
Perilaku Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukan Identitas
Pendahuluan
Remaja merupakan fase perkembangan manusia yang berada di antara masa anak-anak dan dewasa, ditandai oleh perubahan fisik, emosional, sosial, dan psikologis yang signifikan. Masa ini adalah periode di mana individu mulai membentuk jati diri yang unik dan menetapkan nilai-nilai, cara berinteraksi, serta pola perilaku sosial yang akan berdampak pada kehidupannya di kemudian hari. Salah satu aspek penting dalam kehidupan remaja adalah perilaku sosial, yakni cara mereka berinteraksi dalam lingkungan sosial dengan teman sebaya, keluarga, sekolah, dan masyarakat luas.
Perilaku sosial remaja sangat dinamis dan dipengaruhi oleh berbagai faktor psikososial, termasuk dukungan teman sebaya, norma kelompok, serta pengalaman interaksi yang mereka alami sehari-hari. Eksplorasi nilai, status, dan peran sosial membuat remaja berada pada keadaan pencarian identitas yang sering kali berujung pada krisis peran maupun kebingungan fungsi sosial jika tidak didukung dengan lingkungan yang sehat. Pemahaman mendalam terhadap perilaku sosial remaja dan proses pembentukan identitas sangat penting bagi para pendidik, psikolog, orang tua, serta pembuat kebijakan pendidikan dan sosial.
Definisi Perilaku Sosial Remaja
Definisi Perilaku Sosial Remaja Secara Umum
Secara umum, perilaku sosial remaja merupakan pola tingkah laku yang ditunjukkan oleh remaja saat berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, termasuk teman sebaya, keluarga, sekolah, dan masyarakat luas. Perilaku ini mencakup cara berkomunikasi, berteman, bekerjasama, menyelesaikan konflik, serta mengambil keputusan sosial yang mencerminkan nilai dan identitas diri. Perilaku sosial remaja dipengaruhi oleh kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, interaksi dengan teman sebaya, serta norma yang berlaku di lingkungan sosial tempat mereka tumbuh dan berkembang. Sifat perilaku sosial remaja berubah mengikuti perkembangan psikososial mereka, terutama saat mereka mencari pengakuan sosial dan penerimaan kelompok (konformitas) serta ekspresi diri yang autentik di tengah tekanan sosial sekitar mereka. ([Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id])
Definisi Perilaku Sosial Remaja dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perilaku sosial dapat diartikan sebagai cara bertingkah laku seseorang dalam pergaulan dengan manusia di sekitarnya. Dalam konteks remaja, perilaku sosial merujuk pada pola tingkah laku yang muncul saat remaja berinteraksi dengan orang lain, terutama teman sebaya dan lingkungan sosialnya, termasuk cara remaja mengekspresikan emosi, memenuhi tanggung jawab sosial, dan menyesuaikan diri terhadap norma sosial yang berlaku. (Definisi KBBI perilaku sosial: perilaku yang berkaitan dengan interaksi dalam masyarakat).
Definisi Perilaku Sosial Remaja Menurut Para Ahli
-
George Herbert Mead menjelaskan bahwa perilaku sosial mencerminkan proses interaksi simbolik antara individu dan masyarakat, di mana remaja belajar memahami peran sosial melalui komunikasi dan interaksi mereka dengan orang lain. ([Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id])
-
Sarlito W. Mangunwidjaja menyatakan bahwa perilaku sosial adalah perilaku yang berkembang dan dipertahankan oleh anggota masyarakat yang memberi penguatan perilaku tertentu pada individu. ([Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id])
-
Nurmawati et al. (2025) menyebut perilaku sosial remaja sebagai pola tingkah laku yang dipengaruhi oleh hubungan interpersonal, baik dari keluarga, teman sebaya, maupun lingkungan sosial lainnya dalam proses perkembangan psikososial remaja. ([Lihat sumber Disini - journal.lppm-stikesfa.ac.id])
-
Annis (dalam studi perilaku remaja) mengemukakan bahwa perilaku sosial remaja mencerminkan kemampuan remaja dalam menyesuaikan diri dengan kelompok sosialnya serta dalam mengelola konflik dan persamaan yang muncul selama interaksi sosial. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])
Faktor Psikososial Pembentuk Perilaku Remaja
Perilaku sosial remaja tidak muncul begitu saja, melainkan dibentuk oleh berbagai faktor psikososial yang saling berinteraksi. Faktor-faktor berikut ini berperan penting dalam membentuk karakter dan tingkah laku sosial yang ditampilkan remaja:
1. Teman Sebaya (Peer Group)
Teman sebaya merupakan salah satu sumber dukungan sosial yang paling kuat selama masa remaja. Dukungan sosial teman sebaya memiliki hubungan positif yang signifikan terhadap pencapaian identitas diri remaja; remaja yang menerima dukungan sosial tinggi dari teman sebaya cenderung lebih berhasil dalam menyusun konsep identitasnya. ([Lihat sumber Disini - jurnal.umbarru.ac.id])
Selain itu, peer group juga memainkan peran penting dalam membentuk karakter dan self-esteem remaja, di mana penerimaan dan pengakuan dari kelompok sebaya membantu remaja merasa dihargai dan percaya diri dalam interaksinya. ([Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id])
2. Interaksi dalam Lingkungan Sekolah
Interaksi sosial di sekolah sangat memengaruhi perilaku sosial remaja. Sekolah sebagai lingkungan edukatif menyediakan konteks sosial di mana remaja belajar aturan sosial, bekerjasama, memecahkan konflik, dan mendapatkan umpan balik atas perilaku mereka. Penelitian menunjukkan bahwa interaksi sosial di lingkungan sekolah, seperti hubungan dengan teman dan guru, sangat memengaruhi pembentukan perilaku sosial dan identitas diri remaja. ([Lihat sumber Disini - ejournal.appisi.or.id])
3. Keluarga dan Komunikasi Interpersonal
Keluarga merupakan fondasi awal bagi perkembangan perilaku sosial remaja. Pola komunikasi yang sehat dan dukungan emosional dari orang tua membantu remaja merasa aman untuk mengeksplorasi identitas diri mereka dan memperoleh keterampilan sosial yang baik. Komunikasi yang harmonis antara remaja dengan keluarga membantu remaja menjembatani hubungan mereka dengan lingkungan sosial yang lebih luas. ([Lihat sumber Disini - jipipi.org])
4. Perubahan Psikologis Internal
Teori psikososial Erik Erikson menyatakan bahwa masa remaja merupakan periode di mana individu mulai mengalami konflik antara identitas versus kebingungan peran (identity vs role confusion). Ketika remaja dapat menyelesaikan konflik ini dengan baik, mereka mengembangkan rasa identitas yang kohesif; namun apabila konflik tidak berhasil diselesaikan, mereka dapat mengalami kebingungan identitas yang berdampak pada perilaku sosialnya. ([Lihat sumber Disini - ejournal.pustakakaryamandiri.com])
5. Media Sosial dan Teknologi Komunikasi
Perkembangan teknologi komunikasi menyediakan ruang yang besar bagi remaja untuk mengekspresikan diri dan berinteraksi. Media sosial bisa menjadi ruang positif untuk memperluas jaringan sosial dan ekspresi diri, tetapi juga dapat memberikan tekanan sosial dan perbandingan yang berlebihan yang berpotensi mengganggu konsistensi identitas diri. ([Lihat sumber Disini - ejurnal.undana.ac.id])
Perilaku Sosial dan Identitas Diri Remaja
Remaja berada pada fase perkembangan yang disebut sebagai periode eksplorasi identitas, di mana mereka mencoba menemukan “siapa diri mereka sebenarnya” dalam hubungannya dengan kelompok sosial, nilai budaya, dan norma masyarakat.
Proses Pembentukan Identitas
Pembentukan identitas diri remaja sangat dipengaruhi oleh hubungan interpersonal dan lingkungan sosial sekitarnya. Identitas diri mencakup aspek psikologis internal dan sosial eksternal, termasuk peran sosial, nilai, keyakinan, dan sikap yang berkembang dari pengalaman interaksi sosial. Studi menunjukkan bahwa relasi yang sehat dan kualitas hubungan dengan teman sebaya memiliki asosiasi positif terhadap perkembangan identitas remaja. ([Lihat sumber Disini - researchgate.net])
Pengaruh Peer Group terhadap Identitas Diri
Peer group bukan hanya sekadar lingkungan sosial, tetapi juga tempat di mana remaja belajar norma, nilai, serta ekspektasi kelompok yang turut membentuk cara pandang dan identitas mereka. Studi tentang peer group menunjukkan bahwa norma kelompok dapat menjadi prediktor penting bagi pembentukan identitas sosial remaja. ([Lihat sumber Disini - journals.kmanpub.com])
Dukungan sosial yang diberikan oleh teman sebaya juga berkorelasi positif dengan pencapaian identitas (identity achievement); remaja yang mendapat dukungan tinggi dari teman sebaya cenderung lebih berhasil meraih status identity achievement dibandingkan yang kurang mendapat dukungan. ([Lihat sumber Disini - jurnal.umbarru.ac.id])
Pengaruh Kelompok Sebaya terhadap Perilaku Sosial
Peer influence memiliki dampak besar pada perilaku sosial remaja. Pengaruh ini dapat bersifat positif maupun negatif, tergantung pada norma, nilai, dan pola interaksi kelompok tersebut.
Konformitas dan Tekanan Kelompok
Adolescence merupakan periode sensitivitas tinggi terhadap pengaruh peer; remaja cenderung menyesuaikan sikap dan perilaku mereka agar sesuai dengan harapan kelompoknya. Hal ini kadang membuat mereka mengadopsi perilaku yang adaptif maupun maladaptif, seperti pola berpakaian tertentu, perilaku konsumtif, atau bahkan perilaku risiko tinggi. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])
Dampak Positif Peer Influence
Kelompok sebaya bisa memberikan dukungan emosional, memperluas keterampilan sosial, serta membantu remaja merasa diterima, yang secara psikososial mendukung perkembangan identitas yang sehat dan positif. β£([Lihat sumber Disini - jurnal.umbarru.ac.id])
Dampak Negatif Peer Influence
Sebaliknya, tekanan kelompok yang kuat dapat mendorong remaja untuk melakukan perilaku yang tidak sehat, seperti menuruti norma berisiko, menghindari nilai keluarga, atau mengambil keputusan impulsif demi mendapatkan pengakuan sosial. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])
Perilaku Sosial Remaja dalam Lingkungan Sekolah
Sekolah merupakan lingkungan sosial formal utama bagi remaja yang menyediakan konteks pembelajaran sosial yang berbeda dari lingkungan keluarga.
Norma dan Aturan Sekolah
Lingkungan sekolah menetapkan norma, aturan, serta ekspektasi yang harus diikuti remaja, seperti tata tertib, kegiatan kelompok, dan interaksi antar siswa. Interaksi ini membantu remaja mempelajari aspek sosial seperti tanggung jawab, kerja sama tim, serta menyelesaikan konflik secara positif. ([Lihat sumber Disini - journal.unnes.ac.id])
Perilaku Sosial dalam Aktivitas Pendidikan
Kegiatan ekstrakurikuler, pengalaman organisasi, dan kegiatan kelompok di sekolah membantu remaja membentuk keterampilan sosial dan nilai kepemimpinan. Hal ini memberikan pengalaman nyata dalam mengenali peran sosial dan cara mengambil keputusan dalam konteks sosial nyata.
Interaksi dengan Guru dan Teman
Hubungan interpersonal yang positif dengan guru dan teman sekelas dapat meningkatkan rasa aman dan percaya diri remaja untuk bereksplorasi secara sosial dan akademis. Interaksi ini turut memengaruhi perilaku sosial mereka di luar kelas. ([Lihat sumber Disini - ejournal.appisi.or.id])
Dampak Perilaku Sosial terhadap Perkembangan Remaja
1. Dampak Positif
-
Pengembangan keterampilan sosial, termasuk komunikasi, empati, dan kerja sama tim, yang mendukung relasional interpersonal di masa dewasa.
-
Identitas sosial yang sehat, ketika remaja berhasil menyeimbangkan kebutuhan individu dengan norma sosial yang mendukung perkembangan positif mereka.
-
Dukungan emosional, dari teman sebaya yang memperkuat rasa percaya diri dan penghargaan diri. ([Lihat sumber Disini - jurnal.umbarru.ac.id])
2. Dampak Negatif
-
Tekanan konformitas yang berlebihan, yang mendorong remaja melakukan perilaku berisiko untuk diterima dalam kelompok. ([Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov])
-
Kebingungan identitas, terutama jika remaja tidak memperoleh dukungan lingkungan yang sehat, sehingga menghadapi konflik internal yang lambat teratasi.
-
Perilaku maladaptif, seperti keterlibatan dalam perilaku agresif, penyalahgunaan zat, atau perilaku menyimpang lainnya yang dipengaruhi oleh interaksi masyarakat atau peer group yang negatif.
Kesimpulan
Perilaku sosial remaja merupakan hasil interaksi kompleks antara faktor psikososial internal dan eksternal yang mencakup teman sebaya, keluarga, sekolah, serta konteks budaya dan teknologi komunikasi. Perilaku sosial yang sehat membantu remaja dalam eksplorasi identitas diri, memperkuat keterampilan interpersonal, serta membentuk nilai dan keyakinan yang stabil. Teman sebaya memainkan peran kunci dalam pembentukan identitas sosial, dimana dukungan positif berkontribusi pada pencapaian identitas yang matang, sedangkan tekanan kelompok yang berlebihan dapat menimbulkan konflik peran dan perilaku berisiko.
Secara keseluruhan, pengembangan perilaku sosial remaja bukan hanya soal interaksi sosial semata, tetapi merupakan bagian dari perjalanan psikososial yang membentuk jati diri mereka sebagai individu dewasa yang mampu beradaptasi dengan baik dalam berbagai konteks sosial.