Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Manajemen Pelaksanaan Perawatan Mandiri. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/manajemen-pelaksanaan-perawatan-mandiri  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Manajemen Pelaksanaan Perawatan Mandiri - SumberAjar.com

Manajemen Pelaksanaan Perawatan Mandiri

Pendahuluan

Perawatan mandiri (self-care) merupakan aspek penting dalam sistem pelayanan kesehatan modern. Dengan meningkatnya prevalensi penyakit kronis dan kebutuhan akan pelayanan rawat jalan maupun rawat di rumah, kemampuan pasien untuk mengelola perawatan diri sendiri menjadi sangat krusial. Manajemen pelaksanaan perawatan mandiri tidak hanya membantu mempertahankan kesehatan pasien, tetapi juga mengurangi beban fasilitas kesehatan, meningkatkan kualitas hidup, serta mendukung kemandirian individu dalam merawat kesehatannya sendiri. Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan, khususnya perawat, untuk merancang dan mendampingi pelaksanaan perawatan mandiri secara sistematis, mulai dari edukasi, penilaian kesiapan, hingga monitoring & evaluasi. Artikel ini akan membahas konsep, faktor, strategi, serta contoh penerapan perawatan mandiri dalam konteks keperawatan.


Definisi Perawatan Mandiri

Definisi Perawatan Mandiri Secara Umum

Perawatan mandiri (self-care) merujuk pada kegiatan yang dilakukan individu secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar dan kesehatan, termasuk menjaga kebersihan, asupan nutrisi, aktivitas fisik, istirahat, serta pencegahan penyakit. Self-care mencakup tindakan preventif dan promotif, serta pengelolaan kondisi kesehatan dalam kehidupan sehari-hari untuk mempertahankan dan meningkatkan kesejahteraan. [Lihat sumber Disini - repository.umy.ac.id]

Definisi Perawatan Mandiri dalam KBBI

Menurut definisi dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI), “perawatan” adalah tindakan menjaga kesehatan, menyembuhkan, membasmi penyakit, atau memelihara sesuatu agar tetap baik. Sementara “mandiri” berarti berdiri sendiri, tidak bergantung kepada orang lain. Maka “perawatan mandiri” dapat diartikan sebagai tindakan menjaga dan memelihara kesehatan diri sendiri tanpa bergantung secara penuh kepada orang lain. Meskipun dalam praktik keperawatan istilah “perawatan mandiri” sering disamakan dengan konsep self-care.

Definisi Perawatan Mandiri Menurut Para Ahli

  • Menurut Dorothea E. Orem, pencetus teori self-care, perawatan diri adalah “kegiatan yang diprakarsai dan dilakukan oleh individu itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan guna mempertahankan kehidupan, kesehatan, dan kesejahteraannya, sesuai keadaan, baik sehat maupun sakit.” [Lihat sumber Disini - id.scribd.com]

  • Lebih jauh, dalam teori self-care Orem, kemampuan perawatan mandiri (self-care agency) adalah kekuatan atau kapasitas individu untuk melakukan tindakan perawatan diri. [Lihat sumber Disini - journals.ums.ac.id]

  • Sebagai tambahan, perawatan mandiri dapat dianggap sebagai hak individu untuk mengelola kesehatan dan kebutuhan hidupnya, selama kondisi memungkinkan, kecuali jika terdapat hambatan fisik, kognitif, atau sosial. [Lihat sumber Disini - naluri.life]

  • Dalam konteks keperawatan modern, perawatan mandiri juga meliputi kemampuan individu, keluarga, dan komunitas untuk memelihara kesehatan, mencegah penyakit, serta mengatasi penyakit dan kecacatan, dengan atau tanpa dukungan tenaga kesehatan profesional. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]


Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Perawatan Mandiri

Kemampuan seseorang dalam menjalankan perawatan mandiri dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari individu sendiri maupun lingkungan di sekitarnya. Dalam teori Orem, faktor-faktor ini dikenal sebagai basic conditioning factors. [Lihat sumber Disini - journals.ums.ac.id] Berikut beberapa faktor utama:

  • Usia dan status perkembangan: Perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial memengaruhi kemampuan self-care. Individu pada umur lanjut atau dengan gangguan perkembangan mungkin memiliki keterbatasan dalam melakukan perawatan mandiri. [Lihat sumber Disini - perpustakaan.poltekkes-malang.ac.id]

  • Status kesehatan / kondisi medis: Penyakit kronis, gangguan fisik atau kognitif, atau komplikasi kesehatan dapat membatasi kemampuan individu untuk melakukan self-care secara optimal. [Lihat sumber Disini - perpustakaan.poltekkes-malang.ac.id]

  • Pengetahuan, keterampilan, dan motivasi: Pemahaman individu terhadap kondisi kesehatan dan kemampuan untuk melakukan tindakan perawatan penting, misalnya pengelolaan luka, diet, kontrol penyakit kronis. Motivasi juga berperan besar. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]

  • Sosial-budaya dan lingkungan keluarga / komunitas: Dukungan keluarga, lingkungan rumah, pola hidup, budaya, status ekonomi, serta akses terhadap sumber daya (misalnya obat, alat, layanan kesehatan) memengaruhi self-care. [Lihat sumber Disini - perpustakaan.poltekkes-malang.ac.id]

  • Sistem pelayanan kesehatan dan edukasi oleh tenaga kesehatan: Ketersediaan layanan, informasi, dan pendampingan dari perawat atau tenaga kesehatan sangat menentukan keberhasilan perawatan mandiri, terutama bagi pasien dengan kondisi khusus. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]


Penilaian Kesiapan Perawatan Mandiri

Dalam manajemen perawatan mandiri, penilaian kesiapan pasien atau individu sangat penting sebelum memulai regimen perawatan mandiri. Penilaian ini mencakup:

  • Penilaian kemampuan fisik dan kognitif, memeriksa apakah pasien memiliki kemampuan fisik (mobilitas, koordinasi, penglihatan, kekuatan) dan kognitif (memahami instruksi, mengingat, membuat keputusan) untuk melakukan tindakan perawatan diri sendiri.

  • Penilaian kebutuhan self-care, mengidentifikasi kebutuhan self-care berdasarkan kondisi pasien: kebutuhan universal, kebutuhan sesuai perkembangan, atau kebutuhan akibat penyimpangan kesehatan (health deviation) seperti penyakit kronis, luka, stoma, dll. Konsep ini merujuk pada kategori self-care requisite dalam teori Orem. [Lihat sumber Disini - perpustakaan.poltekkes-malang.ac.id]

  • Penilaian kondisi lingkungan & dukungan sosial, mengevaluasi lingkungan rumah, ketersediaan sarana/prasarana, dukungan keluarga atau caregiver, akses ke layanan kesehatan atau obat, yang semuanya mempengaruhi kemampuan self-care.

  • Penilaian motivasi & pengetahuan pasien, menilai pemahaman pasien terhadap kondisi kesehatannya, pengetahuan mengenai tindakan perawatan, dan kemauan untuk melaksanakan perawatan mandiri secara konsisten.

Melalui penilaian tersebut, perawat atau tim kesehatan dapat menentukan apakah pasien benar-benar siap melakukan perawatan mandiri secara independen, atau memerlukan dukungan maupun pendampingan (nursing support).


Strategi Edukasi untuk Self-Care

Edukasi merupakan salah satu strategi paling efektif untuk meningkatkan kemampuan self-care pasien. Beberapa strategi edukasi dan intervensi yang umum diterapkan:

  • Edukasi kesehatan individual atau kelompok, memberikan informasi kepada pasien tentang kondisi penyakit, kebutuhan perawatan, dan langkah-langkah perawatan diri seperti diet, kebersihan, perawatan luka, kontrol gejala. Studi menunjukkan bahwa edukasi, terutama pada pasien stoma atau dengan kondisi kronis, efektif meningkatkan kemampuan self-care. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]

  • Pendekatan sistem dukungan edukatif (supportive-educative system), menurut teori Orem, apabila pasien memiliki potensi tetapi belum memiliki kemampuan penuh, perawat memberikan dukungan edukatif: petunjuk, pengarahan, bimbingan, dan pendampingan sampai pasien mampu mandiri. [Lihat sumber Disini - perpustakaan.poltekkes-malang.ac.id]

  • Pelatihan keterampilan praktik, misalnya simulasi perawatan luka, perawatan stoma, manajemen diet, pengukuran gula darah, pemantauan kondisi, agar pasien terbiasa dan percaya diri menjalankannya sendiri di rumah. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id]

  • Penyediaan materi edukasi tertulis/visual dan tindak lanjut berkala, agar pasien dapat mengulang informasi, serta mendapat pemantauan dan evaluasi dari perawat jika diperlukan. Ini penting agar self-care tidak berhenti pada teori semata tapi benar-benar diterapkan dalam jangka panjang.

  • Pendekatan holistik: melibatkan keluarga dan lingkungan, karena dukungan sosial memengaruhi keberhasilan self-care, edukasi sebaiknya juga melibatkan keluarga atau caregiver sebagai pendamping dan penyedia bantuan bila pasien belum sepenuhnya mandiri.


Monitoring dan Evaluasi Perawatan Mandiri

Setelah edukasi dan pasien mulai menjalankan perawatan mandiri, diperlukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan tindakan self-care dilakukan dengan benar dan konsisten, serta untuk mendeteksi masalah atau kebutuhan intervensi jika terjadi:

  • Evaluasi kualitas pelaksanaan perawatan, memeriksa apakah pasien melakukan tindakan sesuai instruksi (misalnya perawatan luka, diet, minum obat, kontrol glukosa, kebersihan, dsb).

  • Pemantauan hasil kesehatan dan kesejahteraan, pengukuran indikator kesehatan (misalnya kontrol gula darah, penyembuhan luka, tekanan darah, fungsi jantung, gejala penyakit) serta aspek psikososial dan kualitas hidup. Banyak studi menunjukkan bahwa self-care yang baik berdampak positif terhadap kualitas hidup pasien. [Lihat sumber Disini - journal.medicpondasi.com]

  • Identifikasi hambatan atau defisit self-care (self-care deficit), apabila pasien mengalami kesulitan dalam melaksanakan perawatan mandiri (karena fisik, kognitif, motivasi, lingkungan, dll), maka perlu intervensi ulang, pendampingan, atau modifikasi rencana perawatan. Konsep self-care deficit adalah bagian dari teori Orem. [Lihat sumber Disini - journals.ums.ac.id]

  • Feedback dan edukasi ulang, perawat harus melakukan tindak lanjut, memberikan umpan balik, memperbaiki kesalahan, serta memperkuat pengetahuan dan keterampilan pasien jika diperlukan.

  • Dokumentasi & koordinasi dengan tim kesehatan, hasil monitoring dan evaluasi sebaiknya dicatat dan dibagikan ke tim perawatan (dokter, perawat, caregiver) untuk perencanaan tindak lanjut, penyesuaian perawatan, atau konseling ulang.


Peran Perawat dalam Meningkatkan Kemandirian Pasien

Perawat memiliki peran sentral dalam mendorong dan mendampingi perawatan mandiri pasien. Berikut peran-peran utama perawat dalam konteks self-care:

  • Melakukan asesmen awal self-care agency dan kebutuhan self-care, menilai kesiapan pasien, kemampuan fisik, kognitif, lingkungan, serta faktor pendukung dan penghambat self-care.

  • Memberikan edukasi kesehatan dan keterampilan praktis, memberikan informasi, instruksi, pelatihan, dan bimbingan agar pasien mampu melakukan tindakan perawatan diri secara benar.

  • Membentuk rencana perawatan mandiri bersama pasien, merancang intervensi self-care yang sesuai dengan kondisi, kebutuhan, dan kapasitas pasien; serta menentukan prioritas tindakan.

  • Memberi dukungan fisik, psikologis, dan motivasional, membantu pasien mengatasi hambatan, memberi dorongan agar tetap konsisten, serta memperhatikan aspek emosional dan sosial pasien.

  • Monitoring, evaluasi, dan tindak lanjut, meninjau pelaksanaan self-care, mengevaluasi hasil, membantu modifikasi bila perlu, serta koordinasi dengan tim kesehatan lain jika ada komplikasi atau kebutuhan intervensi tambahan.

  • Mengoptimalkan keterlibatan keluarga/lingkungan, melibatkan keluarga atau caregiver dalam edukasi dan perawatan, agar pasien mendapat dukungan yang memadai di luar institusi kesehatan.

Studi literatur menunjukkan bahwa edukasi dan dukungan perawat secara signifikan meningkatkan kemampuan self-care pasien dengan kondisi kronis seperti gagal jantung, penyakit kronis, atau kondisi yang memerlukan perawatan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]


Contoh Kasus Perawatan Mandiri Pasien

Salah satu penerapan nyata manajemen perawatan mandiri adalah pada pasien dengan penyakit kronis atau kondisi komplikatif, misalnya pasien dengan Diabetes Mellitus (DM).

Dalam studi literatur “Penerapan teori self-care Orem pada perawatan luka modern pasien Diabetes Mellitus”, perawatan mandiri mencakup pengendalian gula darah, diet, aktivitas fisik, serta perawatan kaki/luka untuk mencegah komplikasi seperti ulkus diabetikum. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id] Dengan edukasi dan pendampingan dari perawat, pasien diabetes dapat melakukan self-care secara mandiri, sehingga memperbaiki kualitas hidup dan mencegah komplikasi serius. [Lihat sumber Disini - ejournal.poltekkesjakarta1.ac.id]

Contoh lain: pasien dengan Congestive Heart Failure (gagal jantung), literatur menunjukkan bahwa dukungan edukasi perawat berpengaruh signifikan terhadap peningkatan self-care, termasuk manajemen pengobatan, diet, kontrol gejala, dan gaya hidup, sehingga membantu menurunkan readmisi dan meningkatkan kemandirian pasien. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]


Kesimpulan

Perawatan mandiri (self-care) adalah komponen fundamental dalam praktik keperawatan kontemporer dan merupakan hak serta tanggung jawab individu dalam mengelola kesehatan dan kebutuhan hidupnya. Kemampuan melakukan perawatan mandiri dipengaruhi oleh berbagai faktor, dari kondisi fisik dan kognitif, pengetahuan, motivasi, dukungan lingkungan, hingga akses layanan kesehatan. Untuk memaksimalkan self-care, perawat berperan penting: dari penilaian kesiapan, edukasi, pendampingan, hingga monitoring dan evaluasi. Dengan manajemen pelaksanaan perawatan mandiri yang sistematis, meliputi edukasi, dukungan, dan perencanaan, pasien, terutama dengan penyakit kronis atau kondisi khusus, dapat mencapai kemandirian dalam merawat diri, meningkatkan kualitas hidup, serta mengurangi beban sistem kesehatan. Oleh karena itu, implementasi konsep self-care dalam kebijakan keperawatan dan praktik klinis harus terus ditingkatkan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Manajemen pelaksanaan perawatan mandiri adalah proses sistematis untuk membantu pasien mengelola self-care secara mandiri melalui edukasi, penilaian kesiapan, monitoring, dan evaluasi. Tujuannya adalah meningkatkan kemandirian pasien dalam menjaga kesehatan dan mencegah komplikasi.

Faktor yang mempengaruhi kemampuan perawatan mandiri meliputi usia, kondisi kesehatan, kemampuan fisik dan kognitif, pengetahuan, motivasi, lingkungan sosial, budaya, dukungan keluarga, serta akses terhadap fasilitas kesehatan.

Perawat berperan dalam melakukan asesmen kebutuhan self-care, memberikan edukasi dan pelatihan, menyusun rencana perawatan mandiri, memotivasi pasien, melakukan monitoring dan evaluasi, serta melibatkan keluarga untuk mendukung keberhasilan self-care.

Penilaian kesiapan perawatan mandiri mencakup pemeriksaan kemampuan fisik, kemampuan kognitif, pemahaman pasien terhadap kondisinya, motivasi, lingkungan pendukung, serta kebutuhan self-care sesuai kondisi kesehatan.

Contoh penerapan perawatan mandiri meliputi manajemen penyakit kronis seperti Diabetes Mellitus, di mana pasien melakukan kontrol gula darah, diet, perawatan luka, dan aktivitas fisik secara mandiri dengan pendampingan edukasi dari perawat.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Perawatan Luka Mandiri: Prosedur dan Edukasi Pasien Perawatan Luka Mandiri: Prosedur dan Edukasi Pasien Perawatan Luka Mandiri: Prosedur dan Edukasi Perawatan Luka Mandiri: Prosedur dan Edukasi Perawatan Mandiri Pasien: Konsep, Kesiapan, dan Dukungan Keperawatan Perawatan Mandiri Pasien: Konsep, Kesiapan, dan Dukungan Keperawatan Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Payudara Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Payudara Penggunaan Obat Herbal dalam Pengobatan Mandiri Penggunaan Obat Herbal dalam Pengobatan Mandiri Perilaku Ibu dalam Perawatan Masa Nifas Perilaku Ibu dalam Perawatan Masa Nifas Perawatan Tali Pusat: Pengetahuan dan Praktik Ibu Perawatan Tali Pusat: Pengetahuan dan Praktik Ibu Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Perawatan Bayi Baru Lahir: Konsep, Praktik Dasar, dan Edukasi Ibu Perawatan Bayi Baru Lahir: Konsep, Praktik Dasar, dan Edukasi Ibu Kontinuitas Perawatan Kesehatan: Konsep, Kesinambungan Layanan, dan Outcome Kontinuitas Perawatan Kesehatan: Konsep, Kesinambungan Layanan, dan Outcome Pelaksanaan Standar Keselamatan Pasien Pelaksanaan Standar Keselamatan Pasien Kesalahan Umum dalam Pelaksanaan Eksperimen Kesalahan Umum dalam Pelaksanaan Eksperimen Manajemen Kebersihan Nifas Manajemen Kebersihan Nifas Perawatan Payudara: Konsep, Pencegahan Masalah, dan Dukungan ASI Perawatan Payudara: Konsep, Pencegahan Masalah, dan Dukungan ASI Tingkat Ketergantungan Pasien: Konsep, Klasifikasi, dan Implikasi Perawatan Tingkat Ketergantungan Pasien: Konsep, Klasifikasi, dan Implikasi Perawatan Kemandirian Belajar: Definisi, Indikator, dan Contoh Kemandirian Belajar: Definisi, Indikator, dan Contoh Perawatan Pasien dengan Alat Medis Perawatan Pasien dengan Alat Medis Risiko Luka Operasi Risiko Luka Operasi Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Keterlibatan Pasien: Konsep, Partisipasi Aktif, dan Pengambilan Keputusan Edukasi Postnatal Care dan Dampaknya pada Kesehatan Ibu Edukasi Postnatal Care dan Dampaknya pada Kesehatan Ibu
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…