Terakhir diperbarui: 29 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 29 December). Obesitas: Konsep, Faktor Risiko, dan Dampak Kesehatan. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/obesitas-konsep-faktor-risiko-dan-dampak-kesehatan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Obesitas: Konsep, Faktor Risiko, dan Dampak Kesehatan - SumberAjar.com

Obesitas: Konsep, Faktor Risiko, dan Dampak Kesehatan

Pendahuluan

Obesitas telah menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang menonjol di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga menimbulkan beban sosial dan ekonomi yang signifikan. Peningkatan prevalensi obesitas dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup modern, pola makan tinggi kalori, dan aktivitas fisik yang rendah. Tren obesitas terus meningkat setiap tahunnya pada berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak, remaja hingga dewasa. Obesitas diidentifikasi sebagai faktor risiko utama untuk berbagai penyakit metabolik dan degeneratif yang serius seperti diabetes melitus, penyakit kardiovaskular, dan beberapa bentuk kanker, sehingga penanganannya menjadi prioritas kesehatan masyarakat global. [Lihat sumber Disini - who.int]


Definisi Obesitas

Definisi Obesitas Secara Umum

Obesitas secara umum merujuk pada kondisi akumulasi lemak tubuh yang berlebihan dan abnormal yang dapat mengancam kesehatan seseorang. Hal ini biasanya merupakan hasil ketidakseimbangan antara asupan energi yang masuk dengan energi yang dikeluarkan oleh tubuh. Ketika energi yang dikonsumsi lebih banyak daripada energi yang digunakan, kelebihan energi tersebut disimpan dalam bentuk lemak tubuh, yang kemudian memicu peningkatan berat badan dan perkembangan obesitas. [Lihat sumber Disini - who.int]

Definisi Obesitas dalam KBBI

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), obesitas atau kegemukan diartikan sebagai keadaan di mana akumulasi lemak tubuh terjadi secara berlebihan sehingga melebihi batas yang sehat. Biasanya indikator yang digunakan untuk menilai obesitas adalah melalui pengukuran antropometri seperti Indeks Massa Tubuh (IMT). [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-denpasar.ac.id]

Definisi Obesitas Menurut Para Ahli

  1. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa obesitas adalah akumulasi abnormal atau berlebihan dari lemak tubuh yang menimbulkan risiko terhadap kesehatan individu. [Lihat sumber Disini - who.int]

  2. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes RI mendefinisikan obesitas sebagai kondisi di mana asupan energi lebih besar dari energi yang dikeluarkan, sehingga terjadi penumpukan lemak tubuh yang abnormal dan berpotensi meningkatkan risiko penyakit kronis. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]

  3. Sugiarto (2022) dalam studi literaturnya menjelaskan bahwa obesitas merupakan hasil dari akumulasi lemak tubuh secara berlebihan yang dipengaruhi oleh berbagai faktor risiko dan dapat dicegah dengan perubahan gaya hidup. [Lihat sumber Disini - jurnalgizi.unw.ac.id]

  4. Dede Saiful Khohir et al. (2024) memaparkan obesitas sebagai akumulasi lemak abnormal akibat ketidakseimbangan energi intake dan expenditure, dengan penekanan pada pengukuran antropometri seperti IMT sebagai indikator utama. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]


Faktor Risiko Terjadinya Obesitas

Faktor risiko obesitas merupakan kombinasi dari berbagai elemen yang saling berinteraksi, baik aspek biologis, lingkungan, maupun gaya hidup. Berbagai penelitian di Indonesia dan global menunjukkan bahwa obesitas tidak hanya dipicu oleh satu faktor tunggal, tetapi oleh banyak faktor yang saling terkait. [Lihat sumber Disini - talenta.usu.ac.id]

Faktor Genetik dan Biologis

Genetik merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kecenderungan seseorang mengalami obesitas. Individu yang memiliki riwayat keluarga obesitas cenderung memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami obesitas dibanding mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga obesitas. Hal ini menunjukkan bahwa predisposisi genetik dapat memengaruhi metabolisme, distribusi lemak tubuh, dan respons terhadap asupan energi. [Lihat sumber Disini - talenta.usu.ac.id]

Faktor Pola Makan dan Nutrisi

Pola makan yang kurang sehat merupakan salah satu faktor risiko utama obesitas. Konsumsi makanan tinggi energi seperti makanan cepat saji, minuman manis, serta makanan tinggi lemak namun rendah serat berhubungan dengan peningkatan penumpukan lemak dalam tubuh. Penelitian juga menunjukkan bahwa konsumsi makanan cepat saji secara berlebihan memiliki hubungan signifikan dengan kejadian obesitas pada berbagai kelompok usia. [Lihat sumber Disini - talenta.usu.ac.id]

Faktor Aktivitas Fisik dan Gaya Hidup

Rendahnya aktivitas fisik berkontribusi besar terhadap risiko obesitas. Pola hidup sedentari, seperti menghabiskan waktu lama di depan layar dan kurangnya keterlibatan dalam aktivitas fisik yang cukup, meningkatkan akumulasi energi yang tidak terbakar. Aktivitas fisik yang rendah juga dikaitkan dengan perubahan metabolik yang mendorong peningkatan massa lemak tubuh. [Lihat sumber Disini - talenta.usu.ac.id]

Faktor Lingkungan Sosial dan Psikologis

Faktor lingkungan seperti status sosial ekonomi, pengetahuan gizi, dan kebiasaan keluarga memainkan peran penting dalam risiko obesitas. Individu dengan rendahnya pengetahuan gizi dan lingkungan keluarga yang tidak mendukung pola hidup sehat memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami obesitas. Di samping itu, stres emosional, gangguan tidur, serta perilaku makan kompulsif juga dapat meningkatkan risiko obesitas. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]


Mekanisme Terjadinya Obesitas

Mekanisme obesitas berkaitan dengan ketidakseimbangan energi antara asupan dan pengeluaran energi. Ketika tubuh menerima lebih banyak energi melalui makanan yang dikonsumsi daripada yang digunakan melalui aktivitas fisik dan fungsi metabolik, kelebihan energi akan disimpan dalam bentuk jaringan adiposa atau lemak. Proses ini melibatkan faktor fisiologis, hormonal, serta regulasi saraf yang kompleks. [Lihat sumber Disini - who.int]

Proses awal obesitas dimulai dengan peningkatan jumlah adiposit atau sel lemak sebagai respons terhadap surplus energi jangka panjang. Adiposit yang membesar melepaskan berbagai sitokin dan hormon yang berperan dalam regulasi metabolisme, appetite, dan resistensi insulin. Hal ini memicu peradangan tingkat rendah yang kronis yang berkontribusi pada perkembangan insulin resistensi dan risiko penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2. [Lihat sumber Disini - who.int]

Selain itu, faktor perilaku seperti konsumsi makanan tinggi energi dan rendah aktivitas fisik terus memperbesar ketidakseimbangan energi. Interaksi antara faktor genetik, neuroendokrin, dan lingkungan menciptakan lingkungan internal tubuh yang kondusif bagi penimbunan lemak tubuh secara berlebihan. [Lihat sumber Disini - who.int]


Dampak Obesitas terhadap Kesehatan

Obesitas tidak hanya memengaruhi aspek fisik, tetapi juga memiliki konsekuensi kesehatan yang luas dan serius. Dampak kesehatan obesitas melibatkan berbagai sistem organ dan meningkatkan risiko sejumlah penyakit kronis. [Lihat sumber Disini - who.int]

Penyakit Kardiovaskular dan Metabolik

Obesitas merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, penyakit jantung koroner, dan stroke. Kelebihan lemak tubuh, terutama di sekitar daerah perut, berkontribusi pada resistensi insulin, dislipidemia, dan peradangan kronis, yang semuanya meningkatkan risiko penyakit metabolik termasuk diabetes melitus tipe 2. [Lihat sumber Disini - who.int]

Gangguan Metabolik dan Endokrin

Individu obesitas sering mengalami gangguan metabolik seperti resistensi insulin dan kadar kolesterol yang tidak sehat. Kondisi ini meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan komplikasi terkait seperti neuropati serta penyakit ginjal kronik. [Lihat sumber Disini - who.int]

Penyakit Kanker Terkait Obesitas

Beberapa tipe kanker, termasuk kanker payudara, kolon, dan prostat, telah dihubungkan dengan obesitas. Penumpukan lemak tubuh dapat memicu perubahan hormonal dan peradangan kronis yang memfasilitasi perkembangan sel kanker. [Lihat sumber Disini - who.int]

Dampak Psikologis dan Kualitas Hidup

Obesitas juga memiliki dampak psikologis yang signifikan, termasuk stigma sosial, gangguan citra tubuh, dan penurunan kualitas hidup. Individu obesitas sering mengalami diskriminasi sosial, yang dapat memengaruhi kesejahteraan mental dan emosional mereka. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]


Penilaian Status Obesitas

Penilaian status obesitas umumnya menggunakan metode antropometri yang sederhana namun efektif dalam mengukur akumulasi lemak tubuh dan risiko kesehatan. Indeks Massa Tubuh (IMT) adalah alat yang paling umum digunakan, dihitung dengan membagi berat badan (kg) dengan kuadrat tinggi badan (m²). Nilai IMT memberikan kategori status gizi seseorang, di mana angka tertentu menunjukkan berat badan normal, kelebihan berat badan, atau obesitas. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]

Selain IMT, penilaian juga dapat dilakukan melalui pengukuran lingkar pinggang yang membantu menilai distribusi lemak tubuh, khususnya obesitas sentral, yang memiliki risiko kesehatan lebih tinggi dibandingkan obesitas umum. Pemeriksaan antropometri ini sering dikombinasikan dengan evaluasi klinis lain seperti tekanan darah, profil lipid, dan tes glukosa darah untuk menilai risiko penyakit terkait. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]


Strategi Pencegahan dan Pengendalian Obesitas

Pencegahan obesitas menekankan pada perubahan gaya hidup yang berkelanjutan dan pendekatan multidimensional yang melibatkan individu, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Fokus utama pencegahan adalah menyeimbangkan asupan energi dengan pengeluaran energi melalui pola makan sehat dan peningkatan aktivitas fisik. [Lihat sumber Disini - who.int]

Strategi pencegahan meliputi:


Kesimpulan

Obesitas merupakan kondisi kesehatan kronis yang kompleks dengan akumulasi lemak tubuh berlebihan yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit metabolik dan degeneratif. Definisi obesitas mencakup aspek antropometrik dan kesehatan, dan dipahami secara luas oleh WHO serta ahli kesehatan. Penyebab obesitas multifaktorial melibatkan interaksi antara genetik, pola makan tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta faktor sosial dan psikologis. Mekanismenya berkaitan dengan ketidakseimbangan energi, sedangkan dampaknya mencakup penyakit kardiovaskular, metabolik, kanker, serta gangguan psikologis. Penilaian obesitas dilakukan melalui IMT dan ukuran antropometri lainnya, dan pencegahan dilakukan dengan strategi gaya hidup sehat yang berkelanjutan serta intervensi komunitas yang komprehensif.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Obesitas adalah kondisi penumpukan lemak tubuh yang berlebihan dan abnormal akibat ketidakseimbangan antara asupan energi dan pengeluaran energi, sehingga meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan.

Faktor risiko obesitas meliputi faktor genetik, pola makan tinggi kalori dan rendah serat, kurangnya aktivitas fisik, gaya hidup sedentari, faktor psikologis, serta pengaruh lingkungan sosial dan ekonomi.

Obesitas terjadi ketika asupan energi yang masuk ke tubuh secara konsisten lebih besar daripada energi yang dikeluarkan, sehingga kelebihan energi disimpan dalam bentuk lemak tubuh dan menyebabkan peningkatan massa lemak.

Obesitas dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes melitus tipe 2, hipertensi, gangguan metabolik, beberapa jenis kanker, serta menurunkan kualitas hidup dan kesehatan mental.

Status obesitas umumnya dinilai menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT) dan pengukuran lingkar pinggang untuk menilai obesitas sentral, yang dikombinasikan dengan pemeriksaan klinis lainnya.

Pencegahan dan pengendalian obesitas dilakukan melalui pola makan seimbang, peningkatan aktivitas fisik, perubahan gaya hidup sehat, edukasi gizi, serta dukungan lingkungan dan kebijakan kesehatan masyarakat.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Obesitas: Faktor dan Pencegahan Obesitas: Faktor dan Pencegahan Pola Makan dan Obesitas Pola Makan dan Obesitas Dampak Obesitas terhadap Farmakokinetik Obat Dampak Obesitas terhadap Farmakokinetik Obat Hubungan Obesitas dengan Kebutuhan Dosis Obat Hubungan Obesitas dengan Kebutuhan Dosis Obat Pola Makan Keluarga dan Risiko Obesitas Anak Pola Makan Keluarga dan Risiko Obesitas Anak Hubungan Konsumsi Soda dengan Risiko Obesitas Hubungan Konsumsi Soda dengan Risiko Obesitas Hubungan ASI Eksklusif dengan Pencegahan Obesitas Hubungan ASI Eksklusif dengan Pencegahan Obesitas Hubungan IMT Ibu Hamil dengan Kejadian Preeklampsia Hubungan IMT Ibu Hamil dengan Kejadian Preeklampsia Diet Rendah Kalori pada Pasien Obesitas Diet Rendah Kalori pada Pasien Obesitas Status Gizi Anak Sekolah Dasar Status Gizi Anak Sekolah Dasar Konsumsi Gula: Konsep, Risiko Metabolik, dan Pengendalian Konsumsi Gula: Konsep, Risiko Metabolik, dan Pengendalian Pola Diet Tinggi Lemak dan Dampaknya Pola Diet Tinggi Lemak dan Dampaknya Konsumsi Gula dan Penyakit Metabolik Konsumsi Gula dan Penyakit Metabolik Hubungan Pola Makan dengan IMT Hubungan Pola Makan dengan IMT Pengetahuan Pasien tentang Obat Penurun Nafsu Makan Pengetahuan Pasien tentang Obat Penurun Nafsu Makan Status Gizi Remaja: Konsep, Tantangan Nutrisi, dan Pencegahan Status Gizi Remaja: Konsep, Tantangan Nutrisi, dan Pencegahan Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan Pengaruh Pola Tidur terhadap Nafsu Makan IMT Ibu Hamil: Konsep, Risiko Kehamilan, dan Pemantauan IMT Ibu Hamil: Konsep, Risiko Kehamilan, dan Pemantauan Konsumsi Lemak: Konsep, Kaitan Penyakit, dan Pencegahan Konsumsi Lemak: Konsep, Kaitan Penyakit, dan Pencegahan Hubungan Aktivitas Fisik dengan IMT Hubungan Aktivitas Fisik dengan IMT
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…