Terakhir diperbarui: 19 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 19 December). Pola Makan dan Obesitas. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/pola-makan-dan-obesitas  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Pola Makan dan Obesitas - SumberAjar.com

Pola Makan dan Obesitas

Pendahuluan

Obesitas menjadi masalah kesehatan masyarakat yang semakin mendesak di era modern ini. Ketika pola hidup berubah drastis akibat urbanisasi, globalisasi, serta ketersediaan makanan tinggi kalori, prevalensi obesitas terus meningkat baik di negara maju maupun berkembang. Overweight dan obesitas terjadi ketika tubuh menyimpan lemak secara berlebihan yang dapat menimbulkan berbagai penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, hipertensi, hingga beberapa jenis kanker. Penyebab utamanya adalah ketidakseimbangan antara kalori yang masuk melalui diet dan energi yang dikeluarkan oleh aktivitas fisik, ditambah oleh faktor lingkungan serta perilaku makan yang tidak sehat. Menurut WHO, obesitas bukan sekadar kondisi berat badan tinggi, melainkan akumulasi lemak berlebih yang memiliki risiko kesehatan serius. [Lihat sumber Disini - who.int]


Definisi Pola Makan dan Obesitas

Definisi Pola Makan dan Obesitas Secara Umum

Obesitas secara umum merupakan kondisi di mana terjadi penumpukan lemak tubuh secara berlebihan sehingga berdampak negatif terhadap kesehatan. Kondisi ini biasanya dianggap berada di luar batas normal dari berat badan ideal, yang dipengaruhi oleh ketidakseimbangan energi masuk dengan energi keluar, di mana konsumsi kalori lebih tinggi daripada yang digunakan tubuh. [Lihat sumber Disini - who.int]

Pola makan sendiri didefinisikan sebagai kebiasaan konsumsi makanan sehari-hari yang mencakup jenis makanan yang dipilih, jumlahnya, frekuensi konsumsi serta kombinasi nutrien yang masuk ke tubuh. Pola makan yang tidak seimbang, misalnya konsumsi makanan tinggi kalori, gula, lemak jenuh, serta rendah serat, berperan besar dalam terjadinya akumulasi energi berlebih yang kemudian disimpan sebagai lemak. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Definisi Pola Makan dan Obesitas dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), obesitas didefinisikan sebagai penumpukan lemak yang berlebihan di dalam badan; kegemukan yang berlebih yang menunjukkan peningkatan massa lemak lebih dari yang dibutuhkan tubuh. [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id]

Sedangkan pola makan secara leksikal mengacu pada kebiasaan makan yang mencakup semua aspek konsumsi makanan termasuk jumlah, jenis, frekuensi, serta waktu makan yang menjadi ciri khas individu atau kelompok masyarakat.

Definisi Pola Makan dan Obesitas Menurut Para Ahli

  1. World Health Organization (WHO), Obesitas didefinisikan sebagai akumulasi lemak abnormal atau berlebihan yang berisiko bagi kesehatan. WHO menggunakan indeks massa tubuh (BMI) ≥ 30 sebagai salah satu kriteria obesitas pada orang dewasa. [Lihat sumber Disini - who.int]

  2. Maxim et al. (2025) dalam Nutrition journal, Menjelaskan obesitas sebagai hasil dari ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi, di mana kelebihan energi dari diet tinggi lemak dan gula menjadi penyebab utama akumulasi lemak berlebih. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  3. WHO Fact Sheet 2025, Menyatakan bahwa overweight dan obesitas merupakan akibat dari konsumsi kalori yang melampaui kebutuhan tubuh dalam jangka waktu panjang, dan hal ini merupakan faktor utama berbagai penyakit tidak menular. [Lihat sumber Disini - who.int]

  4. Jurnal Amerta Nutrition (2023), Pola makan Western yang tinggi konsumsi makanan olahan, minuman manis serta rendah konsumsi buah dan sayuran menunjukkan risiko obesitas lebih tinggi dibandingkan pola makan yang lebih sehat (prudent diet). [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Konsep dan Faktor Risiko Obesitas

Obesitas merupakan fenomena multifaktorial yang tidak hanya dipengaruhi oleh pola makan, tetapi juga faktor genetis, lingkungan, sosial/ekonomi, serta perilaku individu. Faktor risiko utama adalah:

  • Ketidakseimbangan energi: konsumsi kalori berlebih dan aktivitas fisik rendah meningkatkan akumulasi energi yang kemudian disimpan sebagai lemak. [Lihat sumber Disini - who.int]

  • Pola makan tidak sehat: konsumsi makanan cepat saji, minuman bergula, makanan tinggi lemak jenuh berkaitan erat dengan obesitas. [Lihat sumber Disini - journal.unisa-bandung.ac.id]

  • Faktor lingkungan: ketersediaan lingkungan makanan yang obesogenik, seperti food swamps (dominan toko makanan tidak sehat), ikut memengaruhi pilihan makanan individu. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Genetik dan fisiologis: variasi genetik dapat meningkatkan kecenderungan individu untuk menimbun lemak lebih banyak. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]

  • Perilaku sosial dan psikologis: stres, kebiasaan makan emosional, serta kebiasaan sedentari turut memperbesar risiko obesitas.


Pola Makan sebagai Determinan Obesitas

Pola makan merupakan determinan kuat dalam kejadian obesitas, karena pola makan menentukan jumlah energi serta kualitas nutrisi yang masuk ke tubuh. Pola makan yang tinggi energi, lemak jenuh, serta rendah serat berhubungan dengan peningkatan risiko obesitas pada berbagai kelompok usia, terutama remaja dan orang dewasa. Penelitian menunjukkan bahwa pola makan berperan signifikan terhadap status gizi lebih termasuk obesitas sekalipun mempertimbangkan aktivitas fisik. [Lihat sumber Disini - journal.myrepublikcorp.com]

Pola makan berpengaruh melalui beberapa mekanisme:


Peran Asupan Energi dan Zat Gizi

Asupan energi yang melebihi kebutuhan tubuh merupakan dasar fisiologis dari obesitas. Makronutrien seperti karbohidrat dan lemak menyediakan sumber energi utama, dan kelebihan asupan kedua zat ini secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas. [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id]

Selain itu:

  • Karbohidrat sederhana dan gula bebas menyediakan energi cepat yang mudah berlebihan dalam diet modern.

  • Lemak jenuh tinggi kalori dan cenderung disimpan sebagai lemak tubuh bila dikonsumsi berlebihan.

  • Serat dan komponen makanan sehat lainnya terbukti memberikan efek protektif karena meningkatkan rasa kenyang dan mengatur metabolisme energi. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]

Kualitas nutrisi secara keseluruhan lebih penting daripada sekadar jumlah energi, karena makanan tinggi nutrisi membantu mengatur nafsu makan dan metabolisme tubuh lebih efektif.


Dampak Obesitas terhadap Kesehatan

Obesitas berdampak luas pada kesehatan individu dan masyarakat. Kondisi ini merupakan faktor risiko utama untuk penyakit tidak menular seperti:

Obesitas juga dikaitkan dengan masalah muskuloskeletal seperti osteoarthritis, gangguan pernapasan seperti sleep apnea, serta komplikasi psikososial termasuk stigma sosial dan gangguan kesehatan mental. [Lihat sumber Disini - who.int]


Faktor Lingkungan dan Perilaku Makan

Lingkungan sekitar seseorang memainkan peran penting dalam pembentukan pola makan dan perilaku makan. Lingkungan makanan yang obesogenic menghasilkan pilihan makanan tinggi kalori dan rendah nutrisi yang mudah diakses. Faktor-faktor termasuk:

  • Akses terhadap makanan sehat: rendahnya akses terhadap buah dan sayuran berserat dapat mendorong pilihan makanan tidak sehat. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  • Iklan dan pemasaran makanan ultraprocessed

  • Budaya makan modern yang cenderung mendorong konsumsi besar porsi serta makan berlebihan.

  • Perilaku konsumsi sosial seperti makan sambil menonton televisi, makan cepat saji, dan konsumsi minuman bergula.

Penelitian menunjukkan hubungan kuat antara pola makan yang terkait lingkungan modern dan kejadian obesitas di berbagai kelompok usia. [Lihat sumber Disini - nutrition.bmj.com]


Upaya Pencegahan dan Pengendalian Obesitas

Upaya pencegahan obesitas harus melibatkan pendekatan multisektoral yang mencakup:

  1. Perubahan pola makan: promosi diet seimbang rendah energi dan tinggi nutrisi, pengurangan konsumsi gula serta lemak jenuh.

  2. Edukasi gizi: meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang pilihan makanan sehat.

  3. Lingkungan yang mendukung: akses lebih baik ke makanan sehat serta pengaturan pemasaran makanan tidak sehat.

  4. Aktivitas fisik teratur: mendorong gaya hidup aktif untuk meningkatkan pengeluaran energi.

  5. Kebijakan publik: kebijakan seperti labeling pangan dan intervensi harga untuk makanan sehat dapat membantu menurunkan konsumsi energi berlebih. [Lihat sumber Disini - who.int]


Kesimpulan

Obesitas merupakan kondisi kompleks yang dipengaruhi oleh interaksi antara pola makan, asupan energi, perilaku individu, serta lingkungan sosial dan ekonomi. Pola makan yang tinggi kalori, lemak jenuh, serta rendah serat menjadi determinan kuat dalam perkembangan obesitas, yang kemudian meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis. Faktor lingkungan yang obesogenik dan kebiasaan makan modern turut memperparah kejadian obesitas. Upaya pencegahan yang efektif membutuhkan pendekatan menyeluruh yang mencakup perubahan pola makan, peningkatan aktivitas fisik, edukasi gizi, serta kebijakan publik yang mendukung pilihan hidup sehat. Melalui intervensi di berbagai tingkat, individu, komunitas, hingga kebijakan, prevalensi obesitas dapat dikendalikan sehingga kualitas hidup masyarakat meningkat secara signifikan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Obesitas adalah kondisi penumpukan lemak tubuh yang berlebihan akibat ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi, sehingga meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, dan hipertensi.

Pola makan berperan besar dalam terjadinya obesitas karena menentukan jumlah dan kualitas energi yang masuk ke tubuh. Konsumsi makanan tinggi kalori, lemak jenuh, gula, dan rendah serat dapat meningkatkan risiko obesitas.

Faktor risiko obesitas meliputi pola makan tidak sehat, asupan energi berlebih, kurang aktivitas fisik, faktor genetik, lingkungan yang obesogenik, serta perilaku makan yang tidak terkontrol.

Obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes mellitus tipe 2, penyakit kardiovaskular, hipertensi, gangguan metabolik, masalah pernapasan, gangguan sendi, serta masalah kesehatan mental.

Pencegahan dan pengendalian obesitas dapat dilakukan melalui penerapan pola makan seimbang, pengurangan konsumsi gula dan lemak jenuh, peningkatan aktivitas fisik, edukasi gizi, serta dukungan lingkungan dan kebijakan kesehatan yang mendukung gaya hidup sehat.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Pola Makan Keluarga dan Risiko Obesitas Anak Pola Makan Keluarga dan Risiko Obesitas Anak Obesitas: Konsep, Faktor Risiko, dan Dampak Kesehatan Obesitas: Konsep, Faktor Risiko, dan Dampak Kesehatan Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur: Dampak Kesehatan dan Faktor Perilaku Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Pola Makan Tidak Teratur: Konsep, Dampak Metabolik, dan Kesehatan Obesitas: Faktor dan Pencegahan Obesitas: Faktor dan Pencegahan Perilaku Makan Tidak Teratur pada Mahasiswa Perilaku Makan Tidak Teratur pada Mahasiswa Pola Makan Tidak Teratur dan Masalah Pencernaan Pola Makan Tidak Teratur dan Masalah Pencernaan Pola Makan Tidak Teratur: Faktor dan Dampaknya Pola Makan Tidak Teratur: Faktor dan Dampaknya Pengetahuan Remaja tentang Makan Malam Sehat Pengetahuan Remaja tentang Makan Malam Sehat Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Pengaruh Obat terhadap Nafsu Makan Hubungan Obesitas dengan Kebutuhan Dosis Obat Hubungan Obesitas dengan Kebutuhan Dosis Obat Dampak Obesitas terhadap Farmakokinetik Obat Dampak Obesitas terhadap Farmakokinetik Obat Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Hubungan Stres Kehamilan dengan Pola Makan Ibu Hamil Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak Hubungan Kualitas Tidur dengan Nafsu Makan Anak Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan Hubungan Stress dan Pola Makan Hubungan Stress dan Pola Makan Hubungan Pola Makan dengan IMT Hubungan Pola Makan dengan IMT Evaluasi Pola Makan Harian berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang Evaluasi Pola Makan Harian berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang Hubungan ASI Eksklusif dengan Pencegahan Obesitas Hubungan ASI Eksklusif dengan Pencegahan Obesitas Hubungan Konsumsi Soda dengan Risiko Obesitas Hubungan Konsumsi Soda dengan Risiko Obesitas
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…