
Employee Well-Being: Konsep, Kesehatan Kerja, dan Kepuasan
Pendahuluan
Di era modern saat ini, kesejahteraan karyawan atau employee well-being bukan sekadar istilah HR biasa, ini merupakan fondasi penting dalam organisasi yang sehat dan produktif. Karyawan yang mengalami kesejahteraan kerja secara menyeluruh umumnya menunjukkan kinerja lebih tinggi, keterikatan yang lebih kuat, serta tingkat stres dan turnover yang lebih rendah dibandingkan mereka yang kesejahteraannya kurang diperhatikan. Berbagai studi empiris menunjukkan hubungan kuat antara well-being dengan kepuasan kerja, kesehatan kerja, hingga hasil organisasi secara keseluruhan. Oleh karena itu, memahami konsep, dimensi, faktor-faktor yang memengaruhi, serta dampak dari employee well-being adalah keniscayaan dalam dunia manajemen sumber daya manusia kontemporer. ([Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id])
Definisi Employee Well-Being
Definisi Employee Well-Being Secara Umum
Employee well-being secara umum merujuk pada keadaan kesejahteraan yang dipersepsikan oleh seorang karyawan dalam aspek fisik, psikologis, emosional, dan sosial di lingkungan kerja. Konsep ini mencerminkan bagaimana karyawan merasa tentang pekerjaan mereka, bagaimana interaksi mereka dengan rekan kerja, serta bagaimana organisasi mendukung keadaan kesehatan dan kehidupan keseluruhan karyawan. Well-being karyawan mencakup pengalaman positif seperti rasa aman, kepercayaan, kebahagiaan, dan kepuasan hidup yang seimbang antara kehidupan pribadi dan profesional. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
Definisi Employee Well-Being dalam KBBI
Dalam KBBI (meskipun istilah employee well-being tidak langsung tercantum), istilah “kesejahteraan” sendiri berasal dari konsep well-being yang berarti keadaan sejahtera, aman, dan tenteram lahir batin. Kata “bahagia” dalam KBBI dijelaskan sebagai keadaan perasaan senang dan tenteram, yang merupakan salah satu komponen sentral dari well-being secara umum. ([Lihat sumber Disini - kbbi.web.id])
Definisi Employee Well-Being Menurut Para Ahli
-
Maryatmi (2021) mendefinisikan employee well-being sebagai perasaan menyenangkan yang berkaitan dengan seluruh keadaan hidup karyawan dalam konteks pekerjaan, termasuk keseimbangan emosi serta evaluasi diri terhadap pengalaman kerja mereka. ([Lihat sumber Disini - repository.stiegici.ac.id])
-
Wright menyatakan bahwa employee well-being adalah deskripsi personal yang menggambarkan kebahagiaan dan keseimbangan antara emosi positif maupun negatif dalam pengalaman kerja. ([Lihat sumber Disini - repository.stiegici.ac.id])
-
Sirgy menjelaskan bahwa employee well-being mencakup kepuasan karyawan terhadap pengalaman kerja dan hasil partisipasi mereka di tempat kerja. ([Lihat sumber Disini - repository.stiegici.ac.id])
-
Grant et al. (2007) dan Keeman et al. (2017) dalam kajian internasional menyatakan bahwa employee well-being merujuk pada bagaimana individu merasa dan berfungsi di lingkungan kerja mereka, mencakup kesejahteraan mental dan emosional. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com])
Dimensi Employee Well-Being
Employee well-being bukan satu dimensi tunggal; ia terdiri dari beberapa aspek yang saling berinteraksi dalam kehidupan profesional karyawan. Studi terkini menyusun beberapa dimensi penting sebagai berikut:
1. Dimensi Fisik
Dimensi ini mencakup kesehatan jasmani dan kondisi fisik karyawan di tempat kerja, termasuk keamanan, keselamatan, serta beban kerja yang seimbang. Suasana kerja yang mendukung kesehatan fisik membantu menurunkan risiko kelelahan dan kecelakaan kerja. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
2. Dimensi Psikologis
Dimensi psikologis berkaitan dengan keadaan mental karyawan seperti tingkat stres, emosi positif versus negatif, serta kemampuan mengatasi tekanan kerja. Kesejahteraan psikologis berkaitan erat dengan motivasi, rasa percaya diri, stabilitas emosi, dan penerimaan diri. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
3. Dimensi Sosial
Aspek sosial mencerminkan hubungan interpersonal di tempat kerja, dukungan sosial dari rekan dan atasan, serta rasa keterikatan terhadap tim atau organisasi. Hubungan kerja yang positif memperkuat keterlibatan dan komitmen karyawan. ([Lihat sumber Disini - ppipbr.com])
4. Dimensi Kehidupan Pribadi dan Pekerjaan (Life Well-Being)
Dimensi ini mencakup keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dengan kebutuhan kehidupan pribadi, termasuk kualitas hidup dan hubungan keluarga. Karyawan dengan keseimbangan dan dukungan yang baik cenderung mengalami kesejahteraan yang lebih tinggi. ([Lihat sumber Disini - ppipbr.com])
Employee Well-Being dan Kesehatan Kerja
Hubungan antara employee well-being dan kesehatan kerja sangat erat. Kesehatan kerja melibatkan kondisi fisik dan mental karyawan selama bekerja. Ketika perusahaan menyediakan lingkungan kerja yang aman, nyaman, serta mendukung kesehatan mental dan fisik karyawan, employee well-being akan meningkat. Faktor-faktor seperti kebijakan keselamatan kerja, program kesehatan, serta dukungan terhadap keseimbangan kehidupan kerja terbukti berkontribusi terhadap kesejahteraan karyawan secara keseluruhan. ([Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id])
Cara perusahaan mempromosikan employee well-being dalam konteks kesehatan kerja seringkali mencakup program kesehatan fisik dan mental, fasilitas olahraga, fleksibilitas waktu kerja, serta dukungan psikologis yang terstruktur. Ini tidak hanya mengurangi stres kerja tetapi juga berdampak positif pada produktivitas, retensi karyawan, dan citra organisasi di mata calon pekerja. ([Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id])
Faktor Organisasi yang Mempengaruhi Well-Being
Beberapa faktor organisasi memiliki pengaruh signifikan terhadap tingkat employee well-being, di antaranya:
1. Lingkungan Kerja
Fasilitas fisik, keselamatan, beban kerja yang adil, serta suasana kerja yang kondusif merupakan aspek penting yang memengaruhi kesejahteraan karyawan. ([Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id])
2. Dukungan Organisasi dan Kepemimpinan
Persepsi bahwa organisasi mendukung karyawan, termasuk dukungan supervisor yang positif dan saling menghargai, dapat meningkatkan rasa aman dan keterlibatan kerja. ([Lihat sumber Disini - journals2.ums.ac.id])
3. Kebijakan Keseimbangan Kerja dan Kehidupan
Kebijakan yang memfasilitasi keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi seperti kerja fleksibel atau program kesejahteraan kerja membantu mengurangi stres dan meningkatkan well-being. ([Lihat sumber Disini - ejournal.unibabwi.ac.id])
4. Budaya Organisasi
Budaya yang menghargai kesejahteraan karyawan, komunikasi terbuka, serta kesempatan pengembangan diri memperkuat motivasi dan keterikatan karyawan. ([Lihat sumber Disini - repository.unair.ac.id])
Employee Well-Being dan Kepuasan Kerja
Kepuasan kerja merupakan salah satu indikator penting dari employee well-being. Kepuasan kerja mencerminkan evaluasi emosional seseorang terhadap pekerjaannya, termasuk aspek pekerjaan itu sendiri, hubungan dengan rekan kerja, serta penghargaan dan pengakuan. Ketika well-being karyawan tinggi, mereka cenderung melaporkan tingkat kepuasan kerja yang juga tinggi, yang berdampak positif pada produktivitas, keterlibatan, dan loyalitas terhadap organisasi. ([Lihat sumber Disini - mdpi.com])
Hubungan ini bukan kebetulan semata, well-being yang sehat membantu karyawan merasakan nilai pekerjaannya, merasa lebih berdaya dalam peran mereka, serta merasa dihargai, yang semuanya merupakan indikator kuat dari kepuasan kerja. ([Lihat sumber Disini - mdpi.com])
Dampak Well-Being terhadap Kinerja Karyawan
Dampak employee well-being terhadap kinerja karyawan telah dibuktikan oleh berbagai penelitian. Karyawan yang merasa sejahtera secara fisik, mental, dan sosial cenderung menunjukkan:
-
Produktivitas lebih tinggi, karena keterlibatan dan fokus kerja meningkat. ([Lihat sumber Disini - e-jurnal.nobel.ac.id])
-
Retensi karyawan yang lebih baik, karena tingkat turnover menurun ketika kesejahteraan terpenuhi. ([Lihat sumber Disini - e-jurnal.nobel.ac.id])
-
Motivasi kerja yang meningkat, karena kesejahteraan mendukung keterikatan emosional terhadap pekerjaan. ([Lihat sumber Disini - e-jurnal.nobel.ac.id])
-
Hubungan kerja yang lebih baik, karena suasana kerja yang positif memengaruhi interaksi sosial antar karyawan. ([Lihat sumber Disini - e-jurnal.nobel.ac.id])
Singkatnya, investasi dalam kesejahteraan karyawan bukan hanya memberi keuntungan bagi pekerja secara individual tapi juga memperkuat kinerja organisasi secara keseluruhan. ([Lihat sumber Disini - e-jurnal.nobel.ac.id])
Kesimpulan
Employee well-being adalah konsep multidimensional yang mencakup kesehatan fisik, psikologis, sosial, serta keseimbangan antara kehidupan pribadi dan profesional seorang karyawan. Berakar dari gagasan kesejahteraan individu, well-being berperan sebagai fondasi bagi kepuasan kerja, keterikatan kerja, dan kinerja secara keseluruhan. Faktor-faktor organisasi seperti lingkungan kerja, dukungan kepemimpinan, kebijakan keseimbangan kerja, hidup, serta budaya organisasi sangat menentukan tingkat kesejahteraan yang dirasakan. Karyawan dengan well-being tinggi cenderung lebih produktif, termotivasi, dan loyal, sehingga organisasi yang efektif harus menjadikan kesejahteraan karyawan sebagai prioritas strategis dalam pengembangan sumber daya manusianya.