
Insecurity: Konsep dan Pembentukan Diri
Pendahuluan
Insecurity, atau rasa tidak aman, merupakan fenomena psikologis yang semakin relevan dalam kehidupan modern. Seiring dengan akses luas ke media sosial, tuntutan prestasi akademik, serta perbandingan diri dengan orang lain, banyak individu mengalami perasaan kurang percaya diri, keraguan akan kemampuan diri, hingga kecemasan berlebihan. Perasaan insecure tidak hanya mempengaruhi aspek emosional seseorang, tetapi juga relasi sosial, kesehatan mental, dan cara individu melihat dirinya sendiri dalam berbagai konteks kehidupan. Studi-studi psikologi menunjukkan bahwa insecurity dapat muncul dari persepsi ancaman terhadap diri sendiri atau lingkungan, yang kemudian menimbulkan ketidaknyamanan dan pikiran negatif terhadap diri sendiri. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Insecurity
Definisi Insecurity Secara Umum
Insecurity secara umum dapat diartikan sebagai keadaan psikologis di mana seseorang merasa tidak aman, kurang percaya diri, khawatir akan penilaian atau kemampuan dirinya, serta sering membandingkan dirinya dengan orang lain. Istilah ini mencakup perasaan cemas, keraguan, dan persepsi negatif terhadap diri sendiri yang menyebabkan individu merasa tidak nyaman dalam interaksi sosial ataupun situasi kehidupan sehari-hari. [Lihat sumber Disini - bpsy.telkomuniversity.ac.id]
Definisi Insecurity dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata insecure berasal dari bahasa Inggris yang berarti tidak aman atau tidak percaya diri. Walaupun tidak terdapat entri khusus untuk insecurity dalam KBBI, makna ini menggambarkan perasaan atau kondisi di mana seseorang merasa tidak memiliki rasa percaya dan jaminan terhadap dirinya sendiri atau terhadap situasi yang dihadapinya. [Lihat sumber Disini - ifrelresearch.org]
Definisi Insecurity Menurut Para Ahli
-
Greenhalgh & Rosenblatt (1984) menyatakan bahwa insecurity adalah premonisi terhadap risiko psikologis atau fisik yang mungkin terjadi, termasuk dimensi keamanan interpersonal dan rasa kontrol terhadap kondisi diri sendiri. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Mardiana et al. (2024) menjelaskan bahwa insecure adalah rasa kurang percaya diri dan perasaan negatif terhadap diri sendiri yang berdampak pada cara seseorang berinteraksi dan berpikir. [Lihat sumber Disini - bpsy.telkomuniversity.ac.id]
-
Ilomata International Journal of Social Science (2025) menyebutkan bahwa perasaan insecurity terdiri dari perasaan tidak cukup baik, merasa kekurangan, serta selalu merasa kurang dalam dirinya sendiri. [Lihat sumber Disini - ilomata.org]
-
Penelitian di Aflah Consilia menunjukkan bahwa insecurity sering muncul karena kurangnya kepercayaan diri ketika individu membandingkan dirinya dengan orang lain di sekitar mereka. [Lihat sumber Disini - ejournal.iaingawi.ac.id]
Faktor Pembentuk Insecurity
Pembentukan insecurity bukanlah suatu proses yang tunggal, melainkan kombinasi dari berbagai faktor psikologis, sosial, dan lingkungan. Salah satu faktor utama adalah perbandingan sosial, di mana individu cenderung membandingkan dirinya dengan prestasi, penampilan, atau kehidupan orang lain. Hal ini sering diperburuk oleh penggunaan media sosial yang intens, di mana citra ideal sering kali diproyeksikan tanpa konteks realitas. [Lihat sumber Disini - repository.uin-suska.ac.id]
Faktor lain adalah pengalaman masa kecil seperti pola asuh otoriter atau kurangnya dukungan emosional yang dapat memberikan dasar bagi ketidakamanan dalam diri seseorang. Ketika seorang anak dibesarkan dalam lingkungan yang sering memberikan tekanan atau kritik tanpa dukungan, individu tersebut mungkin menginternalisasi perasaan tidak layak yang bertahan hingga dewasa. [Lihat sumber Disini - repository.unissula.ac.id]
Selain itu, faktor akademik dan pekerjaan dapat memainkan peran penting. Misalnya, mahasiswa yang mengalami insecure akademik merasa cemas karena dianggap kurang kompeten dibandingkan teman sekelasnya, yang dapat memperkuat perasaan kurang aman serta keraguan terhadap kemampuan akademiknya sendiri. [Lihat sumber Disini - ejournal.unesa.ac.id]
Secara psikologis, tingkat self-concept atau konsep diri juga sangat mempengaruhi pembentukan insecurity. Individu yang memiliki konsep diri rendah cenderung lebih mudah merasa insecure karena kurangnya persepsi positif terhadap kemampuan maupun nilai dirinya sendiri. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Insecurity dan Konsep Diri
Konsep diri merupakan cara individu melihat dan menilai dirinya sendiri, yang mencakup aspek kognitif dan emosional tentang siapa diri mereka, apa kekuatan mereka, serta bagaimana kemampuan mereka dalam menghadapi tantangan. Ketika konsep diri seseorang lemah, hal ini dapat memperkuat rasa insecurity, karena individu tersebut tidak memiliki landasan mental yang kuat untuk menilai dirinya secara objektif. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Penelitian menunjukkan bahwa konsep diri yang positif dapat mengurangi tingkat insecurity. Individu dengan self-concept yang lebih positif cenderung memiliki pandangan yang realistis terhadap diri mereka sendiri, mampu meminimalkan perasaan tidak aman, dan lebih mampu menerima kekurangan mereka tanpa menghakimi diri sendiri secara berlebihan. Dengan demikian, hubungan antara konsep diri dan insecurity bersifat negatif: semakin kuat dan positif konsep diri seseorang, semakin rendah tingkat insecurity yang mereka alami. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Insecurity dalam Relasi Sosial
Insecurity dapat sangat mempengaruhi cara individu berinteraksi dalam relasi sosial. Ketidakamanan diri sering muncul dalam bentuk kekhawatiran akan penolakan, perasaan tidak layak dalam hubungan, serta kecenderungan membandingkan diri dengan teman atau pasangan. Individu yang insecure cenderung kesulitan untuk menjalin hubungan yang sehat karena rasa takut ditolak atau merasa tidak cukup baik untuk orang lain. [Lihat sumber Disini - bpsy.telkomuniversity.ac.id]
Dalam konteks relasi interpersonal, insecurity sering berhubungan dengan gaya keterikatan yang tidak aman (insecure attachment), di mana individu cenderung tidak nyaman dengan keintiman atau justru terlalu bergantung pada orang lain untuk rasa aman. Pola ini dapat mempengaruhi kualitas hubungan, tingkat keintiman, serta kepuasan dalam hubungan tersebut. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Selain itu, individu yang insecure dalam relasi sosial sering menggunakan strategi defensif seperti mencari validasi secara berlebihan, atau sebaliknya menarik diri untuk menghindari penilaian negatif, yang keduanya dapat merusak hubungan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - bpsy.telkomuniversity.ac.id]
Dampak Insecurity terhadap Kesehatan Mental
Insecurity memiliki dampak yang luas terhadap kesehatan mental seseorang. Perasaan kurang percaya diri, kecemasan berlebihan, dan pandangan negatif terhadap diri sendiri dapat meningkatkan risiko gangguan psikologis seperti depresi, gangguan kecemasan, dan masalah emosional lainnya. Ketika seseorang terus-menerus merasa tidak aman, pikiran negatif dapat berkembang menjadi pola yang sulit diubah tanpa intervensi psikologis. [Lihat sumber Disini - bpsy.telkomuniversity.ac.id]
Beberapa studi juga menunjukkan bahwa insecurity berkontribusi pada kesulitan dalam mengelola emosi dan tekanan hidup sehari-hari. Individu dengan insecurity yang tinggi sering mengalami stres kronis dan overthinking terhadap situasi sosial atau tantangan hidup, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - bpsy.telkomuniversity.ac.id]
Selain itu, insecurity yang tidak ditangani dapat memperburuk kesehatan mental jangka panjang, termasuk gangguan tidur, penurunan motivasi, serta isolasi sosial karena rasa takut terhadap hubungan dan interaksi sosial. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Strategi Mengatasi Insecurity
Mengatasi insecurity memerlukan pendekatan yang holistik dan konsisten. Salah satu strategi utama adalah meningkatkan self-esteem melalui refleksi diri, pengembangan diri, dan penerimaan terhadap kekurangan diri sendiri. Penguatan konsep diri ini dapat membantu individu melihat dirinya secara lebih objektif dan menghargai nilai yang dimiliki. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Intervensi psikologis seperti terapi kognitif perilaku (Cognitive Behavioral Therapy) dapat membantu individu mengidentifikasi pola pikir negatif yang memperkuat insecurity serta menggantinya dengan pola pikir yang lebih adaptif. Terapi ini terbukti efektif dalam meningkatkan rasa percaya diri dan mengurangi kecemasan berlebihan. [Lihat sumber Disini - press.umsida.ac.id]
Selain itu, dukungan sosial dari teman, keluarga, atau kelompok pendukung dapat menjadi sumber kekuatan psikologis yang signifikan. Menerima umpan balik positif dan dukungan emosional dari lingkungan sekitar dapat membantu individu membangun rasa aman dan percaya diri. [Lihat sumber Disini - press.umsida.ac.id]
Strategi lain termasuk praktik mindfulness, pembelajaran keterampilan sosial, serta pemusatan perhatian pada aspek kekuatan diri sendiri daripada kekurangan. Mengembangkan hobi atau keterampilan baru juga dapat membantu meningkatkan rasa percaya diri dan memberikan rasa pencapaian yang positif. [Lihat sumber Disini - press.umsida.ac.id]
Kesimpulan
Insecurity adalah kondisi psikologis yang mencerminkan perasaan tidak aman, kurang percaya diri, serta keraguan yang mendalam terhadap diri sendiri dan kemampuan individu. Fenomena ini dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti perbandingan sosial, pengalaman masa kecil, serta konsep diri yang kurang positif. Insecurity berhubungan erat dengan bagaimana individu melihat dirinya sendiri (self-concept) dan memiliki dampak signifikan terhadap relasi sosial serta kesehatan mental. Untuk mengatasi insecurity, diperlukan pendekatan yang melibatkan penguatan harga diri, dukungan sosial, serta intervensi psikologis yang tepat. Penanganan yang efektif dapat membantu individu mengelola perasaan insecure, meningkatkan kualitas hidup, dan membangun hubungan yang lebih sehat serta adaptif dalam berbagai aspek kehidupan.