
Pola Makan dan Obesitas
Pendahuluan
Obesitas menjadi masalah kesehatan masyarakat yang semakin mendesak di era modern ini. Ketika pola hidup berubah drastis akibat urbanisasi, globalisasi, serta ketersediaan makanan tinggi kalori, prevalensi obesitas terus meningkat baik di negara maju maupun berkembang. Overweight dan obesitas terjadi ketika tubuh menyimpan lemak secara berlebihan yang dapat menimbulkan berbagai penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, hipertensi, hingga beberapa jenis kanker. Penyebab utamanya adalah ketidakseimbangan antara kalori yang masuk melalui diet dan energi yang dikeluarkan oleh aktivitas fisik, ditambah oleh faktor lingkungan serta perilaku makan yang tidak sehat. Menurut WHO, obesitas bukan sekadar kondisi berat badan tinggi, melainkan akumulasi lemak berlebih yang memiliki risiko kesehatan serius. [Lihat sumber Disini - who.int]
Definisi Pola Makan dan Obesitas
Definisi Pola Makan dan Obesitas Secara Umum
Obesitas secara umum merupakan kondisi di mana terjadi penumpukan lemak tubuh secara berlebihan sehingga berdampak negatif terhadap kesehatan. Kondisi ini biasanya dianggap berada di luar batas normal dari berat badan ideal, yang dipengaruhi oleh ketidakseimbangan energi masuk dengan energi keluar, di mana konsumsi kalori lebih tinggi daripada yang digunakan tubuh. [Lihat sumber Disini - who.int]
Pola makan sendiri didefinisikan sebagai kebiasaan konsumsi makanan sehari-hari yang mencakup jenis makanan yang dipilih, jumlahnya, frekuensi konsumsi serta kombinasi nutrien yang masuk ke tubuh. Pola makan yang tidak seimbang, misalnya konsumsi makanan tinggi kalori, gula, lemak jenuh, serta rendah serat, berperan besar dalam terjadinya akumulasi energi berlebih yang kemudian disimpan sebagai lemak. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
Definisi Pola Makan dan Obesitas dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), obesitas didefinisikan sebagai penumpukan lemak yang berlebihan di dalam badan; kegemukan yang berlebih yang menunjukkan peningkatan massa lemak lebih dari yang dibutuhkan tubuh. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]
Sedangkan pola makan secara leksikal mengacu pada kebiasaan makan yang mencakup semua aspek konsumsi makanan termasuk jumlah, jenis, frekuensi, serta waktu makan yang menjadi ciri khas individu atau kelompok masyarakat.
Definisi Pola Makan dan Obesitas Menurut Para Ahli
-
World Health Organization (WHO), Obesitas didefinisikan sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan yang berisiko bagi kesehatan. WHO menggunakan indeks massa tubuh (BMI) ≥ 30 sebagai salah satu kriteria obesitas pada orang dewasa. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Maxim et al. (2025) dalam Nutrition journal, Menjelaskan obesitas sebagai hasil dari ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi, di mana kelebihan energi dari diet tinggi lemak dan gula menjadi penyebab utama akumulasi lemak berlebih. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]
-
WHO Fact Sheet 2025, Menyatakan bahwa overweight dan obesitas merupakan akibat dari konsumsi kalori yang melampaui kebutuhan tubuh dalam jangka waktu panjang, dan hal ini merupakan faktor utama berbagai penyakit tidak menular. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Jurnal Amerta Nutrition (2023), Pola makan Western yang tinggi konsumsi makanan olahan, minuman manis serta rendah konsumsi buah dan sayuran menunjukkan risiko obesitas lebih tinggi dibandingkan pola makan yang lebih sehat (prudent diet). [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Konsep dan Faktor Risiko Obesitas
Obesitas merupakan fenomena multifaktorial yang tidak hanya dipengaruhi oleh pola makan, tetapi juga faktor genetis, lingkungan, sosial/ekonomi, serta perilaku individu. Faktor risiko utama adalah:
-
Ketidakseimbangan energi: konsumsi kalori berlebih dan aktivitas fisik rendah meningkatkan akumulasi energi yang kemudian disimpan sebagai lemak. [Lihat sumber Disini - who.int]
-
Pola makan tidak sehat: konsumsi makanan cepat saji, minuman bergula, makanan tinggi lemak jenuh berkaitan erat dengan obesitas. [Lihat sumber Disini - journal.unisa-bandung.ac.id]
-
Faktor lingkungan: ketersediaan lingkungan makanan yang obesogenik, seperti food swamps (dominan toko makanan tidak sehat), ikut memengaruhi pilihan makanan individu. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Genetik dan fisiologis: variasi genetik dapat meningkatkan kecenderungan individu untuk menimbun lemak lebih banyak. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]
-
Perilaku sosial dan psikologis: stres, kebiasaan makan emosional, serta kebiasaan sedentari turut memperbesar risiko obesitas.
Pola Makan sebagai Determinan Obesitas
Pola makan merupakan determinan kuat dalam kejadian obesitas, karena pola makan menentukan jumlah energi serta kualitas nutrisi yang masuk ke tubuh. Pola makan yang tinggi energi, lemak jenuh, serta rendah serat berhubungan dengan peningkatan risiko obesitas pada berbagai kelompok usia, terutama remaja dan orang dewasa. Penelitian menunjukkan bahwa pola makan berperan signifikan terhadap status gizi lebih termasuk obesitas sekalipun mempertimbangkan aktivitas fisik. [Lihat sumber Disini - journal.myrepublikcorp.com]
Pola makan berpengaruh melalui beberapa mekanisme:
-
Jumlah kalori total: konsumsi energi berlebih yang tidak dibakar akan disimpan sebagai lemak. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Kepadatan energi makanan: makanan olahan tinggi kalori lebih mudah menyebabkan kelebihan asupan kalori tanpa disadari. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Frekuensi dan porsi makan: sering makan dengan porsi besar meningkatkan total asupan kalori harian. [Lihat sumber Disini - online-journal.unja.ac.id]
Peran Asupan Energi dan Zat Gizi
Asupan energi yang melebihi kebutuhan tubuh merupakan dasar fisiologis dari obesitas. Makronutrien seperti karbohidrat dan lemak menyediakan sumber energi utama, dan kelebihan asupan kedua zat ini secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id]
Selain itu:
-
Karbohidrat sederhana dan gula bebas menyediakan energi cepat yang mudah berlebihan dalam diet modern.
-
Lemak jenuh tinggi kalori dan cenderung disimpan sebagai lemak tubuh bila dikonsumsi berlebihan.
-
Serat dan komponen makanan sehat lainnya terbukti memberikan efek protektif karena meningkatkan rasa kenyang dan mengatur metabolisme energi. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
Kualitas nutrisi secara keseluruhan lebih penting daripada sekadar jumlah energi, karena makanan tinggi nutrisi membantu mengatur nafsu makan dan metabolisme tubuh lebih efektif.
Dampak Obesitas terhadap Kesehatan
Obesitas berdampak luas pada kesehatan individu dan masyarakat. Kondisi ini merupakan faktor risiko utama untuk penyakit tidak menular seperti:
-
Diabetes mellitus tipe 2
-
Penyakit kardiovaskular
-
Hipertensi
-
Dislipidemia
-
Beberapa jenis kanker termasuk kanker kolorektal, payudara, serta hati. [Lihat sumber Disini - citracendekiacelebes.org]
Obesitas juga dikaitkan dengan masalah muskuloskeletal seperti osteoarthritis, gangguan pernapasan seperti sleep apnea, serta komplikasi psikososial termasuk stigma sosial dan gangguan kesehatan mental. [Lihat sumber Disini - who.int]
Faktor Lingkungan dan Perilaku Makan
Lingkungan sekitar seseorang memainkan peran penting dalam pembentukan pola makan dan perilaku makan. Lingkungan makanan yang obesogenic menghasilkan pilihan makanan tinggi kalori dan rendah nutrisi yang mudah diakses. Faktor-faktor termasuk:
-
Akses terhadap makanan sehat: rendahnya akses terhadap buah dan sayuran berserat dapat mendorong pilihan makanan tidak sehat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Iklan dan pemasaran makanan ultraprocessed
-
Budaya makan modern yang cenderung mendorong konsumsi besar porsi serta makan berlebihan.
-
Perilaku konsumsi sosial seperti makan sambil menonton televisi, makan cepat saji, dan konsumsi minuman bergula.
Penelitian menunjukkan hubungan kuat antara pola makan yang terkait lingkungan modern dan kejadian obesitas di berbagai kelompok usia. [Lihat sumber Disini - nutrition.bmj.com]
Upaya Pencegahan dan Pengendalian Obesitas
Upaya pencegahan obesitas harus melibatkan pendekatan multisektoral yang mencakup:
-
Perubahan pola makan: promosi diet seimbang rendah energi dan tinggi nutrisi, pengurangan konsumsi gula serta lemak jenuh.
-
Edukasi gizi: meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pilihan makanan sehat.
-
Lingkungan yang mendukung: akses lebih baik ke makanan sehat serta pengaturan pemasaran makanan tidak sehat.
-
Aktivitas fisik teratur: mendorong gaya hidup aktif untuk meningkatkan pengeluaran energi.
-
Kebijakan publik: kebijakan seperti labeling pangan dan intervensi harga untuk makanan sehat dapat membantu menurunkan konsumsi energi berlebih. [Lihat sumber Disini - who.int]
Kesimpulan
Obesitas merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi oleh interaksi antara pola makan, asupan energi, perilaku individu, serta lingkungan sosial dan ekonomi. Pola makan yang tinggi kalori, lemak jenuh, serta rendah serat menjadi determinan kuat dalam perkembangan obesitas, yang kemudian meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Faktor lingkungan yang obesogenik dan kebiasaan makan modern turut memperparah kejadian obesitas. Upaya pencegahan yang efektif membutuhkan pendekatan menyeluruh yang mencakup perubahan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, edukasi gizi, serta kebijakan publik yang mendukung pilihan hidup sehat. Melalui intervensi di berbagai tingkat, individu, komunitas, hingga kebijakan, prevalensi obesitas dapat dikendalikan sehingga kualitas hidup masyarakat meningkat secara signifikan.