Terakhir diperbarui: 21 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 21 December). Nyeri Kronis: Karakteristik, Dampak, dan Tantangan Keperawatan. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/nyeri-kronis-karakteristik-dampak-dan-tantangan-keperawatan  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Nyeri Kronis: Karakteristik, Dampak, dan Tantangan Keperawatan - SumberAjar.com

Nyeri Kronis: Karakteristik, Dampak, dan Tantangan Keperawatan

Pendahuluan

Nyeri kronis merupakan masalah kesehatan yang signifikan dan menjadi tantangan besar dalam layanan kesehatan modern di seluruh dunia. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada aspek fisik penderita, tetapi juga berkaitan erat dengan kualitas hidup, fungsi psikologis, dan dinamika sosial pasien. Prevalensi nyeri kronis yang terus tinggi mengakibatkan kebutuhan penanganan yang komprehensif termasuk dari sisi keperawatan, karena cara pandang tradisional yang hanya berfokus pada gejala fisik nyeri seringkali tidak cukup dalam mengatasi kompleksitas yang terjadi pada pasien. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

Nyeri kronis sering membuat pasien mengalami gangguan aktivitas sehari-hari, penurunan produktivitas kerja, gangguan tidur, hingga meningkatnya risiko gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi. Faktor-faktor tersebut menghasilkan beban biopsikososial yang memerlukan perhatian medis dan keperawatan yang lebih mendalam. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Dengan latar masalah ini, artikel ini membahas definisi nyeri kronis dari berbagai perspektif, karakteristik nyeri kronis, dampaknya terhadap kualitas hidup, faktor psikologis dan sosial yang berperan dalam nyeri kronis, tantangan dalam praktik keperawatan, serta pendekatan keperawatan yang efektif untuk pasien nyeri kronis.


Definisi Nyeri Kronis

Definisi Nyeri Kronis Secara Umum

Secara umum, nyeri kronis adalah rasa sakit yang berlangsung lebih lama daripada periode penyembuhan normal dan seringkali tidak memberikan tanda jelas mengenai penyebab jaringan yang rusak. Hal ini biasanya didefinisikan sebagai nyeri yang berlangsung lebih dari 3 bulan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

Nyeri kronis bukan hanya sekadar sensasi fisik yang berlangsung lama, tetapi juga melibatkan komponen emosional dan psikologis yang kuat yang memengaruhi pengalaman pasien secara keseluruhan. Karena itu, nyeri kronis sering dipandang sebagai kondisi biopsikososial, bukan sekadar gejala medis. [Lihat sumber Disini - archivespp.pl]

Definisi Nyeri Kronis dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “nyeri” didefinisikan sebagai sensasi tidak nyaman dan tidak menyenangkan yang dirasakan oleh individu, yang umumnya terkait dengan kerusakan jaringan atau kondisi yang potensial menimbulkan kerusakan tersebut. Nyeri kronis dalam KBBI mengacu pada nyeri yang terus menerus atau berulang dalam jangka panjang. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

Definisi Nyeri Kronis Menurut Para Ahli

  1. International Association for the Study of Pain (IASP) menyatakan bahwa nyeri kronis adalah rasa sakit yang berlangsung lebih dari tiga bulan, di luar periode penyembuhan yang diharapkan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  2. StatPearls (AM Dydyk et al.) mendefinisikan nyeri kronis sebagai nyeri yang bertahan lebih dari 3 bulan yang dapat mengganggu fungsi dan kualitas hidup seseorang. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  3. Anselmo et al. (2024) menjelaskan bahwa nyeri kronis, terutama pada kondisi seperti low back pain, menyebabkan gangguan mobilitas, fungsi sosial, serta memengaruhi status mental pasien. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  4. Landmark et al. (2024) mengemukakan bahwa stres psikologis dan distres psikologis merupakan faktor risiko penting dalam perkembangan dan kronisitas nyeri, yang berkontribusi pada pengalaman nyeri yang lebih intens dan persistennya kondisi nyeri. [Lihat sumber Disini - nature.com]


Karakteristik Nyeri Kronis

Nyeri kronis memiliki karakteristik yang berbeda dari nyeri akut atau nyeri fisiologis biasa. Beberapa karakteristik utama nyeri kronis antara lain:

  1. Durasi Nyeri yang Lama: Nyeri yang berlangsung lebih dari 3 bulan tanpa tanda-tanda penyembuhan jelas merupakan tanda khas dari nyeri kronis. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Variasi Intensitas: Nyeri kronis dapat timbul dengan intensitas yang bervariasi dari ringan hingga sangat berat, bergantung pada kondisi individu dan faktor yang menyertainya. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

  3. Pengaruh Emosional: Nyeri kronis tidak hanya berdampak fisik, tetapi juga emosional karena penderita seringkali mengalami kecemasan, depresi, dan stres berkepanjangan. [Lihat sumber Disini - ejournal.ukrida.ac.id]

  4. Ketidakpastian Penyebab: Pada banyak kasus, penyebab nyeri kronis tidak selalu jelas atau tidak berkorelasi langsung dengan kerusakan jaringan yang dapat dideteksi secara medis, sehingga penanganannya menjadi lebih kompleks. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  5. Penurunan Fungsi Sehari-hari: Pasien dengan nyeri kronis sering mengalami penurunan kemampuan melakukan tugas sehari-hari seperti berjalan, tidur, dan bekerja, yang kemudian memengaruhi kemandirian mereka. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Karakteristik ini mencerminkan kompleksitas nyeri kronis sebagai suatu kondisi medis yang tidak hanya bersifat fisiologis tetapi juga psikologis dan sosial.


Dampak Nyeri Kronis terhadap Kualitas Hidup

Nyeri kronis memiliki dampak yang luas dan signifikan terhadap kualitas hidup individu. Dampak tersebut bukan hanya pada fungsi fisik tetapi juga pada aspek psikologis, sosial, dan emosional.

Pertama, nyeri kronis mengurangi kemampuan fungsional seseorang untuk melakukan aktivitas rutin sehari-hari, seperti berjalan, bekerja, atau bahkan tidur nyenyak. Studi menunjukkan bahwa pasien dengan low back pain kronis melaporkan keterbatasan dalam mobilitas, pekerjaan, dan hubungan sosial. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Kedua, kondisi ini memiliki hubungan kuat dengan gangguan psikologis. Individu dengan nyeri kronis sering mengalami depresi, kecemasan, dan perubahan suasana hati yang signifikan, yang pada gilirannya dapat memperburuk persepsi nyeri dan memengaruhi kesejahteraan secara keseluruhan. [Lihat sumber Disini - ejournal.ukrida.ac.id]

Ketiga, nyeri kronis secara sosial dapat mengisolasi individu dari lingkungan sosial mereka karena pembatasan fungsi fisik dan peran sosial. Hal ini kemudian dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup secara keseluruhan, baik dalam dimensi fisik maupun psikologis. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Karena dampaknya sangat luas dan multidimensi, pemahaman mengenai kualitas hidup pada pasien nyeri kronis harus mencakup bukan hanya tingkat nyeri itu sendiri, tetapi juga aspek psikologis, sosial, dan emosional mereka.


Faktor Psikologis dan Sosial pada Nyeri Kronis

Nyeri kronis dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara faktor fisiologis, psikologis, dan sosial. Biopsikososial menjadi model yang diakui secara luas untuk memahami bagaimana nyeri kronis berkembang dan bertahan. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

Faktor psikologis seperti stres, depresi, kecemasan, dan distres dapat meningkatkan sensasi nyeri dan memperparah pengalaman nyeri seseorang karena pengaruhnya terhadap sistem saraf pusat. Stres psikologis yang berkepanjangan dapat memicu hiperalgesia, yaitu peningkatan sensitivitas terhadap nyeri, yang memperburuk pengalaman nyeri kronis. [Lihat sumber Disini - nature.com]

Aspek sosial seperti dukungan dari keluarga, teman, dan lingkungan sosial juga sangat memengaruhi pengalaman pasien dengan nyeri kronis. Dukungan sosial yang baik dapat membantu mengurangi kecemasan dan memperbaiki adaptasi psikososial terhadap nyeri, sedangkan isolasi sosial dapat menimbulkan risiko tambahan bagi kesejahteraan pasien. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]

Dengan demikian, faktor psikologis dan sosial tidak dapat dipisahkan dari nyeri kronis dan menjadi aspek penting dalam perencanaan penatalaksanaan serta intervensi yang holistik.


Tantangan Keperawatan dalam Penanganan Nyeri Kronis

Dalam praktik keperawatan, nyeri kronis menjadi tantangan tersendiri karena melibatkan penilaian dan intervensi yang komprehensif. Beberapa tantangan utama meliputi:

  1. Kesulitan dalam Penilaian Nyeri: Nyeri kronis bersifat subjektif dan kadang tidak terlihat secara objektif melalui tanda-tanda klinis fisik. Perawat harus mengandalkan penilaian skala nyeri serta observasi perilaku pasien untuk memahami tingkat nyeri. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Kompleksitas Biopsikososial: Penanganan nyeri kronis tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang manajemen nyeri fisiologis, tetapi juga pemahaman tentang aspek psikologis, sosial, dan emosional pasien, sehingga perawat harus melakukan pendekatan multidisiplin dan holistik. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  3. Kepatuhan Terhadap Terapi: Pasien nyeri kronis sering mengalami tantangan dalam mengikuti terapi jangka panjang, baik farmakologis maupun nonfarmakologis, terutama ketika hasil pengobatan tidak segera terlihat. Hal ini dapat memengaruhi motivasi pasien. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]

  4. Manajemen Efek Samping Obat: Pemberian analgesik jangka panjang dapat menyebabkan efek samping yang memerlukan perhatian khusus dari pihak perawat, termasuk risiko ketergantungan obat. [Lihat sumber Disini - ejournal.unklab.ac.id]

  5. Koordinasi Multidisiplin: Tantangan lain adalah koordinasi yang efektif antara berbagai profesional kesehatan seperti dokter, fisioterapis, psikolog, dan perawat untuk memberikan perawatan optimal bagi pasien nyeri kronis. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]


Pendekatan Keperawatan pada Pasien Nyeri Kronis

Pendekatan keperawatan terhadap pasien nyeri kronis memerlukan strategi yang holistik dan terintegrasi, termasuk:

  1. Penilaian Nyeri Menyeluruh: Menggunakan skala nyeri yang valid, observasi perilaku pasien, serta mengevaluasi dampak nyeri terhadap fungsi sehari-hari. Ini membantu perawat menyesuaikan intervensi yang tepat. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Intervensi Farmakologis dan Nonfarmakologis: Pemberian analgesik yang tepat dibarengi dengan teknik nonfarmakologis seperti relaksasi, kompres panas/dingin, dan edukasi mobilisasi yang aman bagi pasien. [Lihat sumber Disini - ejournal.unklab.ac.id]

  3. Edukasi Pasien dan Keluarga: Memberikan pendidikan tentang nyeri kronis, teknik pengelolaan nyeri, pentingnya dukungan sosial, dan motivasi untuk terapi berkelanjutan. [Lihat sumber Disini - journal.ipm2kpe.or.id]

  4. Kolaborasi Tim Multidisiplin: Perawat berperan sebagai penghubung antara pasien dengan tim kesehatan lainnya untuk memastikan rencana perawatan komprehensif yang mencakup aspek medis, psikologis, dan sosial. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]

  5. Pendekatan Biopsikososial: Mengintegrasikan aspek psikologis dan sosial dalam rencana perawatan termasuk dukungan kelompok, konseling psikologis, dan dukungan sosial untuk pasien, sehingga perawatan lebih menyeluruh. [Lihat sumber Disini - mdpi.com]


Kesimpulan

Nyeri kronis merupakan kondisi kompleks yang melibatkan durasi panjang, dampak biopsikososial yang luas, serta menyebabkan penurunan kualitas hidup secara signifikan. Definisi nyeri kronis tidak hanya ditentukan oleh durasi, tetapi juga oleh pengalaman subjektif pasien yang dipengaruhi oleh faktor psikologis dan sosial. Dampak nyeri kronis meliputi gangguan aktivitas sehari-hari, kesehatan mental yang menurun, dan keterbatasan fungsi sosial. Tantangan keperawatan mencakup kesulitan dalam penilaian nyeri, kompleksitas intervensi, serta kebutuhan koordinasi multidisiplin. Pendekatan keperawatan yang efektif harus mencakup penilaian menyeluruh, strategi farmakologis dan nonfarmakologis, edukasi pasien, serta pendekatan biopsikososial yang holistik. Peran perawat sangat penting dalam mendukung pasien nyeri kronis untuk mencapai perawatan yang lebih menyeluruh, berkualitas, dan berkelanjutan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Nyeri kronis adalah kondisi nyeri yang berlangsung lebih dari tiga bulan atau melewati waktu penyembuhan normal, dan sering kali tidak hanya dipengaruhi oleh faktor fisik, tetapi juga faktor psikologis dan sosial pasien.

Nyeri akut bersifat sementara dan biasanya berkaitan langsung dengan cedera atau penyakit tertentu, sedangkan nyeri kronis berlangsung lama, dapat menetap meskipun penyebab awal telah sembuh, dan berdampak luas pada kualitas hidup pasien.

Karakteristik nyeri kronis meliputi durasi nyeri yang berkepanjangan, intensitas nyeri yang bervariasi, pengaruh emosional yang kuat, penurunan fungsi aktivitas sehari-hari, serta sering kali tidak ditemukan penyebab fisik yang jelas.

Nyeri kronis dapat menurunkan kualitas hidup pasien melalui keterbatasan aktivitas fisik, gangguan tidur, penurunan produktivitas, gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi, serta penurunan interaksi sosial.

Faktor psikologis dan sosial berperan besar dalam persepsi dan intensitas nyeri kronis. Stres, kecemasan, depresi, serta kurangnya dukungan sosial dapat memperburuk pengalaman nyeri dan menghambat proses adaptasi pasien.

Tantangan utama meliputi kesulitan dalam penilaian nyeri yang bersifat subjektif, kompleksitas faktor biopsikososial, kepatuhan pasien terhadap terapi jangka panjang, serta kebutuhan koordinasi dengan tim kesehatan multidisiplin.

Pendekatan keperawatan meliputi penilaian nyeri secara menyeluruh, intervensi farmakologis dan nonfarmakologis, edukasi pasien dan keluarga, kolaborasi tim multidisiplin, serta penerapan pendekatan biopsikososial secara holistik.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Nyeri Kronis: Karakteristik dan Contoh Kasus Nyeri Kronis: Karakteristik dan Contoh Kasus Nyeri Akut: Definisi, Penyebab, dan Penatalaksanaannya Nyeri Akut: Definisi, Penyebab, dan Penatalaksanaannya Nyeri Akut: Karakteristik Klinis dan Pendekatan Penilaian Nyeri Akut: Karakteristik Klinis dan Pendekatan Penilaian Manajemen Nyeri Pascapersalinan: Konsep, Pendekatan Kebidanan, dan Pemulihan Manajemen Nyeri Pascapersalinan: Konsep, Pendekatan Kebidanan, dan Pemulihan Nyeri Persalinan: Jenis dan Penanganan Nyeri Persalinan: Jenis dan Penanganan Manajemen Nyeri Non-Farmakologis: Pendekatan dan Peran Perawat Manajemen Nyeri Non-Farmakologis: Pendekatan dan Peran Perawat Nyeri Persalinan: Konsep, Karakteristik, dan Penatalaksanaan Nyeri Persalinan: Konsep, Karakteristik, dan Penatalaksanaan Manajemen Nyeri Non-Farmakologis Manajemen Nyeri Non-Farmakologis Manajemen Nyeri Masa Nifas Manajemen Nyeri Masa Nifas Asuhan Keperawatan: Definisi, Tahapan, dan Contoh Asuhan Keperawatan: Definisi, Tahapan, dan Contoh Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Obat Antinyeri Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Obat Antinyeri Efektivitas Kompres Hangat Efektivitas Kompres Hangat Kompres Hangat: Konsep, Manfaat Klinis, dan Efektivitas Kompres Hangat: Konsep, Manfaat Klinis, dan Efektivitas Asuhan Keperawatan: Pengertian, Tahapan, dan Ruang Lingkup Praktik Asuhan Keperawatan: Pengertian, Tahapan, dan Ruang Lingkup Praktik Ketidaknyamanan Fisik: Jenis dan Penanganan Ketidaknyamanan Fisik: Jenis dan Penanganan Tingkat Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan Tingkat Kepuasan Pasien terhadap Pelayanan Keperawatan Ketidaknyamanan Fisik: Bentuk, Penyebab, dan Pendekatan Keperawatan Ketidaknyamanan Fisik: Bentuk, Penyebab, dan Pendekatan Keperawatan Pola Mobilitas Post Operasi Pola Mobilitas Post Operasi Perilaku Caring dalam Keperawatan Perilaku Caring dalam Keperawatan Manajemen Waktu Perawatan Manajemen Waktu Perawatan
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…