Terakhir diperbarui: 04 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 4 January). Asertivitas: Konsep dan Peran Sosial. SumberAjar. Retrieved 12 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/asertivitas-konsep-dan-peran-sosial 

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Asertivitas: Konsep dan Peran Sosial - SumberAjar.com

Asertivitas: Konsep dan Peran Sosial

Pendahuluan

Asertivitas merupakan konsep penting dalam psikologi dan komunikasi yang semakin mendapat perhatian dalam berbagai penelitian sosial maupun pendidikan. Perilaku ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mengutarakan pendapat, tetapi juga mencerminkan kemampuan individu dalam mempertahankan hak dan kebutuhan diri secara jujur tanpa mengabaikan hak orang lain. Dalam kehidupan sosial yang kompleks, kemampuan asertif dianggap sebagai keterampilan fundamental untuk membangun hubungan interpersonal yang sehat, menyelesaikan konflik, serta meningkatkan rasa percaya diri dan penyesuaian diri dalam berbagai konteks sosial. Berbagai penelitian terbaru menemukan bahwa asertivitas tidak hanya relevan bagi orang dewasa, tetapi juga memiliki peran penting dalam perkembangan remaja, lingkungan pendidikan, dan bahkan praktik profesional seperti keperawatan atau bimbingan konseling. [Lihat sumber Disini - journal.staihubbulwathan.id]


Definisi Asertivitas

Definisi Asertivitas Secara Umum

Asertivitas secara umum dipahami sebagai kemampuan individu untuk menyatakan apa yang ia pikirkan, rasakan, dan butuhkan secara langsung, jujur, dan tepat dalam interaksi sosial tanpa bersikap agresif maupun pasif. Individu yang asertif mampu mempertahankan haknya sekaligus menghormati hak orang lain dalam situasi komunikasi. Aspek ini mencakup kemampuan untuk mengekspresikan perasaan, pendapat, serta kebutuhan pribadi secara terbuka sehingga terjadi pertukaran yang sehat dalam hubungan interpersonal. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi Asertivitas dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “asertivitas” atau perilaku asertif dapat diartikan sebagai suatu sikap atau tindakan yang menunjukkan kemampuan untuk menyatakan pikiran, pendapat, dan perasaan secara tegas namun tetap menghormati orang lain. Dengan kata lain, asertivitas merupakan perwujudan perilaku individu yang berani dalam mengomunikasikan dirinya tanpa mengintimidasi atau merugikan pihak lain. Meskipun istilah ini sering dipinjam dari istilah bahasa Inggris “assertiveness, ” makna dalam konteks bahasa Indonesia menunjukkan adanya penekanan pada komunikasi yang terbuka dan berimbang. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi Asertivitas Menurut Para Ahli

Beberapa ahli dalam psikologi dan pendidikan mendefinisikan asertivitas sebagai berikut:

  1. Alberti dan Emmons (1970), Asertivitas didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengungkapkan kebutuhan, hak, dan pendapat secara langsung, jelas, dan sopan dalam interaksi sosial tanpa mengintimidasi atau meremehkan orang lain. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Wijayanti (2022), Menurut penelitian di bidang bimbingan dan konseling, perilaku asertif adalah kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan di dalam interaksi sosial termasuk di kelas atau lingkungan kerja. [Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id]

  3. Lubis (2015), Asertivitas digambarkan sebagai keterampilan sosial yang penting dalam berinteraksi dengan orang lain, terutama dalam mengekspresikan perasaan dan pandangan dengan jujur tanpa menimbulkan konflik yang merugikan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]

  4. Pratiwi (2024), Penelitian psikologi sosial menunjukkan bahwa perilaku asertif dipengaruhi oleh faktor individual seperti gender dan karakteristik kepribadian dalam konteks organisasi atau pekerjaan, dan mencerminkan kemampuan untuk mempertahankan diri dalam hubungan interpersonal. [Lihat sumber Disini - repositori.uma.ac.id]


Ciri-Ciri Perilaku Asertif

Perilaku asertif memiliki sejumlah ciri khas yang membedakannya dari perilaku pasif atau agresif dalam komunikasi. Individu yang bersikap asertif biasanya menunjukkan beberapa karakteristik utama berikut:

  1. Mampu Mengekspresikan Perasaan dan Pendapat dengan Jelas

    Orang yang asertif tidak menghindar dari pernyataan dirinya. Ia secara langsung dan jelas menyampaikan perasaan atau pendapatnya tanpa ragu, sekaligus mempertimbangkan norma sosial yang berlaku. Hal ini penting untuk memastikan pesan yang disampaikan tidak disalahpahami. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  2. Mengutamakan Penghormatan Terhadap Diri Sendiri dan Orang Lain

    Asertivitas menekankan keseimbangan antara kebutuhan diri sendiri dan kebutuhan orang lain. Individu asertif menghormati hak dan batas orang lain sambil tetap memperhatikan haknya sendiri. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  3. Kepercayaan Diri Tinggi

    Sikap asertif biasanya berkaitan erat dengan rasa percaya diri yang kuat. Individu yang percaya diri lebih mampu menyatakan pendapatnya dan mengambil keputusan tanpa merasa terintimidasi oleh pendapat orang lain. [Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id]

  4. Kontrol Emosi yang Baik

    Individu asertif mampu mengatur emosinya dengan baik. Ia tidak menunjukkan reaksi berlebihan seperti agresivitas atau penarikan diri total ketika berhadapan dengan konflik atau perbedaan pendapat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  5. Kemampuan Mendengarkan Aktif

    Perilaku asertif mencakup keterampilan mendengarkan dengan seksama. Ini memungkinkan individu memahami perspektif lawan bicara dan merespon dengan tepat, sehingga komunikasi berjalan efektif. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]


Faktor yang Mempengaruhi Asertivitas

Berbagai faktor internal dan eksternal dapat memengaruhi tingkat asertivitas seseorang, antara lain:

  1. Harga Diri (Self-Esteem)

    Harga diri yang tinggi seringkali berkorelasi dengan perilaku asertif yang kuat. Individu dengan harga diri positif lebih cenderung percaya diri serta mampu menyatakan pendapat tanpa rasa takut yang berlebihan terhadap penolakan atau kritik. Penelitian menunjukkan hubungan positif antara harga diri dan asertivitas pada siswa. [Lihat sumber Disini - ejournal.unesa.ac.id]

  2. Jenis Kelamin dan Peran Sosial

    Studi menunjukkan adanya variasi dalam perilaku asertif berdasarkan jenis kelamin dan peran sosial dalam masyarakat atau organisasi, meskipun karakteristik budaya lokal juga ikut menentukan. [Lihat sumber Disini - repositori.uma.ac.id]

  3. Budaya dan Lingkungan Sosial

    Nilai budaya serta norma sosial di lingkungan tertentu dapat mendukung atau justru membatasi perilaku asertif. Dalam budaya kolektivis, misalnya, individu cenderung menahan diri demi keharmonisan kelompok, sementara dalam kultur individualis perilaku asertif lebih mendapat ruang. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  4. Pengalaman dan Pendidikan

    Pendidikan formal atau pelatihan assertiveness skill dapat meningkatkan kemampuan asertif seseorang, seperti melalui program bimbingan konseling atau pelatihan keterampilan sosial yang dilakukan di sekolah atau organisasi. [Lihat sumber Disini - journal.staihubbulwathan.id]


Asertivitas dan Komunikasi Interpersonal

Asertivitas merupakan salah satu keterampilan komunikasi interpersonal yang penting karena memungkinkan individu menyampaikan pesan secara efektif tanpa konflik. Komunikasi interpersonal yang asertif ditandai oleh penggunaan pesan “aku” (I-message) yang menekankan perasaan dan kebutuhan pribadi tanpa menyalahkan pihak lain. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Dalam interaksi sehari-hari, seseorang yang asertif mampu menyampaikan kritik, apresiasi, atau kebutuhan personal tanpa menimbulkan defensif dari lawan bicara. Hal ini sangat penting dalam hubungan interpersonal karena membangun pemahaman bersama serta mengurangi tingkat kesalahpahaman. [Lihat sumber Disini - positivepsychology.com]

Selain itu, penelitian psikologi pendidikan menunjukkan bahwa perilaku asertif juga berperan dalam keterampilan komunikasi remaja di sekolah, membantu mereka berinteraksi dengan teman sebaya dan guru secara lebih efektif. [Lihat sumber Disini - e-journal.stkipsiliwangi.ac.id]


Peran Asertivitas dalam Hubungan Sosial

Perilaku asertif memiliki dampak yang signifikan dalam pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial:

  1. Meningkatkan Kualitas Hubungan Interpersonal

    Dengan kemampuan berkomunikasi secara terbuka dan saling menghormati, hubungan interpersonal menjadi lebih sehat, saling percaya, dan harmonis. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  2. Media Penyelesaian Konflik

    Individu yang asertif cenderung lebih efektif dalam menangani konflik karena mereka mampu menyatakan solusi atau keinginan tanpa memicu agresi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  3. Mendorong Partisipasi dalam Lingkungan Sosial

    Pada konteks kelompok sosial atau organisasi, asertivitas mendukung keterlibatan aktif anggota, memperkuat rasa memiliki terhadap keputusan kolektif, dan meningkatkan efektivitas kerja tim. [Lihat sumber Disini - jurnal.uts.ac.id]


Asertivitas dan Penyesuaian Diri

Asertivitas juga berperan penting dalam proses penyesuaian diri seseorang terhadap perubahan maupun tuntutan sosial. Individu yang mampu bersikap asertif memiliki kemampuan adaptasi yang lebih baik dalam menghadapi stres, tantangan sosial, serta konflik interpersonal. Kemampuan ini memungkinkan seseorang untuk mempertahankan keseimbangan antara kebutuhan pribadi dan harapan lingkungan sosial. Dalam konteks psikologis, asertivitas membantu individu memahami batasan diri, menghargai diri sendiri, serta meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah secara konstruktif. [Lihat sumber Disini - journal.staihubbulwathan.id]


Kesimpulan

Asertivitas merupakan keterampilan sosial dan komunikasi yang penting dalam kehidupan individu dan masyarakat. Secara umum, asertivitas mengacu pada kemampuan seseorang untuk menyampaikan pikiran, perasaan, dan kebutuhan secara terbuka, jujur, dan hormat terhadap orang lain. Perilaku ini didukung oleh ciri-ciri seperti kejelasan ekspresi, penghormatan terhadap diri sendiri dan orang lain, pengendalian emosi, serta keterampilan mendengarkan aktif. Berbagai faktor seperti harga diri, budaya, pendidikan, dan pengalaman hidup memengaruhi tingkat asertivitas seseorang. Asertivitas memainkan peran sentral dalam komunikasi interpersonal, penyelesaian konflik, penguatan hubungan sosial, dan penyesuaian diri yang sehat di dalam lingkungan sosial. Dengan kemampuan asertif yang baik, individu dapat berinteraksi secara efektif, membangun hubungan yang saling menghormati, serta menyesuaikan diri dengan perubahan sosial secara lebih adaptif.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Asertivitas adalah kemampuan individu untuk menyampaikan pendapat, perasaan, dan kebutuhan secara tegas, jujur, dan terbuka tanpa melanggar hak orang lain. Perilaku ini menekankan keseimbangan antara kepentingan pribadi dan penghormatan terhadap orang lain.

Ciri-ciri perilaku asertif meliputi kemampuan mengekspresikan pendapat dengan jelas, menghargai diri sendiri dan orang lain, memiliki kepercayaan diri, mampu mengendalikan emosi, serta bersikap terbuka dalam komunikasi interpersonal.

Asertivitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti harga diri, pola asuh, budaya dan lingkungan sosial, pengalaman hidup, tingkat pendidikan, serta keterampilan komunikasi yang dimiliki individu.

Asertivitas penting dalam komunikasi interpersonal karena membantu individu menyampaikan pesan secara efektif, mengurangi kesalahpahaman, mencegah konflik yang tidak perlu, serta membangun hubungan yang sehat dan saling menghormati.

Dalam hubungan sosial, asertivitas berperan dalam meningkatkan kualitas interaksi, memperkuat kepercayaan, membantu penyelesaian konflik secara konstruktif, serta mendorong partisipasi aktif individu dalam lingkungan sosial.

Asertivitas membantu individu menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial karena memungkinkan seseorang menetapkan batasan diri, mengelola tekanan sosial, serta menghadapi perubahan dan tantangan secara lebih adaptif dan sehat.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Struktur Sosial: Konsep dan Karakteristik Konsep Realitas Sosial: Definisi dan Analisis Reintegrasi Sosial: Konsep dan Pemulihan Hubungan Teori Relativitas Sosial dalam Kajian Ilmiah Diferensiasi Sosial: Konsep dan Bentuknya Representasi Sosial: Konsep dan Pembentukan Makna Integrasi Sosial: Konsep, Komponen, dan Prosesnya Lembaga Sosial: Konsep, Fungsi, dan Perannya Sikap Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukannya Relasi Sosial: Fungsi dan Faktor Harmonisasi Sosial: Konsep, Peran, dan Faktor Pendukung Kepedulian Sosial: Konsep, Faktor, dan Ekspresi Sosial Teori Sosial: Definisi, Fungsi, dan Contoh Mobilitas Sosial: Konsep dan Jenis Pergerakan Sosial Fragmentasi Sosial: Konsep dan Tantangan Integrasi Disorganisasi Sosial: Konsep dan Dampak Masyarakat Ketergantungan Sosial: Konsep dan Dinamika Hubungan Peran Gender: Konsep dan Konstruksi Sosial Dominasi Sosial: Konsep dan Relasi Kekuasaan Asimilasi Sosial: Konsep dan Dampak Integratif
Artikel Terbaru
Kepercayaan Publik terhadap Pemerintah: Konsep dan Legitimasi Kebijakan Publik: Konsep dan Dampak Sosial Advokasi Sosial: Konsep dan Perubahan Kebijakan Good Governance: Konsep dan Akuntabilitas Sosial Civil Society: Konsep dan Peran Sosial Demokrasi Sosial: Konsep dan Partisipasi Warga Identitas Kolektif: Konsep dan Pembentukan Kelompok Dinamika Kelompok Sosial: Konsep dan Interaksi Internal Inklusi Sosial: Konsep dan Keadilan Sosial Eksklusi Sosial: Konsep dan Marginalisasi Minoritas Sosial: Konsep dan Relasi Kekuasaan Mayoritas Sosial: Konsep dan Dominasi Sosial Polarisasi Sosial: Konsep dan Konflik Kepentingan Interaksi Antarbudaya: Konsep dan Tantangan Sosial Relasi Sosial Virtual: Konsep dan Perubahan Makna