
Persepsi Ibu Hamil terhadap Pemeriksaan USG
Pendahuluan
Pemeriksaan kehamilan rutin merupakan bagian penting dari perawatan antenatal (ANC) untuk memantau kesehatan ibu dan janin selama masa kehamilan. Salah satu pemeriksaan penunjang yang sering digunakan adalah Ultrasonografi (USG), yaitu teknik pencitraan menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk melihat kondisi janin di dalam rahim. USG memungkinkan tenaga kesehatan dan calon orang tua memantau perkembangan janin, mengetahui umur kehamilan, posisi plasenta, keberadaan janin, serta mendeteksi potensi kelainan sejak dini. [Lihat sumber Disini - journal.binawan.ac.id]
Meski demikian, penerimaan dan pemanfaatan USG oleh ibu hamil dapat dipengaruhi oleh persepsi, yaitu bagaimana ibu memahami, menilai, dan mengambil keputusan terkait pemeriksaan tersebut. Persepsi ini dibentuk oleh pengetahuan, informasi dari tenaga kesehatan, pengalaman, mitos atau kekhawatiran, dukungan keluarga, biaya, akses layanan, dan faktor-faktor lain. Oleh karena itu, penting untuk menggali bagaimana persepsi ibu hamil terhadap pemeriksaan USG, faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi tersebut, serta dampaknya terhadap pemanfaatan USG dan deteksi dini kondisi janin.
Tulisan ini mengkaji persepsi ibu hamil terhadap USG melalui berbagai aspek: pengetahuan, faktor sosial, akses dan biaya, peran suami, pengalaman kehamilan, serta pengaruh terhadap perilaku pemeriksaan dan deteksi dini kelainan janin.
Definisi Persepsi Ibu Hamil terhadap Pemeriksaan USG
Definisi Persepsi Ibu Hamil terhadap Pemeriksaan USG secara Umum
Persepsi ibu hamil terhadap pemeriksaan USG merujuk pada cara ibu memandang USG: seberapa penting USG bagi kehamilan, manfaat dan potensi risikonya, keyakinan maupun kekhawatiran, kemauan atau keengganan melakukan pemeriksaan, serta keputusan untuk memanfaatkan layanan USG selama kehamilan. Persepsi ini mencakup aspek kognitif (pengetahuan), afektif (perasaan), dan konatif (niat/tingkah laku).
Definisi Persepsi menurut KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “persepsi” adalah cara seseorang memandang atau memahami sesuatu, cara pandang, pengertian. Dalam konteks ini, persepsi berarti cara ibu hamil memahami dan menilai pemeriksaan USG, termasuk manfaat, risiko, dan relevansinya terhadap kehamilan.
Definisi Persepsi Ibu Hamil tentang USG menurut Para Ahli
-
Callen (2008) mendefinisikan USG sebagai moda pemeriksaan kandungan yang aman dan dapat digunakan untuk mengetahui ada tidaknya kehamilan, hidup atau tidaknya janin, lokasi plasenta, dan umur gestasi. USG bukan pemeriksaan wajib, tetapi diharapkan dapat mendeteksi kondisi berisiko terhadap ibu dan janin sejak dini. [Lihat sumber Disini - ojs.unik-kediri.ac.id]
-
Sarwono Prawirohardjo (2016) menyatakan bahwa pemeriksaan USG harus dilakukan oleh tenaga kesehatan kompeten, dengan indikasi klinis, untuk menjaga keamanan janin, dan tidak dianjurkan dilakukan sembarangan atau hanya berdasarkan keingintahuan. [Lihat sumber Disini - library.stikesbup.ac.id]
-
Donsu (2017) mengemukakan bahwa persepsi ibu terhadap layanan kesehatan, termasuk ANC dan USG, dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, informasi dari tenaga kesehatan, serta dukungan sosial. Persepsi ini kemudian memengaruhi sikap dan perilaku kehamilan. [Lihat sumber Disini - siakad.stikesdhb.ac.id]
-
Anggrawati Wulandari et al. (2025) dalam penelitiannya di Surabaya membuktikan bahwa ada hubungan signifikan antara pengetahuan dan sikap ibu hamil dengan perilaku penggunaan USG, artinya, semakin baik pengetahuan dan sikap, semakin besar kemungkinan ibu melakukan USG. [Lihat sumber Disini - jrph.org]
Dengan demikian, persepsi ibu hamil terhadap USG bukan sekadar pengetahuan saja, melainkan juga keyakinan, sikap, pengalaman, dan keputusan untuk bertindak, yang dipengaruhi oleh banyak faktor.
Pengetahuan Ibu tentang Fungsi dan Manfaat USG
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu hamil mengenai manfaat USG sangat beragam. Misalnya dalam sebuah studi di Jakarta Timur, sebagian ibu memahami bahwa USG dapat menunjukkan adanya kehamilan, kondisi janin, lokasi plasenta, dan umur kehamilan. Namun penelitian itu menemukan bahwa tingkat pengetahuan tidak selalu berhubungan dengan pendidikan, pekerjaan, atau usia, melainkan lebih dipengaruhi oleh pengalaman kehamilan sebelumnya. [Lihat sumber Disini - journal.binawan.ac.id]
Penelitian terbaru di Surabaya (2025) menemukan bahwa sekitar 70% ibu hamil memiliki “pengetahuan baik” tentang USG, dan 65% memiliki sikap positif, namun hanya 55% menunjukkan perilaku rutin menggunakan USG ketika hamil. [Lihat sumber Disini - jrph.org]
Pengetahuan yang memadai cenderung meningkatkan kemungkinan ibu menggunakan USG secara rutin. Hal ini juga didukung oleh penelitian di Pangalengan (2025) yang menunjukkan bahwa pengetahuan tentang ANC, termasuk USG, berhubungan signifikan dengan kepatuhan pemeriksaan USG trimester III. Ibu dengan pengetahuan baik lebih cenderung melakukan USG. [Lihat sumber Disini - siakad.stikesdhb.ac.id]
Pengetahuan mengenai manfaat USG, seperti deteksi dini kelainan janin, memantau pertumbuhan janin, mengetahui posisi plasenta, cairan ketuban, serta mempersiapkan persalinan, menjadi dasar agar ibu hamil mau memanfaatkan USG. [Lihat sumber Disini - library.stikesbup.ac.id]
Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Ibu
Banyak faktor berpengaruh terhadap bagaimana ibu hamil memandang USG dan memutuskan apakah akan melaksanakan pemeriksaan, di antaranya:
-
Pengetahuan dan pengalaman sebelumnya. Ibu yang pernah hamil sebelumnya atau memiliki pengalaman dengan USG cenderung lebih memahami dan menghargai manfaat USG dibandingkan primigravida yang belum pernah. [Lihat sumber Disini - journal.binawan.ac.id]
-
Informasi dari tenaga kesehatan dan edukasi. Kualitas layanan dan komunikasi dari bidan/dokter selama ANC sangat mempengaruhi persepsi ibu. Ibu yang mendapatkan informasi jelas tentang tujuan dan manfaat USG cenderung lebih menerima dan patuh. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Motivasi dan dukungan keluarga (termasuk suami). Faktor eksternal seperti dukungan suami/keluarga dan lingkungan sosial penting. Studi di Semarang (2023, 2024) menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan berperan, dukungan suami dan motivasi juga memengaruhi apakah ibu memilih USG atau tidak. [Lihat sumber Disini - library.stikesbup.ac.id]
-
Ekonomi, biaya, dan akses layanan kesehatan. Bagi ibu dengan keterbatasan ekonomi atau tinggal di daerah dengan akses terbatas ke fasilitas USG, biaya dan jarak bisa menjadi hambatan. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.or.id]
-
Paritas / status kehamilan (primigravida vs multigravida). Ibu primigravida seringkali lebih tertarik menggunakan USG karena rasa penasaran dan keingintahuan tinggi terhadap kehamilan pertama. Sebaliknya, multigravida, meskipun memiliki pengalaman, kadang merasa tidak butuh USG jika kehamilan berjalan normal. [Lihat sumber Disini - library.stikesbup.ac.id]
-
Kepercayaan, mitos, atau kekhawatiran tentang keamanan USG. Beberapa ibu mungkin khawatir USG berbahaya untuk janin atau mendengar mitos dari lingkungan, ini bisa mengurangi kemungkinan mereka melakukan USG. [Lihat sumber Disini - library.stikesbup.ac.id]
Pengaruh Informasi Tenaga Kesehatan terhadap Persepsi
Informasi dari tenaga kesehatan, bidan, dokter, perawat, memegang peranan penting dalam membentuk persepsi ibu hamil. Penelitian terbaru (2025) menunjukkan bahwa kualitas pelayanan ANC dan komunikasi bidan berdampak signifikan terhadap persepsi ibu. Ibu yang merasa bahwa penyuluhan, informasi, dan edukasi dijelaskan dengan jelas cenderung memiliki sikap positif terhadap USG dan lebih patuh melakukan pemeriksaan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Sebaliknya, ketika tenaga kesehatan kurang komunikatif atau informasi minim, ibu bisa kebingungan, ragu, atau bahkan menolak USG, karena mereka tidak memahami manfaat, prosedur, atau justru mendapatkan informasi negatif/mitos. [Lihat sumber Disini - siakad.stikesdhb.ac.id]
Oleh karena itu, edukasi maternal yang komprehensif, komunikasi efektif, dan konseling kehamilan menjadi strategi penting agar persepsi ibu terhadap USG lebih positif dan mendukung pemanfaatan pemeriksaan.
Kekhawatiran atau Mitos Seputar Pemeriksaan USG
Meskipun USG secara umum dianggap aman ketika dilakukan oleh tenaga kesehatan kompeten, ada kekhawatiran dan mitos di masyarakat yang bisa memengaruhi persepsi. Beberapa ibu khawatir bahwa USG terlalu sering bisa merusak janin, gelombang suara bisa berdampak negatif, atau bahwa USG hanya untuk melahirkan rasa penasaran (misalnya mencari jenis kelamin) bukan untuk kepentingan medis, sehingga dianggap kurang penting. [Lihat sumber Disini - library.stikesbup.ac.id]
Keengganan juga muncul jika ibu tidak mendapat dukungan suami atau keluarga, atau jika biaya tambahan dianggap beban. Dalam beberapa studi, sebagian ibu memilih USG bukan atas dasar kebutuhan medis tetapi atas permintaan sendiri atau keingintahuan, ini bisa membentuk persepsi bahwa USG “opsional” bukan bagian penting dari ANC. [Lihat sumber Disini - library.stikesbup.ac.id]
Kekhawatiran seperti ini menunjukkan bahwa selain edukasi, diperlukan pendekatan yang menghargai nilai-nilai budaya, keyakinan, dan kepercayaan lokal agar informasi tentang USG diterima dengan baik.
Perbedaan Persepsi antara Primigravida dan Multigravida
Status kehamilan, apakah ini kehamilan pertama (primigravida) atau sudah pernah melahirkan (multigravida), mempengaruhi persepsi dan perilaku terhadap USG. Studi di Puskesmas Tuo Pasir Mayang, Jambi (2024) menunjukkan bahwa ibu primigravida lebih cenderung melakukan USG comparatif terhadap multigravida. Hasil: 93, 3% primigravida melakukan USG, sementara hanya sekitar 48, 1% multigravida yang melakukannya. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Alasan utama, ibu primigravida biasanya punya rasa penasaran dan keingintahuan tinggi terhadap kehamilan pertama, ingin memastikan kondisi janin, dan mendapatkan kepastian. Sedangkan multigravida, yang sudah punya pengalaman kehamilan/kelahiran, kadang merasa cukup dengan pemeriksaan dasar dan menilai USG kurang penting jika kehamilan dianggap normal. [Lihat sumber Disini - library.stikesbup.ac.id]
Perbedaan persepsi ini penting dipahami supaya tenaga kesehatan dan program ANC bisa menyesuaikan pendekatan edukasi dan penyuluhan sesuai profil ibu, agar semua ibu, baik primigravida maupun multigravida, memahami manfaat USG dan termotivasi untuk memanfaatkannya.
Pengaruh Biaya dan Akses terhadap Pemanfaatan USG
Biaya dan akses layanan kesehatan adalah faktor struktural yang sering menjadi hambatan bagi pemanfaatan USG. Banyak ibu, terutama di daerah terpencil atau dengan keterbatasan ekonomi, sulit mengakses fasilitas USG atau menganggap biaya USG terlalu mahal. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.or.id]
Penelitian pengabdian masyarakat (2024) menunjukkan bahwa ketika USG gratis atau layanan diberi dalam rangka kampanye kesehatan, kesadaran dan pemanfaatan USG meningkat dengan signifikan, banyak ibu yang sebelumnya tidak melakukan USG akhirnya ikut pemeriksaan, dan beberapa ditemukan kasus yang memerlukan tindak lanjut. [Lihat sumber Disini - jurnal.edi.or.id]
Dengan demikian, usaha untuk menurunkan hambatan biaya dan memperluas akses, misalnya melalui program gratis, subsidi, mobile clinic, atau penyuluhan di pusat kesehatan, sangat penting agar USG bisa dimanfaatkan secara optimal, terutama oleh ibu hamil di kelompok rentan.
Hubungan Persepsi dengan Kepatuhan Pemeriksaan Kehamilan (USG / ANC)
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa persepsi, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keyakinan, berhubungan signifikan dengan kepatuhan ibu hamil terhadap pemeriksaan ANC dan USG.
Misalnya, studi di Surabaya (2025) menemukan bahwa ibu dengan pengetahuan dan sikap baik terhadap USG lebih cenderung melakukan pemeriksaan USG. [Lihat sumber Disini - jrph.org]
Penelitian di Pangalengan (2025) juga menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang ANC, termasuk manfaat USG, berhubungan signifikan dengan kepatuhan USG trimester III, ibu dengan pengetahuan kurang cenderung tidak patuh. [Lihat sumber Disini - siakad.stikesdhb.ac.id]
Hasil ini konsisten dengan riset tentang ANC secara umum, yang menunjukkan bahwa selain pengetahuan, faktor dukungan suami, motivasi, status ekonomi, dan akses pelayanan mempengaruhi kepatuhan kunjungan antenatal secara lengkap. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.or.id]
Dengan demikian, persepsi ibu bukan hanya bersifat akademis, melainkan berimplikasi langsung pada perilaku: apakah ibu mengikuti rekomendasi pemeriksaan kehamilan, termasuk USG.
Peran Suami dalam Keputusan Pemeriksaan USG
Dukungan suami/keluarga menjadi salah satu faktor eksternal yang mempengaruhi persepsi dan keputusan ibu hamil untuk melakukan USG. Studi di Lerep, Semarang (2023, 2024) menunjukkan bahwa meskipun pengetahuan ibu cukup, keputusan melakukan USG dipengaruhi oleh suami atau keluarga, namun penelitian itu juga menemukan bahwa dukungan suami tidak selalu signifikan secara statistik terhadap pilihan USG. [Lihat sumber Disini - library.stikesbup.ac.id]
Penelitian lain menunjukkan bahwa di banyak kasus, ibu tanpa dukungan suami atau keluarga kurang termotivasi melakukan ANC atau USG, terutama jika biaya dan akses menjadi beban tambahan. [Lihat sumber Disini - ejournal.nusantaraglobal.or.id]
Artinya: pemberdayaan suami/keluarga dalam edukasi kehamilan dan penyuluhan penting agar ibu mendapatkan dukungan moral dan praktis (biaya, transportasi, waktu), sehingga keputusan menggunakan USG lebih mungkin terlaksana.
Dampak Persepsi terhadap Deteksi Dini Kelainan Janin
USG memiliki peran diagnostik penting dalam mendeteksi malformasi, pertumbuhan janin, posisi plasenta, jumlah cairan ketuban, faktor yang bisa menentukan intervensi dini jika ada penyimpangan. [Lihat sumber Disini - jurnalsandihusada.polsaka.ac.id]
Namun, jika persepsi ibu negatif, misalnya menganggap USG hanya “opsional”, “untuk tahu jenis kelamin saja”, atau khawatir terhadap risiko, maka pemeriksaan bisa diabaikan, sehingga deteksi dini gangguan janin bisa terlewat. Ini berpotensi meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, kelahiran prematur, cacat, atau kondisi kesehatan bayi setelah lahir. [Lihat sumber Disini - jurnal.edi.or.id]
Sebaliknya, persepsi positif dan pemahaman tentang manfaat USG mendorong penggunaan USG secara rutin, meningkatkan kemungkinan deteksi dini dan penanganan cepat terhadap potensi masalah janin.
Pengaruh Pengalaman Kehamilan Sebelumnya terhadap Persepsi
Ibu dengan pengalaman kehamilan dan kelahiran sebelumnya (multigravida) cenderung memiliki pengetahuan dan sikap berbeda dibanding primigravida. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pengalaman bisa meningkatkan pengetahuan tentang kehamilan dan pemeriksaan, sehingga mempengaruhi persepsi terhadap USG. [Lihat sumber Disini - journal.binawan.ac.id]
Namun hasil penelitian berbeda-beda: ada yang menunjukkan multigravida kurang tertarik USG dibanding primigravida, karena merasa kehamilan rutin dan tidak perlu pemeriksaan lebih. [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]
Pengalaman sebelumnya bisa membuat ibu lebih kritis dan selektif terhadap jenis pemeriksaan, tergantung pengalaman persalinan sebelumnya, hasil kehamilan, dan informasi perawatan prenatal. Oleh karena itu, strategi edukasi harus tetap menyasar ibu multigravida agar memahami bahwa setiap kehamilan unik dan USG tetap penting.
Kesimpulan
Persepsi ibu hamil terhadap pemeriksaan USG sangat mempengaruhi apakah pemeriksaan itu akan dimanfaatkan selama kehamilan. Persepsi ini dibentuk oleh pengetahuan, informasi dari tenaga kesehatan, pengalaman kehamilan sebelumnya, dukungan suami/keluarga, motivasi, serta faktor struktural seperti biaya dan akses layanan.
Pengetahuan yang memadai dan edukasi yang baik dari tenaga kesehatan cenderung meningkatkan sikap positif dan kepatuhan melakukan USG. Sebaliknya, kekhawatiran, mitos, kurangnya dukungan, atau keterbatasan akses dapat menurunkan minat dan pemanfaatan USG, sehingga potensi untuk deteksi dini gangguan janin ikut berkurang.
Perbedaan antara primigravida dan multigravida menunjukkan bahwa strategi komunikasinya pun perlu berbeda: primigravida sering membutuhkan penekanan pada kepentingan USG, sedangkan multigravida perlu disadarkan bahwa setiap kehamilan berbeda dan pemeriksaan rutin tetap dianjurkan.
Dukungan suami dan keluarga serta upaya menurunkan hambatan biaya dan akses juga krusial agar USG bisa dijangkau oleh seluruh ibu hamil, terutama di daerah terpencil atau kelompok ekonomi lemah.
Dengan membangun persepsi positif melalui edukasi, penyuluhan, dan layanan antenatal yang mudah diakses, diharapkan pemanfaatan USG meningkat, sehingga deteksi dini kelainan janin dan komplikasi kehamilan bisa dilakukan lebih awal, berdampak pada kualitas kesehatan ibu dan bayi.