
Model Evaluasi Formatif dan Sumatif
Pendahuluan
Evaluasi dalam pendidikan memiliki peranan penting sebagai alat untuk mengukur, memantau, dan meningkatkan kualitas proses belajar-mengajar. Tanpa evaluasi, pendidik dan institusi tidak akan memiliki gambaran yang jelas tentang seberapa jauh peserta didik memahami materi, menguasai kompetensi, atau mencatat perkembangan belajar mereka. Dalam konteks ini, dua model evaluasi yang sering digunakan adalah evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Kedua model ini memiliki karakteristik, tujuan, dan fungsi berbeda, namun jika diterapkan secara tepat dan komplementer, keduanya dapat memaksimalkan efektivitas pembelajaran. Oleh sebab itu, penting untuk memahami definisi, karakteristik, serta penerapan model evaluasi formatif dan sumatif secara mendalam.
Definisi Model Evaluasi Formatif dan Sumatif
Definisi Secara Umum
Secara umum, evaluasi formatif dan sumatif adalah dua jenis penilaian yang berbeda dalam proses dan tujuan. Evaluasi formatif dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung, dengan tujuan memberi umpan balik (feedback) untuk memperbaiki proses belajar dan mengidentifikasi kesulitan siswa sedini mungkin. Sebaliknya, evaluasi sumatif dilakukan di akhir suatu periode atau unit pembelajaran untuk menilai tingkat pencapaian hasil belajar peserta didik secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - poorvucenter.yale.edu]
Evaluasi formatif sering disebut “assessment for learning”, artinya penilaian yang mendukung proses belajar agar siswa bisa berkembang dan memahami materi dengan baik. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Sementara itu, evaluasi sumatif disebut “assessment of learning”, yakni penilaian untuk mengukur hasil belajar atau pencapaian kompetensi siswa setelah proses belajar selesai. [Lihat sumber Disini - poorvucenter.yale.edu]
Definisi dalam KBBI
Menurut daftar kata dalam kamus resmi di Indonesia, definisi “evaluasi” merujuk pada penilaian atau pengukuran terhadap sesuatu untuk menentukan nilai, kualitas, atau efektivitasnya. Meskipun dalam KBBI mungkin tidak membedakan “formatif” dan “sumatif” secara spesifik, istilah evaluasi mengandung makna umum sebagai proses pemberian penilaian terhadap hasil atau proses pembelajaran.
Karena istilah “evaluasi formatif” dan “evaluasi sumatif” merupakan istilah teknis dalam dunia pendidikan, definisinya dalam KBBI tidak selalu tersedia secara terpisah, sehingga pemahaman umumnya tetap mengacu pada konsep “evaluasi” sebagai penilaian, serta tambahan istilah “formatif” (berkembang, berproses) atau “sumatif” (akhir, menyimpulkan) dalam praktik pendidikan dan evaluasi.
Definisi Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi model evaluasi formatif dan sumatif menurut para ahli/pustaka dalam penelitian dan literatur pendidikan:
- Michael Scriven, ia adalah yang pertama memperkenalkan istilah “formative evaluation” dan “summative evaluation” pada tahun 1967. Bagi Scriven, evaluasi formatif dipakai untuk mengumpulkan informasi guna meningkatkan kurikulum atau proses pembelajaran, sedangkan evaluasi sumatif untuk membuat keputusan tentang keberhasilan akhir dari kurikulum atau program. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
- Benjamin S. Bloom, bersama Thomas Hastings dan George Madaus dalam karyanya pada awal 1970-an menyempurnakan konsep bahwa evaluasi formatif bisa dikaitkan dengan unit instruksional di berbagai bidang, sehingga penilaian bisa dilakukan berulang untuk mendukung penguasaan materi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
- Menurut peneliti dari artikel “Formative vs. Summative assessment: impacts on …” (2022), evaluasi formatif memungkinkan pemberian umpan balik berkelanjutan yang membantu siswa memperdalam pemahaman, sementara evaluasi sumatif berfungsi sebagai penilaian akhir yang mengukur seberapa jauh siswa telah mencapai tujuan pembelajaran. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
- Dalam penelitian kontemporer untuk konteks lokal (Indonesia), misalnya dalam artikel “Peran Evaluasi Formatif dan Sumatif dalam Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran di Sekolah Dasar” (2025) disebutkan bahwa evaluasi formatif membantu guru mengidentifikasi kesulitan belajar siswa sejak dini dan menyesuaikan strategi pengajaran, sedangkan evaluasi sumatif menjadi dasar penentuan hasil akhir belajar, sehingga keduanya saling melengkapi untuk meningkatkan mutu pembelajaran. [Lihat sumber Disini - jptam.org]
- Dalam kajian model evaluasi di bawah kerangka Kurikulum Merdeka, evaluasi formatif dikatakan memberikan pengalaman belajar yang lebih personal dan reflektif, sedangkan evaluasi sumatif berfungsi untuk menilai pencapaian kompetensi siswa pada akhir periode pembelajaran. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Karakteristik dan Perbedaan Antara Evaluasi Formatif dan Sumatif
Karakteristik Evaluasi Formatif
- Dilakukan secara terus-menerus selama proses pembelajaran berlangsung, tidak hanya di akhir. [Lihat sumber Disini - niu.edu]
- Bertujuan memberi umpan balik (feedback) untuk siswa dan pendidik, sehingga memungkinkan perbaikan dan adaptasi strategi belajar-mengajar sedini mungkin. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
- Membantu mendeteksi kesulitan belajar siswa, miskonsepsi, atau kelemahan sejak dini, sehingga guru dapat menyesuaikan metode pengajaran. [Lihat sumber Disini - jptam.org]
- Bisa menggunakan berbagai teknik penilaian: kuis, tugas, observasi, diskusi, refleksi, portofolio, tidak harus ujian formal. [Lihat sumber Disini - poorvucenter.yale.edu]
- Mendukung perkembangan metakognisi siswa, memberi kesempatan siswa untuk mengenal sejauh mana mereka memahami materi dan bagaimana cara memperbaikinya. [Lihat sumber Disini - files.eric.ed.gov]
Karakteristik Evaluasi Sumatif
- Dilaksanakan di akhir suatu unit, semester, atau periode pembelajaran, setelah seluruh materi atau proses pembelajaran selesai. [Lihat sumber Disini - poorvucenter.yale.edu]
- Tujuannya untuk mengukur hasil belajar, pencapaian kompetensi, dan menentukan tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan pembelajaran. [Lihat sumber Disini - jostem.professorline.com]
- Sering digunakan untuk penilaian formal seperti ujian akhir, tugas besar, proyek akhir, penilaian akhir semester, yang hasilnya penting untuk rapor, kenaikan kelas, lulus, sertifikasi, dan sebagainya. [Lihat sumber Disini - poorvucenter.yale.edu]
- Hasil evaluasi sumatif relatif bersifat final dan tidak selalu memberikan feedback untuk perbaikan, artinya setelah hasil keluar, sebagian besar proses pembelajaran telah selesai (meskipun bisa diikuti remedial atau pengayaan). [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Perbandingan: Formatif vs. Sumatif
|
Aspek |
Evaluasi Formatif |
Evaluasi Sumatif |
|
Waktu pelaksanaan |
Selama proses pembelajaran berlangsung |
Di akhir unit/semester/periode |
|
Tujuan utama |
Memberi umpan balik & memperbaiki proses belajar |
Mengukur hasil belajar & pencapaian kompetensi |
|
Karakteristik penilaian |
Fleksibel: kuis, tugas, observasi, refleksi, portofolio, dsb. |
Formal: ujian akhir, proyek, penilaian akhir semester, dsb. |
|
Hasil & penggunaan |
Untuk perbaikan pembelajaran, adaptasi metode |
Untuk menentukan nilai, kelulusan, raport, evaluasi akhir |
|
Dampak terhadap siswa |
Membantu perkembangan, identifikasi kesulitan, metakognisi |
Menentukan hasil akhir, pencapaian tujuan, keputusan akademik |
Model Penerapan Evaluasi Formatif dan Sumatif dalam Pembelajaran
Model Evaluasi Formatif–Sumatif (Kombinasi)
Dalam praktik pendidikan modern, sering kali digunakan model kombinasi antara evaluasi formatif dan sumatif, agar proses pembelajaran dan hasilnya bisa dinilai secara komprehensif. Model ini dikenal sebagai Formative–Summative Evaluation Model. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Dalam model ini:
- Evaluasi formatif diterapkan sepanjang proses pembelajaran, guru memberikan umpan balik, melakukan remedi atau pengayaan bila diperlukan, memantau perkembangan siswa secara kontinu.
- Evaluasi sumatif dilakukan di akhir unit atau periode, sebagai tolok ukur pencapaian kompetensi, sebagai dasar keputusan akademik, kenaikan kelas, atau lulus.
Model ini memberi keuntungan karena memungkinkan pendidik serta siswa untuk menggabungkan keuntungan dari kedua jenis evaluasi: proses pembelajaran yang adaptif dan hasil akhir yang terukur. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penerapan model evaluasi formatif–sumatif secara seimbang dapat meningkatkan hasil belajar siswa secara signifikan. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]
Penerapan dalam Konteks Kurikulum Indonesia
Pada konteks pendidikan di Indonesia, terutama dengan implementasi Kurikulum Merdeka, penerapan evaluasi formatif dan sumatif menjadi semakin relevan. Menurut studi terbaru, evaluasi formatif membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih personal dan reflektif serta menyesuaikan kebutuhan siswa, sedangkan evaluasi sumatif berfungsi sebagai alat penilaian akhir pencapaian kompetensi siswa. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Penelitian di SD menunjukkan bahwa kombinasi evaluasi formatif dan sumatif meningkatkan efektivitas pembelajaran: guru dapat menilai perkembangan siswa dan menindaklanjuti hambatan belajar secara fleksibel, serta menentukan hasil akhir secara adil dan transparan. [Lihat sumber Disini - jptam.org]
Kelebihan dan Keterbatasan Model Evaluasi
Kelebihan
- Evaluasi formatif memungkinkan deteksi dini kesulitan belajar siswa sehingga guru dapat segera memberikan remedial atau pengayaan, memperbaiki proses pembelajaran secara adaptif.
- Memberi kesempatan untuk umpan balik, refleksi, dan perbaikan berkelanjutan, mendukung perkembangan metakognisi siswa serta pembelajaran bermakna.
- Kombinasi formatif + sumatif memberikan gambaran menyeluruh: proses dan hasil, baik perkembangan maupun pencapaian akhir kompetensi.
- Menyediakan dasar objektif untuk keputusan akademik (rapor, kenaikan kelas, lulus), sekaligus mendukung proses pembelajaran yang berkelanjutan dan responsif.
Keterbatasan / Tantangan
- Penerapan evaluasi formatif memerlukan waktu, sumber daya, dan komitmen tinggi dari guru, misalnya mempersiapkan berbagai bentuk tugas, observasi, memberi feedback, serta memantau perkembangan siswa secara individual.
- Jika tidak direncanakan dengan baik, evaluasi formatif bisa menjadi beban administratif bagi guru, terutama pada kelas besar atau siswa banyak.
- Evaluasi sumatif cenderung menekankan hasil akhir, bisa membuat tekanan pada siswa, dan jika tidak dilengkapi evaluasi formatif, proses pembelajaran menjadi kurang adaptif terhadap kebutuhan siswa individu.
- Tanpa keseimbangan yang tepat, model evaluasi bisa menjadi kurang efektif: misalnya terlalu fokus pada sumatif, atau evaluasi formatif dilakukan tanpa tindak lanjut perbaikan, sehingga tidak membawa peningkatan nyata.
Implikasi untuk Praktik Pendidikan
- Guru dan penyelenggara pendidikan perlu merancang kurikulum dan proses pembelajaran dengan menggabungkan evaluasi formatif dan sumatif: perencanaan, pelaksanaan, monitoring terus-menerus, pengolahan hasil, hingga tindak lanjut. Ini penting agar evaluasi bukan hanya alat pengukur, tapi juga alat peningkatan kualitas pembelajaran.
- Evaluasi formatif hendaknya fleksibel dan bervariasi: tidak hanya soal tertulis, tapi diskusi, proyek, portofolio, observasi, agar dapat menangkap aspek kognitif, afektif, dan psikomotor siswa secara menyeluruh.
- Hasil evaluasi sumatif harus dimanfaatkan bukan hanya sebagai penilaian akhir, tetapi sebagai bahan refleksi untuk memperbaiki metode pembelajaran di masa depan, menjadikan evaluasi sebagai bagian dari siklus perbaikan berkelanjutan (continuous improvement).
- Kebijakan sekolah atau institusi perlu mendukung guru: memberikan waktu, pelatihan, dan sumber daya untuk melaksanakan evaluasi formatif secara efektif dan konsisten.
Kesimpulan
Model evaluasi formatif dan sumatif merupakan dua pendekatan penilaian yang berbeda namun saling melengkapi, satu berfokus pada proses pembelajaran (formatif), satu lagi pada hasil akhir pembelajaran (sumatif). Evaluasi formatif berperan penting dalam mendukung perkembangan siswa melalui umpan balik berkelanjutan dan adaptasi proses belajar-mengajar. Sebaliknya, evaluasi sumatif memberikan pengukuran objektif terhadap pencapaian kompetensi dan hasil belajar pada akhir periode.
Penerapan model kombinasi (formative–summative) memungkinkan proses pembelajaran yang responsif, efektif, dan akuntabel. Untuk mencapai hasil maksimal, guru dan institusi perlu merancang evaluasi secara sistematis: dari perencanaan, pelaksanaan, monitoring, hingga tindak lanjut berdasarkan hasil. Dengan demikian, evaluasi bukan sekadar alat ukur, tetapi juga alat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mendukung keberhasilan belajar peserta didik secara menyeluruh.