
Kesejahteraan Subjektif: Konsep dan Pengukuran
Pendahuluan
Kesejahteraan merupakan salah satu fokus utama dalam kajian ilmu sosial dan psikologi karena berkaitan langsung dengan kualitas kehidupan individu dan masyarakat. Namun, cara pandang terhadap kesejahteraan tidak selalu sama. Terdapat dua pendekatan besar: kesejahteraan objektif yang berfokus pada kondisi nyata seperti pendapatan dan fasilitas, serta kesejahteraan subjektif yang menekankan pada penilaian pribadi terhadap kehidupannya sendiri. Kesejahteraan subjektif berperan penting dalam memahami bagaimana individu merasakan dan mengevaluasi hidup mereka, termasuk aspek emosional dan kognitif yang tidak otomatis terlihat dari indikator objektif semata. Konsep ini penting bukan hanya dalam kajian akademik, tetapi juga dalam kebijakan sosial untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara holistik. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Kesejahteraan Subjektif
Definisi Kesejahteraan Subjektif secara Umum
Kesejahteraan subjektif mengacu pada evaluasi pribadi individu terhadap kehidupannya sendiri, baik secara emosional maupun kognitif. Dalam konteks ini, kesejahteraan subjektif mencakup perasaan bahagia, tingkat kepuasan hidup, serta ketidakhadiran emosi negatif seperti kesedihan atau stres. Evaluasi ini mencerminkan bagaimana seseorang secara sadar menilai kualitas hidup mereka tanpa semata melihat aspek-aspek eksternal seperti pendapatan atau aset. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Definisi Kesejahteraan Subjektif dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kesejahteraan subjektif dapat direpresentasikan sebagai perasaan tentram, bahagia, dan puas yang dirasakan setiap individu terhadap kehidupannya sendiri, di mana penilaian ini bersifat pribadi dan tergantung pada persepsi individu terhadap pengalaman hidupnya. Penilaian subjektif ini tidak selalu sejalan dengan kondisi sosial objektif yang terlihat dari luar. (Sumber: KBBI Online, definisi kesejahteraan dan kebahagiaan)
Definisi Kesejahteraan Subjektif Menurut Para Ahli
-
Ed Diener (2000) mendefinisikan kesejahteraan subjektif sebagai penilaian individu terhadap kehidupan mereka secara keseluruhan, yang meliputi afek positif (emosi menyenangkan), afek negatif (emosi tidak menyenangkan), dan kepuasan hidup. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Diener, Oishi, & Lucas (2003) menjelaskan bahwa kesejahteraan subjektif merupakan evaluasi kognitif dan emosional individu terhadap kehidupannya sendiri, sering diukur melalui frekuensi emosi positif, rendahnya emosi negatif, dan persepsi personal tentang kepuasan hidup. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Compton (2005) memandang kesejahteraan subjektif mencakup dua variabel utama: kebahagiaan dan kepuasan hidup, di mana keduanya adalah hasil evaluasi pribadi atas pengalaman hidup. [Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id]
-
R Yuniasanti (2024) mengungkap bahwa kesejahteraan subjektif mencakup respon emosional individu, penilaian domain kehidupan, dan evaluasi global atas kepuasan hidup, menunjukkan bahwa persepsi pribadi adalah inti dari konsep ini. [Lihat sumber Disini - journals2.ums.ac.id]
Komponen Kesejahteraan Subjektif
Kesejahteraan subjektif biasanya dibagi menjadi komponen utama yang saling terkait:
-
Komponen Kognitif (Life Satisfaction)
Komponen ini mengacu pada penilaian keseluruhan individu tentang kehidupannya, bukan sekadar emosi sesaat namun kesadaran evaluatif terhadap pencapaian, tujuan hidup, serta persepsi apakah kehidupan memuaskan atau tidak. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Komponen Afektif (Affect)
Komponen afektif meliputi emosi yang dialami, baik yang positif seperti kegembiraan dan rasa syukur, maupun yang negatif seperti kecemasan dan kesedihan. Tingginya frekuensi emosi positif dan rendahnya frekuensi emosi negatif merupakan indikator kesejahteraan subjektif yang kuat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Komponen Eudaimonic (Makna dan Tujuan Hidup)
Beberapa pendekatan juga menambahkan komponen eudaimonic, yakni aspek yang berkaitan dengan makna hidup, tujuan pribadi, dan aktualisasi diri, meskipun kadang dipisahkan dari model kognitif-afektif. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Komponen tersebut menunjukkan bahwa kesejahteraan subjektif bukan hanya soal perasaan bahagia, tetapi juga penilaian kognitif terhadap kualitas hidup secara menyeluruh.
Faktor yang Mempengaruhi Kesejahteraan Subjektif
Beragam penelitian telah mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal yang memengaruhi tingkat kesejahteraan subjektif seseorang:
Faktor Internal
-
Kepribadian dan Self-Esteem, Individu dengan self-esteem tinggi cenderung melaporkan kesejahteraan subjektif yang lebih tinggi karena pandangan positif terhadap diri sendiri. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Gratitude (Rasa Syukur), Individu yang sering mempraktekkan rasa syukur menunjukkan tingkat emosi positif yang lebih tinggi, yang berkontribusi pada kesejahteraan subjektif. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Spiritualitas dan Pengendalian Diri, Faktor-faktor psikologis lain seperti spiritualitas dan kontrol diri juga terbukti memengaruhi persepsi kehidupan dan kesejahteraan mental. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Faktor Eksternal
-
Dukungan Sosial, Rasa didukung oleh keluarga, teman, dan lingkungan sosial dapat meningkatkan perasaan bahagia dan kepuasan hidup. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Hubungan Interpersonal, Hubungan yang sehat dengan orang lain terbukti memiliki kontribusi kuat terhadap kesejahteraan subjektif, karena interaksi sosial memengaruhi emosi positif. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id]
-
Kondisi Ekonomi dan Lingkungan, Walaupun bukan komponen subjektif itu sendiri, keadaan ekonomi dan lingkungan hidup dapat memengaruhi persepsi seseorang terhadap kualitas hidupnya secara tidak langsung. [Lihat sumber Disini - journal.ubaya.ac.id]
Kesejahteraan Subjektif dan Emosi
Aspek emosional merupakan bagian inti dari kesejahteraan subjektif karena emosi menjadi pengalaman langsung individu atas hidupnya:
-
Kesejahteraan subjektif ditandai oleh afek positif yang dominan dan afek negatif yang minim, yang masing-masing mencerminkan keadaan emosional keseharian individu. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Emosi positif seperti rasa syukur, kegembiraan, dan optimisme mampu meningkatkan fokus individu terhadap aspek positif hidupnya.
-
Sebaliknya, emosi negatif seperti kecemasan atau depresi memiliki dampak menurunkan persepsi kualitas hidup.
Keseimbangan antara emosi positif dan negatif mencerminkan aspek hedonic dari kesejahteraan subjektif, yaitu pengalaman menyenangkan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kesejahteraan Subjektif dalam Kehidupan Individu
Dalam kehidupan sehari-hari, kesejahteraan subjektif memainkan peranan penting:
-
Individu yang tingkat kesejahteraan subjektifnya tinggi mampu lebih produktif, memiliki hubungan sosial yang lebih baik, dan cenderung lebih sehat secara mental. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Pada konteks pendidikan, mahasiswa yang memiliki kesejahteraan subjektif tinggi menunjukkan kapasitas yang lebih baik untuk mengelola stres akademik dan motivasi belajar. [Lihat sumber Disini - jurnal.untag-sby.ac.id]
-
Di lingkungan kerja, tingkat kesejahteraan subjektif karyawan memengaruhi motivasi, kreatifitas, dan hubungan interpersonal dalam organisasi.
-
Untuk individu secara umum, kesejahteraan subjektif berhubungan erat dengan kualitas hidup yang dialami sehari-hari, bukan sekadar pencapaian objektif.
Pengukuran Kesejahteraan Subjektif
Pengukuran kesejahteraan subjektif dilakukan dengan instrumen yang fokus pada penilaian persepsi pribadi:
-
Life Satisfaction Scale, Mengukur kepuasan individu terhadap kehidupan secara keseluruhan dari perspektif personal.
-
Positive and Negative Affect Schedule (PANAS), Mengukur frekuensi emosi positif dan negatif yang dialami dalam rentang waktu tertentu.
-
SWLS (Satisfaction With Life Scale), Salah satu instrumen paling sering digunakan dalam penelitian kesejahteraan subjektif karena reliabilitasnya dalam menilai persepsi life satisfaction.
Pengukuran ini dilakukan melalui survei self-report karena kesejahteraan subjektif harus dinilai langsung oleh individu yang bersangkutan, bukan melalui penilaian pihak ketiga atau indikator objektif seperti pendapatan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Kesimpulan
Kesejahteraan subjektif adalah konsep penting yang menjelaskan bagaimana individu secara pribadi merasakan dan mengevaluasi kehidupan mereka sendiri, termasuk aspek emosional dan kognitif. Ini tidak hanya melibatkan evaluasi afektif seperti frekuensi emosi positif dan negatif, tetapi juga penilaian kognitif terhadap kepuasan hidup secara keseluruhan. Kesejahteraan subjektif dipengaruhi oleh beragam faktor internal seperti self‐esteem dan rasa syukur, serta faktor eksternal seperti dukungan sosial. Pengukuran kesejahteraan subjektif dilakukan dengan instrumen self-report yang menangkap persepsi individu secara langsung. Memahami kesejahteraan subjektif membantu masyarakat, akademisi, dan pembuat kebijakan untuk merumuskan strategi yang dapat meningkatkan kualitas hidup dari perspektif yang paling penting, yaitu pengalaman dan penilaian personal individu.