
Keterbatasan Aktivitas: Pengertian dan Faktor
Pendahuluan
Keterbatasan aktivitas menjadi salah satu isu penting dalam asuhan keperawatan dan kesehatan, terutama pada populasi lansia atau pasien dengan kondisi kronis. Ketika seseorang mengalami keterbatasan aktivitas, kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri (self-care, mobilitas, kegiatan instrumental, dll.) menurun. Hal ini berdampak luas, mulai dari kualitas hidup, kesehatan fisik dan mental, hingga kebutuhan dukungan dari orang lain. Oleh karena itu, penting untuk memahami konsep “keterbatasan aktivitas”, faktor penyebabnya, dampaknya, serta cara penilaian dan intervensi keperawatan yang tepat. Artikel ini akan mengulas definisi, faktor, dampak, penilaian, intervensi, dan contoh kasus keterbatasan aktivitas.
Definisi Keterbatasan Aktivitas
Definisi secara umum
Secara umum, keterbatasan aktivitas (activity limitation / functional limitation) merujuk pada kondisi di mana seseorang mengalami penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara normal, baik aktivitas dasar (seperti makan, mandi, berpindah tempat) maupun aktivitas instrumental (misalnya berbelanja, memasak, mengatur keuangan, menggunakan transportasi, dsb.). Kondisi ini dapat terjadi karena faktor fisik, psikologis, maupun lingkungan, dan menyebabkan seseorang membutuhkan bantuan atau intervensi agar kebutuhan dasar terpenuhi.
Definisi dalam KBBI
Istilah “keterbatasan” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengandung arti “keadaan tidak leluasa, memiliki hambatan atau batas” dan “aktivitas” berarti “kesibukan, kegiaan, perbuatan.” Dengan demikian, “keterbatasan aktivitas” dapat diartikan sebagai kondisi di mana aktivitas seseorang terbatas, tidak bisa dilakukan secara bebas atau normal sebagaimana semestinya.
Definisi menurut para ahli
Berikut beberapa definisi dari literatur ilmiah:
-
Menurut Nevi Andriyani (2024) dalam tinjauan konsep Activity of Daily Living (ADL), ADL merupakan pengukuran kemampuan seseorang untuk melakukan aktivitas secara mandiri. Penentuan secara fungsional dapat mengidentifikasi kemampuan ataupun keterbatasan aktivitas seseorang. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Dalam penelitian Instrumental Activities of Daily Living (IADL) dan ADL pada lansia, disebutkan bahwa keterbatasan aktivitas terjadi jika individu tidak mampu melaksanakan aktivitas dasar maupun instrumental secara mandiri. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
-
Dalam konteks pasien dengan penurunan kondisi fisik, penelitian oleh Ramayana Lestari Dewi menunjukkan bahwa keterbatasan gerak menyebabkan ketidakmampuan pasien untuk memenuhi ADL, artinya keterbatasan aktivitas secara langsung memengaruhi kemampuan memenuhi kebutuhan dasar sehari-hari. [Lihat sumber Disini - repository.unej.ac.id]
-
Lebih luas, dalam kajian internasional, keterbatasan aktivitas dikaitkan dengan “functional impairment”, yaitu keterbatasan dalam fungsi fisik atau kognitif yang berdampak pada kemampuan menjalankan kegiatan hidup sehari-hari. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Dengan demikian, keterbatasan aktivitas bisa dipahami sebagai kondisi dimana ada penurunan kemampuan fungsional seseorang dalam melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri, baik aktivitas dasar maupun instrumental.
Faktor Penyebab Keterbatasan Aktivitas
Faktor Fisik
-
Gangguan mobilitas, kekuatan otot berkurang, atau kelemahan fisik merupakan penyebab utama. Penelitian menunjukkan bahwa kekuatan otot, misalnya diukur lewat kekuatan genggaman tangan, berkorelasi signifikan dengan mobilitas fungsional dan risiko keterbatasan aktivitas. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Kondisi kesehatan kronis atau penyakit degeneratif, artritis, disabilitas fisik, cedera atau jatuh dapat mengurangi kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Hal ini juga disebutkan sebagai penyebab utama keterbatasan aktivitas pada lansia. [Lihat sumber Disini - cefas.urindo.ac.id]
-
Faktor usia: penuaan menyebabkan perubahan fisik, seperti penurunan kekuatan otot, kelenturan, dan koordinasi, sehingga aktivitas harian bisa terbatas. Sebuah penelitian di Indonesia menemukan bahwa penambahan usia berhubungan dengan penurunan kemandirian ADL. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbudiluhurcimahi.ac.id]
Faktor Psikologis
-
Penurunan fungsi kognitif atau gangguan kognitif (misalnya demensia) menghambat kemampuan melakukan aktivitas instrumental sehari-hari. Studi pada lansia menunjukkan bahwa gangguan kognitif dikaitkan dengan ketergantungan dalam IADL maupun ADL. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
-
Faktor motivasi, keinginan melakukan aktivitas, kondisi mental seperti depresi atau kecemasan juga dapat mempengaruhi kemampuan dan kemauan untuk beraktivitas. Penelitian menunjukkan bahwa selain kondisi fisik, aspek psikologis sangat menentukan tingkat kemandirian dalam aktivitas sehari-hari. [Lihat sumber Disini - repo.poltekkes-surabaya.ac.id]
Faktor Lingkungan
-
Dukungan keluarga atau lingkungan sosial. Lansia atau pasien dengan keluarga/lingkungan yang kurang mendukung cenderung memiliki keterbatasan aktivitas lebih besar. Dalam penelitian pada lansia di panti wredha, ketidakmandirian IADL dikaitkan dengan kurangnya dukungan dan fasilitas dari lingkungan. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
-
Faktor sosial ekonomi dan pendidikan: tingkat pendidikan rendah dan kondisi ekonomi lemah dikaitkan dengan risiko tinggi keterbatasan aktivitas. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Lingkungan fisik: kondisi tempat tinggal yang tidak ramah (misalnya tangga, kurangnya aksesibilitas, kurangnya fasilitas pendukung mobilitas) dapat memperparah keterbatasan aktivitas, terutama pada lansia atau pasien dengan disabilitas (meskipun literatur dari Indonesia dengan data spesifik lingkungan fisik relatif terbatas, ini merupakan pertimbangan penting dalam praktik keperawatan).
Dampak Keterbatasan Aktivitas terhadap Kesehatan Pasien
Keterbatasan aktivitas berdampak luas, antara lain:
-
Penurunan kualitas hidup, pada lansia, penelitian menunjukkan bahwa ketergantungan dalam ADL berhubungan dengan kualitas hidup yang lebih rendah, khususnya pada aspek fisik, psikologis, dan lingkungan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbudiluhurcimahi.ac.id]
-
Risiko komplikasi kesehatan, keterbatasan mobilitas atau aktivitas dapat meningkatkan risiko jatuh, cedera, luka tekan (pada pasien rawat inap atau lansia yang immobil), serta penurunan kebugaran fisik. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Ketergantungan pada orang lain, pasien atau lansia menjadi tergantung pada caregiver atau anggota keluarga dalam melakukan aktivitas dasar atau instrumental, yang dapat mempengaruhi harga diri, kemandirian, dan kesejahteraan psikososial. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
-
Penurunan fungsi fisik dan kognitif lebih lanjut, kurangnya aktivitas fisik dan stimulasi kognitif bisa mempercepat penurunan fungsi, misalnya otot melemah, mobilitas menurun, gangguan kognitif memburuk, dan penurunan performa sehari-hari secara lebih signifikan. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Penilaian Kemampuan Aktivitas Harian (ADL / IADL)
Penilaian kemampuan aktivitas sehari-hari penting untuk mengidentifikasi sejauh mana keterbatasan aktivitas dan menentukan intervensi yang tepat. Dua instrumen yang paling umum digunakan:
-
Activity of Daily Living (ADL), mengukur kemampuan dasar seseorang dalam melakukan aktivitas perawatan diri (self-care) seperti makan, mandi, berpakaian, berpindah tempat, toileting, kontinensia, dan lain-lain. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
-
Instrumental Activities of Daily Living (IADL), mengukur kemampuan dalam menjalankan aktivitas yang lebih kompleks dan instrumental untuk kehidupan mandiri, seperti berbelanja, memasak, mengatur keuangan, menggunakan transportasi, komunikasi, dan lain-lain. Bila seseorang tidak mampu melaksanakan IADL dengan mandiri, maka dianggap memiliki keterbatasan aktivitas yang signifikan. [Lihat sumber Disini - repository.unar.ac.id]
Penilaian ini biasanya dilakukan melalui kuesioner atau observasi, fungsinya bukan hanya untuk diagnosis, tetapi juga untuk perencanaan intervensi keperawatan dan evaluasi hasil pengobatan atau rehabilitasi. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
Intervensi Keperawatan untuk Meningkatkan Aktivitas
Intervensi keperawatan sangat penting untuk membantu individu dengan keterbatasan aktivitas agar dapat meningkatkan kemandirian, mencegah komplikasi, dan mempertahankan kualitas hidup. Berikut strategi umum intervensi:
-
Penilaian awal dan deteksi dini, perawat melakukan asesmen ADL/IADL secara berkala untuk mendeteksi keterbatasan aktivitas sejak dini, menentukan tingkat ketergantungan, dan merencanakan intervensi sesuai kebutuhan.
-
Rehabilitasi dan latihan fisik ringan, perawat bersama tim kesehatan (fisio, terapi) merancang latihan ringan atau program mobilisasi untuk mempertahankan atau meningkatkan kekuatan otot, fleksibilitas, dan mobilitas.
-
Modifikasi lingkungan, menyesuaikan lingkungan agar lebih mendukung mobilitas dan aktivitas sehari-hari (misalnya pegangan tangan, akses tanpa tangga, perabot ramah lansia/disabilitas), sehingga individu lebih mudah melakukan aktivitas dengan aman.
-
Edukasi dan dukungan psikososial, memberikan pendidikan ke pasien dan keluarga tentang pentingnya mobilisasi, kemandirian, perawatan diri, serta dukungan emosional agar pasien termotivasi untuk aktif.
-
Kolaborasi multidisipliner, melibatkan fisioterapis, terapis okupasi, dokter, perawat, keluarga, dan jika perlu pekerja sosial agar intervensi bisa komprehensif (fisik, psikis, sosial, lingkungan).
Terapi Pendukung (Fisioterapi, Latihan Ringan)
Terapi fisik dan latihan ringan menjadi bagian penting dari intervensi ketika seseorang mengalami keterbatasan aktivitas, terutama bila faktor penyebab bersifat fisik atau mobilitas.
-
Latihan kekuatan otot: memperkuat otot utama (misalnya otot tungkai, genggaman tangan) guna mendukung mobilitas dan kemandirian aktivitas sehari-hari. Misalnya pada lansia, kekuatan genggaman tangan berkorelasi dengan mobilitas fungsional sehingga bisa dijadikan marker untuk intervensi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Latihan mobilitas dan fleksibilitas: membantu mempertahankan rentang gerak sendi, fleksibilitas otot, dan keseimbangan, mencegah jatuh dan keterbatasan mobilitas lebih lanjut.
-
Program rehabilitasi terstruktur: bila pasien memiliki penyakit kronis atau cedera, fisioterapi rutin bersama program latihan disesuaikan dengan kondisi klinis, untuk memulihkan kemampuan aktivitas sebanyak mungkin.
-
Pendekatan bertahap dan konsisten: intervensi harus dilaksanakan secara rutin, diawasi oleh tenaga kesehatan, dan disesuaikan dengan kemampuan dan toleransi pasien agar efektif dan aman.
Contoh Kasus Keterbatasan Aktivitas
Misalnya, sebuah penelitian di Indonesia menemukan bahwa seorang lansia di RW 16 Desa Galanggang dengan ketergantungan tinggi pada ADL memiliki kualitas hidup rendah pada domain fisik, psikologis, dan lingkungan, menunjukkan bagaimana keterbatasan aktivitas mempengaruhi kesejahteraan secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbudiluhurcimahi.ac.id]
Dalam kasus lain, pada lansia dengan kelemahan otot dan penurunan mobilitas, pengukuran kekuatan genggaman tangan digunakan untuk mengidentifikasi risiko keterbatasan mobilitas, menunjukkan bahwa gangguan fisik seperti melemahnya otot menjadi faktor signifikan keterbatasan aktivitas. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
Kasus seperti ini menunjukkan bahwa keterbatasan aktivitas tidak hanya berdampak pada kemampuan fisik sehari-hari, tetapi juga pada kualitas hidup, kemandirian, dan kebutuhan dukungan dari perawat atau caregiver.
Kesimpulan
Keterbatasan aktivitas adalah kondisi di mana seseorang memiliki penurunan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri, baik aktivitas dasar (ADL) maupun aktivitas instrumental (IADL). Kondisi ini dapat disebabkan oleh faktor fisik (penurunan mobilitas, kelemahan otot, penyakit kronis), psikologis (gangguan kognitif, motivasi, kesehatan mental), maupun lingkungan (dukungan sosial, ekonomi, aksesibilitas). Dampaknya luas: kualitas hidup menurun, risiko komplikasi meningkat, ketergantungan pada orang lain, dan penurunan fungsi lebih lanjut.
Penilaian menggunakan instrumen ADL/IADL sangat penting untuk mengidentifikasi tingkat keterbatasan dan merencanakan intervensi keperawatan. Intervensi harus bersifat komprehensif, meliputi rehabilitasi fisik, modifikasi lingkungan, edukasi, dukungan psikososial, dan kolaborasi multidisipliner. Terapi fisioterapi dan latihan ringan merupakan bagian penting dari strategi pemulihan dan pemeliharaan kemandirian pasien.
Dengan pendekatan yang tepat, keterbatasan aktivitas tidak harus menjadi hambatan permanen, banyak pasien/lansia yang dapat mempertahankan kemandirian dan kualitas hidup dengan dukungan dan intervensi yang sesuai.