Terakhir diperbarui: 17 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 17 December). Akurasi Kode Diagnosis. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/akurasi-kode-diagnosis  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Akurasi Kode Diagnosis - SumberAjar.com

Akurasi Kode Diagnosis

Pendahuluan

Pengkodean diagnosis adalah aspek penting di dalam sistem pelayanan kesehatan modern yang sering tidak terlihat oleh pasien, tetapi memiliki implikasi besar terhadap mutu layanan, biaya, penelitian, dan kebijakan kesehatan. Ketika seorang pasien menerima perawatan di fasilitas kesehatan, informasi klinis mengenai diagnosisnya tidak hanya dicatat dalam bentuk naratif oleh dokter, tetapi juga diterjemahkan menjadi kode standar internasional yang dapat dibaca dan diproses oleh sistem, seperti ICD-10 (International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems, Revisi ke-10). Proses pengodean ini akan mempengaruhi bagaimana data klinis dianalisis, bagaimana klaim asuransi diproses, dan bagaimana tren penyakit dipantau secara nasional maupun global. Namun, seperti halnya proses administratif lain, akurasi kode diagnosis sering menghadapi tantangan di lapangan yang dapat mempengaruhi output data dan keputusan yang diambil atas dasar data tersebut. Studi-studi empiris terus dilakukan untuk memahami tingkat ketepatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi akurasi pengkodean diagnosis, terutama di rumah sakit dan fasilitas kesehatan Indonesia. [Lihat sumber Disini - jurnal.permataindonesia.ac.id]


Definisi Akurasi Kode Diagnosis

Definisi Akurasi Kode Diagnosis Secara Umum

Akurasi kode diagnosis pada dasarnya adalah sejauh mana kode yang diberikan mencerminkan diagnosis medis sebenarnya sesuai dengan informasi klinis yang tersedia. Ini berarti bahwa kode yang dipilih harus benar-benar mencerminkan kondisi pasien yang didokumentasikan, dan sesuai dengan aturan klasifikasi yang berlaku. Proses ini merupakan bagian dari klinical coding yang menerjemahkan istilah medis menjadi kode standar. [Lihat sumber Disini - talentmed.edu.au]

Definisi Akurasi Kode Diagnosis dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “akurasi” adalah ketepatan atau kecermatan sesuatu. Bila dikaitkan dengan kode diagnosis, akurasi berarti ketepatan pemberian kode sesuai dengan klasifikasi diagnosis yang benar dan sesuai kondisi pasien. Kode diagnosis yang tidak akurat berarti terdapat perbedaan antara kondisi yang sebenarnya dengan kode yang diberikan, baik secara mayor maupun minor. [Lihat sumber Disini - diklat.rsupkandou.id]

Definisi Akurasi Kode Diagnosis Menurut Para Ahli

  1. O’Malley et al. (2005) menyatakan bahwa akurasi kode adalah sejauh mana kode ICD yang diberikan mencerminkan penyakit atau kondisi pasien yang sebenarnya berdasarkan catatan medis. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Utami (2025) dalam penelitian klinis menemukan bahwa akurasi kode diagnosis sangat dipengaruhi oleh kejelasan penulisan diagnosis oleh dokter dan hasil review oleh coder. [Lihat sumber Disini - pels.umsida.ac.id]

  3. Pramono (2013) dalam studi pengodean di puskesmas menjelaskan bahwa keakuratan kode diagnosis adalah penetapan kode ICD-10 yang benar sesuai dengan diagnosis medis yang tertulis. [Lihat sumber Disini - jurnal.permataindonesia.ac.id]

  4. Global Health Science Study (2024) dalam penelitian hubungan dokumentasi medis dan akurasi kode menyatakan bahwa dokumentasi medis yang lengkap dapat meningkatkan akurasi kode diagnosis secara signifikan. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]


Standar Pengkodean Diagnosis

Pengkodean diagnosis dilakukan berdasarkan sistem klasifikasi internasional yang disebut ICD, yang diterbitkan oleh World Health Organization (WHO). ICD menyediakan struktur alfanumerik untuk mengelompokkan penyakit, cedera, kondisi medis lain, dan penyebab eksternal yang berkontribusi terhadap kondisi kesehatan seseorang. Penggunaan sistem ini bertujuan untuk memastikan bahwa diagnosis dari fasilitas kesehatan yang berbeda dapat dibandingkan dan dianalisis secara konsisten di tingkat lokal, nasional, dan internasional. [Lihat sumber Disini - who.int]

ICD-10, misalnya, adalah salah satu versi yang banyak digunakan di berbagai negara termasuk Indonesia dalam periode terakhir. Standar ini menetapkan bagaimana diagnosis harus ditentukan, diklasifikasikan, dan diberi kode, dengan aturan baku yang harus dipatuhi oleh para coder. [Lihat sumber Disini - satusehat.kemkes.go.id]

Dalam praktiknya, coder klinis harus menggunakan panduan resmi dan buku kode ICD-10 saat menentukan kode yang tepat atas diagnosis yang tercatat dalam rekam medis pasien. Penggunaan terminologi medis yang benar dan lengkap serta pemahaman terhadap sistem klasifikasi merupakan prasyarat penting untuk memenuhi standar pengkodean diagnosis. [Lihat sumber Disini - repository.itsk-soepraoen.ac.id]


Tingkat Akurasi Kode Diagnosis

Tingkat akurasi kode diagnosis berbeda-beda tergantung pada fasilitas kesehatan, sistem dokumentasi medis, dan keterampilan coder yang terlibat. Berbagai studi empiris menunjukkan variasi dalam tingkat akurasi ini. Sebagai contoh, di beberapa fasilitas ditemukan akurasi kode diagnosis mencapai lebih dari 90%, menunjukkan bahwa sebagian besar kode yang ditetapkan sesuai dengan diagnosis medis yang tercatat secara lengkap dan akurat. [Lihat sumber Disini - pels.umsida.ac.id]

Namun, studi lain menunjukkan bahwa tingkat akurasi bisa jauh lebih rendah, hanya sekitar dua per tiga atau bahkan kurang. Sebuah penelitian di puskesmas menunjukkan akurasi hanya sekitar 66, 7%, di mana lebih dari sepertiga kode diagnosis tidak akurat. [Lihat sumber Disini - pels.umsida.ac.id]

Penelitian lain juga mengungkapkan keakuratan diagnosis sampai dengan karakter tertentu dari kode (misalnya sampai karakter ke-4) bisa mencapai hampir 99%, menunjukkan bahwa sebagian besar kode dasar sudah benar namun detail atau subkategorinya bisa bervariasi. [Lihat sumber Disini - ojs.udb.ac.id]


Faktor yang Mempengaruhi Akurasi Pengkodean

Beberapa faktor telah diidentifikasi sebagai determinan utama tingkat akurasi pengkodean diagnosis, termasuk:

  1. Kualitas Dokumentasi Medis: Dokumentasi yang jelas, lengkap, dan legible oleh dokter sangat membantu coder dalam menentukan kode yang tepat. Penelitian menunjukkan bahwa kelengkapan medis dapat meningkatkan akurasi kode diagnosis secara signifikan. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]

  2. Pengetahuan dan Keterampilan Coder: Coder yang memiliki pengetahuan yang kuat tentang terminologi medis, klasifikasi ICD, dan aturan pengodean menghasilkan kode yang lebih akurat. [Lihat sumber Disini - jurnal.syedzasaintika.ac.id]

  3. Pelatihan dan SOP: SOP yang jelas dan pelatihan berkelanjutan bagi tenaga pengkodean dapat meningkatkan kualitas akurasi dibandingkan dengan fasilitas yang tidak memiliki standar ini. [Lihat sumber Disini - journal.stikessuryaglobal.ac.id]

  4. Beban Kerja dan Sistem Informasi: Beban kerja coder yang tinggi atau sistem informasi kesehatan yang kurang mendukung dapat menyebabkan kesalahan dalam pengkodean. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]

  5. Ketidaktepatan Penulisan Diagnosis oleh Dokter: Ketika diagnosis ditulis tidak jelas atau ambigu, coder sulit untuk menentukan kode dengan akurat. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]


Dampak Kesalahan Kode Diagnosis

Kesalahan dalam kode diagnosis bukan sekedar persoalan administratif; dampaknya bersifat nyata bagi sistem kesehatan:

  • Pengaruh pada Klaim Pembayaran dan Keuangan: Ketidakakuratan kode dapat menyebabkan klaim asuransi, termasuk klaim INA-CBG di Indonesia, ditolak atau dibayar lebih rendah, sehingga berdampak pada pendapatan fasilitas kesehatan. [Lihat sumber Disini - journalcenter.org]

  • Keputusan Kebijakan dan Perencanaan Kesehatan yang Salah: Data diagnosis yang tidak akurat dapat mempengaruhi analisis morbiditas dan mortalitas, yang pada gilirannya dapat menyebabkan perencanaan layanan kesehatan yang keliru. [Lihat sumber Disini - jurnal.permataindonesia.ac.id]

  • Mutu dan Keamanan Pasien: Kesalahan dalam pengodean diagnosis dapat mempengaruhi pemantauan penyakit, serta penelitian klinis yang bergantung pada angka statistik kode diagnosis. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  • Efisiensi Operasional: Kesalahan kode membuat proses administratif seperti penagihan klaim, audit, dan pelaporan statistik menjadi tidak efisien dan memakan waktu.


Upaya Peningkatan Akurasi Pengkodean

Untuk meningkatkan keakuratan pengkodean diagnosis, beberapa pendekatan telah diidentifikasi:

  1. Peningkatan Kualitas Pencatatan Klinis: Perbaikan dalam penulisan diagnosis oleh dokter, termasuk penggunaan terminologi yang jelas dan standar, sangat penting agar coder dapat mengekstrak informasi yang tepat. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]

  2. Pelatihan dan Edukasi Coder: Pelatihan terus-menerus dalam terminologi medis, aturan pengkodean, dan perubahan terbaru dalam klasifikasi sangat membantu meningkatkan ketepatan kode. [Lihat sumber Disini - jurnal.syedzasaintika.ac.id]

  3. Penguatan SOP dan Audit Internal: Pengembangan SOP yang jelas untuk pengodean dan audit internal secara berkala terhadap dokumen medis dapat membantu mengidentifikasi dan memperbaiki kesalahan sistematis. [Lihat sumber Disini - journal.stikessuryaglobal.ac.id]

  4. Pemanfaatan Teknologi Informasi: Implementasi electronic health record (EHR) dan sistem pengkodean otomatis dapat membantu coder mengecek ulang dan memastikan konsistensi kode diagnosis. [Lihat sumber Disini - ojs.stikespanritahusada.ac.id]


Kesimpulan

Akurasi kode diagnosis adalah elemen krusial dalam sistem kesehatan yang mempengaruhi berbagai aspek mulai dari klaim asuransi hingga kebijakan kesehatan publik. Standar pengkodean, seperti ICD-10, menyediakan kerangka kerja yang diperlukan untuk menghasilkan kode yang konsisten dan dapat dibandingkan secara internasional. Namun, tingkat akurasi ini masih bervariasi di banyak fasilitas kesehatan, dengan faktor-faktor seperti kualitas dokumentasi medis, pengetahuan coder, dan pelatihan yang berperan penting. Dampak dari kesalahan pengkodean sangat nyata, termasuk kerugian finansial dan bias dalam pengambilan keputusan. Oleh karena itu, peningkatan akurasi pengkodean diagnosis melalui edukasi, SOP yang baik, audit, dan teknologi informasi menjadi prioritas untuk meningkatkan kualitas data kesehatan secara keseluruhan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Akurasi kode diagnosis adalah tingkat ketepatan pemberian kode penyakit yang sesuai dengan diagnosis klinis pasien berdasarkan standar klasifikasi seperti ICD-10. Kode yang akurat mencerminkan kondisi medis pasien secara benar dan lengkap.

Akurasi kode diagnosis penting karena mempengaruhi klaim pembiayaan layanan kesehatan, kualitas data morbiditas dan mortalitas, perencanaan kesehatan, evaluasi mutu pelayanan, serta pengambilan keputusan manajemen dan kebijakan kesehatan.

Pengkodean diagnosis menggunakan standar International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems (ICD) yang ditetapkan oleh World Health Organization (WHO), dengan ICD-10 sebagai versi yang banyak digunakan di Indonesia.

Faktor yang mempengaruhi akurasi pengkodean diagnosis meliputi kelengkapan dan kejelasan dokumentasi medis, kompetensi dan pengalaman coder, ketersediaan SOP, beban kerja, serta dukungan sistem informasi kesehatan.

Kesalahan kode diagnosis dapat menyebabkan klaim pembiayaan ditolak atau tidak sesuai, menurunkan kualitas data kesehatan, mengganggu analisis statistik penyakit, serta berdampak pada perencanaan dan evaluasi pelayanan kesehatan.

Peningkatan akurasi kode diagnosis dapat dilakukan melalui perbaikan kualitas dokumentasi klinis, pelatihan berkelanjutan bagi coder, penerapan SOP yang jelas, audit internal pengkodean, serta pemanfaatan sistem rekam medis elektronik.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Kendala Pengkodean Diagnosis Kendala Pengkodean Diagnosis Akurasi Data Pasien Akurasi Data Pasien SPK Diagnosa Penyakit Menggunakan Certainty Factor SPK Diagnosa Penyakit Menggunakan Certainty Factor Implementasi ICD-10 dalam Rekam Medis Implementasi ICD-10 dalam Rekam Medis Asuhan Keperawatan: Definisi, Tahapan, dan Contoh Asuhan Keperawatan: Definisi, Tahapan, dan Contoh Gangguan Perfusi Jaringan: Konsep, Dampak, dan Respons Keperawatan Gangguan Perfusi Jaringan: Konsep, Dampak, dan Respons Keperawatan Kualitas Data Morbiditas Kualitas Data Morbiditas Pengetahuan Pasien tentang Obat Hipnotik Pengetahuan Pasien tentang Obat Hipnotik Pola Penggunaan Obat pada Pasien Rawat Inap Pola Penggunaan Obat pada Pasien Rawat Inap Ketepatan Kode Tindakan Medis Ketepatan Kode Tindakan Medis Asuhan Keperawatan: Pengertian, Tahapan, dan Ruang Lingkup Praktik Asuhan Keperawatan: Pengertian, Tahapan, dan Ruang Lingkup Praktik Intoleransi Aktivitas: Konsep, Indikator Klinis, dan Penanganan Intoleransi Aktivitas: Konsep, Indikator Klinis, dan Penanganan Perawatan Pasien dengan Alat Medis: Konsep, Prinsip Keselamatan Perawatan Pasien dengan Alat Medis: Konsep, Prinsip Keselamatan Kualitas Informasi Edukasi Kesehatan Kualitas Informasi Edukasi Kesehatan Audit Internal Rekam Medis Audit Internal Rekam Medis Gangguan Integritas Mukosa Oral: Konsep, Implikasi, dan Perawatan Gangguan Integritas Mukosa Oral: Konsep, Implikasi, dan Perawatan Perubahan Tekanan Darah: Konsep, Pemantauan, dan Pengukuran Klinis Perubahan Tekanan Darah: Konsep, Pemantauan, dan Pengukuran Klinis Pemanfaatan Big Data Kesehatan Pemanfaatan Big Data Kesehatan Penggunaan Obat Antiviral pada Pasien Infeksi Akut Penggunaan Obat Antiviral pada Pasien Infeksi Akut Ketidakseimbangan Elektrolit: Konsep, Faktor Penyebab, dan Implikasi Klinis Ketidakseimbangan Elektrolit: Konsep, Faktor Penyebab, dan Implikasi Klinis
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…