Terakhir diperbarui: 04 February 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 4 February). Stabilitas Lereng: Konsep, Mekanisme Longsor, dan Faktor Keamanan. SumberAjar. Retrieved 4 February 2026, from https://sumberajar.com/kamus/stabilitas-lereng-konsep-mekanisme-longsor-dan-faktor-keamanan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Stabilitas Lereng: Konsep, Mekanisme Longsor, dan Faktor Keamanan - SumberAjar.com

Stabilitas Lereng: Konsep, Mekanisme Longsor, dan Faktor Keamanan

Pendahuluan

Permasalahan stabilitas lereng merupakan isu krusial yang terus menjadi perhatian dalam bidang geoteknik dan manajemen risiko bencana, khususnya di negara yang rawan longsor seperti Indonesia. Lereng yang tidak stabil berpotensi memicu longsor yang dapat merusak infrastruktur, mengancam keselamatan jiwa masyarakat, serta berdampak pada ekosistem lingkungan. Longsor sering terjadi ketika gaya pendorong yang memicu pergerakan massa tanah atau batuan melampaui gaya penahan yang menjaga kestabilan lereng. Fenomena ini tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi geologi dan hidrologi, tetapi juga oleh aktivitas manusia seperti pembangunan konstruksi, penggalian tanah, dan perubahan penggunaan lahan. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai konsep stabilitas lereng, mekanisme keruntuhan, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya sangat diperlukan untuk merancang tindakan mitigasi yang efektif dan strategi rekayasa untuk menjaga keamanan struktur lereng dan masyarakat di sekitarnya.


Definisi Stabilitas Lereng

Definisi Stabilitas Lereng Secara Umum

Secara umum, stabilitas lereng merujuk pada kondisi keseimbangan suatu permukaan tanah atau batuan yang miring terhadap gaya-gaya yang bekerja padanya. Kondisi ini mencerminkan kemampuan lereng untuk tetap utuh tanpa mengalami pergerakan atau longsoran, meskipun dipengaruhi oleh gaya berat, air, getaran, maupun tekanan eksternal. Analisis stabilitas lereng bertujuan menentukan apakah suatu lereng berada dalam keadaan aman, kritis, atau tidak stabil berdasarkan perbandingan antara gaya penahan dan gaya pendorong longsoran. Jika gaya penahan jauh lebih besar dari gaya pendorong, lereng akan tetap stabil; sebaliknya, jika gaya pendorong lebih besar, maka kegagalan atau longsor kemungkinan besar terjadi.

Menurut definisi ini, stabilitas lereng menjadi indikator utama untuk memahami potensi bahaya longsor serta menentukan parameter-parameter geoteknik untuk desain rekayasa lereng yang aman. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])

Definisi Stabilitas Lereng dalam KBBI

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “stabilitas” diartikan sebagai keadaan yang tetap atau tidak berubah serta seimbang. Lereng sendiri didefinisikan sebagai tanah atau batuan yang miring atau menurun dari suatu bidang datar. Berdasarkan penggabungan istilah tersebut, stabilitas lereng berarti keadaan lereng yang tetap seimbang tanpa mengalami perubahan bentuk atau posisi signifikan yang mengarah kepada pergerakan massa tanah atau batuan. Definisi KBBI ini menekankan aspek keseimbangan dan ketidakberubahan bentuk yang menjadi inti dari konsep kestabilan geoteknik. Sumber langsung KBBI dapat diakses online melalui situs resmi KBBI.

Definisi Stabilitas Lereng Menurut Para Ahli

Beberapa ahli telah menguraikan konsep stabilitas lereng dari sudut pandang teknik sipil dan geoteknik.

  1. Menurut Xu et al. (2022), stabilitas lereng adalah kondisi yang digunakan untuk menentukan tindakan pencegahan serta parameter rekayasa terhadap keruntuhan lereng, di mana perhitungan faktor keamanan menjadi dasar utama dalam proses desain dan mitigasi longsor. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])

  2. Imamuddin (2025) menyatakan bahwa lereng dianggap gagal atau mengalami longsoran ketika nilai faktor aman yang digunakan dalam analisis stabilitas berada di bawah standar yang ditetapkan, sehingga lalai dalam mendukung keselamatan struktur dan lingkungan di sekitarnya. ([Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id])

  3. Irawan dan kolega (2024) dalam penelitian mereka menegaskan bahwa stabilitas lereng tergantung pada beberapa variabel seperti kondisi geologi, curah hujan, dan topografi yang akan memicu perubahan pada potensial longsoran. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

  4. Prahesti (2023) menjelaskan bahwa stabilitas lereng merupakan keadaan di mana lereng mampu menahan potensi longsoran berdasarkan perhitungan faktor keamanan yang ditentukan melalui data lapangan dan uji laboratorium. ([Lihat sumber Disini - repository.unja.ac.id])

Definisi ahli ini memperluas pemahaman umum dan memberikan landasan praktis dalam analisis stabilitas lereng untuk aplikasi di lapangan.


Jenis dan Mekanisme Keruntuhan Lereng

Keruntuhan atau longsor pada lereng terjadi akibat kombinasi gaya pendorong yang melampaui gaya tahan pada tanah atau batuan. Ada beberapa jenis mekanisme longsor yang umum terjadi, di antaranya longsor translasi, rotasi, dan pergerakan massa tanah secara toppling atau runtuhan blok.

Longsor translasi terjadi ketika massa tanah bergerak sepanjang bidang gelincir yang relatif datar atau planar. Jenis mekanisme ini sering ditemui pada tanah berlapis yang miring di mana salah satu lapisan lebih lemah daripada yang lain, sehingga pergerakan lebih cenderung mengikuti bidang lemah tersebut.

Longsor rotasi ditandai oleh pergerakan material sepanjang permukaan melengkung, di mana bagian bawah lereng menjadi titik pivot dari pergerakan. Mekanisme ini sering terjadi pada lereng berpasir atau tanah yang memiliki kohesi rendah.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi tak stabil sering dipicu oleh kombinasi faktor internal tanah dan faktor eksternal seperti air tanah, gempa bumi, dan curah hujan tinggi sehingga meningkatkan berat tanah serta tekanan pori yang akhirnya mengurangi kuat geser tanah. Kejadian ini umumnya dipelajari dalam konteks analisis stabilitas lereng untuk merumuskan nilai faktor keamanan terhadap setiap jenis mekanisme longsor tersebut. ([Lihat sumber Disini - mdpi.com])

Jenis longsor yang lain termasuk longsor toppling di mana blok batuan runtuh dengan rotasi dari pangkalnya, serta longsor multifaset berupa kombinasi translasi dan rotasi yang lebih kompleks tergantung struktur geologi setempat.


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Stabilitas Lereng

Stabilitas lereng tidak hanya dipengaruhi oleh satu faktor, melainkan kombinasi berbagai elemen geoteknik, geologi, hidrologi, dan beban eksternal. Berdasarkan hasil penelitian dan studi kasus empiris, dapat diidentifikasi beberapa faktor penting yang mempengaruhi stabilitas lereng:

Faktor pertama adalah geometri lereng itu sendiri, mencakup sudut kemiringan dan tinggi lereng. Studi menunjukkan bahwa semakin tinggi dan curam lereng, nilai faktor keamanan semakin menurun sehingga meningkatkan risiko longsor. Hal ini sejalan dengan penemuan bahwa nilai faktor keamanan lereng menurun secara linear seiring bertambahnya sudut kemiringan dan tinggi lereng. ([Lihat sumber Disini - journals.plos.org])

Faktor berikutnya adalah sifat tanah dan batuan, termasuk kohesi internal, sudut geser dalam, serta berat isi material. Tingkat kohesi dan sudut internal geser yang besar akan meningkatkan nilai faktor keamanan, sedangkan nilai unit weight yang tinggi cenderung menurunkan stabilitas lereng karena menambah gaya pendorong. ([Lihat sumber Disini - journals.plos.org])

Air tanah atau kondisi jenuh juga merupakan faktor kritis. Air meningkatkan tekanan poro, mengurangi kohesi efektif, dan menambah berat total massa tanah. Kondisi lereng jenuh umumnya memiliki faktor keamanan yang lebih rendah dibanding kondisi kering. ([Lihat sumber Disini - ejurnal.itats.ac.id])

Faktor eksternal seperti gempa, beban bangunan di puncak lereng, atau perubahan penggunaan lahan juga berpengaruh signifikan. Aktivitas seismik dapat menurunkan nilai faktor keamanan secara signifikan karena gaya horizontal dan vertikal yang ditimbulkan, sehingga memperbesar gaya pendorong longsor. ([Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id])


Analisis Faktor Keamanan Lereng

Analisis faktor keamanan lereng merupakan pendekatan kuantitatif untuk menentukan apakah lereng berada dalam keadaan aman atau tidak terhadap risiko longsor. Faktor keamanan (safety factor) umumnya didefinisikan sebagai rasio antara gaya penahan terhadap gaya pendorong keruntuhan pada bidang longsor. Jika nilai faktor keamanan lebih besar dari standar yang ditetapkan, maka lereng dianggap stabil; sebaliknya, jika di bawah nilai tersebut, lereng dianggap dalam keadaan kritis atau tidak stabil. ([Lihat sumber Disini - buletingeologi.com])

Dalam banyak standar geoteknik, nilai faktor keamanan yang aman biasanya lebih besar dari 1, 25 hingga 1, 5 tergantung pada jenis tanah, beban yang bekerja, serta kondisi seismik. Nilai di bawah 1 menunjukkan bahwa gaya pendorong telah melampaui gaya penahan sehingga kemungkinan terjadi longsor meningkat secara drastis. ([Lihat sumber Disini - buletingeologi.com])

Analisis faktor keamanan dapat dilakukan melalui metode kesetimbangan batas (limit equilibrium method) atau pendekatan numerik seperti metode elemen hingga. Hasil perhitungan dari kedua pendekatan ini akan memberikan gambaran apakah lereng aman, kritis, atau memerlukan tindakan rekayasa untuk meningkatkan stabilitasnya. ([Lihat sumber Disini - jurnal.tekmira.esdm.go.id])


Metode Analisis Stabilitas Lereng

Terdapat beberapa metode yang digunakan dalam analisis stabilitas lereng. Salah satu metode yang paling umum digunakan adalah metode kesetimbangan batas, termasuk metode Fellenius atau Bishop yang menghitung rasio gaya penahan terhadap gaya pendorong di sepanjang permukaan gelincir yang diasumsikan. Metode ini relatif sederhana dan telah banyak diaplikasikan dalam studi kestabilan lereng di berbagai kondisi tanah dan batuan. ([Lihat sumber Disini - ejournal.unib.ac.id])

Metode numerik seperti pendekatan elemen hingga juga menjadi pilihan untuk analisis yang lebih kompleks karena dapat memperhitungkan distribusi tegangan, deformasi, dan kondisi material yang lebih realistis. Metode ini sering digunakan ketika geometri lereng atau kondisi tanah terlalu rumit untuk dianalisis secara analitik. ([Lihat sumber Disini - jurnal.tekmira.esdm.go.id])

Perangkat lunak seperti SVSLOPE, UTEXAS, atau program lain yang berbasis elemen hingga kini banyak digunakan di kalangan profesional geoteknik untuk mengevaluasi bentuk permukaan gelincir kritis dan nilai faktor keamanan secara lebih akurat. ([Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org])


Stabilitas Lereng dalam Rekayasa Geoteknik

Dalam konteks rekayasa geoteknik, stabilitas lereng merupakan elemen penting dalam perencanaan dan desain berbagai struktur seperti jalan, jalan tol, terowongan, area pertambangan, dan pekerjaan tanah lainnya. Pendekatan rekayasa mencakup penentuan parameter tanah melalui uji laboratorium, pemodelan numerik, serta perancangan struktur penahan tanah atau sistem drainase untuk mengurangi tekanan air di dalam lereng.

Rekayasa stabilitas lereng juga mempertimbangkan kebutuhan mitigasi jangka panjang seperti vegetasi penahan tanah, pengaturan aliran air, serta struktur penahan seperti dinding penahan tanah atau geotekstil untuk meningkatkan faktor keamanan serta mengurangi potensi longsor di masa depan.

Melalui integrasi pengetahuan geoteknik, data lapangan, serta teknologi pemodelan, rekayasa lereng mampu memberikan solusi praktis yang efektif dalam mengurangi risiko longsor sambil mempertimbangkan aspek lingkungan dan keselamatan masyarakat.


Kesimpulan

Stabilitas lereng merupakan topik krusial dalam geoteknik yang memerlukan pemahaman mendalam tentang konsep dasar, mekanisme keruntuhan, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Analisis stabilitas lereng melibatkan perhitungan faktor keamanan untuk mengetahui apakah lereng berada dalam kondisi aman atau tidak. Berbagai metode analisis seperti metode kesetimbangan batas dan numerik digunakan untuk mengevaluasi potensi longsor dan menentukan strategi mitigasi yang tepat. Dalam penerapannya di rekayasa geoteknik, stabilitas lereng menjadi dasar dalam merancang solusi teknis untuk menjaga keselamatan infrastruktur serta masyarakat dari bahaya longsor. Penggabungan pengetahuan teoritis dan praktis serta pemanfaatan teknologi modern sangat penting untuk menjamin lingkungan yang aman dan berkelanjutan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Stabilitas lereng adalah kondisi keseimbangan suatu lereng tanah atau batuan terhadap gaya-gaya yang bekerja padanya, sehingga lereng tersebut tidak mengalami pergerakan atau longsor. Stabilitas ini ditentukan oleh perbandingan antara gaya penahan dan gaya pendorong yang bekerja pada lereng.

Analisis stabilitas lereng penting untuk mencegah terjadinya longsor yang dapat membahayakan keselamatan manusia, merusak infrastruktur, dan menimbulkan kerugian lingkungan. Analisis ini digunakan untuk menentukan tingkat keamanan lereng dan merancang tindakan perkuatan atau mitigasi yang tepat.

Jenis mekanisme longsor pada lereng meliputi longsor translasi, longsor rotasi, longsor runtuhan atau toppling, serta longsor gabungan. Setiap mekanisme memiliki karakteristik pergerakan massa tanah atau batuan yang berbeda tergantung kondisi geologi dan geometri lereng.

Stabilitas lereng dipengaruhi oleh geometri lereng, sifat fisik dan mekanik tanah atau batuan, kondisi air tanah, curah hujan, beban tambahan di atas lereng, aktivitas seismik, serta perubahan penggunaan lahan di sekitar lereng.

Faktor keamanan lereng adalah nilai perbandingan antara gaya penahan terhadap gaya pendorong longsoran. Nilai ini digunakan sebagai indikator tingkat kestabilan lereng, di mana nilai yang lebih besar dari batas minimum menunjukkan lereng dalam kondisi aman.

Metode analisis stabilitas lereng yang umum digunakan meliputi metode kesetimbangan batas seperti metode Fellenius dan Bishop, serta metode numerik seperti metode elemen hingga yang mampu memodelkan kondisi lereng secara lebih detail.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Sudut Geser Dalam: Konsep, Kestabilan Lereng, dan Kekuatan Tanah Sudut Geser Dalam: Konsep, Kestabilan Lereng, dan Kekuatan Tanah Kuat Geser Tanah: Konsep, Parameter Geser, dan Stabilitas Tanah Kuat Geser Tanah: Konsep, Parameter Geser, dan Stabilitas Tanah Kohesi Tanah: Konsep, Kontribusi Geser, dan Karakteristik Tanah Kohesi Tanah: Konsep, Kontribusi Geser, dan Karakteristik Tanah Sistem Mobile Pemetaan Lokasi Bencana Sistem Mobile Pemetaan Lokasi Bencana Stabilitas Emosi: Konsep dan Implikasi Perilaku Stabilitas Emosi: Konsep dan Implikasi Perilaku Stabilitas Kepribadian: Konsep dan Pengaruhnya Stabilitas Kepribadian: Konsep dan Pengaruhnya X-Ray Data Analysis: Pengertian dan Aplikasi dalam Riset Sains X-Ray Data Analysis: Pengertian dan Aplikasi dalam Riset Sains Stabilitas Struktur: Konsep, Keseimbangan Gaya, dan Ketahanan Sistem Stabilitas Struktur: Konsep, Keseimbangan Gaya, dan Ketahanan Sistem Kadar Air Tanah: Konsep, Kondisi Tanah, dan Perilaku Mekanis Kadar Air Tanah: Konsep, Kondisi Tanah, dan Perilaku Mekanis Klasifikasi Tanah: Konsep, Sistem Klasifikasi, dan Identifikasi Tanah Klasifikasi Tanah: Konsep, Sistem Klasifikasi, dan Identifikasi Tanah Erosi Tanah: Konsep, Degradasi Lahan, dan Pengendalian Erosi Erosi Tanah: Konsep, Degradasi Lahan, dan Pengendalian Erosi Mekanisme: Definisi, Fungsi, dan Contoh dalam Ilmiah Mekanisme: Definisi, Fungsi, dan Contoh dalam Ilmiah Ketertiban Sosial: Konsep dan Mekanisme Pengendalian Ketertiban Sosial: Konsep dan Mekanisme Pengendalian Lembaga Sosial: Konsep, Fungsi, dan Perannya Lembaga Sosial: Konsep, Fungsi, dan Perannya Manajemen Keuangan: Konsep, Pengelolaan Keuangan, dan Kinerja Manajemen Keuangan: Konsep, Pengelolaan Keuangan, dan Kinerja Dampak Penyimpanan Obat yang Tidak Tepat Dampak Penyimpanan Obat yang Tidak Tepat Keseimbangan Emosional: Konsep dan Stabilitas Mental Keseimbangan Emosional: Konsep dan Stabilitas Mental Permeabilitas Tanah: Konsep, Aliran Air, dan Drainase Tanah Permeabilitas Tanah: Konsep, Aliran Air, dan Drainase Tanah Peran Tenaga Kesehatan dalam Bencana Peran Tenaga Kesehatan dalam Bencana Kapasitas Kolom: Konsep, Interaksi Gaya, dan Stabilitas Elemen Kapasitas Kolom: Konsep, Interaksi Gaya, dan Stabilitas Elemen
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…