
Hubungan IMT Ibu Hamil dengan Kejadian Preeklampsia
Pendahuluan
Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang serius, ditandai dengan hipertensi setelah usia kehamilan 20 minggu dan disertai tanda, tanda kerusakan organ (misalnya proteinuria atau disfungsi organ) yang dapat membahayakan ibu dan janin. Risiko preeklampsia penting untuk dikenali sedini mungkin karena berkontribusi besar terhadap morbiditas dan mortalitas maternal dan perinatal. Salah satu faktor risiko yang banyak diteliti adalah status gizi ibu, diukur melalui Indeks Massa Tubuh (IMT) sebelum atau saat awal kehamilan. Artikel ini membahas hubungan antara IMT ibu hamil dengan kejadian preeklampsia, mekanisme biologis, faktor pendukung, dan pentingnya pemantauan serta gaya hidup.
Definisi Indeks Massa Tubuh (IMT)
Definisi IMT Secara Umum
Indeks Massa Tubuh adalah ukuran yang digunakan untuk menilai status gizi seseorang berdasarkan perbandingan berat badan dan tinggi badan. Secara sederhana, IMT memberikan gambaran apakah seseorang berada pada kategori berat badan kurang, normal, kelebihan berat badan (overweight), atau obesitas.
Definisi IMT dalam KBBI
Menurut definisi dari KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), IMT merujuk pada indeks yang menggambarkan proporsi antara berat dan tinggi badan sebagai indikator status gizi.
Definisi IMT Menurut Para Ahli
Beberapa ahli dalam literatur kesehatan reproduksi dan obstetri menjelaskan IMT sebagai berikut:
-
Sebagai indikator status gizi pre-kehamilan yang sensitif untuk menilai risiko komplikasi kehamilan. [Lihat sumber Disini - bmcpregnancychildbirth.biomedcentral.com]
-
Sebagai alat screening awal untuk menilai apakah peningkatan berat badan selama kehamilan (dan sebelum kehamilan) berada dalam batas aman atau berisiko. [Lihat sumber Disini - ejournal.stikesmajapahit.ac.id]
-
Sebagai prediktor potensi terjadinya disfungsi vaskular dan metabolik yang dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Sebagai parameter yang secara konsisten dalam studi epidemiologi dikaitkan dengan peningkatan risiko preeklampsia bila berada pada kategori overweight/obesitas. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Klasifikasi IMT dan Risiko Kehamilan
Pada ibu hamil, IMT sebelum kehamilan atau pada trimester awal digunakan untuk mengkategorikan status gizi sebagai underweight, normal, overweight, atau obesitas. Studi epidemiologis menunjukkan bahwa ibu dengan IMT overweight atau obesitas memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami preeklampsia dibandingkan mereka dengan IMT normal. [Lihat sumber Disini - ojs.poltekkes-malang.ac.id]
Misalnya, dalam penelitian di Indonesia tahun 2024 ditemukan bahwa ibu hamil dengan IMT obesitas memiliki risiko preeklampsia signifikan dibandingkan kelompok IMT normal atau underweight. [Lihat sumber Disini - repository.unissula.ac.id]
Selain itu, meta-analisis dan kohort besar menunjukkan bahwa kenaikan IMT sebelum kehamilan berhubungan dengan peningkatan odds preeklampsia. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Mekanisme Pengaruh Berat Badan terhadap Preeklampsia
Kaitan antara berat badan tinggi (overweight/obesitas) dan preeklampsia dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme biologis:
-
Peradangan sistemik dan disfungsi endotel: Obesitas sering dikaitkan dengan inflamasi kronis dan peningkatan kadar sitokin pro-inflamasi serta leptin. Kondisi ini dapat mempengaruhi integritas endotel vaskular, sehingga memperburuk regulasi tekanan darah dan suplai darah ke plasenta. [Lihat sumber Disini - repository.unissula.ac.id]
-
Resistensi insulin dan gangguan metabolik: Berat badan berlebih sering disertai resistensi insulin yang bisa mengganggu fungsi plasenta dan perfusi utero-plasenta, yang berpotensi memicu hipertensi gestasional atau preeklampsia. [Lihat sumber Disini - repository.unissula.ac.id]
-
Gangguan vaskular dan stres oksidatif: Penumpukan lemak di jaringan adiposa dapat menyebabkan stres oksidatif, disfungsi pembuluh darah, serta penurunan fleksibilitas vaskular, faktor penting dalam patogenesis preeklampsia. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Dengan demikian, IMT tinggi (overweight/obesitas) bukan hanya soal berat badan semata tetapi berperan dalam perubahan biologis yang mempengaruhi kehamilan.
Faktor Risiko Lain yang Berhubungan
Selain IMT, beberapa faktor lain turut meningkatkan risiko preeklampsia, dan dalam banyak kasus faktor ini dapat berinteraksi. Faktor-faktor tersebut meliputi:
-
Kenaikan berat badan selama kehamilan (gestational weight gain / GWG): Kenaikan berat badan berlebih selama kehamilan, terutama jika ibu sudah overweight/obesitas sebelum kehamilan, meningkatkan risiko preeklampsia. [Lihat sumber Disini - bmcpregnancychildbirth.biomedcentral.com]
-
Usia ibu dan paritas: Usia yang terlalu muda atau terlalu tua, serta paritas (jumlah kehamilan sebelumnya), dapat memodifikasi risiko, meskipun obesitas tetap menjadi faktor independen. [Lihat sumber Disini - ppjp.ulm.ac.id]
-
Kesehatan metabolik dan komorbiditas: Kondisi seperti diabetes, hipertensi kronis, atau gangguan metabolik lain dapat memperburuk dampak IMT tinggi pada kehamilan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Faktor gaya hidup: nutrisi tidak seimbang, aktivitas fisik rendah, stres, dan faktor sosial ekonomi: Faktor-faktor ini mempengaruhi kontrol berat badan sebelum dan selama kehamilan serta dapat mempengaruhi risiko komplikasi. [Lihat sumber Disini - journals.lww.com]
Dampak IMT Tinggi terhadap Kondisi Ibu dan Janin
Ibu dengan IMT tinggi (overweight/obesitas) dan yang mengalami preeklampsia berisiko menghadapi komplikasi berikut:
-
Risiko lebih tinggi untuk preeklampsia (baik ringan maupun berat), serta potensi komplikasi hipertensi gestasional. [Lihat sumber Disini - frontiersin.org]
-
Kemungkinan lahir prematur, intervensi persalinan (seperti induksi persalinan), atau perawatan intensif pada ibu (misalnya ICU). [Lihat sumber Disini - nature.com]
-
Risiko bagi janin: gangguan perfusi plasenta dapat mempengaruhi pertumbuhan janin, berpotensi berat badan lahir rendah, gangguan perkembangan, atau komplikasi perinatal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Beban morbiditas maternal jangka panjang, disfungsi vaskular, resistensi insulin, atau hipertensi kronis setelah kehamilan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Peran Pemantauan Kehamilan dalam Deteksi Risiko
Pemantauan rutin selama kehamilan sangat penting, terutama bagi ibu dengan IMT tinggi. Beberapa langkah penting meliputi:
-
Pengukuran IMT sebelum atau di awal kehamilan untuk identifikasi status berat badan berisiko. Banyak penelitian menunjukkan pentingnya data pre-kehamilan atau awal kehamilan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Pemantauan kenaikan berat badan selama kehamilan (gestational weight gain) dan membandingkannya dengan rekomendasi standar, untuk menghindari kenaikan berlebihan. [Lihat sumber Disini - bmcpregnancychildbirth.biomedcentral.com]
-
Kontrol tekanan darah, pemeriksaan urin (proteinuria), dan evaluasi kesehatan vaskular serta fungsi plasenta secara berkala, terutama pada ibu dengan IMT tinggi, untuk deteksi dini preeklampsia. [Lihat sumber Disini - ahajournals.org]
-
Edukasi dan konseling bagi ibu hamil mengenai pentingnya menjaga berat badan ideal sebelum dan selama kehamilan, serta pola hidup sehat. [Lihat sumber Disini - repository.unissula.ac.id]
Pengaruh Pola Hidup terhadap IMT dan Risiko Preeklampsia
Pola hidup sebelum dan selama kehamilan memiliki peran besar dalam menentukan IMT serta risiko komplikasi. Faktor-faktor gaya hidup meliputi:
-
Nutrisi: Asupan kalori berlebihan, konsumsi makanan tinggi lemak dan karbohidrat sederhana, serta kurangnya asupan sayur dan buah dapat menyebabkan overweight/obesitas. Hal ini berkontribusi terhadap IMT tinggi dan risiko preeklampsia.
-
Aktivitas fisik: Ketidakaktifan/sedentari meningkatkan kemungkinan penumpukan lemak dan resistensi metabolik, memperburuk risiko jika hamil.
-
Stress, faktor sosial dan ekonomi: Stress, kurangnya dukungan sosial, dan kondisi ekonomi dapat mempengaruhi pola makan, aktivitas, dan kepatuhan pemantauan kehamilan, semuanya berkontribusi pada kenaikan berat badan berlebih. Studi meta-analisis menunjukkan bahwa kelebihan kenaikan berat badan selama kehamilan (GWG) sering disebabkan oleh kombinasi faktor multifaktorial termasuk diet, aktivitas fisik, dan kondisi sosial ekonomi. [Lihat sumber Disini - news.unair.ac.id]
-
Kombinasi IMT tinggi dengan gaya hidup tidak sehat meningkatkan risiko secara signifikan, bukan hanya preeklampsia, tetapi juga komplikasi lain seperti diabetes gestasional, persalinan prematur, dan masalah perinatal. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Hubungan IMT Abnormal dengan Kejadian Preeklampsia: Bukti Empiris
-
Studi di wilayah kerja Puskesmas Banjarbaru (2024) menemukan bahwa kejadian preeklampsia lebih banyak pada ibu dengan IMT obesitas. Analisis Chi-Square menunjukkan p = 0.024 (p < 0, 05), menyimpulkan ada asosiasi bermakna antara IMT dan preeklampsia. [Lihat sumber Disini - repository.unissula.ac.id]
-
Meta-analisis besar terhadap 92 studi (dengan puluhan juta kehamilan) menunjukkan bahwa pre-kehamilan BMI > 30 kg/m² (obesitas) sangat berkaitan dengan preeklampsia (OR ~ 2, 8). [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Studi terbaru 2025 pada populasi ibu hamil menunjukkan bahwa ibu overweight/obesitas memiliki risiko preeklampsia dan komplikasi kehamilan lain (seperti persalinan terinduksi, ICU maternal) secara signifikan meningkat. [Lihat sumber Disini - nature.com]
-
Penelitian di Indonesia (2025) pada ibu hamil di wilayah kerja tertentu menyimpulkan bahwa ada hubungan bermakna antara IMT ibu dengan kejadian preeklampsia. [Lihat sumber Disini - ejournal.amirulbangunbangsapublishing.com]
-
Meta-analisis kohort menunjukkan bahwa baik overweight maupun obesitas sebelum kehamilan meningkatkan risiko preeklampsia secara konsisten (overweight OR ~1.7; obesitas OR ~2.48 dibanding berat normal) dalam random-effect model. [Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]
Keseluruhan bukti dari berbagai populasi dan penelitian memperkuat bahwa IMT abnormal (khususnya overweight dan obesitas) merupakan faktor risiko kuat untuk preeklampsia.
Kesimpulan
Berdasarkan bukti ilmiah dari literatur global dan penelitian di Indonesia, terdapat hubungan yang konsisten dan signifikan antara IMT ibu hamil dengan kejadian preeklampsia. Ibu dengan IMT overweight atau obesitas sebelum atau di awal kehamilan memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan ibu dengan IMT normal atau underweight. Mekanisme biologis yang mendasari melibatkan peradangan sistemik, disfungsi endotel, resistensi insulin, dan gangguan vaskular.
Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan dan ibu hamil untuk melakukan pemantauan IMT sejak pra-kehamilan atau awal kehamilan, serta mengelola kenaikan berat badan selama kehamilan melalui nutrisi seimbang, aktivitas fisik yang sesuai, dan kontrol kesehatan secara rutin. Upaya ini dapat membantu menurunkan risiko preeklampsia dan komplikasi kehamilan lainnya, sehingga mendukung kesehatan ibu dan janin.