertahankan keselamatan pasien yang rentan terhadap kesalahan. [Lihat sumber Disini - prin.or.id]
-
Aghaei et al. (2020), Dalam kerangka keselamatan kerja dan keselamatan pasien, unsafe behavior adalah perilaku yang tidak sesuai standar keselamatan yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan pekerjaan maupun kecelakaan pasien dalam unit pelayanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - jpmph.org]
Konsep Risiko Perilaku Tidak Aman
Risiko perilaku tidak aman tidak hanya sekadar tindakan yang berpotensi membahayakan tetapi merupakan manifestasi dari kegagalan dalam sistem keselamatan secara keseluruhan. Dalam literatur kesehatan, konsep perilaku tidak aman sering dipahami melalui kerangka budaya keselamatan pasien (safety culture), yang melibatkan koordinasi antara kebijakan organisasi, kemampuan individual tenaga kesehatan dalam menilai dan merespons risiko, serta perilaku pasien selama menerima layanan. [Lihat sumber Disini - who.int]
Perilaku tidak aman adalah bagian dari dimensi keselamatan pasien yang dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, komunikasi, pengetahuan, pengalaman, hingga tekanan kerja. Ketidaktahuan atau ketidakpatuhan terhadap standar prosedur medis merupakan contoh perilaku tidak aman yang sering terlihat di fasilitas layanan kesehatan. Perilaku semacam ini dapat terjadi baik dari tenaga kesehatan (mis. tidak mencuci tangan sesuai prosedur atau salah dalam pemberian obat) maupun dari pasien (mis. tidak mengikuti instruksi setelah operasi atau tidak melaporkan gejala baru yang muncul). [Lihat sumber Disini - repository.nuansafajarcemerlang.com]
Faktor Determinan Perilaku Tidak Aman
Beberapa faktor telah diidentifikasi dalam literatur sebagai determinan perilaku tidak aman dalam konteks keselamatan pasien:
-
Komunikasi dan Tim Kerja, Kualitas komunikasi antara tenaga kesehatan, pasien, dan keluarga memengaruhi seberapa baik informasi risiko disampaikan dan dipahami. Komunikasi yang buruk meningkatkan potensi perilaku tidak aman yang tidak terdeteksi lebih awal. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Pengetahuan dan Keterampilan, Individu yang kurang memiliki pengetahuan atau keterampilan tentang prosedur keselamatan dan risiko klinis cenderung menunjukkan perilaku yang tidak aman. [Lihat sumber Disini - jdk.ulm.ac.id]
-
Budaya Keselamatan Organisasi, Organisasi dengan budaya keselamatan yang lemah biasanya gagal mendorong pelaporan insiden atau pembelajaran dari kesalahan, sehingga perilaku tidak aman lebih sering terjadi. [Lihat sumber Disini - jpmph.org]
-
Stres dan Kelelahan Kerja, Faktor psikososial seperti kelelahan, tekanan kerja berlebih, dan stres berkontribusi pada turunnya kinerja dan kepatuhan terhadap standar keselamatan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Motivasi dan Sikap Individu, Sikap yang kurang positif terhadap keselamatan pasien serta motivasi yang rendah dapat merusak perilaku aman dalam praktik klinis. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Persepsi Risiko, Individu yang tidak menyadari potensi risiko dalam praksis klinis cenderung kurang berhati-hati dan berperilaku tidak aman. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Bentuk Perilaku Tidak Aman pada Pasien
Perilaku tidak aman di lingkungan layanan kesehatan dapat muncul melalui berbagai bentuk, antara lain:
-
Melanggar Instruksi Medis, Pasien tidak mematuhi instruksi yang diberikan oleh tenaga kesehatan, misalnya mengabaikan jadwal obat atau diet yang diresepkan. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Respon Negatif Terhadap Perawatan, Pasien atau keluarga bereaksi dengan agresi verbal atau fisik terhadap staf kesehatan sehingga mengganggu alur pelayanan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Kesalahan dalam Melapor Gejala, Tidak memberikan informasi lengkap kepada tenaga kesehatan, yang menyebabkan keputusan klinis kurang akurat. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Tidak Mengikuti Prosedur Keselamatan, Tidak memahami atau tidak menaati tanda peringatan keselamatan pasien (mis. larangan berjalan tanpa bantuan setelah operasi). [Lihat sumber Disini - who.int]
Dampak Perilaku Tidak Aman terhadap Keselamatan
Perilaku tidak aman berdampak langsung pada keselamatan pasien dengan menghasilkan sejumlah konsekuensi buruk, seperti:
-
Adverse Events (Insiden Merugikan), Termasuk kesalahan pemberian obat, infeksi terkait layanan kesehatan, dan pembedahan yang salah prosedur. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Kecelakaan Pasien, Seperti pasien jatuh di fasilitas kesehatan yang dapat mengakibatkan cedera serius atau komplikasi. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Meningkatnya Lama Perawatan, Insiden berbahaya sering kali memperpanjang masa pemulihan dan rawat inap pasien. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Kerugian Ekonomi, Penanganan akibat perilaku tidak aman bisa meningkatkan biaya sistem kesehatan dan beban finansial pasien. [Lihat sumber Disini - who.int]
Penilaian Keperawatan Risiko Perilaku Tidak Aman
Penilaian keperawatan risiko perilaku tidak aman adalah proses sistematis yang dilakukan untuk mengidentifikasi pasien yang mungkin menunjukkan perilaku yang dapat membahayakan keselamatan mereka sendiri atau orang lain. Penilaian ini biasanya mencakup evaluasi terhadap:
-
Riwayat Risiko Sebelumnya, Mengetahui apakah pasien memiliki riwayat kejadian keselamatan sebelumnya. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Kesadaran dan Persepsi, Memeriksa sejauh mana pasien memahami kondisi kesehatannya dan risiko yang terkait. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Kemampuan Kognitif dan Fisik, Menganalisis kemampuan pasien untuk mengikuti instruksi keselamatan. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Lingkungan dan Dukungan Keluarga, Menilik apakah lingkungan atau keluarga pasien membantu atau menghambat perilaku aman. [Lihat sumber Disini - who.int]
Upaya Pencegahan Perilaku Tidak Aman
Upaya pencegahan perilaku tidak aman fokus pada pengembangan budaya keselamatan yang kuat serta strategi intervensi praktis, termasuk:
-
Pendidikan dan Pelatihan, Melatih tenaga kesehatan dan pasien tentang prosedur keselamatan dan potensi risiko klinis. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Peningkatan Komunikasi, Memperkuat komunikasi efektif antara dokter, perawat, pasien, dan keluarga untuk mengurangi miskomunikasi yang dapat memperbesar risiko perilaku tidak aman. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Sistem Pelaporan Insiden, Implementasi sistem pelaporan insiden yang tidak menghukum untuk belajar dari kesalahan dan mencegah kejadian serupa di masa depan. [Lihat sumber Disini - jpmph.org]
-
Pendekatan Multidisipliner, Kolaborasi tim kesehatan yang baik mampu mengidentifikasi dan menanggulangi risiko perilaku tidak aman lebih efektif. [Lihat sumber Disini - jpmph.org]
Kesimpulan
Risiko perilaku tidak aman pasien merupakan tantangan nyata dalam sistem pelayanan kesehatan yang mempengaruhi hasil klinis, keselamatan pasien, dan mutu layanan secara keseluruhan. Beragam faktor determinan termasuk komunikasi, budaya keselamatan organisasi, pengetahuan, stres kerja, dan persepsi risiko secara signifikan memengaruhi perilaku tidak aman. Bentuk perilaku tidak aman dapat muncul dari pasien maupun tenaga kesehatan, dan berdampak pada kejadian merugikan, kecelakaan pasien, biaya perawatan, serta pengalaman pasien secara keseluruhan. Melalui penilaian keperawatan risiko perilaku tidak aman yang menyeluruh serta upaya pencegahan terpadu seperti pendidikan, pelatihan, sistem pelaporan insiden, dan kolaborasi tim, risiko ini dapat diminimalkan. Implementasi langkah-langkah pencegahan ini bukan hanya meningkatkan keselamatan pasien tetapi juga memperkuat kualitas layanan kesehatan di berbagai tingkatan.