
Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan
Pendahuluan
Stunting, yakni kondisi gagal tumbuh pada anak akibat kekurangan gizi kronis yang berlangsung dalam waktu lama, menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat paling serius di Indonesia. Implikasi stunting tidak cuma fisik (tinggi badan tidak sesuai umur), tetapi juga kognitif, kekebalan tubuh, dan produktivitas di masa depan. Oleh sebab itu, upaya pencegahan tidak bisa hanya dilakukan saat anak sudah lahir atau balita, melainkan harus dimulai jauh sebelum itu, yaitu sejak masa kehamilan. Perilaku, asupan gizi, pemeriksaan kehamilan, serta lingkungan di sekitar ibu hamil sangat menentukan potensi risiko stunting pada anak.
Artikel ini membahas secara komprehensif bagaimana perilaku ibu selama kehamilan, termasuk pengetahuan, nutrisi, suplementasi, sanitasi, dan faktor pendukung, berperan dalam pencegahan stunting.
Definisi “Perilaku Ibu dalam Pencegahan Stunting Sejak Kehamilan”
Definisi secara umum
“Perilaku ibu dalam pencegahan stunting sejak kehamilan” dapat dipahami sebagai rangkaian tindakan, kebiasaan, dan keputusan yang dilakukan oleh ibu selama masa kehamilan untuk menjaga status gizi, kesehatan, serta kondisi lingkungan agar janin tumbuh optimal, sehingga kelak bayi tidak mengalami stunting. Perilaku ini meliputi pemenuhan nutrisi, pemeriksaan kehamilan rutin, suplementasi yang dianjurkan, menjaga kebersihan lingkungan, serta persiapan kesehatan menjelang dan setelah kelahiran.
Definisi menurut panduan kebahasaan (KBBI)
Meski tidak ada entri spesifik “stunting” dalam KBBI yang memuat frasa “pencegahan sejak kehamilan”, definisi “stunting” dalam konteks gizi mengacu pada kondisi “kerdil” akibat kurang gizi kronis. Oleh karenanya, frasa “pencegahan stunting sejak kehamilan” dapat dibangun dari kata “pencegahan” (tindakan untuk mencegah/menghindari sesuatu) + “stunting” (kekerdilan pada anak akibat gizi kurang kronis). Sehingga makna bebasnya: tindakan atau upaya yang dilakukan selama kehamilan untuk menghindari terjadinya stunting pada bayi/anak kelak.
Definisi menurut para ahli
Berikut beberapa definisi/pandangan dari literatur terkait:
-
Sebuah studi review oleh UNIMUS (2023) menunjukkan bahwa “status gizi ibu saat hamil” adalah determinan penting bagi kejadian stunting, artinya, keadaan nutrisi ibu selama kehamilan dapat memengaruhi apakah bayi lahir dengan berat badan & panjang tubuh optimal atau justru rawan stunting. [Lihat sumber Disini - jurnal.unimus.ac.id]
-
Penelitian ITKes Muhammadiyah Sidrap (2023) dalam area kerja Puskesmas Bojo Baru menunjukkan bahwa status gizi ibu hamil berkaitan signifikan dengan kejadian stunting pada balita di wilayah tersebut, menegaskan pentingnya pemantauan gizi ibu sejak kehamilan. [Lihat sumber Disini - jurnal.itkesmusidrap.ac.id]
-
Hasil riset dari Universitas ’Aisyiyah Yogyakarta (2025) menemukan bahwa ibu dengan status gizi kurang selama kehamilan berisiko lebih besar melahirkan bayi yang kemudian beresiko stunting, menunjukkan bahwa malnutrisi maternal berdampak jangka panjang terhadap pertumbuhan anak. [Lihat sumber Disini - ejurnal2.poltekkestasikmalaya.ac.id]
-
Sebuah literatur terbaru dari 2025 menyimpulkan bahwa kekurangan energi kronis pada ibu hamil merupakan faktor risiko penting terhadap kejadian stunting pada balita. [Lihat sumber Disini - journalmpci.com]
Dengan demikian, “perilaku ibu dalam pencegahan stunting sejak kehamilan” mengandung dimensi gizi, kesehatan, pengetahuan, dan lingkungan, bukan sekadar satu tindakan tunggal.
Pentingnya Pencegahan Stunting Dimulai dari Kehamilan
Upaya pencegahan stunting sejak kehamilan sangat krusial karena periode “seribu hari pertama kehidupan” (dari masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun lebih) merupakan masa kritis pertumbuhan dan perkembangan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesmus.ac.id]
Status gizi dan kesehatan ibu selama kehamilan akan menentukan pertumbuhan janin, mulai dari berat badan lahir, panjang badan, hingga cadangan gizi yang akan memengaruhi tumbuh kembang bayi pasca lahir. [Lihat sumber Disini - jurnal.ilmubersama.com]
Dengan mencegah stunting sejak fase prenatal, kita memberi anak awal kehidupan yang optimal, secara fisik, kognitif, dan imunologis, sehingga generasi masa depan memiliki kesehatan yang prima.
Pengetahuan Ibu tentang Nutrisi Kehamilan
Pengetahuan ibu terhadap gizi kehamilan adalah fondasi penting dalam perilaku pencegahan stunting. Ibu yang memahami kebutuhan nutrisi selama hamil, makronutrien, mikronutrien, kebutuhan kalori tambahan, lebih memungkinkan untuk memenuhi asupan secara tepat.
Penelitian di wilayah kerja Puskesmas Abang I (2024) menunjukkan bahwa rendahnya pengetahuan ibu berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting pada balita. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]
Selain itu, intervensi edukasi, seperti kelas ibu hamil, penyuluhan kesehatan, media audiovisual, dan leaflet, terbukti meningkatkan pengetahuan dan sikap positif ibu terhadap pencegahan stunting. [Lihat sumber Disini - jurnal.spp.ac.id]
Artinya, peningkatan literasi gizi kehamilan sangat penting, bukan hanya menunggu nasehat dari tenaga kesehatan, tetapi juga mendorong ibu untuk aktif mencari informasi dan memahami pentingnya gizi seimbang.
Peran Suplementasi Fe dan Asam Folat
Suplemen seperti zat besi (Fe) dan asam folat adalah bagian dari intervensi gizi penting selama kehamilan. Suplementasi ini membantu mencegah anemia, kekurangan mikronutrien, dan mendukung perkembangan janin.
Penelitian terbaru (2025) menemukan bahwa ibu dengan riwayat anemia saat hamil memiliki risiko jauh lebih tinggi melahirkan anak yang kemudian stunting, menunjukkan pentingnya konsumsi tablet tambah darah dan pemantauan hemoglobin selama kehamilan. [Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id]
Dengan suplementasi yang tepat dan konsisten, ibu dapat menjaga status gizi, sehingga janin memperoleh nutrisi optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan, mengurangi risiko bayi lahir dengan berat badan rendah atau panjang tubuh kurang.
Pengaruh Lingkungan dan Sanitasi terhadap Pencegahan Stunting
Lingkungan dan sanitasi rumah tangga berperan dalam mencegah stunting tidak hanya setelah anak lahir, tetapi juga sejak kehamilan, karena kondisi sanitasi dan kebersihan memengaruhi kesehatan ibu hamil: risiko infeksi, penyakit, dan gangguan penyerapan gizi.
Beberapa program pencegahan stunting menganjurkan perbaikan kualitas lingkungan, sanitasi air bersih, kebersihan rumah, dan perilaku hidup sehat di keluarga. [Lihat sumber Disini - edu.pubmedia.id]
Dengan lingkungan yang sehat, ibu hamil lebih terlindungi dari risiko infeksi dan gangguan kesehatan lain yang bisa memengaruhi tumbuh kembang janin, sehingga pencegahan stunting menjadi lebih holistik.
Perilaku Hidup Sehat sebagai Upaya Pencegahan
Perilaku hidup sehat selama kehamilan, seperti pola makan bergizi, istirahat cukup, olahraga ringan sesuai anjuran, menjaga kebersihan, dan menghindari rokok/alkohol (atau faktor risiko lainnya), sangat penting dalam mendukung kehamilan sehat.
Ibu yang menjalankan pola hidup sehat selama kehamilan lebih mungkin memiliki status gizi baik, meminimalkan risiko anemia atau defisiensi nutrisi, dan mendukung pertumbuhan janin optimal. Hal ini berdampak pada kesehatan bayi bahkan setelah lahir.
Peran Pemeriksaan ANC dalam Deteksi Risiko Stunting
Pemeriksaan antenatal care (ANC) secara rutin memungkinkan deteksi dini terhadap risiko malnutrisi, anemia, kekurangan mikronutrien, atau komplikasi kehamilan. Ibu hamil bisa mendapatkan edukasi, suplemen, serta pemantauan pertumbuhan janin dan status gizi ibu.
Penelitian di Banjarmasin (2025) menyarankan minimal enam kunjungan ANC dan kepatuhan terhadap suplementasi zat besi sebagai strategi efektif untuk menurunkan insidensi stunting. [Lihat sumber Disini - journal.stikessuryaglobal.ac.id]
Melalui ANC, tenaga kesehatan juga dapat memberikan penyuluhan gizi, kebersihan, serta mendampingi ibu dalam menjalani kehamilan sehat, sehingga potensi stunting bisa diminimalkan sejak dini.
Hambatan Ibu dalam Melakukan Pencegahan
Meski penting, banyak ibu menghadapi hambatan dalam menerapkan perilaku pencegahan:
-
Pengetahuan gizi kehamilan yang rendah. Beberapa ibu mungkin tidak mengerti kebutuhan nutrisi khusus saat hamil. [Lihat sumber Disini - ejournal.unsrat.ac.id]
-
Akses ke layanan kesehatan terbatas, jarak ke fasilitas kesehatan, biaya, atau ketersediaan tenaga kesehatan.
-
Lingkungan sosial dan ekonomi, keluarga dengan ekonomi lemah atau kurang dukungan suami/keluarga mungkin sulit menyediakan makanan bergizi atau suplemen.
-
Rendahnya kepatuhan terhadap suplementasi atau kunjungan ANC, bisa disebabkan kurangnya edukasi, kepercayaan, atau beban pekerjaan.
Hambatan-hambatan ini perlu diatasi agar upaya pencegahan stunting sejak kehamilan bisa berjalan efektif.
Dukungan Suami dan Keluarga dalam Upaya Pencegahan
Peran suami dan keluarga sangat krusial, tidak hanya sebagai pendamping ibu, tetapi juga penyokong asupan gizi, lingkungan bersih, serta mendukung pemeriksaan kehamilan rutin.
Intervensi edukatif yang melibatkan keluarga, bukan hanya ibu hamil, misalnya melalui kelas ibu hamil bersama pasangan atau anggota keluarga, terbukti meningkatkan pemahaman dan kepedulian terhadap pencegahan stunting. [Lihat sumber Disini - online-journal.unja.ac.id]
Dengan dukungan penuh dari suami/keluarga, ibu akan lebih termotivasi menjalani kehamilan sehat, memenuhi kebutuhan gizi, dan menjaga lingkungan yang baik bagi janin.
Hubungan Status Gizi Ibu dengan Risiko Stunting
Banyak penelitian empiris menunjukkan bahwa status gizi ibu selama kehamilan, dilihat dari asupan nutrisi, anemia, kenaikan berat badan, dan indikator lainnya, berkorelasi signifikan dengan kejadian stunting pada anak.
-
Studi di Puskesmas Bojo Baru (2023) menunjukkan hubungan signifikan antara status gizi ibu dan stunting pada balita. [Lihat sumber Disini - jurnal.itkesmusidrap.ac.id]
-
Riset di wilayah Minggir (2025) menemukan bahwa ibu dengan gizi kurang saat hamil memiliki risiko lebih tinggi melahirkan anak yang kemudian stunting. [Lihat sumber Disini - ejurnal2.poltekkestasikmalaya.ac.id]
-
Penelitian lain (2025) menekankan bahwa kekurangan energi kronis pada ibu hamil merupakan faktor risiko penting terhadap stunting balita. [Lihat sumber Disini - journalmpci.com]
-
Temuan dari beberapa penelitian lintas wilayah (2022, 2024) konsisten menunjukkan bahwa ibu dengan keadaan gizi baik melahirkan bayi dengan peluang lebih kecil mengalami stunting. [Lihat sumber Disini - ejurnal.stikeseub.ac.id]
Dengan demikian, menjaga status gizi ibu sejak sebelum dan selama kehamilan adalah strategi utama dalam pencegahan stunting.
Dampak Perilaku Pencegahan terhadap Kesehatan Janin dan Anak
Jika ibu menjalankan perilaku pencegahan dengan baik, termasuk nutrisi optimal, pemeriksaan rutin, suplementasi, hidup sehat, dan lingkungan bersih, hasilnya bisa sangat berdampak positif:
-
Janin tumbuh optimal: berat badan lahir dan panjang bayi normal, cadangan gizi tercukupi.
-
Risiko bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) atau panjang tubuh kurang bisa diminimalkan.
-
Anak lahir dengan kondisi gizi baik memiliki peluang lebih rendah mengalami stunting, serta potensi tumbuh kembang fisik dan kognitif lebih optimal.
-
Secara jangka panjang, anak dengan tumbuh kembang baik akan lebih sehat, lebih produktif, dan lebih sedikit rentan penyakit, kontribusi besar bagi kualitas generasi ke depan.
Kesimpulan
Pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau petugas kesehatan, tetapi terutama tanggung jawab bersama, dimulai dari masa kehamilan. Perilaku ibu selama kehamilan, meliputi pengetahuan gizi, pemenuhan nutrisi, suplementasi, pemeriksaan ANC, hidup sehat, dan kondisi lingkungan, memainkan peran kunci dalam menentukan apakah bayi kelak tumbuh optimal atau rentan stunting.
Berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa status gizi ibu hamil berpengaruh signifikan terhadap kejadian stunting pada anak. Oleh karena itu, edukasi, dukungan keluarga, akses layanan kesehatan, dan perhatian pada lingkungan harus diperkuat, agar setiap ibu dapat menjalani kehamilan sehat dan setiap anak terlahir dengan potensi optimal.
Dengan demikian, upaya pencegahan stunting harus dimulai sedini mungkin, dari masa kehamilan, agar generasi masa depan tumbuh sehat, cerdas, dan produktif.