
Ketidakstabilan Emosi Pasien: Faktor dan Pendekatan
Pendahuluan
Ketidakstabilan emosi merupakan kondisi yang dapat mempengaruhi kualitas hidup, interaksi sosial, dan efektivitas perawatan kesehatan. Dalam konteks pelayanan keperawatan, mengenali dinamika emosi pasien sangat penting agar perawat dapat memberikan intervensi yang sesuai dan mendukung kesejahteraan psikologis. Artikel ini membahas pengertian ketidakstabilan emosi, berbagai faktor yang berkontribusi, tanda dan gejalanya, dampaknya terhadap proses perawatan, serta pendekatan keperawatan dan teknik terapeutik untuk membantu regulasi emosi.
Definisi Ketidakstabilan Emosi
Definisi Ketidakstabilan Emosi Secara Umum
Ketidakstabilan emosi, atau dalam literatur sering disebut Emotional dysregulation / instabilitas emosional, menggambarkan kondisi di mana seseorang kesulitan mengendalikan intensitas dan kualitas emosinya. Individu dengan kondisi ini cenderung mengalami perubahan suasana hati yang intens, reaksi emosional yang berlebihan, serta kesulitan menyesuaikan respons terhadap rangsangan emosional. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Ketidakstabilan Emosi dalam KBBI
Sampai saat ini, terminologi “ketidakstabilan emosi” secara eksplisit tidak selalu ditemukan sebagai entri tersendiri di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Namun, istilah terkait seperti “emosi tidak stabil” atau “labilitas emosional/emosional labil” umum digunakan secara deskriptif dalam praktik klinis dan psikologis untuk merujuk pada kondisi emosi yang mudah berubah, tidak konsisten, atau tidak sesuai dengan konteks. Dalam penelitian dan literatur psikologi, konsepsi ini merujuk pada definisi “emotional dysregulation” sebagaimana dijelaskan di atas.
Definisi Ketidakstabilan Emosi Menurut Para Ahli
-
Menurut studi terkini, emotional instability ditandai oleh “intense, unpredictable, and sometimes rapid changes in emotional state and mood.” [Lihat sumber Disini - jpsychopathol.it]
-
Definisi klasik dari Elizabeth B. Hurlock menyatakan bahwa kestabilan emosi (dan dengan demikian ketidakstabilan sebagai kebalikannya) adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan reaksi emosional agar tidak melebihi tingkat rangsangan yang diterima. Individu yang tidak memiliki kemampuan ini rentan terhadap emosi yang berlebihan dan sulit mengatur respons emosinya. [Lihat sumber Disini - etheses.iainkediri.ac.id]
-
Menurut kerangka transdiagnostik (lintas diagnosis), emotional dysregulation adalah “inability to regulate the intensity and quality of emotions … to handle excitability, mood instability, and emotional overreactivity, and to come down to an emotional baseline.” [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Dalam konteks keperawatan jiwa, penelitian tahun 2025 menunjukkan bahwa emotional dysregulation pada mahasiswa keperawatan berkorelasi dengan perilaku berisiko seperti non-suicidal self-injury (NSSI), mengindikasikan bahwa kesulitan regulasi emosi berdampak pada fungsi adaptif individu. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Faktor Psikologis, Biologis, dan Lingkungan yang Memengaruhi Ketidakstabilan Emosi
-
Faktor Biologis dan Neurofisik: Disregulasi emosi dapat berasal dari gangguan pada sistem otak/fisiologis, misalnya cedera otak atau gangguan neurobiologis, yang mempengaruhi kemampuan regulasi emosi. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Faktor Individu (Psikologis Kepribadian & Karakteristik Psikis): Faktor seperti neurotisisme, ketahanan koping rendah (low coping self-efficacy), kualitas tidur, aktivitas fisik, serta karakter kepribadian (misalnya kecenderungan ke sifat labil atau kepribadian ambang) dapat meningkatkan risiko ketidakstabilan emosi. [Lihat sumber Disini - jurnalmahasiswa.uma.ac.id]
-
Faktor Hormonal dan Perubahan Fisiologis: Dalam penelitian terhadap dewasa awal, khususnya wanita penyintas perilaku NSSI, siklus hormonal disebut sebagai pemicu ketidakstabilan dan kesulitan regulasi emosi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Faktor Lingkungan: Sosial dan Konteks Awal Hidup: Lingkungan keluarga, dukungan sosial, keterikatan (attachment), serta pengalaman traumatis atau stress interpersonal dapat berkontribusi terhadap kesulitan regulasi emosi. [Lihat sumber Disini - jurnalmahasiswa.uma.ac.id]
-
Faktor Situasional dan Tekanan Kehidupan: Tekanan akademik, beban sosial, konflik interpersonal, beban peran (misalnya bagi mahasiswa atau tenaga kesehatan) dapat memicu atau memperburuk ketidakstabilan emosi. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Tanda dan Gejala Emosi Tidak Stabil
Beberapa indikator atau manifestasi ketidakstabilan emosi meliputi:
-
Perubahan suasana hati yang cepat dan intens (mood swings), misalnya dari tenang menjadi marah, sedih, cemas, atau panik secara tiba-tiba. Kondisi ini disebut Emotional lability. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Kesulitan dalam mengendalikan impuls, misalnya ledakan emosional, reaksi berlebihan, atau perilaku impulsif. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Kemahalan intensitas emosi: kesedihan, kemarahan, kecemasan, atau frustrasi yang dirasakan sangat dalam, dan berlangsung lama atau sulit mereda. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Sulit menyesuaikan ekspresi emosional dengan konteks, reaksi emosional tidak proporsional terhadap rangsangan atau situasi. [Lihat sumber Disini - etheses.iainkediri.ac.id]
-
Kesulitan dalam regulasi emosional: gagal mengenali, memahami, atau mengekspresikan emosi secara adaptif, yang bisa mengarah pada perilaku maladaptif. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Dampak Ketidakstabilan Emosi pada Perawatan
-
Risiko perilaku maladaptif dan merusak diri, individu dengan regulasi emosi buruk memiliki kemungkinan lebih tinggi melakukan perilaku seperti Non‑Suicidal Self‑Injury (NSSI) sebagai cara mengatasi emosinya. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Gangguan pada kualitas hubungan terapeutik, ketidakstabilan emosi bisa mempersulit komunikasi, kepercayaan, dan kolaborasi antara pasien dan tim perawatan, karena perubahan suasana hati yang tidak terduga atau reaksi emosional ekstrim.
-
Keterlambatan pemulihan atau penurunan efektivitas perawatan, jika emosi pasien tidak stabil, stres atau kecemasan dapat meningkat, mengganggu motivasi, adherensi terapi, atau proses penyembuhan secara psikologis maupun fisik.
-
Beban psikologis dan sosial, pasien bisa mengalami penurunan kualitas hidup, isolasi sosial, konflik interpersonal, serta risiko komorbiditas psikologis seperti depresi atau gangguan kecemasan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Risiko bagi tenaga perawat, dalam konteks kerja keperawatan, perawat yang merawat pasien dengan ketidakstabilan emosi dapat mengalami stres kerja, kecemasan, dan beban emosional, terutama jika tidak memiliki strategi regulasi emosi yang memadai. [Lihat sumber Disini - jdk.ulm.ac.id]
Pendekatan Keperawatan untuk Regulasi Emosi
-
Assessment regulasi emosi secara rutin, perawat perlu menilai regulasi emosi pasien, mencakup identifikasi emosinya, intensitas, frekuensi perubahan mood, serta mekanisme coping yang digunakan. Hal ini penting untuk merancang intervensi yang sesuai.
-
Penerapan intervensi psikososial, menggunakan pendekatan supportif, konseling, atau terapi psikologis bila diperlukan, untuk membantu pasien mengenali, mengekspresikan, dan mengelola emosinya dengan adaptif.
-
Membangun lingkungan perawatan yang aman dan stabil, menciptakan suasana yang mendukung, empatik, dan konsisten; meminimalkan pemicu stres; serta mendukung komunikasi terbuka.
-
Pelibatan keluarga / sistem sosial, melibatkan keluarga, pendamping, atau sistem sosial pasien dalam perawatan untuk memberikan dukungan emosional, stabilitas, dan koneksi sosial. Hal ini penting karena dukungan sosial berperan dalam regulasi emosi. [Lihat sumber Disini - jurnalmahasiswa.uma.ac.id]
-
Pendidikan diri dan kesehatan mental, edukasi bagi pasien mengenai kesehatan mental, regulasi emosi, strategi koping adaptif, serta pentingnya menjaga fisik, tidur, aktivitas, dan keseimbangan hidup. [Lihat sumber Disini - repository.binawan.ac.id]
Teknik Terapeutik untuk Mengelola Emosi
Beberapa teknik dan strategi terapeutik yang dapat digunakan untuk membantu regulasi emosi meliputi:
-
Refleksi diri (self-reflection) dan kesadaran emosional (emotion awareness), membantu pasien mengenali dan menamai emosi yang dirasakan, sehingga dapat memilih respons yang lebih adaptif. Studi menunjukkan bahwa strategi ini digunakan oleh individu dewasa awal penyintas NSSI. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Dukungan sosial (social support), interaksi dengan orang lain, berbagi perasaan, mencari pemahaman dan empati, memperkuat perasaan diterima dan didukung, yang membantu menurunkan intensitas negatif emosi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Strategi koping adaptif, seperti pengalihan perhatian, teknik relaksasi, aktivitas sehat (olahraga, hobi), perawatan diri, dan penggunaan strategi regulasi emosional sehat lainnya. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
-
Pendekatan terapeutik formal, bila diperlukan, intervensi psikologis atau psikiatrik, termasuk terapi perilaku, konseling, atau terapi berbasis regulasi emosi, terutama pada kasus dengan gangguan emosi berat. Literatur klinis menyarankan bahwa mengatasi disregulasi emosional penting untuk mengurangi risiko perilaku maladaptif dan mendukung stabilitas psikologis. [Lihat sumber Disini - jpsychopathol.it]
-
Interpersonal emotion regulation, regulasi emosi melalui interaksi dengan orang lain; bukan hanya pengelolaan diri sendiri tapi juga mendapatkan dukungan, validasi, dan bantuan dalam menavigasi emosi melalui relasi sosial. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Contoh Kasus Ketidakstabilan Emosi
Sebagai gambaran konkret, sebuah penelitian terbaru (2025) pada mahasiswa keperawatan di Universitas Gadjah Mada (UGM) menemukan bahwa sekitar 59.2% mahasiswa mengalami emotional dysregulation. Dari jumlah tersebut, korelasi dengan perilaku NSSI pada kelompok tersebut signifikan (r = 0.496, p = 0.001). [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Misalnya seorang mahasiswa keperawatan yang, setelah menghadapi beban akademik yang tinggi, ujian, tugas klinik, jadwal padat, tekanan sosial, tiba-tiba mengalami ledakan emosional, menangis, merasa putus asa, atau bahkan cenderung melakukan self-harm. Dia merasa sulit mengendalikan emosinya dan tidak memiliki strategi koping adaptif. Tanpa intervensi, kondisi seperti ini dapat mengganggu kesehatan mental dan pencapaian akademik serta personal.
Kesimpulan
Ketidakstabilan emosi, atau emotional dysregulation, adalah kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan mengontrol intensitas, durasi, dan respons emosional terhadap rangsangan, sehingga berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi kesejahteraan, hubungan sosial, dan efektivitas perawatan. Faktor yang mempengaruhi bersifat kompleks: biologis, psikologis, dan lingkungan.
Dalam konteks keperawatan, sangat penting melakukan assessment regulasi emosi pasien secara rutin, membangun lingkungan perawatan yang stabil dan suportif, melibatkan sistem sosial pasien, serta menerapkan teknik regulasi emosional adaptif dan, bila diperlukan, intervensi psikologis profesional.
Dengan pendekatan yang tepat, refleksi diri, dukungan sosial, strategi koping adaptif, dan intervensi terapeutik, regulasi emosi dapat dibantu dengan efektif, mencegah perilaku maladaptif, dan menunjang kualitas hidup serta keberhasilan perawatan pasien.