
Evaluasi Penggunaan Obat Antiinflamasi Non-Steroid (OAINS)
Pendahuluan
Obat Antiinflamasi Non-Steroid (OAINS) merupakan salah satu golongan obat yang paling sering digunakan di fasilitas pelayanan kesehatan maupun secara bebas di masyarakat untuk mengatasi nyeri, demam, dan inflamasi. Obat ini berperan penting dalam manajemen nyeri akut maupun kronis, termasuk nyeri muskuloskeletal, artritis, dismenore, serta kondisi inflamasi lainnya. Namun, manfaat klinis OAINS juga dipengaruhi oleh risiko efek samping yang khas, terutama pada sistem gastrointestinal dan ginjal, yang dapat membatasi penggunaannya tanpa pengawasan medis yang tepat. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh atas indikasi, pola penggunaan, dosis dan durasi, serta strategi edukasi pasien menjadi hal yang krusial untuk memastikan penggunaan OAINS yang aman dan rasional, khususnya dalam praktik klinik di Indonesia maupun global.
Definisi Obat Antiinflamasi Non-Steroid (OAINS)
Definisi OAINS Secara Umum
Obat Antiinflamasi Non-Steroid (OAINS) adalah kelompok obat yang memiliki efek analgesik (pereda nyeri), antipiretik (penurun demam), dan antiinflamasi (mengurangi peradangan). OAINS bekerja dengan menghambat enzim siklooksigenase (COX) yang diperlukan untuk sintesis prostaglandin, mediator kimia yang berperan dalam proses inflamasi dan nyeri. Dengan demikian, OAINS sering dipilih sebagai terapi lini pertama untuk kondisi nyeri ringan sampai sedang yang disertai inflamasi. Pengetahuan tentang mekanisme kerja OAINS membantu tenaga kesehatan menentukan indikasi yang tepat serta meminimalkan risiko efek samping yang merugikan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi OAINS dalam KBBI
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, istilah “antiinflamasi” menunjukkan sesuatu yang mengurangi atau mencegah peradangan. Obat antiradang non-steroid kemudian diartikan sebagai obat yang berfungsi sebagai pereda inflamasi tanpa memiliki struktur steroid, berbeda dari obat kortikosteroid, yang merupakan golongan antiinflamasi berbasis hormon. Definisi ini menekankan bahwa OAINS menawarkan efek antiinflamasi tanpa mekanisme kerja steroidal, sehingga sering dipilih karena profil efek metabolik yang berbeda dibandingkan steroid.
Definisi OAINS Menurut Para Ahli
-
Ghlichloo & Gerriets (2023) mendefinisikan NSAIDs sebagai kelas obat yang digunakan untuk mengatasi nyeri, demam, dan proses inflamasi melalui penghambatan enzim COX. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Menurut Rekomendasi Perhimpunan Reumatologi Indonesia (IRA), OAINS merupakan terapi farmakologi yang sering dipakai untuk mengatasi nyeri muskuloskeletal dan berbagai kondisi inflamasi, namun memerlukan pemahaman tentang efek samping dan penggunaannya yang tepat. [Lihat sumber Disini - reumatologi.or.id]
-
Olivia et al. (2024)** dalam penelitian rasionalitas penggunaan OAINS di puskesmas menyebut OAINS sebagai obat yang efektif namun berisiko jika digunakan tanpa indikasi yang jelas dan dosis yang sesuai. [Lihat sumber Disini - online-journal.unja.ac.id]
-
Sriwahyuni et al. (2023) menegaskan bahwa rasionalitas penggunaan OAINS mencakup ketepatan indikasi, obat, dosis, dan interval pemberian agar dapat memaksimalkan efektivitas sekaligus meminimalkan efek samping. [Lihat sumber Disini - jurnal-pharmaconmw.com]
Indikasi Penggunaan OAINS pada Pasien
OAINS diindikasikan dalam berbagai kondisi klinis di mana peradangan dan nyeri merupakan bagian dari manifestasi penyakit. Indikasi utama meliputi nyeri akut akibat cedera otot dan sendi, nyeri kronis pada osteoarthritis dan rheumatoid arthritis, serta nyeri dismenore dan nyeri pascaoperasi. Secara farmakologis, OAINS efektif meredakan gejala inflamasi dengan menurunkan produksi prostaglandin melalui penghambatan enzim COX-1 dan COX-2, sehingga mengurangi peradangan, nyeri, dan demam. [Lihat sumber Disini - australianprescriber.tg.org.au]
Studi rasionalitas penggunaan OAINS di puskesmas menunjukkan bahwa OAINS diresepkan terutama pada kasus muskuloskeletal dan artritis, dengan natrium diklofenak dan asam mefenamat sebagai obat yang paling sering digunakan. Pemberian yang tepat indikasi mencapai hampir 97% dalam beberapa penelitian, yang menunjukkan bahwa OAINS umumnya diberikan sesuai kebutuhan klinis yang tepat di fasilitas primer. [Lihat sumber Disini - online-journal.unja.ac.id]
Walaupun begitu, perlu diingat bahwa tidak semua nyeri memerlukan penggunaan OAINS, misalnya nyeri neuropatik yang didominasi oleh mekanisme nyeri non-prostaglandin tidak begitu responsif terhadap OAINS. Oleh karena itu, ketepatan diagnosis sebelum pemberian OAINS adalah hal yang sangat penting guna memaksimalkan manfaat terapi dan meminimalkan risiko efek samping. [Lihat sumber Disini - australianprescriber.tg.org.au]
Risiko Efek Samping Gastrointestinal dan Ginjal
Penggunaan OAINS juga membawa risiko efek samping yang signifikan, terutama pada sistem gastrointestinal (GI) dan ginjal. Secara fisiologis, inhibisi prostaglandin oleh OAINS mengurangi perlindungan mukosa lambung terhadap asam, sehingga predisposisi terhadap gastritis, tukak lambung, dan perdarahan GI meningkat. Risiko ini meningkat secara dosis-tergantung, terutama pada OAINS non-selektif yang menghambat COX-1 yang berperan penting dalam perlindungan mukosa saluran pencernaan. [Lihat sumber Disini - cureus.com]
Selain itu, OAINS memiliki efek pada ginjal karena prostaglandin berperan dalam mempertahankan aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus, terutama pada situasi stres hemodinamik seperti dehidrasi atau insufisiensi jantung. Inhibisi prostaglandin oleh OAINS dapat menyebabkan penurunan perfusi ginjal, akut gagal ginjal, dan berkontribusi terhadap progresi penyakit ginjal kronis jika digunakan secara jangka panjang, terutama pada populasi yang berisiko tinggi seperti pasien lanjut usia dan mereka dengan gangguan ginjal awal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Efek-efek samping ini menunjukkan pentingnya ketelitian dalam memilih pasien yang layak menerima OAINS serta kebutuhan untuk monitoring fungsi gastrointestinal dan renal selama terapi, termasuk penggunaan gastroprotektor seperti proton pump inhibitor pada pasien berisiko tinggi efek samping GI. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Pola Penggunaan OAINS di Masyarakat
Pola penggunaan OAINS di masyarakat, termasuk di fasilitas primer seperti puskesmas dan klinik rawat jalan, umumnya menunjukkan bahwa obat ini digunakan luas untuk nyeri dan inflamasi muskuloskeletal. Penelitian yang dilakukan di beberapa puskesmas di Indonesia mengungkap bahwa jenis OAINS seperti natrium diklofenak, asam mefenamat, dan ibuprofen sering diresepkan, dan rasionalitas indikasi umumnya tinggi (>80, 95%). [Lihat sumber Disini - journal.untar.ac.id]
Namun demikian, pola penggunaan masyarakat juga menunjukkan tantangan ketepatan dosis dan interval pemberian. Beberapa resep dilaporkan memberikan dosis OAINS yang kurang atau tidak sesuai standar terapi yang direkomendasikan, yang dapat berdampak pada efektivitas serta meningkatkan risiko efek samping jika terapi diberikan terlalu sering atau dalam durasi yang panjang tanpa pengawasan klinis. [Lihat sumber Disini - online-journal.unja.ac.id]
Di luar setting klinik formal, penggunaan OAINS juga sering terjadi secara bebas (OTC) oleh pasien tanpa konsultasi tenaga kesehatan, yang berpotensi meningkatkan risiko penggunaan tidak rasional termasuk kombinasi dengan obat lain, penggunaan jangka panjang tanpa indikasi akurat, serta kurangnya monitoring dampak efek samping. Oleh karena itu, pola penggunaan OAINS di masyarakat menuntut intervensi edukasi dan pengawasan yang lebih baik dari petugas kesehatan.
Evaluasi Ketepatan Dosis dan Durasi
Ketepatan dosis dan durasi pemberian OAINS merupakan aspek penting dalam evaluasi penggunaan obat ini. Berbagai penelitian evaluasi rasionalitas telah menilai bahwa meskipun indikasi OAINS biasanya tepat, ketepatan dosis dan interval sering kali masih kurang optimal. Misalnya, beberapa resep ibuprofen diberikan dengan dosis yang rendah atau frekuensi yang tidak sesuai dengan rekomendasi standar, sehingga dapat mengurangi efek terapeutik tanpa benar-benar meminimalkan risiko efek samping. [Lihat sumber Disini - online-journal.unja.ac.id]
Rekomendasi klinis umumnya menyarankan pemberian OAINS pada dosis terendah yang efektif dan durasi sesingkat mungkin sesuai kebutuhan klinis, guna menurunkan risiko efek samping sistemik seperti gangguan gastrointestinal dan ginjal. Ketidaktepatan dalam dosis atau durasi jangka panjang tanpa pengawasan dapat meningkatkan risiko toksisitas dan komplikasi serius, terutama pada pasien dengan komorbiditas seperti gangguan fungsi hati atau ginjal.
Evaluasi penggunaan OAINS di beberapa fasilitas kesehatan juga menekankan kebutuhan pemilihan jenis OAINS yang tepat berdasarkan kondisi pasien serta penyusunan pedoman dosis dan durasi yang lebih ketat untuk meningkatkan rasionalitas terapi. [Lihat sumber Disini - online-journal.unja.ac.id]
Peran Edukasi dalam Penggunaan OAINS yang Aman
Edukasi pasien dan tenaga kesehatan memainkan peran penting dalam penggunaan OAINS yang aman dan rasional. Edukasi perlu mencakup pemahaman tentang indikasi yang tepat, pengetahuan tentang risiko efek samping gastrointestinal dan renal, serta pentingnya mengikuti dosis dan durasi yang direkomendasikan. Selain itu, pasien perlu didorong untuk melaporkan gejala efek samping dini, seperti nyeri perut, perubahan pola buang air kecil, atau tanda-tanda perdarahan.
Edukasi juga mencakup kesiapan tenaga kesehatan untuk memberikan informasi yang jelas tentang interaksi obat potensial, risiko pada populasi rentan seperti lanjut usia atau pasien dengan penyakit kronis, serta strategi perlindungan GI jika diperlukan. Intervensi edukasi yang efektif dapat meningkatkan kepatuhan pasien terhadap terapi yang diresepkan sekaligus mengurangi praktik penggunaan OAINS secara bebas tanpa pertimbangan klinis yang tepat.
Kesimpulan
Evaluasi penggunaan OAINS menunjukkan bahwa meskipun obat ini memiliki peran terapeutik yang penting dalam manajemen nyeri dan inflamasi, penggunaan yang tepat sangat bergantung pada indikasi klinis yang akurat, ketepatan dosis dan durasi terapi, serta pemahaman risiko efek samping gastrointestinal dan renal. Studi rasionalitas penggunaan di fasilitas primer menunjukkan bahwa OAINS umumnya diresepkan secara rasional dari sisi indikasi, tetapi tantangan tetap ada dalam ketepatan dosis dan durasi pemberian. Edukasi yang berkelanjutan kepada pasien dan tenaga kesehatan menjadi kunci untuk memaksimalkan manfaat klinis sekaligus meminimalkan dampak negatif, sehingga penggunaan OAINS dapat lebih aman, efektif, dan sesuai dengan prinsip rasional terapi obat.