
Status Nutrisi Pasien: Definisi dan Pengukurannya
Pendahuluan
Kesehatan pasien tidak hanya ditentukan oleh diagnosis penyakit utama, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh status nutrisi mereka. Status nutrisi pasien mencerminkan keseimbangan antara asupan dan kebutuhan zat gizi dalam tubuh, serta kemampuan tubuh untuk memanfaatkan zat gizi tersebut. Ketidakseimbangan dalam status nutrisi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi, dapat memperberat kondisi klinis, memperlama masa perawatan, meningkatkan komplikasi, dan memperburuk prognosis. Oleh karena itu, penilaian status nutrisi menjadi langkah penting dalam proses perawatan dan manajemen pasien di fasilitas kesehatan.
Artikel ini bertujuan menjelaskan secara menyeluruh tentang apa itu status nutrisi/pentingnya status gizi, faktor-faktor yang mempengaruhinya, bagaimana cara menilainya (termasuk beberapa metode: Indeks Massa Tubuh (IMT), Subjective Global Assessment (SGA), dan Malnutrition Universal Screening Tool (MUST)), dampak dari status nutrisi terhadap kondisi pasien, serta peran perawat dalam intervensi dan edukasi gizi. Di akhir artikel juga disajikan contoh penilaian status nutrisi pasien.
Dengan pemahaman komprehensif akan aspek-aspek tersebut, diharapkan tenaga keperawatan dan tim kesehatan dapat melakukan penilaian dan intervensi gizi secara tepat, sehingga mendukung kesembuhan dan kualitas hidup pasien.
Definisi Status Nutrisi
Definisi Status Nutrisi Secara Umum
Status nutrisi, atau sering disebut status gizi, merupakan kondisi tubuh berdasarkan keseimbangan antara asupan zat gizi dari makanan dengan kebutuhan zat gizi tubuh. Hal ini mencakup pemenuhan kebutuhan energi, protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lainnya sesuai dengan usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan seseorang. Jika asupan dan pemanfaatan zat gizi tersedia secara memadai dan seimbang, maka status nutrisi dianggap baik atau optimal. Sebaliknya, apabila terdapat ketidakseimbangan, seperti asupan yang kurang, atau pemanfaatan yang terganggu, maka dapat terjadi malnutrisi (gizi kurang) atau kelebihan gizi (over-nutrisi). [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
Beberapa literatur mendefinisikan status gizi sebagai “keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan zat-zat gizi”. [Lihat sumber Disini - e-journal.ivet.ac.id]
Definisi Status Nutrisi dalam Kamus (KBBI)
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “status” berarti kedudukan, keadaan, atau kondisi, sedangkan “nutrisi” berarti asupan gizi / zat-gizi. Oleh karena itu, secara harfiah “status nutrisi” dapat diartikan sebagai kondisi gizi tubuh, yang mencerminkan sejauh mana kebutuhan gizi telah terpenuhi dan dimanfaatkan dengan baik oleh tubuh.
Meskipun definisi harfiah ini jarang muncul dalam literatur ilmiah, konsep ini sesuai dengan definisi status gizi dalam ilmu gizi dan keperawatan: yaitu keseimbangan antara asupan dan kebutuhan/pemanfaatan zat gizi.
Definisi Status Nutrisi Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi dari para ahli / penelitian:
-
Par’i, Harjatmo & Wiyono (dikutip dalam literatur) menyatakan bahwa status gizi adalah gambaran pemenuhan kebutuhan gizi yang diperoleh dari asupan dan pemanfaatan zat gizi oleh tubuh, dan dinilai melalui antropometri, pemeriksaan fisik/klinis, biokimia, dan riwayat gizi. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Dalam penelitian pengabdian masyarakat oleh Muharramah dkk. (2023), status gizi digambarkan sebagai “keadaan akibat keseimbangan antara asupan zat gizi dari makanan dan kebutuhan zat gizi oleh tubuh”. [Lihat sumber Disini - journal.aisyahuniversity.ac.id]
-
Menurut modul praktik penilaian gizi, status gizi adalah hasil interpretasi pengukuran antropometri serta indikator lainnya untuk menilai apakah seseorang berada dalam kondisi gizi baik, kurang, atau berisiko malnutrisi. [Lihat sumber Disini - repository.binawan.ac.id]
-
Dalam studi klinis, status gizi sering dikaitkan dengan fungsi metabolisme, cadangan nutrisi, serta kapasitas tubuh untuk menjalani perawatan atau penyembuhan, sehingga status gizi bukan hanya angka berat-tinggi, tetapi gambaran holistik kesehatan fisik dan cadangan tubuh. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Dengan demikian, status nutrisi/pengertian status gizi mencakup dimensi kuantitatif (berapa banyak zat gizi dan energi masuk serta bagaimana berat/tinggi badan) dan kualitatif (kemampuan tubuh memanfaatkan zat gizi, cadangan tubuh, serta fungsi fisiologis).
Faktor yang Mempengaruhi Status Nutrisi
Status nutrisi seseorang tidaklah statis, ia dipengaruhi oleh berbagai faktor, yang bisa berasal dari asupan, gaya hidup, hingga kondisi kesehatan. Berikut faktor-faktor utama:
-
Asupan makanan (kualitas dan kuantitas). Konsumsi makanan yang tidak memenuhi kebutuhan zat gizi, baik dari jumlah, frekuensi, maupun variasi, akan menyebabkan status gizi tidak optimal. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]
-
Pemanfaatan zat gizi oleh tubuh. Faktor sekunder seperti gangguan pencernaan, penyakit kronis, infeksi, atau kondisi klinis tertentu dapat menghambat absorpsi atau metabolisme zat gizi, sehingga meskipun asupan cukup, status gizi tetap terganggu. [Lihat sumber Disini - journal.aisyahuniversity.ac.id]
-
Aktivitas fisik dan gaya hidup. Aktivitas fisik mempengaruhi kebutuhan energi dan zat gizi, individu dengan aktivitas tinggi memiliki kebutuhan gizi yang lebih besar dibandingkan yang sedentari. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Kondisi klinis / penyakit / beban kerja (terutama pada pasien & tenaga kesehatan). Pada pasien rawat inap, malnutrisi sering terjadi akibat penyakit, stres metabolik, peradangan, atau pengobatan, sedangkan pada tenaga kesehatan, beban kerja dan stres juga dapat mempengaruhi status gizi. [Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id]
-
Faktor demografi: usia, jenis kelamin, status fisiologis. Kebutuhan gizi berbeda menurut umur, jenis kelamin, dan kondisi (misalnya masa pertumbuhan, masa lanjut usia, penyakit kronis). [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Lingkungan, sosial-ekonomi, budaya, dan pengetahuan gizi. Faktor lingkungan, akses terhadap makanan sehat, pendidikan/pengetahuan tentang gizi, kebiasaan makan, serta faktor sosial-ekonomi turut menentukan pemenuhan gizi. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]
Karena banyak variabel yang mempengaruhi, penilaian status nutrisi harus mempertimbangkan lebih dari sekadar berat dan tinggi badan, supaya gambaran yang diperoleh benar-benar mencerminkan kondisi gizi seseorang.
Metode Penilaian Status Nutrisi
Penilaian status nutrisi dapat dilakukan dengan berbagai metode. Di lingkungan klinis dan keperawatan, beberapa metode yang paling umum digunakan meliputi IMT, SGA, dan MUST, masing-masing dengan kelebihan dan keterbatasannya.
Indeks Massa Tubuh (IMT)
Metode antropometri paling sederhana dan paling sering digunakan. IMT dihitung berdasarkan berat badan dan tinggi badan, dan hasilnya dikategorikan ke dalam kelas-kelas (underweight, normal, overweight, obesitas). IMT berguna untuk skrining cepat status gizi pada individu dewasa sehat maupun pasien. [Lihat sumber Disini - citracendekiacelebes.org]
Penelitian terbaru pada mahasiswa menunjukkan bahwa banyak yang tidak memiliki status gizi ideal, misalnya pada sebuah studi tahun 2025 pada mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat: sekitar 58% normal, tetapi 36% underweight, 2% overweight, dan 10% obesitas. [Lihat sumber Disini - pakisjournal.com]
IMT mudah dilakukan, biaya rendah, dan bisa segera memberi gambaran awal. Namun, IMT memiliki keterbatasan: misalnya tidak bisa membedakan antara massa otot dan massa lemak, dan tidak mempertimbangkan distribusi lemak atau cadangan gizi secara detail.
Subjective Global Assessment (SGA)
SGA adalah metode penilaian status gizi berbasis klinis/subyektif, meliputi evaluasi riwayat penurunan berat badan, asupan makanan, gejala gastrointestinal, komposisi tubuh, serta fungsi fisik. SGA banyak digunakan dalam konteks pasien rawat inap, pasien kronis, atau mereka yang berisiko malnutrisi. [Lihat sumber Disini - repository.binawan.ac.id]
Menurut penelitian, SGA dianggap sebagai “metode referensi” dalam menilai status gizi pada pasien karena dapat mengidentifikasi malnutrisi (baik ringan, sedang, maupun berat) berdasarkan perubahan komposisi tubuh, penurunan asupan makanan, dan perubahan fungsional. [Lihat sumber Disini - repository.binawan.ac.id]
Dalam konteks klinis, misalnya pasien kanker, status gizi yang dinilai melalui SGA berhubungan signifikan dengan kualitas hidup pasien. [Lihat sumber Disini - ijhn.ub.ac.id]
Kelebihan SGA: bisa mendeteksi malnutrisi pada pasien yang secara antropometri mungkin tampak “normal” tetapi sebenarnya sudah berisiko, misalnya melalui penurunan berat badan progresif, penurunan asupan makanan, atau perubahan fungsi. Kekurangannya: bersifat subjektif, tergantung kemampuan evaluator, dan memerlukan pemeriksaan klinis serta wawancara.
Malnutrition Universal Screening Tool (MUST)
Metode skrining yang dirancang untuk mengidentifikasi risiko malnutrisi pada orang dewasa, baik di komunitas maupun pada pasien rawat inap. Beberapa literatur dan tesis di Indonesia menyebutkan penggunaan MUST sebagai alat skrining gizi sebelum intervensi gizi lebih lanjut. [Lihat sumber Disini - repository.unhas.ac.id]
MUST mempertimbangkan beberapa parameter, seperti IMT, penurunan berat badan, dan penyakit/kondisi klinis, untuk menentukan skor risiko malnutrisi. Jika skor menunjukkan “berisiko” atau “malnutrisi”, maka direkomendasikan untuk dilakukan evaluasi gizi lebih mendalam (misalnya melalui SGA atau penilaian diet).
MUST cocok digunakan sebagai alat skrining awal, cepat, relatif mudah, dan dapat diterapkan di berbagai setting (rawat inap, klinik, komunitas). Akan tetapi, seperti semua skrining, hasil harus diinterpretasikan bersama dengan penilaian klinis lebih lengkap.
Dampak Status Nutrisi terhadap Kondisi Pasien
Status nutrisi yang tidak optimal, baik kekurangan maupun kelebihan, dapat membawa dampak signifikan terhadap kondisi kesehatan, proses penyembuhan, dan hasil perawatan pasien. Berikut beberapa dampak utama berdasarkan literatur:
-
Risiko malnutrisi pada pasien rawat inap tinggi. Sebuah penelitian terbaru di RS menunjukkan bahwa sekitar 20, 50% pasien rawat inap mengalami malnutrisi. [Lihat sumber Disini - rsudza.acehprov.go.id]
-
Memperlama masa rawat, meningkatkan komplikasi, infeksi, morbiditas, dan mortalitas. Malnutrisi mengurangi cadangan tubuh, menurunkan fungsi imun, memperlambat penyembuhan luka, serta meningkatkan risiko komplikasi. [Lihat sumber Disini - rsudza.acehprov.go.id]
-
Menurunkan kualitas hidup dan hasil klinis. Pada pasien dengan penyakit serius (misalnya kanker), status gizi buruk berhubungan dengan menurunnya kualitas hidup, kemampuan fungsional, dan respons terhadap terapi. [Lihat sumber Disini - ijhn.ub.ac.id]
-
Gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada populasi anak/remaja. Pada anak sekolah dasar, status gizi tidak seimbang (kurang atau lebih) dapat memengaruhi tumbuh kembang, kesehatan umum, dan potensi perkembangan. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Menurunnya produktivitas dan fungsi fisik/psikososial. Baik untuk pasien maupun tenaga kesehatan, status gizi yang buruk bisa menyebabkan mudah lelah, stres kerja, gangguan kesehatan, dan penurunan performa. [Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id]
Dampak-dampak ini menunjukkan bahwa status nutrisi bukan hal sepele, melainkan elemen krusial dalam manajemen pasien. Oleh karena itu, identifikasi dini dan intervensi gizi harus menjadi bagian integral dari perawatan klinis.
Intervensi Keperawatan pada Gangguan Nutrisi
Setelah melakukan penilaian dan mendeteksi adanya malnutrisi atau risiko malnutrisi, perawat (bersama tim kesehatan) dapat melakukan berbagai intervensi gizi, baik berupa skrining ulang, pemberian edukasi, pemantauan asupan makanan, serta kolaborasi dengan ahli gizi/klinik gizi. Berikut intervensi yang umum:
-
Skrining dan penilaian ulang secara berkala. Gunakan alat skrining seperti MUST pada admisi, dan sesuai kebutuhan ulangi setelah beberapa hari (misalnya hari ke-7 rawat) untuk mendeteksi perubahan status nutrisi. Penelitian pada RS menyarankan skrining ulang untuk memantau risiko malnutrisi. [Lihat sumber Disini - rsudza.acehprov.go.id]
-
Rujukan ke ahli gizi / klinik gizi. Jika skrining menunjukkan risiko atau malnutrisi, lakukan rujukan ke ahli gizi untuk assessment mendalam dan rencana diet/kebutuhan makanan.
-
Monitoring asupan makanan dan intake zat gizi. Dokumentasikan makanan yang dikonsumsi pasien, frekuensi, jenis, dan jumlah, serta bandingkan dengan kebutuhan tubuh (energi, protein, mikronutrien).
-
Edukasi gizi untuk pasien dan keluarga. Beri penjelasan pentingnya asupan gizi seimbang, variasi makanan, dan penyesuaian sesuai kondisi kesehatan.
-
Dukungan nutrisi suplementer jika dibutuhkan. Pada pasien dengan malabsorpsi, gangguan makan, atau kebutuhan gizi tinggi, pertimbangkan pemberian suplemen, makanan padat gizi, atau intervensi diet khusus (sesuai rekomendasi ahli gizi).
-
Kolaborasi multidisipliner. Perawat bekerja sama dengan dokter, ahli gizi, dan tim medis lain untuk memastikan rencana perawatan mencakup aspek gizi, termasuk perawatan, konsumsi makanan, dan edukasi.
Intervensi sedini mungkin penting untuk mencegah komplikasi, mempercepat pemulihan, dan mendukung hasil klinis optimal.
Peran Perawat dalam Edukasi Nutrisi
Perawat memiliki peran strategis dalam edukasi dan pendampingan pasien terkait gizi, karena perawat sering kali menjadi contact point yang paling intensif dengan pasien. Peran ini meliputi:
-
Mendokumentasikan asupan makanan, kebiasaan makan, dan perubahan berat badan/pola makan pasien, sebagai bagian dari observasi keperawatan.
-
Memberi edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya gizi seimbang, kebutuhan zat gizi sesuai kondisi (misalnya pada penyakit, usia, aktivitas), dan bagaimana memilih makanan sehat.
-
Memotivasi pasien untuk mematuhi rencana diet / nutrisi yang disarankan, terutama dalam kasus penyakit kronis, perawatan jangka panjang, atau rawat inap.
-
Mengajak kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana gizi individual, serta memantau implementasinya.
-
Melakukan skrining gizi secara rutin, atau memastikan bahwa skrining dilakukan, terutama saat admisi, perubahan kondisi klinis, atau rawat jalan/jangka panjang.
Dengan peran aktif dalam edukasi dan pemantauan gizi, perawat berkontribusi besar terhadap keberhasilan intervensi gizi dan pemulihan pasien.
Contoh Penilaian Status Nutrisi Pasien
Misalkan di sebuah ruang rawat inap di rumah sakit, seorang pasien baru masuk. Berikut contoh alur penilaian status nutrisi, dari skrining hingga perencanaan intervensi:
-
Skrining awal menggunakan MUST saat admisi, periksa berat dan tinggi badan, riwayat penurunan berat badan, serta kondisi klinis penyakit.
-
Jika hasil menunjukkan risiko malnutrisi → rujuk ke ahli gizi dan lakukan assessment mendalam menggunakan SGA (melihat asupan makanan, gejala gastrointestinal, perubahan berat badan, komposisi tubuh).
-
Jika SGA menunjukkan malnutrisi sedang/berat → susun rencana intervensi gizi (diet sesuai kebutuhan, suplementasi jika diperlukan).
-
Perawat mendokumentasikan asupan makanan harian, memantau toleransi makanan, serta memberi edukasi nutrisi kepada pasien dan keluarga.
-
Evaluasi berkala, ulangi penilaian (antropometri, SGA) dan pemantauan asupan untuk melihat perubahan status gizi dan respon terhadap intervensi.
Alur ini membantu mendeteksi malnutrisi secara dini, mencegah komplikasi, dan mendukung pemulihan secara optimal.
Kesimpulan
Status nutrisi, atau status gizi, adalah aspek fundamental dari kesehatan dan perawatan pasien. Pengertian status nutrisi meliputi keseimbangan antara asupan zat gizi dan kebutuhan tubuh, serta kemampuan tubuh memanfaatkan zat gizi tersebut. Banyak faktor memengaruhi status nutrisi, termasuk asupan makanan, pemanfaatan zat gizi, aktivitas fisik, kondisi klinis, dan faktor lingkungan/sosial.
Metode penilaian seperti IMT, SGA, dan MUST menyediakan alat skrining dan penilaian dengan pendekatan berbeda, dari antropometri sederhana hingga penilaian klinis mendalam. Status nutrisi yang buruk membawa dampak serius: memperlama masa rawat, meningkatkan risiko komplikasi, menurunkan kualitas hidup dan hasil perawatan. Oleh karena itu, intervensi gizi dan edukasi, terutama peran perawat, sangat penting dilakukan sedini mungkin.
Dengan penerapan penilaian dan intervensi gizi yang tepat serta edukasi yang konsisten, diharapkan pasien memperoleh perawatan komprehensif yang tidak hanya menyasar penyakit utama, tetapi juga mendukung kebutuhan gizi dan kesejahteraan keseluruhan.