Terakhir diperbarui: 17 January 2026

Citation (APA Style):
Davacom. (2026, 17 January). Employee Well-Being: Konsep, Kesehatan Kerja, dan Kepuasan. SumberAjar. Retrieved 17 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/employee-wellbeing-konsep-kesehatan-kerja-dan-kepuasan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Employee Well-Being: Konsep, Kesehatan Kerja, dan Kepuasan - SumberAjar.com

Employee Well-Being: Konsep, Kesehatan Kerja, dan Kepuasan

Pendahuluan

Di era modern saat ini, kesejahteraan karyawan atau employee well-being bukan sekadar istilah HR biasa, ini merupakan fondasi penting dalam organisasi yang sehat dan produktif. Karyawan yang mengalami kesejahteraan kerja secara menyeluruh umumnya menunjukkan kinerja lebih tinggi, keterikatan yang lebih kuat, serta tingkat stres dan turnover yang lebih rendah dibandingkan mereka yang kesejahteraannya kurang diperhatikan. Berbagai studi empiris menunjukkan hubungan kuat antara well-being dengan kepuasan kerja, kesehatan kerja, hingga hasil organisasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, memahami konsep, dimensi, faktor-faktor yang memengaruhi, serta dampak dari employee well-being adalah keniscayaan dalam dunia manajemen sumber daya manusia kontemporer. ([Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id])


Definisi Employee Well-Being

Definisi Employee Well-Being Secara Umum

Employee well-being secara umum merujuk pada keadaan kesejahteraan yang dipersepsikan oleh seorang karyawan dalam aspek fisik, psikologis, emosional, dan sosial di lingkungan kerja. Konsep ini mencerminkan bagaimana karyawan merasa tentang pekerjaan mereka, bagaimana interaksi mereka dengan rekan kerja, serta bagaimana organisasi mendukung keadaan kesehatan dan kehidupan keseluruhan karyawan. Well-being karyawan mencakup pengalaman positif seperti rasa aman, kepercayaan, kebahagiaan, dan kepuasan hidup yang seimbang antara kehidupan pribadi dan profesional. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

Definisi Employee Well-Being dalam KBBI

Dalam KBBI (meskipun istilah employee well-being tidak langsung tercantum), istilah “kesejahteraan” sendiri berasal dari konsep well-being yang berarti keadaan sejahtera, aman, dan tenteram lahir batin. Kata “bahagia” dalam KBBI dijelaskan sebagai keadaan perasaan senang dan tenteram, yang merupakan salah satu komponen sentral dari well-being secara umum. ([Lihat sumber Disini - kbbi.web.id])

Definisi Employee Well-Being Menurut Para Ahli

  1. Maryatmi (2021) mendefinisikan employee well-being sebagai perasaan menyenangkan yang berkaitan dengan seluruh keadaan hidup karyawan dalam konteks pekerjaan, termasuk keseimbangan emosi serta evaluasi diri terhadap pengalaman kerja mereka. ([Lihat sumber Disini - repository.stiegici.ac.id])

  2. Wright menyatakan bahwa employee well-being adalah deskripsi personal yang menggambarkan kebahagiaan dan keseimbangan antara emosi positif maupun negatif dalam pengalaman kerja. ([Lihat sumber Disini - repository.stiegici.ac.id])

  3. Sirgy menjelaskan bahwa employee well-being mencakup kepuasan karyawan terhadap pengalaman kerja dan hasil partisipasi mereka di tempat kerja. ([Lihat sumber Disini - repository.stiegici.ac.id])

  4. Grant et al. (2007) dan Keeman et al. (2017) dalam kajian internasional menyatakan bahwa employee well-being merujuk pada bagaimana individu merasa dan berfungsi di lingkungan kerja mereka, mencakup kesejahteraan mental dan emosional. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])


Dimensi Employee Well-Being

Employee well-being bukan satu dimensi tunggal; ia terdiri dari beberapa aspek yang saling berinteraksi dalam kehidupan profesional karyawan. Studi terkini menyusun beberapa dimensi penting sebagai berikut:

1. Dimensi Fisik

Dimensi ini mencakup kesehatan jasmani dan kondisi fisik karyawan di tempat kerja, termasuk keamanan, keselamatan, serta beban kerja yang seimbang. Suasana kerja yang mendukung kesehatan fisik membantu menurunkan risiko kelelahan dan kecelakaan kerja. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

2. Dimensi Psikologis

Dimensi psikologis berkaitan dengan keadaan mental karyawan seperti tingkat stres, emosi positif versus negatif, serta kemampuan mengatasi tekanan kerja. Kesejahteraan psikologis berkaitan erat dengan motivasi, rasa percaya diri, stabilitas emosi, dan penerimaan diri. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])

3. Dimensi Sosial

Aspek sosial mencerminkan hubungan interpersonal di tempat kerja, dukungan sosial dari rekan dan atasan, serta rasa keterikatan terhadap tim atau organisasi. Hubungan kerja yang positif memperkuat keterlibatan dan komitmen karyawan. ([Lihat sumber Disini - ppipbr.com])

4. Dimensi Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan (Life Well-Being)

Dimensi ini mencakup keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dengan kebutuhan kehidupan pribadi, termasuk kualitas hidup dan hubungan keluarga. Karyawan dengan keseimbangan dan dukungan yang baik cenderung mengalami kesejahteraan yang lebih tinggi. ([Lihat sumber Disini - ppipbr.com])


Employee Well-Being dan Kesehatan Kerja

Hubungan antara employee well-being dan kesehatan kerja sangat erat. Kesehatan kerja melibatkan kondisi fisik dan mental karyawan selama bekerja. Ketika perusahaan menyediakan lingkungan kerja yang aman, nyaman, serta mendukung kesehatan mental dan fisik karyawan, employee well-being akan meningkat. Faktor-faktor seperti kebijakan keselamatan kerja, program kesehatan, serta dukungan terhadap keseimbangan kehidupan kerja terbukti berkontribusi terhadap kesejahteraan karyawan secara keseluruhan. ([Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id])

Cara perusahaan mempromosikan employee well-being dalam konteks kesehatan kerja seringkali mencakup program kesehatan fisik dan mental, fasilitas olahraga, fleksibilitas waktu kerja, serta dukungan psikologis yang terstruktur. Ini tidak hanya mengurangi stres kerja tetapi juga berdampak positif pada produktivitas, retensi karyawan, dan citra organisasi di mata calon pekerja. ([Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id])


Faktor Organisasi yang Mempengaruhi Well-Being

Beberapa faktor organisasi memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat employee well-being, di antaranya:

1. Lingkungan Kerja

Fasilitas fisik, keselamatan, beban kerja yang adil, serta suasana kerja yang kondusif merupakan aspek penting yang memengaruhi kesejahteraan karyawan. ([Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id])

2. Dukungan Organisasi dan Kepemimpinan

Persepsi bahwa organisasi mendukung karyawan, termasuk dukungan supervisor yang positif dan saling menghargai, dapat meningkatkan rasa aman dan keterlibatan kerja. ([Lihat sumber Disini - journals2.ums.ac.id])

3. Kebijakan Keseimbangan Kerja dan Kehidupan

Kebijakan yang memfasilitasi keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi seperti kerja fleksibel atau program kesejahteraan kerja membantu mengurangi stres dan meningkatkan well-being. ([Lihat sumber Disini - ejournal.unibabwi.ac.id])

4. Budaya Organisasi

Budaya yang menghargai kesejahteraan karyawan, komunikasi terbuka, serta kesempatan pengembangan diri memperkuat motivasi dan keterikatan karyawan. ([Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id])


Employee Well-Being dan Kepuasan Kerja

Kepuasan kerja merupakan salah satu indikator penting dari employee well-being. Kepuasan kerja mencerminkan evaluasi emosional seseorang terhadap pekerjaannya, termasuk aspek pekerjaan itu sendiri, hubungan dengan rekan kerja, serta penghargaan dan pengakuan. Ketika well-being karyawan tinggi, mereka cenderung melaporkan tingkat kepuasan kerja yang juga tinggi, yang berdampak positif pada produktivitas, keterlibatan, dan loyalitas terhadap organisasi. ([Lihat sumber Disini - mdpi.com])

Hubungan ini bukan kebetulan semata, well-being yang sehat membantu karyawan merasakan nilai pekerjaannya, merasa lebih berdaya dalam peran mereka, serta merasa dihargai, yang semuanya merupakan indikator kuat dari kepuasan kerja. ([Lihat sumber Disini - mdpi.com])


Dampak Well-Being terhadap Kinerja Karyawan

Dampak employee well-being terhadap kinerja karyawan telah dibuktikan oleh berbagai penelitian. Karyawan yang merasa sejahtera secara fisik, mental, dan sosial cenderung menunjukkan:

Singkatnya, investasi dalam kesejahteraan karyawan bukan hanya memberi keuntungan bagi pekerja secara individual tapi juga memperkuat kinerja organisasi secara keseluruhan. ([Lihat sumber Disini - e-jurnal.nobel.ac.id])


Kesimpulan

Employee well-being adalah konsep multidimensional yang mencakup kesehatan fisik, psikologis, sosial, serta keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional seorang karyawan. Berakar dari gagasan kesejahteraan individu, well-being berperan sebagai fondasi bagi kepuasan kerja, keterikatan kerja, dan kinerja secara keseluruhan. Faktor-faktor organisasi seperti lingkungan kerja, dukungan kepemimpinan, kebijakan keseimbangan kerja, hidup, serta budaya organisasi sangat menentukan tingkat kesejahteraan yang dirasakan. Karyawan dengan well-being tinggi cenderung lebih produktif, termotivasi, dan loyal, sehingga organisasi yang efektif harus menjadikan kesejahteraan karyawan sebagai prioritas strategis dalam pengembangan sumber daya manusianya.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Employee well-being adalah kondisi kesejahteraan karyawan yang mencakup aspek fisik, psikologis, sosial, dan kepuasan kerja, yang memengaruhi bagaimana karyawan merasakan dan menjalani pekerjaannya di dalam organisasi.

Employee well-being penting karena berhubungan langsung dengan produktivitas, kepuasan kerja, keterikatan karyawan, serta penurunan tingkat stres dan turnover dalam organisasi.

Dimensi employee well-being meliputi kesejahteraan fisik, kesejahteraan psikologis, kesejahteraan sosial, serta keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi.

Employee well-being berkaitan erat dengan kesehatan kerja karena lingkungan kerja yang aman, sehat, dan mendukung kesehatan mental akan meningkatkan kesejahteraan karyawan secara keseluruhan.

Employee well-being berdampak positif terhadap kinerja karyawan, termasuk peningkatan produktivitas, motivasi kerja, loyalitas, serta kualitas hubungan kerja di dalam organisasi.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Psychological Well-Being: Konsep dan Indikator Psychological Well-Being: Konsep dan Indikator Employee Engagement: Konsep, Keterikatan Kerja, dan Kinerja Employee Engagement: Konsep, Keterikatan Kerja, dan Kinerja Kesejahteraan Karyawan: Konsep, Well-Being, dan Produktivitas Kesejahteraan Karyawan: Konsep, Well-Being, dan Produktivitas Konsep Fungsi Psikologis Sehat Konsep Fungsi Psikologis Sehat Kepuasan Hidup: Konsep dan Determinan Kepuasan Hidup: Konsep dan Determinan Kepuasan Kerja: Konsep, Faktor Psikologis, dan Implikasi Organisasi Kepuasan Kerja: Konsep, Faktor Psikologis, dan Implikasi Organisasi Onboarding Karyawan: Konsep, Adaptasi Awal, dan Keterikatan Kerja Onboarding Karyawan: Konsep, Adaptasi Awal, dan Keterikatan Kerja Produktivitas Kerja: Konsep, Pengukuran Output, dan Efisiensi Produktivitas Kerja: Konsep, Pengukuran Output, dan Efisiensi Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan: Konsep, Indikator Mutu Kepuasan User Sistem Informasi: Konsep, Tingkat Kepuasan, dan Penerimaan Sistem Kepuasan User Sistem Informasi: Konsep, Tingkat Kepuasan, dan Penerimaan Sistem Kesiapan Pasien Menghadapi Perubahan Kesehatan Kesiapan Pasien Menghadapi Perubahan Kesehatan Kesejahteraan Subjektif: Konsep dan Pengukuran Kesejahteraan Subjektif: Konsep dan Pengukuran Kepuasan Hidup Kerja: Konsep, Kualitas Kerja, dan Keseimbangan Kepuasan Hidup Kerja: Konsep, Kualitas Kerja, dan Keseimbangan Kepuasan Pelanggan: Konsep, Indikator Kepuasan, dan Loyalitas Kepuasan Pelanggan: Konsep, Indikator Kepuasan, dan Loyalitas Sense of Meaning: Konsep dan Kesejahteraan Psikologis Sense of Meaning: Konsep dan Kesejahteraan Psikologis Kepuasan Pasien terhadap Fasilitas Kesehatan Kepuasan Pasien terhadap Fasilitas Kesehatan Kepuasan Pasien: Konsep, faktor penentu, dan mutu pelayanan Kepuasan Pasien: Konsep, faktor penentu, dan mutu pelayanan Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Kepuasan Pasien Farmasi: Konsep, Determinan, dan Mutu Layanan Kepuasan Layanan Kesehatan: Konsep, Dimensi SERVQUAL, dan Evaluasi Mutu Kepuasan Layanan Kesehatan: Konsep, Dimensi SERVQUAL, dan Evaluasi Mutu Kepuasan Belajar: Konsep dan Faktor Psikologis Kepuasan Belajar: Konsep dan Faktor Psikologis
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…