
Dampak Rokok Pasif terhadap Kesehatan Ibu Hamil
Pendahuluan
Paparan asap rokok, tidak hanya bagi perokok aktif, tetapi juga bagi mereka yang berada di lingkungan perokok (perokok pasif) masih menjadi persoalan serius bagi kesehatan masyarakat. Bagi ibu hamil, paparan asap rokok pasif menunjukkan beragam potensi bahaya, baik bagi ibu maupun janin yang dikandungnya. Artikel ini bertujuan untuk membahas secara mendalam dampak rokok pasif terhadap kehamilan, termasuk sumber paparan, risiko terhadap kesehatan ibu dan janin, dampak jangka panjang, serta strategi pencegahan dan edukasi. Dengan memahami risiko ini, diharapkan kesadaran meningkat agar ibu hamil dapat dilindungi dari paparan asap rokok, demi kesehatan generasi masa depan.
Definisi Rokok Pasif
Definisi Rokok Pasif secara Umum
Rokok pasif (atau second-hand smoke / SHS) mengacu pada kondisi di mana seseorang menghirup asap rokok dari lingkungan sekitar; bukan karena mereka langsung merokok, tetapi asap dari rokok orang lain, baik asap utama (exhaled smoke) maupun asap dari ujung rokok menyala, terhirup oleh orang di sekitarnya. Asap rokok ini mengandung banyak zat kimia berbahaya seperti nikotin, karbon monoksida, tar, formaldehida, zat karsinogenik, dan lain-lain. [Lihat sumber Disini - he02.tci-thaijo.org]
Definisi Rokok Pasif dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “perokok pasif” adalah orang yang tidak merokok tetapi menghirup asap rokok dari lingkungan sekitar. (Catatan: definisi ini sesuai konsep umum; referensi ke KBBI bisa ditambahkan sesuai kebutuhan publikasi, misalnya dengan link ke laman KBBI online.)
Definisi Rokok Pasif Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi dari literatur ilmiah:
-
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), perokok pasif adalah individu yang menghirup udara tercemar asap rokok dari orang lain, baik asap yang dihembus maupun dari ujung rokok. [Lihat sumber Disini - cdc.gov]
-
Studi oleh X Wang dkk. (2024) menyebut apakah wanita hamil terpapar “second-hand smoke (SHS)” sebagai “passive smoking during pregnancy”, yang berarti janin juga terekspos zat berbahaya seperti nikotin, karbon monoksida, dan racun lain, sehingga dapat mengganggu perkembangan janin. [Lihat sumber Disini - tobaccoinduceddiseases.org]
-
Kajian sistematik yang dirangkum dalam literatur kesehatan masyarakat menyatakan bahwa paparan asap rokok, baik aktif maupun pasif, pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan plasenta, hipoksia pada janin, dan meningkatkan risiko komplikasi kehamilan. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]
-
Dalam tinjauan oleh M Marmi dkk. (2025), paparan asap rokok pasif pada kehamilan disebut sebagai faktor risiko yang sering diabaikan, namun berpengaruh terhadap pertumbuhan janin dan kesehatan masa awal anak. [Lihat sumber Disini - journal.optimalbynfc.com]
Dengan demikian, rokok pasif bukan sekadar “asap biasa”, melainkan paparan zat berbahaya secara tidak langsung yang punya potensi dampak serius, terutama bagi ibu hamil dan janin.
Sumber Paparan Rokok Pasif dalam Kehidupan Sehari-Hari
di Rumah (Suami/Anggota Keluarga Merokok)
Sumber paling umum adalah asap rokok dari anggota keluarga yang merokok di dalam rumah, misalnya suami, mertua, atau anggota keluarga lain. Dalam banyak penelitian di Indonesia, paparan dari suami merokok menunjukkan korelasi signifikan dengan kejadian bayi berat lahir rendah. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekbaubau.ac.id]
di Ruang Publik / Tempat Umum / Area Kerja
Wanita hamil bisa terpapar ketika berada di tempat umum seperti ruang tunggu, tempat kerja, kendaraan umum, warung/kafe, atau area publik di mana perokok aktif merokok. Meski secara langsung tidak merokok, asap lingkungan tetap bisa terhirup. Beberapa literatur menyebut pentingnya kebijakan kawasan tanpa rokok untuk melindungi kelompok rentan, termasuk ibu hamil. [Lihat sumber Disini - he02.tci-thaijo.org]
Paparan Campuran (Indoor & Outdoor)
Penelitian menunjukkan bahwa ibu hamil yang terpapar asap rokok baik di dalam rumah maupun di luar rumah menghadapi risiko lebih besar dibanding yang hanya terpapar di satu lokasi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Risiko Kesehatan bagi Ibu dan Janin
Paparan rokok pasif selama kehamilan memiliki sejumlah risiko kesehatan, baik untuk ibu maupun perkembangan janin. Berikut rangkumannya:
Risiko bagi Janin dan Bayi Baru Lahir
-
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR): Banyak penelitian menunjukkan hubungan kuat antara paparan asap rokok dan BBLR. Misalnya, studi terbaru oleh Aziza dkk. (2025) menemukan bahwa ibu hamil perokok pasif memiliki risiko 11, 5 kali lebih tinggi melahirkan bayi BBLR, setelah dikontrol variabel seperti usia ibu, status gizi, paritas, dan umur kehamilan. [Lihat sumber Disini - jurnal.upertis.ac.id]
-
Panjang Badan Lahir, Lingkar Kepala, Pertumbuhan Fisik Menurun: Studi oleh PM Prince (2021) menemukan bahwa paparan SHS selama kehamilan meningkatkan risiko bayi lahir dengan panjang badan rendah dan ukuran kepala kecil. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Persalinan Prematur (Preterm Birth): Paparan SHS juga dikaitkan dengan peningkatan risiko persalinan prematur. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Gangguan Perkembangan Organ Paru, Sistem Pernafasan & Kesehatan Jangka Panjang: Anak yang ibunya terpapar asap rokok selama kehamilan cenderung memiliki fungsi paru menurun, keluhan pernapasan, dan risiko asma lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Komplikasi Lain pada Janin, Plasenta, Pertumbuhan Terhambat, Risiko Keguguran/Lahir Mati: Asap rokok dapat mengganggu fungsi plasenta, suplai oksigen dan nutrisi ke janin; bahkan meningkatkan risiko aborsi, keguguran, atau lahir mati. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Risiko bagi Ibu Hamil
-
Gangguan Tekanan Darah / Riwayat Hipertensi & Komplikasi Plasenta: Paparan asap rokok terkait dengan gangguan vaskular pada plasenta, hipoksia, dan kerusakan endotel, misalnya vasokonstriksi arteri uterina/umbilikal, mikroinfark pada plasenta, yang dapat berujung pada kondisi serius seperti solusio plasenta atau plasenta terlepas. [Lihat sumber Disini - mail.journalofmedula.com]
-
Anemia: Sebuah studi di 2025 menunjukkan bahwa ibu hamil yang terpapar asap rokok pasif memiliki risiko lebih besar mengalami anemia dibanding yang tidak terpapar. [Lihat sumber Disini - ejournal.amirulbangunbangsapublishing.com]
-
Gangguan Kesehatan Ibu Lainnya & Potensi Aborsi / Risiko Keguguran: Asap rokok mempengaruhi suplai oksigen dan fungsi plasenta; serta meningkatkan risiko abortus. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Mekanisme Biologis Paparan Rokok Pasif
Asap rokok mengandung zat toksik seperti nikotin, karbon monoksida (CO), tar, formaldehida, dan senyawa berbahaya lainnya. Nikotin dapat menyebabkan vasokonstriksi pada arteri uterina dan arteri umbilikal, sehingga aliran darah, dan dengan itu suplai oksigen dan nutrisi, ke janin terganggu. [Lihat sumber Disini - mail.journalofmedula.com] CO mengikat hemoglobin menggantikan oksigen, menyebabkan hipoksia janin. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id] Gangguan pada plasenta bisa menyebabkan suplai nutrisi/oksigen tidak optimal, plasenta lepas prematur, atau bahkan keguguran. [Lihat sumber Disini - he02.tci-thaijo.org]
Pengaruh Paparan Jangka Panjang terhadap Kehamilan
Paparan jangka panjang terhadap asap rokok, terutama jika terjadi berulang dalam kehamilan atau pada beberapa kehamilan, memperbesar risiko komplikasi. Beberapa dampak jangka panjang termasuk:
-
Risiko Preterm Birth & Pertumbuhan Terhambat Janin: Studi dari 2025 menunjukkan bahwa paparan SHS saat kehamilan meningkatkan odds preterm birth lebih dari dua kali dibanding tanpa paparan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
Masalah Kesehatan Anak di Masa Depan: Anak yang terpapar asap rokok sejak janin bisa mengalami masalah paru, infeksi pernapasan, asma, gangguan perkembangan, hingga risiko cacat bawaan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Gangguan Kesehatan Ibu yang Konsisten: Paparan terus menerus bisa memperparah gangguan plasenta, kekurangan oksigen, dan komplikasi pada kehamilan berikutnya. [Lihat sumber Disini - he02.tci-thaijo.org]
-
Perpetuasi Siklus Kesehatan Buruk dalam Keluarga: Jika ibu atau anggota keluarga terus merokok, anak lahir dengan risiko BBLR, kemudian rentan stunting, penyakit pernapasan, dan seterusnya, implicasi jangka panjang untuk kesehatan keluarga dan generasi berikutnya. [Lihat sumber Disini - journal.optimalbynfc.com]
Faktor Lingkungan dan Keluarga
Beberapa faktor dan kondisi yang mempengaruhi besarnya risiko paparan rokok pasif pada ibu hamil:
-
Perilaku Merokok Anggota Keluarga (terutama Suami), banyak studi di Indonesia menunjukkan bahwa perokok aktif dalam keluarga (terutama suami) adalah penyebab utama paparan. [Lihat sumber Disini - journals.uima.ac.id]
-
Ruang Tertutup / Ventilasi Buruk di Rumah, rumah dengan sirkulasi udara yang buruk memperburuk konsentrasi asap rokok sehingga paparan lebih intens.
-
Kurangnya Kesadaran / Pengetahuan tentang Bahaya Rokok Pasif, literatur menyebut masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang risiko rokok pasif sebagai salah satu faktor tingginya paparan. [Lihat sumber Disini - ejournal.itekes-bali.ac.id]
-
Kebijakan Publik & Regulasi Kawasan Tanpa Rokok yang Lemah, di banyak area publik atau tempat tinggal, aturan pelarangan merokok tidak tegas atau tidak ditegakkan, sehingga ibu hamil sulit terhindar dari paparan. [Lihat sumber Disini - journals.uima.ac.id]
-
Status Sosial Ekonomi, Pendidikan, dan Pengetahuan Gizi / Kehamilan, ibu dengan pendidikan rendah atau kurang pengetahuan kesehatan berisiko lebih tinggi belum mendapatkan informasi/pencegahan yang memadai. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
Pencegahan Paparan Rokok Pasif
Untuk melindungi ibu hamil dari paparan asap rokok pasif, berikut rekomendasi pencegahan:
-
Menerapkan aturan “rumah bebas asap rokok”, anggota keluarga dan tamu tidak merokok di dalam rumah.
-
Mendorong suami/anggota keluarga perokok untuk berhenti merokok, atau setidaknya merokok di luar rumah, menjauh dari ibu hamil.
-
Meningkatkan ventilasi rumah, menjaga sirkulasi udara baik di ruangan tertutup agar asap tidak terperangkap.
-
Menghindari area publik/ruang bersama di mana sering terjadi merokok, memilih ruang terbuka, atau menolak berada di dekat perokok.
-
Masyarakat & komunitas mendukung kebijakan kawasan tanpa rokok untuk melindungi kelompok rentan seperti ibu hamil dan anak-anak.
-
Pemeriksaan kehamilan rutin dan edukasi prenatal, ibu hamil bersama tenaga kesehatan mendapat informasi bahaya asap rokok dan cara menghindarinya.
Peran Edukasi Kesehatan dalam Perlindungan Ibu
Edukasi kesehatan memegang peranan penting untuk mengurangi paparan rokok pasif pada ibu hamil. Misalnya:
-
Program penyuluhan di fasilitas kesehatan (Puskesmas, rumah sakit) untuk ibu hamil dan suami agar memahami risiko rokok pasif. Sebuah studi di 2025 menunjukkan penyuluhan secara signifikan meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang bahaya asap rokok, skor pengetahuan meningkat dari rata-rata 7, 2 menjadi 8, 6 (skor maksimal 10) setelah penyuluhan. [Lihat sumber Disini - journal.unhas.ac.id]
-
Edukasi prenafal (pra-hamil) untuk calon orang tua, agar suami menyadari tanggung jawab melindungi istri/anak dari asap rokok (dan berhenti merokok). [Lihat sumber Disini - journals.uima.ac.id]
-
Sosialisasi kebijakan “tanpa rokok di rumah dan ruang umum”, penting untuk mendorong lingkungan sehat bagi ibu hamil. [Lihat sumber Disini - nature.com]
-
Intervensi gizi dan perawatan kehamilan, bagi ibu hamil terpapar, intervensi kesehatan tambahan (nutrisi, pemeriksaan plasenta, pemantauan janin) bisa membantu mengurangi dampak negatif. [Lihat sumber Disini - jurnal.upertis.ac.id]
Dampak Paparan terhadap Berat Badan Lahir dan Komplikasi
Salah satu efek paling banyak diteliti dari paparan rokok pasif adalah dampaknya pada berat badan lahir (BBLR) dan komplikasi kehamilan. Berikut poin pentingnya:
-
Studi 2025 pada ibu hamil di wilayah Puskesmas menunjukkan paparan perokok pasif dan kurangnya peningkatan berat badan ibu saat hamil berhubungan signifikan dengan kejadian BBLR. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
-
Risiko BBLR pada bayi dari ibu perokok pasif, OR hingga 11, 5 kali lebih tinggi dibanding ibu tanpa paparan. [Lihat sumber Disini - jurnal.upertis.ac.id]
-
Penelitian global dan sistematik review menunjukkan paparan SHS berkorelasi dengan penurunan rata-rata berat lahir, panjang badan, dan lingkar kepala pada bayi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Komplikasi lain: persalinan prematur, gangguan plasenta (termasuk risiko lepas plasenta atau solusio plasenta), keguguran, serta potensi masalah perkembangan jangka panjang pada anak (paru, sistem imun, perkembangan kognitif, perilaku, dll.). [Lihat sumber Disini - sj.jst.go.jp]
Kesimpulan
Paparan rokok pasif, meskipun tidak langsung merokok, merupakan ancaman nyata bagi kesehatan ibu hamil dan janin. Zat toksik dalam asap rokok dapat mengganggu suplai oksigen dan nutrisi melalui plasenta, menyebabkan hipoksia, dan meningkatkan risiko komplikasi seperti BBLR, persalinan prematur, gangguan perkembangan janin, hingga masalah kesehatan jangka panjang pada anak. Sumber paparan bisa berasal dari lingkungan rumah, anggota keluarga, atau ruang publik. Oleh sebab itu, diperlukan kesadaran bersama, melalui edukasi kesehatan, penerapan rumah dan ruang bebas asap rokok, serta kebijakan publik, agar ibu hamil dapat terlindungi. Edukasi prenatal bagi calon orang tua, terutama suami, sangat penting agar tanggung jawab bersama terlaksana. Intervensi pencegahan dan perlindungan sejak dini bukan hanya menyelamatkan kehamilan dan kelahiran, tetapi juga menjamin kesehatan generasi berikutnya.