
Asertivitas: Konsep dan Peran Sosial
Pendahuluan
Asertivitas merupakan konsep penting dalam psikologi dan komunikasi yang semakin mendapat perhatian dalam berbagai penelitian sosial maupun pendidikan. Perilaku ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengutarakan pendapat, tetapi juga mencerminkan kemampuan individu dalam mempertahankan hak dan kebutuhan diri secara jujur tanpa mengabaikan hak orang lain. Dalam kehidupan sosial yang kompleks, kemampuan asertif dianggap sebagai keterampilan fundamental untuk membangun hubungan interpersonal yang sehat, menyelesaikan konflik, serta meningkatkan rasa percaya diri dan penyesuaian diri dalam berbagai konteks sosial. Berbagai penelitian terbaru menemukan bahwa asertivitas tidak hanya relevan bagi orang dewasa, tetapi juga memiliki peran penting dalam perkembangan remaja, lingkungan pendidikan, dan bahkan praktik profesional seperti keperawatan atau bimbingan konseling. [Lihat sumber Disini - journal.staihubbulwathan.id]
Definisi Asertivitas
Definisi Asertivitas Secara Umum
Asertivitas secara umum dipahami sebagai kemampuan individu untuk menyatakan apa yang ia pikirkan, rasakan, dan butuhkan secara langsung, jujur, dan tepat dalam interaksi sosial tanpa bersikap agresif maupun pasif. Individu yang asertif mampu mempertahankan haknya sekaligus menghormati hak orang lain dalam situasi komunikasi. Aspek ini mencakup kemampuan untuk mengekspresikan perasaan, pendapat, serta kebutuhan pribadi secara terbuka sehingga terjadi pertukaran yang sehat dalam hubungan interpersonal. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Asertivitas dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “asertivitas” atau perilaku asertif dapat diartikan sebagai suatu sikap atau tindakan yang menunjukkan kemampuan untuk menyatakan pikiran, pendapat, dan perasaan secara tegas namun tetap menghormati orang lain. Dengan kata lain, asertivitas merupakan perwujudan perilaku individu yang berani dalam mengomunikasikan dirinya tanpa mengintimidasi atau merugikan pihak lain. Meskipun istilah ini sering dipinjam dari istilah bahasa Inggris “assertiveness, ” makna dalam konteks bahasa Indonesia menunjukkan adanya penekanan pada komunikasi yang terbuka dan berimbang. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Asertivitas Menurut Para Ahli
Beberapa ahli dalam psikologi dan pendidikan mendefinisikan asertivitas sebagai berikut:
Alberti dan Emmons (1970), Asertivitas didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengungkapkan kebutuhan, hak, dan pendapat secara langsung, jelas, dan sopan dalam interaksi sosial tanpa mengintimidasi atau meremehkan orang lain. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Wijayanti (2022), Menurut penelitian di bidang bimbingan dan konseling, perilaku asertif adalah kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan di dalam interaksi sosial termasuk di kelas atau lingkungan kerja. [Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id]
Lubis (2015), Asertivitas digambarkan sebagai keterampilan sosial yang penting dalam berinteraksi dengan orang lain, terutama dalam mengekspresikan perasaan dan pandangan dengan jujur tanpa menimbulkan konflik yang merugikan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Pratiwi (2024), Penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa perilaku asertif dipengaruhi oleh faktor individual seperti gender dan karakteristik kepribadian dalam konteks organisasi atau pekerjaan, dan mencerminkan kemampuan untuk mempertahankan diri dalam hubungan interpersonal. [Lihat sumber Disini - repositori.uma.ac.id]
Ciri-Ciri Perilaku Asertif
Perilaku asertif memiliki sejumlah ciri khas yang membedakannya dari perilaku pasif atau agresif dalam komunikasi. Individu yang bersikap asertif biasanya menunjukkan beberapa karakteristik utama berikut:
Mampu Mengekspresikan Perasaan dan Pendapat dengan Jelas
Orang yang asertif tidak menghindar dari pernyataan dirinya. Ia secara langsung dan jelas menyampaikan perasaan atau pendapatnya tanpa ragu, sekaligus mempertimbangkan norma sosial yang berlaku. Hal ini penting untuk memastikan pesan yang disampaikan tidak disalahpahami. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Mengutamakan Penghormatan Terhadap Diri Sendiri dan Orang Lain
Asertivitas menekankan keseimbangan antara kebutuhan diri sendiri dan kebutuhan orang lain. Individu asertif menghormati hak dan batas orang lain sambil tetap memperhatikan haknya sendiri. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Kepercayaan Diri Tinggi
Sikap asertif biasanya berkaitan erat dengan rasa percaya diri yang kuat. Individu yang percaya diri lebih mampu menyatakan pendapatnya dan mengambil keputusan tanpa merasa terintimidasi oleh pendapat orang lain. [Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id]
Kontrol Emosi yang Baik
Individu asertif mampu mengatur emosinya dengan baik. Ia tidak menunjukkan reaksi berlebihan seperti agresivitas atau penarikan diri total ketika berhadapan dengan konflik atau perbedaan pendapat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Kemampuan Mendengarkan Aktif
Perilaku asertif mencakup keterampilan mendengarkan dengan seksama. Ini memungkinkan individu memahami perspektif lawan bicara dan merespon dengan tepat, sehingga komunikasi berjalan efektif. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Faktor yang Mempengaruhi Asertivitas
Berbagai faktor internal dan eksternal dapat memengaruhi tingkat asertivitas seseorang, antara lain:
Harga Diri (Self-Esteem)
Harga diri yang tinggi seringkali berkorelasi dengan perilaku asertif yang kuat. Individu dengan harga diri positif lebih cenderung percaya diri serta mampu menyatakan pendapat tanpa rasa takut yang berlebihan terhadap penolakan atau kritik. Penelitian menunjukkan hubungan positif antara harga diri dan asertivitas pada siswa. [Lihat sumber Disini - ejournal.unesa.ac.id]
Jenis Kelamin dan Peran Sosial
Studi menunjukkan adanya variasi dalam perilaku asertif berdasarkan jenis kelamin dan peran sosial dalam masyarakat atau organisasi, meskipun karakteristik budaya lokal juga ikut menentukan. [Lihat sumber Disini - repositori.uma.ac.id]
Budaya dan Lingkungan Sosial
Nilai budaya serta norma sosial di lingkungan tertentu dapat mendukung atau justru membatasi perilaku asertif. Dalam budaya kolektivis, misalnya, individu cenderung menahan diri demi keharmonisan kelompok, sementara dalam kultur individualis perilaku asertif lebih mendapat ruang. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Pengalaman dan Pendidikan
Pendidikan formal atau pelatihan assertiveness skill dapat meningkatkan kemampuan asertif seseorang, seperti melalui program bimbingan konseling atau pelatihan keterampilan sosial yang dilakukan di sekolah atau organisasi. [Lihat sumber Disini - journal.staihubbulwathan.id]
Asertivitas dan Komunikasi Interpersonal
Asertivitas merupakan salah satu keterampilan komunikasi interpersonal yang penting karena memungkinkan individu menyampaikan pesan secara efektif tanpa konflik. Komunikasi interpersonal yang asertif ditandai oleh penggunaan pesan “aku” (I-message) yang menekankan perasaan dan kebutuhan pribadi tanpa menyalahkan pihak lain. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dalam interaksi sehari-hari, seseorang yang asertif mampu menyampaikan kritik, apresiasi, atau kebutuhan personal tanpa menimbulkan defensif dari lawan bicara. Hal ini sangat penting dalam hubungan interpersonal karena membangun pemahaman bersama serta mengurangi tingkat kesalahpahaman. [Lihat sumber Disini - positivepsychology.com]
Selain itu, penelitian psikologi pendidikan menunjukkan bahwa perilaku asertif juga berperan dalam keterampilan komunikasi remaja di sekolah, membantu mereka berinteraksi dengan teman sebaya dan guru secara lebih efektif. [Lihat sumber Disini - e-journal.stkipsiliwangi.ac.id]
Peran Asertivitas dalam Hubungan Sosial
Perilaku asertif memiliki dampak yang signifikan dalam pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial:
Meningkatkan Kualitas Hubungan Interpersonal
Dengan kemampuan berkomunikasi secara terbuka dan saling menghormati, hubungan interpersonal menjadi lebih sehat, saling percaya, dan harmonis. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Media Penyelesaian Konflik
Individu yang asertif cenderung lebih efektif dalam menangani konflik karena mereka mampu menyatakan solusi atau keinginan tanpa memicu agresi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Mendorong Partisipasi dalam Lingkungan Sosial
Pada konteks kelompok sosial atau organisasi, asertivitas mendukung keterlibatan aktif anggota, memperkuat rasa memiliki terhadap keputusan kolektif, dan meningkatkan efektivitas kerja tim. [Lihat sumber Disini - jurnal.uts.ac.id]
Asertivitas dan Penyesuaian Diri
Asertivitas juga berperan penting dalam proses penyesuaian diri seseorang terhadap perubahan maupun tuntutan sosial. Individu yang mampu bersikap asertif memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik dalam menghadapi stres, tantangan sosial, serta konflik interpersonal. Kemampuan ini memungkinkan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan harapan lingkungan sosial. Dalam konteks psikologis, asertivitas membantu individu memahami batasan diri, menghargai diri sendiri, serta meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara konstruktif. [Lihat sumber Disini - journal.staihubbulwathan.id]
Kesimpulan
Asertivitas merupakan keterampilan sosial dan komunikasi yang penting dalam kehidupan individu dan masyarakat. Secara umum, asertivitas mengacu pada kemampuan seseorang untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara terbuka, jujur, dan hormat terhadap orang lain. Perilaku ini didukung oleh ciri-ciri seperti kejelasan ekspresi, penghormatan terhadap diri sendiri dan orang lain, pengendalian emosi, serta keterampilan mendengarkan aktif. Berbagai faktor seperti harga diri, budaya, pendidikan, dan pengalaman hidup memengaruhi tingkat asertivitas seseorang. Asertivitas memainkan peran sentral dalam komunikasi interpersonal, penyelesaian konflik, penguatan hubungan sosial, dan penyesuaian diri yang sehat di dalam lingkungan sosial. Dengan kemampuan asertif yang baik, individu dapat berinteraksi secara efektif, membangun hubungan yang saling menghormati, serta menyesuaikan diri dengan perubahan sosial secara lebih adaptif.