
Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Bayi Baru Lahir
Pendahuluan
Periode neonatal, yaitu masa bayi baru lahir, merupakan fase kritis dalam kehidupan seorang manusia. Pada masa ini, bayi sangat rentan terhadap berbagai risiko kesehatan, karena sistem imun, kulit, serta mekanisme adaptasi terhadap lingkungan luar rahim belum matang sepenuhnya. Oleh karena itu, pengetahuan ibu tentang bagaimana melakukan perawatan bayi baru lahir menjadi sesuatu yang sangat penting. Pengetahuan yang baik dapat membantu menerapkan praktik perawatan yang benar, mulai dari menjaga kebersihan, perawatan kulit, penyusuan, hingga pengenalan tanda bahaya, sehingga pertumbuhan, perkembangan, dan keselamatan bayi bisa optimal. Namun dalam praktik di masyarakat, tingkat pengetahuan ibu bisa sangat bervariasi, dipengaruhi oleh berbagai faktor: edukasi kesehatan, budaya, dukungan tenaga kesehatan, dan akses informasi. Artikel ini membahas aspek-aspek utama terkait pengetahuan ibu atas perawatan bayi baru lahir, serta implikasinya terhadap kesehatan bayi.
Definisi Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Bayi Baru Lahir
Definisi secara umum
Pengetahuan ibu tentang perawatan bayi baru lahir dapat dipahami sebagai pemahaman ibu terhadap hal-hal yang diperlukan untuk menjaga kesehatan, kebersihan, dan keselamatan bayi sejak lahir, termasuk perawatan tali pusat, mandi bayi, kebersihan kulit, pemberian ASI, deteksi awal tanda bahaya, dan tindakan perawatan dasar lainnya. Pengetahuan ini mencakup “apa yang harus dilakukan”, “bagaimana melakukannya dengan benar”, serta “kapan harus dilakukan”.
Definisi menurut KBBI
Istilah “pengetahuan” menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) mencakup arti “hasil tahu; sesuatu yang diketahuinya; faham; ilmu”¹. Dalam konteks ini, “pengetahuan ibu tentang perawatan bayi baru lahir” berarti ilmu atau informasi yang dimiliki ibu seputar praktik perawatan bayi sejak lahir.
Definisi menurut Para Ahli
Berikut beberapa interpretasi akademis terkait konsep ini:
-
Menurut Studi tentang asuhan neonatus, pengetahuan ibu meliputi pemahaman akan kebutuhan fisiologis bayi baru lahir, seperti pentingnya menjaga kebersihan kulit, mencegah infeksi tali pusat, menjaga kehangatan, serta pemberian nutrisi yang adekuat. [Lihat sumber Disini - repositori.uin-alauddin.ac.id]
-
Dalam penelitian terhadap keterampilan ibu memandikan bayi baru lahir, pengetahuan digambarkan sebagai dasar untuk membentuk kompetensi praktis dalam perawatan bayi, tanpa pengetahuan yang cukup, banyak ibu yang merasa takut atau tidak yakin saat memandikan bayi. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Penelitian kuantitatif tentang hubungan pengetahuan ibu dengan tindakan perawatan tali pusat menunjukkan bahwa pengetahuan ibu secara signifikan terkait dengan perilaku mencuci tangan sebelum merawat tali pusat, tindakan penting untuk mencegah infeksi. [Lihat sumber Disini - jurnal.ikta.ac.id]
-
Dalam riset tentang praktik menyusui eksklusif, pengetahuan ibu dianggap sebagai variabel dominan yang menentukan keberhasilan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - pagepressjournals.org]
Dengan demikian, “pengetahuan ibu tentang perawatan bayi baru lahir” bisa dipahami sebagai pengetahuan teoretis dan/atau praktis yang memungkinkan ibu memberikan perawatan yang tepat dan aman bagi bayinya.
Perawatan Dasar Bayi Baru Lahir
Pada periode neonatal (0, 28 hari), perawatan dasar bayi mencakup sejumlah hal esensial yang harus dipahami ibu dan/atau keluarga.
Perawatan dasar meliputi:
-
Perawatan tali pusat, menjaga agar tetap bersih, kering, dan meminimalkan risiko infeksi. Pengetahuan ibu tentang pentingnya mencuci tangan sebelum merawat tali pusat terbukti secara signifikan berkaitan dengan praktik yang benar. [Lihat sumber Disini - jurnal.ikta.ac.id]
-
Memandikan bayi dengan teknik yang sesuai, misalnya metode “mandi kering” (wash-lap) sering direkomendasikan sampai tali pusat lepas, karena dapat mempercepat proses lepas tali pusat dan mengurangi risiko infeksi. [Lihat sumber Disini - jurnal.umsb.ac.id]
-
Menjaga kehangatan bayi (termoregulasi), terutama pada bayi baru lahir normal, untuk mencegah hipotermia. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkesbengkulu.ac.id]
-
Memantau kondisi fisik bayi, termasuk memberi vitamin K, salep mata, imunisasi dasar, dan deteksi dini tanda bahaya. [Lihat sumber Disini - publikasi.abidan.org]
-
Memberikan nutrisi yang adekuat, terutama melalui pemberian ASI, termasuk ASI eksklusif bila memungkinkan. [Lihat sumber Disini - analysisdata.co.id]
Perawatan dasar ini menjadi fondasi penting agar bayi dapat bertahan, tumbuh, dan berkembang secara sehat di periode awal kehidupannya.
Pengetahuan tentang Kebersihan dan Perawatan Kulit Bayi
Kulit bayi, terutama neonatus, memiliki karakteristik yang berbeda dari kulit orang dewasa: lebih tipis, lebih sensitif, dan lebih rentan terhadap trauma, infeksi, atau iritasi. Oleh karena itu, perawatan kulit bayi baru lahir memerlukan perhatian khusus. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Dalam literatur perawatan kulit neonatus, disarankan:
-
Membiarkan lapisan vernix caseosa tetap ada pada kulit bayi segera setelah lahir, karena vernix berfungsi sebagai pelindung alami dari infeksi dan membantu menjaga kelembapan kulit. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Melakukan mandi hanya setelah bayi stabil, dan tidak terlalu sering. Banyak panduan menyarankan mandi 2, 3 kali per minggu cukup untuk bayi baru lahir, kecuali bagian tertentu seperti area popok perlu dibersihkan secara rutin. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Menjaga agar area popok tetap bersih dan kering, untuk mencegah dermatitis popok atau infeksi. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Penggunaan sabun atau pembersih secara hati-hati, sabun keras atau pembersih dengan pH tidak sesuai dapat merusak lapisan pelindung kulit, mengganggu “skin barrier” dan meningkatkan risiko ruam atau dermatitis. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Bila perlu, penggunaan pelembap yang cocok untuk neonatus, terutama jika kulit bayi tampaknya kering atau rentan iritasi. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Dengan pengetahuan yang tepat, ibu atau pengasuh dapat menjaga kulit bayi tetap sehat dan mencegah komplikasi kulit di masa awal kehidupan.
Praktik Menyusui dan Pemahaman IMD
Pemberian ASI, terutama ASI eksklusif dan inisiasi menyusu dini (IMD, IMediate Breastfeeding / Early Initiation of Breastfeeding), adalah bagian krusial dari perawatan bayi baru lahir.
-
Penelitian di Papua (2025) menunjukkan bahwa kelas ibu hamil/prenatal kelas membantu meningkatkan pengetahuan dan praktik pemberian ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Secara umum, tingkat pengetahuan ibu adalah faktor dominan yang menentukan keberhasilan ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - pagepressjournals.org]
-
Dukungan tenaga kesehatan, terutama bidan, dalam masa kehamilan dan setelah persalinan penting untuk memfasilitasi IMD, menyusui yang benar, dan memahami manfaat ASI. [Lihat sumber Disini - analysisdata.co.id]
-
Karena ASI eksklusif sangat mendukung pertumbuhan dan sistem imun bayi, pengetahuan dan praktik menyusui yang benar berdampak besar terhadap kesehatan bayi. [Lihat sumber Disini - analysisdata.co.id]
Dengan demikian, pengetahuan ibu tentang menyusui dan IMD, serta praktik yang benar, merupakan bagian integral dari perawatan bayi baru lahir.
Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Pengetahuan Ibu
Beberapa faktor yang mempengaruhi seberapa baik ibu memahami perawatan bayi baru lahir antara lain:
-
Edukasi/prenatal kelas, penelitian menunjukkan bahwa kelas ibu hamil mampu meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran ibu terhadap perawatan newborn. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Asuhan kebidanan segera setelah lahir, asuhan kebidanan (termasuk pendampingan memandikan bayi, merawat tali pusat, memberikan edukasi kepada ibu) terbukti meningkatkan kemampuan ibu dalam merawat bayi. [Lihat sumber Disini - ejournal.stikesabdurahman.ac.id]
-
Dukungan dari tenaga kesehatan (bidan, perawat, kader kesehatan), peran tenaga kesehatan sangat menentukan dalam membantu ibu memahami praktik perawatan bayi secara benar (misalnya IMD, kebersihan, merawat tali pusat). [Lihat sumber Disini - analysisdata.co.id]
-
Budaya dan tradisi, di beberapa komunitas, praktik perawatan bayi baru lahir dipengaruhi adat dan kepercayaan lokal, yang dapat mendukung atau justru berbenturan dengan praktik perawatan berdasarkan bukti kesehatan. [Lihat sumber Disini - jurnal-id.com]
-
Akses informasi dan literasi kesehatan, ibu dengan akses ke informasi kesehatan yang baik (melalui posyandu, kelas ibu, penyuluhan) cenderung memiliki pengetahuan dan praktik yang lebih baik. [Lihat sumber Disini - bansigom.org]
Peran Tenaga Kesehatan dalam Edukasi Perawatan Bayi
Tenaga kesehatan, terutama bidan, perawat, kader kesehatan, memiliki peran penting dalam meningkatkan pengetahuan dan praktik perawatan bayi baru lahir:
-
Memberikan pendidikan/prenatal kelas selama masa kehamilan untuk mempersiapkan ibu memahami kebutuhan bayi baru lahir. Studi menunjukkan bahwa ibu yang mengikuti kelas seperti ini memiliki tingkat keberhasilan pemberian ASI eksklusif lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Memberikan asuhan kebidanan segera pasca-persalinan, termasuk demonstrasi cara memandikan bayi, merawat tali pusat, menyusui, menjaga kehangatan, dan edukasi tentang tanda bahaya bayi. Ini membantu ibu merasa lebih percaya diri dalam merawat bayi. [Lihat sumber Disini - ejournal.stikesabdurahman.ac.id]
-
Melakukan pendampingan lanjutan, memberikan informasi, monitoring, bimbingan menyusui, dan mendampingi ibu dalam praktik sehari-hari perawatan bayi. Hal ini penting karena studi menunjukkan bahwa dukungan dari tenaga kesehatan memperbesar kemungkinan praktik ASI eksklusif dan perawatan yang benar. [Lihat sumber Disini - analysisdata.co.id]
Hambatan dalam Perawatan Bayi Baru Lahir
Meskipun pengetahuan dan rekomendasi sudah tersedia, dalam praktik nyata terdapat sejumlah hambatan yang sering muncul:
-
Ketidaktahuan atau keterbatasan pengetahuan ibu, banyak ibu, terutama primipara, yang belum pernah diberi edukasi tentang cara memandikan bayi, merawat tali pusat, atau menyusui secara benar. Studi menunjukkan sebagian besar ibu postpartum tidak terampil memandikan bayinya. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Adat dan budaya lokal, ada praktik tradisional turun-temurun dalam perawatan bayi baru lahir yang dapat bertentangan dengan pedoman kesehatan modern. Dalam kajian etnografi misalnya, ditemukan penggunaan ritual, pemakaian tanaman obat, dan berbagai praktik lokal yang bisa berisiko bagi kesehatan bayi. [Lihat sumber Disini - jurnal-id.com]
-
Kurangnya dukungan tenaga kesehatan atau akses layanan kesehatan, di beberapa wilayah, tidak semua ibu mendapat pendampingan oleh bidan/ perawat, atau layanan paska-persalinan tidak memadai. Hal ini menghambat penerapan praktik perawatan bayi yang benar. [Lihat sumber Disini - analysisdata.co.id]
-
Rendahnya literasi kesehatan dan informasi, akses informasi bisa terbatas, terutama di daerah dengan sosio-ekonomi rendah atau daerah terpencil, sehingga informasi tentang perawatan bayi bisa kurang tersampaikan. [Lihat sumber Disini - bansigom.org]
Dampak Pengetahuan Ibu terhadap Kesehatan Bayi
Tingginya pengetahuan dan praktik perawatan bayi baru lahir di antara ibu membawa dampak signifikan bagi kesehatan dan kelangsungan hidup bayi. Berikut beberapa dampaknya:
-
Penurunan risiko infeksi dan komplikasi neonatal. Misalnya, perawatan tali pusat yang bersih dan benar serta mandi bayi dengan metode yang aman dapat mencegah infeksi tali pusat atau iritasi kulit. [Lihat sumber Disini - jurnal.ikta.ac.id]
-
Kulit bayi sehat, perawatan kulit neonatus yang sesuai melindungi kulit bayi dari ruam, dermatitis, dan infeksi; menjaga integritas skin-barrier penting untuk kesehatan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Gizi optimal dan perkembangan bayi, melalui praktik menyusui eksklusif dan IMD, bayi mendapatkan nutrisi ideal yang mendukung pertumbuhan, perkembangan sistem imun, dan kesehatan jangka panjang. [Lihat sumber Disini - analysisdata.co.id]
-
Meningkatkan kelangsungan hidup dan menurunkan mortalitas neonatal, dengan praktik perawatan yang benar, deteksi dini tanda bahaya, dan pemberian asuhan berkualitas, kelahiran dan masa neonatal dapat dikelola dengan lebih baik. [Lihat sumber Disini - jurnal-id.com]
-
Memberdayakan ibu dan keluarga, pengetahuan yang baik membuat ibu lebih percaya diri, mampu mengambil keputusan perawatan, dan terlibat aktif dalam menjaga kesehatan bayi. Hal ini juga mendukung kesinambungan pola asuh sehat di keluarga dan komunitas.
Kesimpulan
Pengetahuan ibu tentang perawatan bayi baru lahir adalah fondasi krusial bagi kesehatan, keselamatan, dan perkembangan bayi pada masa neonatal. Dengan pengetahuan yang memadai, tentang kebersihan, perawatan kulit, mandi bayi, menyusui, IMD, perawatan tali pusat, kehangatan, serta deteksi dini tanda bahaya, ibu dapat menerapkan praktik perawatan yang benar dan aman. Banyak penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan ibu sangat menentukan keberhasilan praktik perawatan dan menyusui eksklusif. Faktor-faktor seperti edukasi/prenatal kelas, asuhan kebidanan, literasi kesehatan, dan dukungan tenaga kesehatan sangat berperan. Sebaliknya, hambatan seperti kurangnya edukasi, budaya tradisional, dan keterbatasan akses layanan bisa menghambat. Oleh karena itu, upaya pemberdayaan ibu melalui penyuluhan, edukasi kesehatan, asuhan kebidanan yang baik, serta dukungan keluarga dan komunitas sangat penting untuk meningkatkan kualitas perawatan bayi baru lahir, dan pada akhirnya, meningkatkan kesehatan bayi serta menurunkan risiko komplikasi atau kematian neonatal.