
Keamanan Pasien di Ruang Perawatan
Pendahuluan
Pelayanan kesehatan di rumah sakit tidak hanya menekankan aspek kesembuhan, melainkan juga harus menjamin bahwa pasien memperoleh perawatan dalam kondisi yang aman, tanpa risiko cedera akibat kesalahan medis atau prosedur. Karena kompleksitas layanan kesehatan, risiko terhadap keselamatan pasien dapat muncul dari berbagai aspek: prosedur medis, pengobatan, komunikasi, lingkungan perawatan, dan lain-lain. Oleh sebab itu, penerapan prinsip dan standar keselamatan pasien (patient safety) menjadi sangat penting sebagai bagian dari mutu pelayanan. Artikel ini bertujuan membahas secara mendalam aspek-aspek penting dalam keselamatan pasien di ruang perawatan, mulai dari definisi, prinsip, risiko, pencegahan kesalahan, peran perawat, standar, hingga contoh insiden dan penanganannya.
Definisi Keamanan Pasien (Patient Safety)
Definisi secara umum
Keselamatan Pasien (atau dikenal sebagai Patient Safety) secara umum merujuk pada suatu sistem di mana rumah sakit atau fasilitas layanan kesehatan berupaya menjadikan asuhan/pelayanan terhadap pasien sebagai lebih aman, dengan tujuan mencegah cedera atau bahaya yang dapat dihindari akibat kesalahan dalam tindakan medis maupun kelalaian dalam memberikan tindakan yang seharusnya. [Lihat sumber Disini - repository.stikes-yrsds.ac.id]
Definisi menurut KBBI
Menurut sebuah definisi nasional yang disadur dari konsep layanan kesehatan, keselamatan pasien mengacu pada kondisi “tanpa bahaya yang dapat dicegah” bagi pasien selama proses pelayanan kesehatan, yakni memastikan bahwa setiap tindakan medis atau perawatan tidak menyebabkan bahaya yang seharusnya bisa dihindari. [Lihat sumber Disini - economics.pubmedia.id]
Definisi menurut para ahli
-
Dalam penelitian literatur, disebutkan bahwa keselamatan pasien meliputi “asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden, kemampuan belajar dari insiden serta tindak lanjutnya, dan implementasi solusi untuk meminimalkan risiko serta mencegah cedera/pengaruh negatif.” [Lihat sumber Disini - journal.literasisains.id]
-
World Health Organization (WHO) dalam kerangka global mendefinisikan patient safety sebagai upaya sistematis untuk mencegah, mengurangi, dan mengatasi kesalahan medis atau kejadian yang merugikan pasien selama pelayanan kesehatan. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Berdasarkan modul manajemen keselamatan pasien, keselamatan pasien merupakan bagian dari dimensi mutu pelayanan kesehatan yang kompleks, mencakup aspek struktur, proses, dan outcome layanan. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]
-
Penelitian kontemporer menunjukkan bahwa keselamatan pasien bukan hanya aspek teknis, tetapi juga dipengaruhi budaya organisasi, pengetahuan dan kompetensi tenaga kesehatan, sistem pelaporan insiden dan pembelajaran dari insiden tersebut. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]
Prinsip-Prinsip Keselamatan Pasien
-
Pencegahan risiko dan cedera: Fokus utama adalah menghindari kejadian yang bisa dicegah, baik tindakan maupun kelalaian. [Lihat sumber Disini - jurnal.usk.ac.id]
-
Identifikasi dan manajemen risiko: Melakukan asesmen risiko terhadap setiap pasien, serta identifikasi potensi bahaya, lalu menetapkan tindakan preventif. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Pelaporan dan analisis insiden: Setiap kejadian tidak diharapkan atau nyaris terjadi cedera harus dilaporkan, dianalisis, dan dijadikan pembelajaran. [Lihat sumber Disini - repository.stikes-yrsds.ac.id]
-
Pembelajaran dan perbaikan berkelanjutan: Dari hasil analisis insiden, institusi kesehatan harus mengambil tindakan korektif dan preventif agar kesalahan serupa tidak terulang. [Lihat sumber Disini - journal.literasisains.id]
-
Budaya keselamatan (safety culture): Menumbuhkan kesadaran kolektif pada semua staf medis untuk selalu mengutamakan keselamatan pasien, komunikasi, kerjasama tim, supervisi, dan lingkungan yang mendukung. [Lihat sumber Disini - adihusada.ac.id]
Jenis Risiko Keamanan di Rumah Sakit
Beberapa jenis risiko dan insiden yang mengancam keselamatan pasien di rumah sakit antara lain:
-
Kesalahan pengobatan dan medikasi (medication errors), pemberian obat yang salah dosis, salah pasien, interaksi obat, dsb. [Lihat sumber Disini - jurnal.fkm.umi.ac.id]
-
Infeksi nosokomial (infeksi terkait perawatan): misalnya infeksi luka, infeksi saluran kemih, infeksi akibat prosedur invasif. [Lihat sumber Disini - jurnal.fkm.umi.ac.id]
-
Jatuh/pasca perawatan (falls), terutama pada pasien rentan seperti lansia, disabilitas, risiko cedera akibat lingkungan, mobilisasi, pengawasan kurang. [Lihat sumber Disini - jurnal.htp.ac.id]
-
Cedera akibat prosedur medis atau pembedahan, termasuk kesalahan prosedur, ketidaksesuaian protokol, kurang pengawasan. [Lihat sumber Disini - jurnal.fkm.umi.ac.id]
-
Kesalahan identifikasi pasien, komunikasi yang buruk antar tenaga kesehatan atau antara tenaga kesehatan dengan pasien, menyebabkan tindakan yang salah. [Lihat sumber Disini - jurnalpengabdianmasyarakatbangsa.com]
-
Kelalaian dalam dokumentasi, pelaporan, serta kurangnya budaya keselamatan, menyebabkan risiko berulang. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Pencegahan Kesalahan Medik
Untuk mencegah kesalahan medik dan insiden, beberapa strategi dan intervensi penting:
-
Penerapan protokol yang jelas untuk pemberian obat, identifikasi pasien, prosedur invasif, dokumentasi, dan verifikasi sebelum tindakan.
-
Pelatihan dan edukasi berkelanjutan bagi tenaga kesehatan (termasuk perawat) tentang patient safety, risiko, cara pelaporan insiden, pencegahan, dan komunikasi efektif. Sesuai hasil penelitian di 2025, edukasi signifikan meningkatkan pengetahuan tenaga kesehatan terhadap keselamatan pasien. [Lihat sumber Disini - jurnalpengabdianmasyarakatbangsa.com]
-
Membangun budaya keselamatan, mendorong pelaporan insiden tanpa rasa takut, analisis akar penyebab (root cause analysis), belajar dari kejadian, dan perbaikan sistematik. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]
-
Sistem manajemen dan tata kelola keselamatan pasien yang baik (leadership, supervisi, kebijakan, alur pelaporan, follow-up). [Lihat sumber Disini - scholarhub.ui.ac.id]
-
Monitoring dan evaluasi berkala terhadap penerapan keselamatan, audit internal, survei budaya keselamatan, penilaian risiko, evaluasi outcome pasien. [Lihat sumber Disini - repositori.ubs-ppni.ac.id]
Peran Perawat dalam Keselamatan Pasien
Perawat memegang peranan sentral dalam menjaga keselamatan pasien, antara lain:
-
Melakukan identifikasi pasien secara benar (nama, identitas, data medis) untuk menghindari kesalahan medik atau tindakan.
-
Menjalankan asesmen risiko (misalnya risiko jatuh, infeksi, reaksi obat) dan melakukan tindakan preventif (penjagaan lingkungan, pengawasan, edukasi pasien).
-
Memantau kondisi pasien secara rutin, dokumentasi, dan memastikan protokol perawatan dipatuhi.
-
Melaporkan insiden, nyaris insiden (near miss), atau potensi bahaya agar bisa dianalisis dan diambil tindakan korektif. Penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan, supervisi, dan budaya keselamatan mempengaruhi pelaporan oleh perawat. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Berpartisipasi dalam tim keselamatan (safety team), meningkatkan komunikasi, koordinasi, serta mendukung implementasi dan evaluasi sistem keselamatan. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]
Standar WHO untuk Patient Safety
Organisasi WHO telah menetapkan kerangka dan standar global untuk keselamatan pasien, mendorong rumah sakit dan fasilitas kesehatan di seluruh dunia untuk:
-
Membangun sistem pelaporan dan pembelajaran insiden (incident reporting & learning systems) agar kesalahan dan bahaya bisa diidentifikasi, dianalisis, dan dicegah di masa depan. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]
-
Menerapkan standar prosedur klinis dan non-klinis (medikasi, identifikasi, pembedahan, higiene, dokumentasi) agar pelayanan konsisten dan aman. [Lihat sumber Disini - repository.uki.ac.id]
-
Mengembangkan budaya keselamatan (safety culture) secara organisasi: integritas, transparansi, pelaporan tanpa sanksi, kolaborasi tim, pendidikan berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - adihusada.ac.id]
-
Melakukan audit, monitoring, dan evaluasi terus-menerus terhadap pelaksanaan keselamatan serta outcome bagi pasien, supaya perbaikan berkesinambungan. [Lihat sumber Disini - repo.polkesraya.ac.id]
Contoh Insiden Keselamatan Pasien dan Penanganannya
Contoh nyata dari insiden keselamatan pasien di ruang rawat inap berdasarkan penelitian:
-
Dalam sebuah studi di rumah sakit, insiden terkait prosedur bedah menyumbang 27% dari keseluruhan insiden, diikuti kesalahan pengobatan (18, 3%) dan infeksi terkait perawatan (12%) sebagai penyebab kejadian yang merugikan pasien. [Lihat sumber Disini - jurnal.fkm.umi.ac.id]
-
Di kalangan pasien dengan disabilitas, insiden umum termasuk jatuh, kesalahan medikasi, infeksi, luka bakar, kebocoran cairan bawah kulit, menunjukkan bahwa kelompok rentan memerlukan perhatian khusus. [Lihat sumber Disini - jurnal.htp.ac.id]
-
Dalam kasus di sebuah rumah sakit di Indonesia, rendahnya pelaporan insiden keselamatan pasien disebabkan oleh persepsi tenaga kesehatan terhadap pelaporan, kurangnya kepemimpinan dan motivasi, serta sikap terhadap budaya keselamatan. [Lihat sumber Disini - ejournal.urindo.ac.id]
-
Penanganan dilakukan melalui edukasi ulang kepada tenaga kesehatan, implementasi sistem pelaporan yang aman dan terstruktur, serta memperkuat budaya keselamatan di institusi. Hasilnya: setelah edukasi, pengetahuan dan kesadaran tentang patient safety meningkat signifikan. [Lihat sumber Disini - jurnalpengabdianmasyarakatbangsa.com]
Kesimpulan
Keselamatan pasien (patient safety) adalah fondasi utama mutu pelayanan di rumah sakit, memastikan bahwa pasien menerima perawatan tidak hanya efektif, tetapi juga aman dari risiko yang dapat dihindari. Dengan mendefinisikan patient safety secara jelas, memahami prinsip-prinsip, mengenali jenis risiko, serta menerapkan tindakan pencegahan melalui sistem, pendidikan, dan budaya keselamatan, banyak insiden merugikan dapat diminimalkan. Perawat sebagai ujung tombak pelayanan memainkan peran krusial dalam menjaga keselamatan melalui identifikasi risiko, perawatan, pelaporan, dan kolaborasi tim. Standar global dari WHO memberikan panduan bagi institusi kesehatan untuk menerapkan sistem keselamatan secara konsisten dan berkelanjutan. Upaya terus-menerus, dari manajemen rumah sakit hingga staf lapangan, dibutuhkan agar ruang perawatan menjadi lingkungan yang benar-benar aman bagi setiap pasien.