
Perawatan Tali Pusat: Pengetahuan dan Praktik Ibu
Pendahuluan
Perawatan tali pusat (umbilical cord care) pada bayi baru lahir merupakan aspek krusial dalam asuhan neonatal. Periode neonatal, terutama saat tali pusat belum lepas, adalah masa paling rentan bagi bayi terhadap infeksi, termasuk infeksi tali pusat atau bahkan Tetanus Neonatorum. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikespgicikini.ac.id] Oleh karena itu, pengetahuan dan praktik perawatan tali pusat oleh ibu, serta peran tenaga kesehatan dalam edukasi, sangat menentukan keselamatan dan kesehatan bayi. Artikel ini mengulas secara komprehensif tentang definisi, prinsip kebersihan, pengetahuan ibu, faktor-faktor yang mempengaruhi praktik, mitos dan kesalahan umum, peran tenaga kesehatan, dampak perawatan yang tidak tepat, serta hubungan pengetahuan dan praktik perawatan tali pusat.
Definisi Perawatan Tali Pusat
Definisi Perawatan Tali Pusat Secara Umum
Perawatan tali pusat mengacu pada rangkaian tindakan atau prosedur kebersihan dan pemeliharaan tali pusat bayi baru lahir sejak tali pusat dipotong sampai tali pusat mengering dan lepas secara alami. Tujuannya menjaga area tali pusat tetap bersih dan kering, sehingga mencegah masuknya kuman, infeksi, dan komplikasi lain pada bayi. [Lihat sumber Disini - journal.cdfpublisher.org]
Definisi Perawatan Tali Pusat dalam KBBI
Menurut kamus definisi resmi (contohnya KBBI / kamus bahasa Indonesia), istilah “tali pusat” merujuk pada saluran penghubung antara janin dan plasenta selama kehamilan, yang kemudian dipotong ketika bayi lahir. Perawatan tali pusat berarti perawatan pada sisa potongan tali pusat tersebut sampai kondisi luka benar-benar sembuh. (Catatan: definisi dari KBBI secara spesifik “perawatan tali pusat” bisa bervariasi, dalam konteks artikel ini dimaknai sebagaimana definisi umum di atas.)
Definisi Perawatan Tali Pusat Menurut Para Ahli
Berikut sejumlah definisi dari literatur ilmiah dan ahli di bidang kebidanan/neonatologi:
-
Menurut penulis dalam artikel “Umbilical cord-care practices: narrative review”, perawatan tali pusat adalah metode menjaga tali pusat tetap kering tanpa penggunaan bahan yang tidak perlu, untuk mengurangi risiko infeksi neonatus. [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]
-
Dalam penelitian STIKES Panrita Husada (2025), perawatan tali pusat didefinisikan sebagai perawatan yang dilakukan ibu atau tenaga kesehatan setelah lahir untuk mempercepat pelepasan tali pusat dan meminimalkan risiko infeksi, termasuk metode penggunaan ASI topikal. [Lihat sumber Disini - ojs.stikespanritahusada.ac.id]
-
Dalam studi oleh R. Pakpahan dkk. (2022), perawatan tali pusat diartikan sebagai rangkaian tindakan kebersihan dan perawatan yang dilakukan hingga tali pusat lepas, dan status pengetahuan ibu serta infeksi dinilai mempengaruhi lamanya waktu tali pusat lepas. [Lihat sumber Disini - midwifery.iocspublisher.org]
-
Penelitian oleh S. Afrilita Ariesmayanti (2021) menyebutkan bahwa perawatan tali pusat adalah tindakan yang ditujukan agar tali pusat tetap kering dan bebas dari kontaminasi mikroba, sebagai bagian penting dari asuhan neonatus. [Lihat sumber Disini - ojs.hestiwirasriwijaya.ac.id]
Dengan demikian, perawatan tali pusat mencakup aspek kebersihan, kelembaban, pemilihan metode (misalnya kering terbuka, penggunaan ASI topikal, atau metode lain sesuai pedoman) dan pemantauan sampai tali pusat lepas.
Prinsip Kebersihan dalam Perawatan Tali Pusat
Perawatan tali pusat sangat bergantung pada prinsip kebersihan, menjaga area tali pusat tetap bersih dan kering, menghindari kelembaban, serta tidak menutup dengan kasa atau bahan yang dapat menjebak kelembaban. [Lihat sumber Disini - idai.or.id]
Metode perawatan yang banyak direkomendasikan di Indonesia dan dalam literatur internasional adalah metode kering terbuka (open-dry / open cord care), yaitu membiarkan tali pusat terbuka tanpa membungkus dan tanpa mengoles substansi tambahan. [Lihat sumber Disini - ojs.phb.ac.id]
Beberapa penelitian membandingkan efektivitas metode berbeda: misalnya metode kering terbuka vs kasa steril, hasilnya menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan dalam waktu pelepasan tali pusat, meskipun kering terbuka cenderung membuat tali pusat lepas lebih cepat. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkesgorontalo.ac.id]
Metode lain yang mulai mendapatkan perhatian adalah penggunaan ASI topikal, yaitu mengoleskan ASI pada pangkal tali pusat dengan cotton bud, yang menurut penelitian bisa mempercepat pelepasan tali pusat dan membantu mencegah infeksi. [Lihat sumber Disini - gk.jurnalpoltekkesjayapura.com]
Intinya: menjaga tali pusat tetap kering, bersih, dan tidak lembab adalah dasar dari perawatan tali pusat yang benar.
Tingkat Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Tali Pusat
Pengetahuan ibu atau ibu nifas mengenai perawatan tali pusat beragam. Beberapa penelitian menggambarkan bahwa sebagian ibu memiliki pengetahuan memadai, tetapi masih cukup banyak yang belum benar-benar paham tentang cara perawatan yang tepat. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
Misalnya, sebuah studi tahun 2024 menunjukkan bahwa ada ibu-ibu yang melakukan perawatan tali pusat secara tidak sesuai prosedur, meskipun setelah melalui literatur review dari sejumlah jurnal. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
Dalam penelitian oleh E. Fauzia (2023), dijelaskan bahwa pengetahuan ibu pascapersalinan tentang perawatan tali pusat perlu ditingkatkan melalui edukasi karena implementasi perawatan yang benar sangat berpengaruh terhadap hasil pelepasan tali pusat. [Lihat sumber Disini - ihj.rivierapublishing.id]
Faktor-faktor yang memengaruhi tingkat pengetahuan ini beragam, termasuk edukasi prenatal/perinatal, interaksi dengan tenaga kesehatan, tingkat pendidikan ibu, dan sumber informasi (misalnya dari tenaga kesehatan, media edukasi, atau masyarakat). [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
Faktor yang Mempengaruhi Praktik Perawatan Ibu
Berbagai faktor memengaruhi bagaimana ibu merawat tali pusat bayi mereka, tidak hanya pengetahuan, tetapi juga sosial, ekonomi, budaya, serta akses ke informasi dan layanan kesehatan.
-
Pendidikan dan latar belakang ibu, Ibu dengan pendidikan yang lebih tinggi cenderung memiliki pengetahuan dan praktik perawatan tali pusat yang lebih baik. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
-
Akses dan interaksi dengan tenaga kesehatan, Ibu yang mendapat konseling atau edukasi dari tenaga kesehatan memiliki peluang lebih besar melakukan perawatan sesuai pedoman. [Lihat sumber Disini - pdfs.semanticscholar.org]
-
Metode perawatan yang dipilih, Apakah menggunakan metode kering terbuka, ASI topikal, atau metode budaya/tradisional, ini mempengaruhi hasil, termasuk kecepatan pelepasan tali pusat dan risiko infeksi. [Lihat sumber Disini - ojs.stikes.gunungsari.id]
-
Pengetahuan dan keterampilan ibu, Pengetahuan saja kadang nggak cukup; keterampilan atau praktik nyata juga penting. Sebuah studi 2025 menunjukkan hubungan antara pengetahuan dan keterampilan ibu dengan kecepatan penyembuhan tali pusat. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Norma budaya dan tradisi lokal, Praktik tradisional tertentu kadang masih digunakan, meskipun tidak sesuai standar medis, dan ini bisa mempengaruhi hasil perawatan. [Lihat sumber Disini - journal.jptranstech.or.id]
Mitos dan Kesalahan Umum dalam Perawatan Tali Pusat
Dalam praktik masyarakat masih ditemukan sejumlah mitos atau kebiasaan yang sebenarnya tidak dianjurkan atau bahkan berisiko. Beberapa di antaranya:
-
Penggunaan bubuk, minyak, rempah, kassa/putih-putihan atau bahan tradisional lain agar tali pusat cepat kering dan lepas. Studi menunjukkan bahwa praktik semacam ini, kerap disebut “cara tradisional”, justru dapat meningkatkan risiko infeksi atau memperlambat proses penyembuhan. [Lihat sumber Disini - journal.jptranstech.or.id]
-
Menutup tali pusat dengan kain/kassa tebal atau kasa lembap, ini menjebak kelembaban, memicu pertumbuhan kuman, dan meningkatkan risiko infeksi. [Lihat sumber Disini - idai.or.id]
-
Menggunakan antiseptik atau alkohol tanpa petunjuk atau prosedur tepat, kadang dianggap mempercepat keringnya tali pusat, tetapi bisa iritasi atau malah menyebabkan trauma jika tidak dilakukan dengan benar. (Catatan: banyak pedoman modern merekomendasikan perawatan kering tanpa tambahan bahan.) [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]
-
Kurangnya kebersihan tangan sebelum menyentuh area tali pusat, hal ini sering diabaikan padahal penting untuk mencegah kontaminasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
Peran Tenaga Kesehatan dalam Edukasi Perawatan
Peran tenaga kesehatan sangat vital dalam memastikan ibu memahami dan menerapkan perawatan tali pusat dengan benar.
-
Konseling dan edukasi prenatal / postnatal: Memberikan informasi tentang pentingnya menjaga tali pusat tetap kering, cara merawat tanpa menutup dengan kasa, kapan harus ke layanan kesehatan jika ada tanda infeksi. Studi menunjukkan bahwa edukasi melalui metode interaktif (misalnya video edukatif) atau pendekatan kader terbukti meningkatkan pengetahuan ibu. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Demonstrasi praktik perawatan: Praktik langsung, bagaimana membersihkan area tali pusat, memastikan kebersihan tangan, pemantauan tanda infeksi, membantu ibu lebih percaya diri dan kompeten. [Lihat sumber Disini - proceeding.unisayogya.ac.id]
-
Sosialisasi metode perawatan yang direkomendasikan: Karena ada banyak metode, kering terbuka, ASI topikal, dsb., tenaga kesehatan perlu menjelaskan kelebihan/kelemahan tiap metode, serta menjawab mitos atau kebiasaan lokal yang tidak sesuai. [Lihat sumber Disini - ojs.phb.ac.id]
-
Monitoring & follow-up: Mengecek kondisi tali pusat saat kontrol bayi baru lahir, memberi panduan kapan harus kembali jika ada tanda peradangan atau infeksi. [Lihat sumber Disini - jurnal.fkm.umi.ac.id]
Dampak Perawatan yang Tidak Tepat terhadap Risiko Infeksi
Perawatan tali pusat yang tidak sesuai standar dapat membawa dampak serius:
-
Risiko infeksi tali pusat atau omfalitis, area tali pusat yang basah, lembap, tertutup kasa, atau dibubuhi bahan tradisional bisa menjadi tempat ideal bagi bakteri tumbuh. [Lihat sumber Disini - idai.or.id]
-
Potensi komplikasi serius seperti sepsis neonatus, tetanus neonatorum, hal ini bisa mengancam nyawa bayi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikespgicikini.ac.id]
-
Pelepasan tali pusat yang tertunda, kalau proses perawatan salah, tali pusat bisa lepas lebih lambat dari normal; hal ini bisa memperpanjang periode risiko infeksi. [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkesgorontalo.ac.id]
-
Beban kesehatan dan emosional bagi keluarga, perawatan ulang, kontrol ke fasilitas kesehatan, perawatan infeksi, hingga risiko kematian bayi dapat menimbulkan trauma dan beban tambahan.
Hubungan Pengetahuan dengan Praktik Perawatan yang Benar
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu berkolerasi dengan praktik perawatan tali pusat yang tepat dan hasil yang lebih baik. Sebagai contoh:
-
Studi literatur 2024 menemukan bahwa ibu dengan pengetahuan baik cenderung melakukan praktik sesuai prosedur, sedangkan ibu dengan pengetahuan rendah sering melakukan perawatan yang salah. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]
-
Dalam penelitian oleh Pakpahan dkk. (2022), ditemukan bahwa pengetahuan ibu berhubungan signifikan dengan waktu pelepasan tali pusat, dan bahwa infeksi tali pusat terkait dengan lamanya tali pusat lepas. [Lihat sumber Disini - midwifery.iocspublisher.org]
-
Penelitian 2025 di Klinik Gloria menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan dan keterampilan baik mampu mempercepat penyembuhan tali pusat bayi. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
-
Namun, meskipun pengetahuan penting, praktik juga sangat bergantung pada edukasi berkelanjutan, dukungan tenaga kesehatan, dan akses ke informasi yang benar, sehingga intervensi edukatif diperlukan. [Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]
Kesimpulan
Perawatan tali pusat adalah aspek fundamental dalam perawatan bayi baru lahir untuk mencegah infeksi dan komplikasi serius. Definisi perawatan tali pusat mencakup menjaga tali pusat tetap kering, bersih, dan membiarkannya lepas secara alamiah. Prinsip kebersihan, terutama metode kering terbuka, menjadi dasar perawatan yang direkomendasikan.
Tingkat pengetahuan ibu tentang perawatan tali pusat sangat beragam, dan banyak ibu masih melakukan praktik yang kurang tepat akibat pengetahuan, kebiasaan tradisional, atau kurangnya edukasi. Faktor seperti pendidikan, pendidikan kesehatan dari tenaga kesehatan, metode perawatan, serta dukungan sosial mempengaruhi praktik perawatan.
Mitos dan praktik keliru seperti penggunaan bubuk, minyak, atau kasa basah harus dihindari karena meningkatkan risiko infeksi. Peran tenaga kesehatan dalam edukasi, demonstrasi, dan monitoring sangat penting.
Ketidaktepatan perawatan tali pusat dapat menyebabkan infeksi, sepsis, tetanus neonatorum, serta pelepasan tali pusat tertunda, yang semua membawa risiko besar bagi kesehatan dan kelangsungan hidup bayi.
Akhirnya, penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan ibu berkorelasi dengan praktik perawatan yang benar dan hasil yang baik, tetapi edukasi dan pendampingan konsisten dari tenaga kesehatan tetap krusial. Oleh karena itu, penting bagi sistem kesehatan dan komunitas untuk memperkuat edukasi neonatal dan mendukung ibu dalam menerapkan praktik perawatan tali pusat sesuai pedoman.