
Employee Engagement: Konsep, Keterikatan Kerja, dan Kinerja
Pendahuluan
Employee engagement kini menjadi fokus utama dalam manajemen sumber daya manusia modern karena keterikatan karyawan pada pekerjaannya ternyata tidak hanya berdampak pada kepuasan kerja, tetapi juga erat kaitannya dengan kinerja dan produktivitas organisasi. Organisasi yang berhasil menciptakan lingkungan kerja di mana karyawan merasa terlibat secara emosional, intelektual, dan perilaku akan mengalami performa lebih baik, tingkat turnover lebih rendah, serta loyalitas yang kuat dari karyawan mereka. Konsep ini muncul sebagai respon terhadap tuntutan pasar yang semakin kompetitif di mana modal manusia menjadi sumber daya utama yang menentukan kelangsungan organisasi dalam jangka panjang ([Lihat sumber Disini - gallup.com]).
Employee engagement jauh lebih dari sekadar kepuasan kerja. Ini meliputi bagaimana karyawan secara aktif berkontribusi, menunjukkan antusiasme terhadap tugasnya, serta merasa selaras dengan nilai dan tujuan organisasi. Perubahan lingkungan kerja, globalisasi serta kebutuhan akan inovasi membuat keterikatan karyawan menjadi salah satu dimensi penting dalam strategi pengelolaan manusia di organisasi kontemporer. Makalah ini akan membahas definisi, dimensi, faktor, hubungan dengan kepuasan kerja dan kinerja, serta strategi meningkatkan employee engagement di organisasi. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])
Definisi Employee Engagement
Definisi Employee Engagement Secara Umum
Employee engagement secara umum menggambarkan tingkat keterlibatan dan komitmen karyawan terhadap organisasi serta perannya di dalamnya. Dalam tinjauan literatur mengenai keterikatan karyawan, employee engagement dijelaskan sebagai keadaan psikologis di mana karyawan secara aktif terlibat dalam pekerjaan mereka, merasakan antusiasme, dan menunjukkan dedikasi dalam pencapaian tujuan organisasi. Tingkat keterikatan ini mencerminkan investasi energi emosional, kognitif, dan perilaku yang diberikan karyawan terhadap pekerjaannya serta organisasi secara keseluruhan ([Lihat sumber Disini - media.neliti.com]).
Employee engagement juga dapat diartikan sebagai seberapa dalam karyawan merasa memiliki peran penting dan merasa terhubung dengan nilai-nilai serta budaya organisasi tempat ia bekerja. Karyawan yang terlibat cenderung menunjukkan partisipasi aktif dalam kegiatan kerja, mengambil inisiatif serta mendukung pencapaian target organisasi secara konsisten. ([Lihat sumber Disini - gallup.com]).
Definisi Employee Engagement dalam KBBI
Secara linguistik, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak menyediakan entri eksplisit untuk istilah “employee engagement”. Namun, dapat kita simpulkan istilah ini sebagai “keterikatan kerja” atau hubungan emosional yang dimiliki karyawan terhadap pekerjaannya dan tempat dia bekerja. Dalam konteks sumber daya manusia, istilah ini menekankan pada perasaan loyalitas, komitmen, dan motivasi internal karyawan dalam melakukan pekerjaannya, sehingga menciptakan kontribusi yang lebih dari sekadar kewajiban kontraktual. Dalam kajian psikologi industri, istilah keterikatan kerja sering dipahami sebagai bagian dari motivasi kerja yang kompleks. ([Lihat sumber Disini - talenta.usu.ac.id]).
Definisi Employee Engagement Menurut Para Ahli
-
Kahn (1990), Employee engagement merupakan kondisi psikologis di mana individu secara fisik, emosional, dan kognitif mengekspresikan diri mereka dalam peran pekerjaan mereka, sehingga mereka benar-benar terlibat dan menunjukkan komitmen terhadap pekerjaan yang dilakukan. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]).
-
Schaufeli et al. (2002), Work engagement didefinisikan sebagai sebuah kondisi psikis yang positif dan terpenuhi berkaitan dengan pekerjaan, ditandai dengan tiga dimensi utama: vigor (energi dan ketahanan), dedication (dedikasi kuat), dan absorption (terserap secara penuh dalam pekerjaan). ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]).
-
Bakker & Albrecht (2018), Engagement adalah keadaan ketika karyawan memberikan kontribusi secara signifikan terhadap produktivitas dan menunjukkan komitmen tinggi terhadap tugasnya, sehingga berkontribusi terhadap hasil kerja yang superior. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]).
-
Rich et al. (2010), Engagement ditafsirkan sebagai investasi energi fisik, emosional, dan kognitif individu dalam kinerja kerja aktif, mencerminkan keterlibatan penuh karyawan dengan tugas serta organisasi. ([Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]).
Dimensi Employee Engagement
Employee engagement bukan sekadar satu konsep tunggal, tetapi terdiri dari beberapa dimensi utama yang mencerminkan berbagai aspek keterlibatan karyawan di dalam organisasi, yaitu:
1. Vigor (Energi dan Ketahanan)
Vigor menggambarkan tingkat energi, ketahanan terhadap stres, dan keaktifan karyawan dalam menjalankan tugasnya. Karyawan yang memiliki vigor tinggi cenderung tidak mudah lelah, tetap termotivasi meskipun menghadapi tantangan, dan siap menghadapi beban pekerjaan berat. Vigor merupakan fondasi penting dalam keterlibatan karena tanpa energi dan kekuatan fisik serta mental, karyawan tidak dapat benar-benar engagement dalam pekerjaannya. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]).
2. Dedication (Dedikasi Tinggi)
Dedikasi mencerminkan perasaan bangga, terserap secara emosional dan terikat secara batin pada pekerjaannya. Karyawan yang memiliki dedikasi tinggi merasa pekerjaannya bermakna dan secara internal termotivasi untuk memberikan hasil terbaik. Mereka menunjukkan komitmen emosional kepada organisasi yang melampaui sekadar tugas formal. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]).
3. Absorption (Keterlibatan Penuh)
Absorption berarti karyawan begitu tenggelam dalam tugasnya hingga waktu terasa cepat berlalu. Pada tingkat ini, individu merasa fokus, penuh perhatian terhadap pekerjaan, dan sulit untuk melepaskan diri dari tugas yang sedang dijalankan. Hal ini menunjukkan kehadiran kognitif dan emosional penuh karyawan dalam pekerjaannya. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]).
Keberhasilan implementasi ketiga dimensi ini dalam manajemen SDM akan memperkuat hubungan karyawan dengan tujuan organisasi, menciptakan loyalitas serta peningkatan produktivitas kerja. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]).
Faktor yang Mempengaruhi Employee Engagement
Employee engagement tidak muncul begitu saja. Ada banyak faktor internal dan eksternal yang dapat mempengaruhinya, di antaranya:
1. Komunikasi Internal yang Efektif
Komunikasi adalah kunci hubungan antara organisasi dan karyawan. Karyawan yang mendapatkan informasi yang jelas, terbuka, dan transparan dari pimpinan cenderung merasa dihargai, sehingga meningkatkan keterikatan terhadap pekerjaan mereka. Komunikasi internal yang buruk dapat menimbulkan ketidakpastian, rendahnya motivasi kerja, dan menurunkan keterikatan karyawan. ([Lihat sumber Disini - publish.ojs-indonesia.com]).
2. Lingkungan Kerja Negara Mendukung
Lingkungan kerja yang nyaman secara fisik dan psikologis memungkinkan karyawan merasa aman serta bebas berekspresi, sehingga mampu meningkatkan motivasi dan keterlibatan mereka dalam pekerjaan. Hal ini termasuk juga hubungan interpersonal antar rekan kerja yang saling mendukung. ([Lihat sumber Disini - journal.stiemb.ac.id]).
3. Kepemimpinan Positif
Gaya kepemimpinan yang mendukung, komunikatif, inspiratif, serta memberi penghargaan pada kontribusi karyawan dapat memperkuat engagement, karena karyawan merasa dihargai serta dipandang punya peran penting dalam organisasi. ([Lihat sumber Disini - jurnal.umsu.ac.id]).
4. Pembelajaran dan Pengembangan
Program pelatihan dan pembelajaran berkelanjutan membuat karyawan merasa organisasi memperhatikan perkembangan karier mereka, sehingga mampu menciptakan rasa memiliki dan keterlibatan yang lebih tinggi. ([Lihat sumber Disini - publish.ojs-indonesia.com]).
5. Motivasi dan Komitmen Organisasi
Motivasi yang sehat dan komitmen organisasi dapat meningkatkan keterikatan karyawan dalam bekerja karena mereka merasa pekerjaan mereka berarti dan sejalan dengan tujuan pribadi serta organisasi. ([Lihat sumber Disini - ijsoc.goacademica.com]).
Faktor-faktor ini harus diperhatikan oleh organisasi jika ingin membangun keterikatan kerja yang kuat, karena tanpa dukungan yang tepat, tingkat employee engagement dapat tetap rendah dan berpengaruh negatif pada hasil organisasi. ([Lihat sumber Disini - publish.ojs-indonesia.com]).
Employee Engagement dan Kepuasan Kerja
Hubungan antara employee engagement dan kepuasan kerja sangat erat. Kepuasan kerja merupakan persepsi karyawan terhadap pekerjaannya, termasuk aspek gaji, kondisi kerja, hubungan antar rekan, serta penghargaan dari perusahaan. Sementara employee engagement lebih mendalam karena mencakup keterikatan emosional dan penuh dari individu pada perannya bekerja.
Korelasi Dua Konsep
Penelitian menunjukkan bahwa employee engagement berdampak signifikan terhadap kepuasan kerja. Karyawan yang merasa terlibat cenderung mengalami kepuasan kerja lebih tinggi karena mereka merasakan nilai dan makna dari pekerjaan mereka, merasa dihargai oleh organisasi, serta memiliki ikatan emosional positif dengan tugas dan tujuan organisasi. ([Lihat sumber Disini - ijsoc.goacademica.com]).
Dampak Terhadap Produktivitas
Karyawan yang terlibat secara emosional umumnya memiliki kepuasan kerja yang lebih baik, yang selanjutnya mendorong peningkatan produktivitas, kreativitas, dan loyalitas terhadap organisasi. Kondisi ini membuat organisasi mampu mempertahankan karyawan terbaiknya dan menurunkan angka turnover. ([Lihat sumber Disini - media.neliti.com]).
Employee Engagement dan Kinerja Karyawan
Employee engagement terbukti berkontribusi langsung terhadap kinerja karyawan. Kinerja di sini mencakup efektivitas kerja, pencapaian target, kualitas hasil kerja, serta produktivitas personal maupun tim.
Hubungan Langsung
Penelitian empiris banyak menunjukkan adanya hubungan positif antara employee engagement dengan kinerja. Karyawan yang memiliki keterikatan kuat cenderung bekerja dengan antusias, menyelesaikan tanggung jawab secara optimal, serta berinisiatif dalam pemecahan masalah sehingga berkontribusi terhadap kinerja organisasi secara keseluruhan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.stie-aas.ac.id]).
Beberapa studi menunjukkan bahwa elemen keterikatan seperti vigor, dedication, dan absorption berpengaruh langsung terhadap performa kerja karena karyawan yang terlibat mampu menjaga konsistensi kerja, bekerja lebih efektif serta tahan terhadap tekanan kerja. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]).
Efek Produktivitas dan Kesuksesan Organisasi
Karyawan yang engaged tidak hanya menunjukkan kinerja yang tinggi, tetapi juga mendorong inovasi kerja, kerja sama tim yang baik, dan loyalitas jangka panjang. Hal ini berdampak pada peningkatan kualitas layanan organisasi serta pencapaian tujuan strategis perusahaan. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net]).
Strategi Meningkatkan Employee Engagement
Untuk membangun dan meningkatkan keterikatan kerja, organisasi perlu menerapkan sejumlah strategi efektif:
1. Meningkatkan Komunikasi Internal
Pastikan jalur komunikasi organisasi berjalan dua arah, terbuka, transparan, serta responsif terhadap masukan karyawan. Komunikasi yang baik membantu menciptakan lingkungan kerja yang suportif, sehingga karyawan merasa dihargai dan lebih terlibat dalam pencapaian tujuan perusahaan. ([Lihat sumber Disini - publish.ojs-indonesia.com]).
2. Pelatihan dan Pengembangan Berkelanjutan
Menyediakan peluang pelatihan karier, coaching, sertifikasi, serta pembelajaran kompetensi secara berkala dapat membuat karyawan merasa organisasi memperhatikan perkembangan mereka. Hal ini meningkatkan motivasi dan keterikatan. ([Lihat sumber Disini - publish.ojs-indonesia.com]).
3. Pemberdayaan dan Kepemimpinan Transformasional
Manajer dan pimpinan yang dapat memberdayakan, memberi dukungan serta inspirasi mampu mendorong keterikatan karyawan melalui hubungan kerja yang positif. Kepemimpinan yang baik menciptakan suasana kerja inklusif yang berpengaruh pada partisipasi dan komitmen karyawan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.umsu.ac.id]).
4. Pengakuan dan Penghargaan
Memberikan pengakuan atas pencapaian kerja serta sistem penghargaan yang adil dapat meningkatkan rasa bangga dan loyalitas karyawan terhadap organisasi. Pengakuan yang tepat waktu membuat karyawan merasa kontribusinya dihargai, sehingga engagement meningkat. ([Lihat sumber Disini - gallup.com]).
5. Budaya Organisasi yang Mendukung
Menciptakan budaya organisasi yang inklusif, menghargai perbedaan, serta memberi ruang dialog memungkinkan terciptanya rasa aman psikologis yang penting bagi keterikatan karyawan. Budaya yang sehat membuat karyawan tetap termotivasi dan terlibat dalam kegiatan kerja sehari-hari. ([Lihat sumber Disini - journal.stiemb.ac.id]).
Kesimpulan
Employee engagement merupakan konsep kunci dalam manajemen sumber daya manusia modern yang mencerminkan keterikatan emosional, kognitif, dan perilaku karyawan terhadap pekerjaan dan organisasi. Didefinisikan oleh berbagai ahli melalui kondisi keterlibatan penuh seperti vigor, dedication, dan absorption, engagement tidak hanya mencerminkan kepuasan kerja semata tetapi juga memengaruhi kinerja serta produktivitas organisasi secara keseluruhan. Faktor-faktor seperti komunikasi internal, kepemimpinan, lingkungan kerja, dan pembelajaran berkelanjutan menjadi determinan penting dalam membangun keterikatan kerja.
Karyawan yang engaged cenderung memiliki kepuasan kerja lebih tinggi dan menunjukkan kinerja kerja yang unggul, berkontribusi terhadap inovasi dan pencapaian tujuan strategis organisasi. Strategi seperti peningkatan komunikasi, pemberdayaan, penghargaan, dan budaya kerja positif dapat meningkatkan engagement sehingga mendukung keberhasilan jangka panjang organisasi.