Terakhir diperbarui: 08 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 8 December). Nyeri Kronis: Karakteristik dan Contoh Kasus. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/nyeri-kronis-karakteristik-dan-contoh-kasus  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Nyeri Kronis: Karakteristik dan Contoh Kasus - SumberAjar.com

Nyeri Kronis: Karakteristik dan Contoh Kasus

Pendahuluan

Nyeri adalah fenomena yang sangat umum dijumpai dalam praktik klinis dan sehari-hari. Baik nyeri bersifat sementara maupun yang berkepanjangan dapat memengaruhi kualitas hidup seseorang secara signifikan. Namun, pengertian dan konsekuensi nyeri kronis sering kurang dipahami, sehingga asuhan dan manajemennya pun sering tidak optimal. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang nyeri kronis: definisinya menurut berbagai sumber, perbedaan dengan nyeri akut, karakteristik klinis, penyebab umum, strategi penanganan jangka panjang, peran perawat dalam manajemen nyeri, serta menampilkan contoh kasus penatalaksanaan nyeri kronis. Tujuannya agar pembaca, baik tenaga kesehatan maupun masyarakat umum, mendapat gambaran komprehensif demi peningkatan penatalaksanaan nyeri kronis secara tepat dan holistik.


Definisi Nyeri Kronis

Definisi Nyeri Secara Umum

Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), nyeri adalah “pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan, terkait dengan kerusakan aktual atau potensial terhadap jaringan tubuh”. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]
Definisi ini menunjukkan bahwa nyeri bukan sekadar sensasi fisik, melainkan juga melibatkan komponen emosional atau psikologis. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]

Definisi Nyeri dalam KBBI

Menurut definisi di kamus besar bahasa Indonesia, nyeri diartikan sebagai “rasa sakit, rasa tidak nyaman” yang muncul dari rangsangan saraf tertentu. [Lihat sumber Disini - dspace.umkt.ac.id]
Penggunaan istilah ini dalam praktik sehari-hari di Indonesia sering merujuk pada sensasi sakit baik sementara maupun berkepanjangan, tanpa membedakan akut ataupun kronis.

Definisi Nyeri Menurut Para Ahli

Berikut adalah beberapa definisi dari literatur dan pakar:

  • Menurut Akbar (2019), nyeri adalah pengalaman sensoris dan emosional yang muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial. Nyeri ini bersifat subjektif, dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]

  • Menurut Fathoni & Cindy (2019), nyeri akut terjadi setelah cedera atau penyakit, bersifat sementara (kurang dari 6 bulan), sedangkan nyeri kronis adalah nyeri konstan atau intermiten yang menetap lebih dari 6 bulan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-ibnusina.ac.id]

  • Dalam dokumen manajemen nyeri dari Kementerian Kesehatan RI, nyeri kronis didefinisikan sebagai nyeri yang timbul secara perlahan-lahan dan biasanya berlangsung lebih dari 6 bulan. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]

  • Berdasarkan studi klinis terbaru, nyeri kronis kadang didefinisikan sebagai “nyeri yang terus-menerus melebihi waktu penyembuhan yang diharapkan”, dengan dua acuan waktu umum: 3 bulan dan 6 bulan setelah cedera atau awal nyeri. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]

Dengan demikian, nyeri kronis dapat ditafsirkan sebagai nyeri yang berlangsung lama, umumnya tiga sampai enam bulan atau lebih, dan sering kali tetap ada walaupun penyebab awal sudah sembuh atau tidak jelas lagi.


Perbedaan Nyeri Akut dan Nyeri Kronis

Nyeri, secara garis besar, dibagi menjadi dua kategori utama: nyeri akut dan nyeri kronis. Perbedaan utama antara keduanya dapat dijelaskan sebagai berikut:

Perbedaan-perbedaan ini menegaskan bahwa pendekatan penanganan dan manajemen nyeri akut tidak bisa langsung diterapkan pada nyeri kronis, dibutuhkan strategi berbeda dan lebih komprehensif.


Karakteristik dan Gejala Klinis Nyeri Kronis

Nyeri kronis memiliki sejumlah karakteristik dan manifestasi klinis yang membedakannya dari nyeri akut. Di antaranya:

  • Durasi berkepanjangan, nyeri menetap atau berulang selama lebih dari 3, 6 bulan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]

  • Sensasi nyeri beragam, bisa berupa tumpul, berdenyut, terbakar, menusuk, atau sensasi tidak nyaman lainnya, dan sering kali sulit dilokalisasi dengan jelas (terutama pada nyeri musculoskeletal atau visceral). [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]

  • Variabilitas intensitas, meskipun tidak selalu sangat intens seperti nyeri akut, nyeri kronis bisa fluktuatif dan kadang meningkat secara berulang atau memburuk seiring waktu. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-ibnusina.ac.id]

  • Dampak psikologis dan kognitif, nyeri kronis dapat berkaitan dengan stres, kecemasan, depresi, gangguan tidur, bahkan perubahan struktur otak seperti penurunan volume materi abu-abu (grey matter) pada beberapa area. [Lihat sumber Disini - journal.uhamka.ac.id]

  • Penurunan fungsi dan kualitas hidup, pasien dengan nyeri kronis sering mengalami keterbatasan aktivitas fisik, penurunan mobilitas, gangguan dalam menjalankan aktivitas harian, dan menurunnya produktivitas. [Lihat sumber Disini - jurnal.umla.ac.id]

  • Adaptasi jangka panjang dalam sistem saraf, penelitian menunjukkan bahwa transisi dari nyeri akut ke kronis dapat melibatkan sensitisasi neuron nosiseptif perifer maupun sentral, yang menyebabkan peningkatan sensitivitas terhadap rangsang (hipersensitivitas), dan membuat rasa nyeri bisa muncul bahkan tanpa rangsang nyeri jelas. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]

Karena karakteristik yang kompleks ini, pengelolaan nyeri kronis memerlukan pendekatan multidisipliner serta mempertimbangkan aspek fisik, psikologis, dan sosial pasien.


Penyebab Umum Nyeri Kronis

Nyeri kronis dapat disebabkan oleh beragam kondisi dan mekanisme. Beberapa penyebab umum meliputi:

  • Penyakit muskuloskeletal kronis seperti osteoartritis, radang sendi, arthritis, atau degenerasi sendi, kondisi ini sering menyebabkan nyeri sendi atau nyeri tulang kronis. [Lihat sumber Disini - journal.uhamka.ac.id]

  • Kelainan saraf / neuropati, misalnya neuropati diabetik, nyeri saraf perifer atau pusat akibat cedera saraf, kompresi saraf, atau disfungsi sistem saraf, yang dapat memicu nyeri neuropatik kronis. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]

  • Perubahan pasca operasi / trauma, nyeri yang muncul setelah operasi atau cedera fisik, yang tidak hilang meskipun luka telah sembuh, bisa berkembang menjadi nyeri kronis. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]

  • Penyakit kronis internal atau organik, misalnya penyakit kronis pada organ dalam, inflamasi, kondisi kronis yang menyebabkan kerusakan jaringan secara terus-menerus, yang bisa memicu nyeri jangka panjang. [Lihat sumber Disini - keslan.kemkes.go.id]

  • Faktor psikologis, sosial, dan perilaku, karena nyeri melibatkan aspek emosional dan psikologis, stres, kecemasan, depresi, serta kondisi sosial atau gaya hidup bisa memperburuk atau mempertahankan nyeri kronis. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]

Kombinasi dari beberapa faktor tersebut, misalnya degenerasi sendi ditambah stres atau perubahan gaya hidup, seringkali memperumit gambaran klinis nyeri kronis dan menuntut penanganan menyeluruh.


Strategi Penanganan Nyeri Jangka Panjang

Menghadapi nyeri kronis memerlukan strategi manajemen yang holistik dan berkelanjutan. Berikut beberapa strategi utama yang banyak digunakan:

  • Manajemen multimodal: Pendekatan yang menggabungkan terapi farmakologis (obat pereda nyeri, analgesik, obat adjuvan), terapi non-farmakologis (fisioterapi, kompres hangat/dingin, relaksasi, latihan, modifikasi gaya hidup), serta pendekatan psikososial. [Lihat sumber Disini - jurnal.umla.ac.id]

  • Pendekatan biopsikososial: Karena nyeri kronis melibatkan aspek sensorik, emosional, dan psikologis, intervensi perlu memperhatikan kondisi fisik, dukungan psikologis, edukasi, adaptasi sosial dan lingkungan pasien. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-tjk.ac.id]

  • Asuhan keperawatan kontinu: Pengkajian nyeri secara berkala, dokumentasi, pemantauan respons terapi, serta penyesuaian rencana perawatan, terutama pada pasien rawat inap atau pasien dengan komorbiditas. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]

  • Intervensi non-farmakologis spesifik: Contohnya kombinasi kompres hangat dengan relaksasi pernapasan, seperti pada lansia dengan arthritis rheumatoid, terbukti menurunkan intensitas nyeri, perasaan protektif, gangguan tidur, dan meningkatkan kemampuan aktivitas sehari-hari. [Lihat sumber Disini - jurnal.umla.ac.id]

  • Edukasi dan pemberdayaan pasien: Memberi informasi kepada pasien (dan keluarga) tentang nyeri kronis, pemicu, strategi koping, modifikasi gaya hidup, serta melibatkan pasien dalam perencanaan perawatan, agar pasien bisa berperan aktif dalam manajemen nyerinya. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]

  • Manajemen lintas disiplin / keterlibatan tim profesional: Terapi terbaik sering dihasilkan dari kolaborasi dokter, perawat, fisioterapis, psikolog dll, agar penanganan menyeluruh terhadap aspek fisik & psikososial nyeri kronis. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]


Peran Perawat dalam Manajemen Nyeri Kronis

Perawat memainkan peran krusial dalam penatalaksanaan nyeri kronis, terutama di setting rawat inap, rawat jalan, maupun home care. Berikut tanggung jawab dan kontribusi perawat:

  • Pengkajian dan dokumentasi nyeri: Melakukan skrining dan penilaian intensitas, karakteristik, durasi, lokasi nyeri, serta dampaknya terhadap aktivitas, tidur, dan kualitas hidup pasien. Kemudian mendokumentasikan hasilnya secara sistematis untuk pemantauan dan perencanaan intervensi. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]

  • Pelaksanaan intervensi non-farmakologis: Misalnya teknik relaksasi, kompres, latihan ringan, modifikasi lingkungan, edukasi higiene tidur dan aktivitas, terutama pada pasien usia lanjut atau mereka dengan gangguan mobilitas. Studi pada lansia dengan rheumatoid arthritis menunjukkan intervensi kombinasi (kompres hangat + relaksasi napas) efektif menurunkan nyeri. [Lihat sumber Disini - jurnal.umla.ac.id]

  • Koordinasi dan kolaborasi tim kesehatan: Berkomunikasi dengan dokter, fisioterapis, dan tim kesehatan lain untuk merancang dan menyesuaikan rencana perawatan sesuai kondisi dan respons pasien. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]

  • Edukasi dan pemberdayaan pasien serta keluarga: Memberikan informasi tentang nyeri kronis, cara mengelola nyeri di rumah, pentingnya aktivitas dan adaptasi gaya hidup, serta koping psikologis agar pasien lebih mandiri dalam menghadapi kondisi kronis. [Lihat sumber Disini - jurnal.umj.ac.id]

  • Evaluasi dan pemantauan jangka panjang: Memantau perkembangan nyeri, efek intervensi, dampak pada fungsi dan kualitas hidup pasien, serta menilai kebutuhan penyesuaian terapi atau rujukan bila diperlukan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]


Contoh Kasus Penatalaksanaan Nyeri Kronis

Berikut contoh kasus nyata dari literatur ilmiah tentang penatalaksanaan nyeri kronis:

Kasus: Lansia dengan Rheumatoid Arthritis dan Nyeri Kronis

Pada sebuah studi kasus dari Indonesia, tiga lansia dengan diagnosis Rheumatoid Arthritis memperoleh intervensi kombinasi terapi non-farmakologis: kompres hangat dan relaksasi pernapasan dalam selama tiga hari berturut-turut. Hasilnya menunjukkan penurunan intensitas nyeri, berkurangnya sikap protektif dan keluhan terkait nyeri, serta peningkatan kemampuan aktivitas sehari-hari dan kualitas tidur. [Lihat sumber Disini - jurnal.umla.ac.id]

Kasus: Pasien Rawat Inap di ICU dengan Nyeri Kronis akibat Luka Tekanan / Perawatan Invasif

Dalam penelitian di ruang perawatan intensif, pasien yang tidak sadar atau dengan gangguan komunikasi tetap dapat mengalami nyeri kronis, misalnya akibat luka tekanan, imobilisasi berkepanjangan, atau penggunaan alat invasif. Perawat menggunakan alat observasi nyeri seperti Critical Care Pain Observation Tool (CPOT) untuk menilai nyeri, lalu melakukan intervensi farmakologis dan non-farmakologis sesuai etika keperawatan. Dokumentasi dan evaluasi efektivitas tindakan menjadi bagian penting dari manajemen. [Lihat sumber Disini - jurnal.unpad.ac.id]

Kedua kasus ini menggambarkan pentingnya pendekatan yang sensitif terhadap situasi pasien, termasuk usia, kondisi komorbiditas, serta kapasitas berkomunikasi, dan perlunya intervensi yang fleksibel, komprehensif, dan berkesinambungan.


Kesimpulan

Nyeri kronis adalah kondisi nyeri yang berlangsung lama, umumnya lebih dari 3 hingga 6 bulan atau lebih, dan bisa muncul bahkan setelah penyembuhan penyebab awal. Keberadaannya bukan sekadar sensasi fisik, melainkan pengalaman sensorik, emosional, dan psikologis kompleks yang dapat mengganggu kualitas hidup, fungsi, dan kesehatan mental pasien.

Perbedaan mendasar antara nyeri akut dan kronis terletak pada durasi, fungsi biologis, kompleksitas pengalaman, serta akibat terhadap kehidupan pasien. Oleh karena itu, manajemen nyeri kronis harus menerapkan strategi multimodal dan biopsikososial, melibatkan terapi farmakologis dan non-farmakologis, edukasi, adaptasi gaya hidup, serta intervensi keperawatan berkelanjutan.

Perawat memegang peranan penting dalam pengkajian, intervensi, edukasi, dokumentasi, serta koordinasi dengan tim kesehatan lain, sehingga perawatan nyeri kronis dapat terlaksana secara holistik dan manusiawi.

Contoh kasus, baik pada lansia dengan penyakit degeneratif maupun pasien rawat intensif, menunjukkan bahwa intervensi non-farmakologis dan manajemen yang konsisten dapat memberi perbaikan nyata pada intensitas nyeri dan kualitas hidup pasien.

Dengan pemahaman yang tepat tentang nyeri kronis dan implementasi manajemen yang holistik, diharapkan penderita nyeri kronis dapat memperoleh perawatan yang optimal, meningkatkan kenyamanan dan kualitas hidup jangka panjang.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Nyeri kronis adalah kondisi nyeri yang berlangsung lebih dari 3 hingga 6 bulan dan dapat terjadi meskipun penyebab awalnya sudah sembuh. Kondisi ini memengaruhi aspek fisik, emosional, dan psikologis pasien.

Nyeri akut muncul secara tiba-tiba dan berlangsung singkat sebagai respons terhadap cedera atau penyakit, sedangkan nyeri kronis berlangsung lama, sering lebih dari 3–6 bulan, dan tidak selalu berhubungan dengan kerusakan jaringan yang sedang terjadi.

Gejala nyeri kronis meliputi nyeri berkepanjangan, sensasi terbakar atau menusuk, gangguan tidur, kelelahan, penurunan fungsi aktivitas harian, serta masalah psikologis seperti kecemasan atau depresi.

Penyebab umum nyeri kronis antara lain penyakit muskuloskeletal seperti osteoartritis, neuropati, cedera atau operasi, penyakit inflamasi kronis, serta faktor psikologis dan sosial.

Penanganan nyeri kronis dilakukan dengan pendekatan multimodal, termasuk terapi farmakologis, fisioterapi, relaksasi, edukasi pasien, latihan fisik, manajemen stres, serta pemantauan jangka panjang oleh tenaga kesehatan.

Perawat berperan dalam pengkajian nyeri, pemberian intervensi non-farmakologis, edukasi pasien dan keluarga, dokumentasi, pemantauan respons terhadap terapi, serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.

Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Nyeri Kronis: Karakteristik, Dampak, dan Tantangan Keperawatan Nyeri Kronis: Karakteristik, Dampak, dan Tantangan Keperawatan Nyeri Akut: Definisi, Penyebab, dan Penatalaksanaannya Nyeri Akut: Definisi, Penyebab, dan Penatalaksanaannya Nyeri Akut: Karakteristik Klinis dan Pendekatan Penilaian Nyeri Akut: Karakteristik Klinis dan Pendekatan Penilaian Manajemen Nyeri Pascapersalinan: Konsep, Pendekatan Kebidanan, dan Pemulihan Manajemen Nyeri Pascapersalinan: Konsep, Pendekatan Kebidanan, dan Pemulihan Nyeri Persalinan: Jenis dan Penanganan Nyeri Persalinan: Jenis dan Penanganan Nyeri Persalinan: Konsep, Karakteristik, dan Penatalaksanaan Nyeri Persalinan: Konsep, Karakteristik, dan Penatalaksanaan Manajemen Nyeri Non-Farmakologis: Pendekatan dan Peran Perawat Manajemen Nyeri Non-Farmakologis: Pendekatan dan Peran Perawat Manajemen Nyeri Non-Farmakologis Manajemen Nyeri Non-Farmakologis Manajemen Nyeri Masa Nifas Manajemen Nyeri Masa Nifas Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Obat Antinyeri Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Obat Antinyeri Kompres Hangat: Konsep, Manfaat Klinis, dan Efektivitas Kompres Hangat: Konsep, Manfaat Klinis, dan Efektivitas Efektivitas Kompres Hangat Efektivitas Kompres Hangat Efektivitas Senam Yoga dalam Mengurangi Nyeri Punggung Ibu Hamil Efektivitas Senam Yoga dalam Mengurangi Nyeri Punggung Ibu Hamil Body Awareness Ibu Bersalin: Konsep, Peran Adaptasi, dan Proses Persalinan Body Awareness Ibu Bersalin: Konsep, Peran Adaptasi, dan Proses Persalinan Pola Mobilitas Post Operasi Pola Mobilitas Post Operasi Ketidaknyamanan Masa Menyusui Ketidaknyamanan Masa Menyusui Ketidaknyamanan Fisik: Jenis dan Penanganan Ketidaknyamanan Fisik: Jenis dan Penanganan Body Awareness pada Ibu Bersalin Body Awareness pada Ibu Bersalin Evaluasi Penggunaan Obat Antiinflamasi Non-Steroid Evaluasi Penggunaan Obat Antiinflamasi Non-Steroid Ketidaknyamanan Fisik: Bentuk, Penyebab, dan Pendekatan Keperawatan Ketidaknyamanan Fisik: Bentuk, Penyebab, dan Pendekatan Keperawatan
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…