
Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Payudara
Pendahuluan
Perawatan payudara adalah aspek penting dalam masa kehamilan dan laktasi yang sering kurang disadari oleh banyak ibu. Padahal, kualitas pengetahuan dan praktik perawatan payudara memiliki implikasi langsung pada keberhasilan menyusui, kelancaran produksi ASI, serta pencegahan gangguan seperti infeksi payudara dan penyumbatan saluran susu. Oleh karena itu, pemahaman mendalam mengenai definisi, teknik, faktor yang mempengaruhi, serta dampak dari perawatan payudara sangat diperlukan, baik oleh ibu maupun tenaga kesehatan. Artikel ini bertujuan menggali aspek, aspek tersebut secara komprehensif.
Definisi Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Payudara
Definisi secara umum
Pengetahuan ibu tentang perawatan payudara merujuk pada tingkat pemahaman seorang ibu terhadap konsep, tujuan, manfaat, dan cara melakukan perawatan payudara selama kehamilan dan masa laktasi, termasuk di dalamnya kebersihan payudara, pijatan, kompres, serta cara menyusui yang benar.
Definisi menurut KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), “perawatan” diartikan sebagai tindakan memelihara dan menjaga agar tetap dalam keadaan baik. Dengan demikian, perawatan payudara bagi ibu laktasi dapat dipahami sebagai upaya menjaga kondisi payudara agar tetap sehat, bersih, dan siap mendukung produksi ASI.
Definisi menurut Para Ahli
-
Menurut penelitian oleh Putri AS dkk. (2025), perawatan payudara meliputi tindakan menjaga kebersihan payudara, pemijatan, dan kompres, dengan tujuan melancarkan suplai darah, mencegah penyumbatan saluran susu, serta mempersiapkan payudara untuk menyusui. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
-
Anshari Z dkk. (2023) menyatakan bahwa perawatan payudara meliputi pijat, kebersihan payudara, penggunaan bra postpartum, dan asupan nutrisi sebagai bagian dari perawatan komprehensif agar produksi ASI optimal. [Lihat sumber Disini - jurnal.umsu.ac.id]
-
Dalam literatur review oleh Rahmaniah S (2023), perawatan payudara selama kehamilan dan laktasi termasuk stimulasi puting, pemeriksaan rutin, kebersihan, yang diyakini mampu mendukung keberhasilan periode laktasi pada ibu. [Lihat sumber Disini - ocs.unism.ac.id]
-
Studi oleh Rezeki S dkk. (2025) menunjukkan bahwa pengetahuan ibu tentang perawatan payudara secara signifikan berkaitan dengan keberhasilan menyusui dan kelancaran aliran ASI. [Lihat sumber Disini - prosidingmhm.mitrahusada.ac.id]
Berdasarkan definisi, definisi di atas, pengetahuan ibu mengenai perawatan payudara mencakup aspek teoretis (mengerti apa dan mengapa) serta praktik (cara melakukan), dan menjadi landasan penting bagi pelaksanaan perawatan yang efektif.
Pentingnya Perawatan Payudara pada Masa Laktasi
Perawatan payudara sejak masa kehamilan hingga nifas/laktasi memiliki beberapa manfaat penting:
-
Menjaga kebersihan payudara dan puting susu sehingga mencegah infeksi, terutama infeksi pada saluran susu atau payudara. [Lihat sumber Disini - jurnal.itkesmusidrap.ac.id]
-
Mencegah penyumbatan saluran ASI (saluran susu), yang bisa menyebabkan bendungan ASI atau kondisi seperti saluran susu tersumbat. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Merangsang kelenjar payudara agar bekerja optimal, dengan pijat dan perawatan, sirkulasi darah ke payudara meningkat, sehingga produksi ASI bisa lebih lancar. [Lihat sumber Disini - journal.arikesi.or.id]
-
Mempersiapkan puting dan areola sehingga lebih lentur, tidak mudah lecet atau terluka, serta lebih mudah disedot bayi saat menyusui. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-bhm.ac.id]
-
Mendukung keberhasilan menyusui eksklusif, karena ibu yang memahami dan menerapkan perawatan dengan benar cenderung mengalami aliran ASI yang lancar dan kenyamanan saat menyusui. [Lihat sumber Disini - ocs.unism.ac.id]
Dengan demikian, perawatan payudara bukan semata tentang menjaga penampilan, tetapi aspek kesehatan dan fungsional penting untuk keberhasilan laktasi.
Teknik Perawatan Payudara yang Benar
Beberapa teknik perawatan payudara yang umum direkomendasikan, dan terbukti dalam penelitian, antara lain:
-
Pijat / pengurutan payudara: Memijat payudara dengan lembut, dari pangkal ke arah putting susu (areola), kadang dalam gerakan memutar atau bergantian antar payudara. Teknik ini membantu merangsang kelenjar susu dan melancarkan aliran darah. [Lihat sumber Disini - journal.aisyahuniversity.ac.id]
-
Kompres hangat, dingin: Setelah pijatan, bisa dilakukan kompres hangat diselingi kompres dingin untuk membantu meredakan ketegangan, membuka saluran susu, dan meminimalkan risiko penyumbatan. [Lihat sumber Disini - journal.aisyahuniversity.ac.id]
-
Menjaga kebersihan payudara & puting: Membersihkan payudara secara rutin, terutama puting susu, hindari sabun keras atau bahan yang membuat iritasi, supaya kulit dan saluran susu tetap sehat. [Lihat sumber Disini - jurnal.itkesmusidrap.ac.id]
-
Pemeriksaan / observasi payudara rutin: Mengamati bila ada tanda-tanda kelainan seperti perubahan warna, bengkak, rasa sakit, puting lecet, agar bisa diantisipasi sejak dini. [Lihat sumber Disini - ocs.unism.ac.id]
-
Konsistensi perawatan, dilakukan sejak kehamilan dan terus berlanjut pascapersalinan: Perawatan payudara idealnya dimulai sejak trimester akhir kehamilan dan berlanjut selama masa nifas/laktasi. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-bhm.ac.id]
Teknik-teknik tersebut, bila dilakukan secara benar dan rutin, mampu meminimalkan gangguan serta mendukung kelancaran menyusui.
Pengetahuan Ibu tentang Pencegahan Mastitis
Mastitis, peradangan atau infeksi pada jaringan payudara, merupakan salah satu risiko serius jika perawatan payudara dan kebersihan tidak dilakukan dengan benar. [Lihat sumber Disini - prosidingmhm.mitrahusada.ac.id]
Pengetahuan ibu yang baik mencakup:
-
Mengetahui bahwa kebersihan payudara dan puting susu penting untuk mencegah infeksi. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
-
Mengenali tanda-tanda awal mastitis: rasa nyeri, bengkak, kemerahan, payudara keras, atau demam, sehingga bisa segera mendapatkan pertolongan. (Berdasarkan literatur mastitis umumnya terjadi akibat saluran susu tersumbat atau infeksi, misalnya karena penyumbatan saluran susu.) [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
-
Mengerti bahwa pemijatan, kompres, kebersihan dan penyusuan/ perah rutin dapat membantu mencegah penyumbatan dan infeksi. [Lihat sumber Disini - ocs.unism.ac.id]
Penelitian menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan perawatan payudara yang memadai cenderung dapat mencegah komplikasi seperti mastitis dan bendungan ASI. [Lihat sumber Disini - prosidingmhm.mitrahusada.ac.id]
Faktor yang Mempengaruhi Pengetahuan Perawatan Payudara
Beberapa faktor yang secara empiris terbukti mempengaruhi seberapa baik seorang ibu memahami dan mau melakukan perawatan payudara antara lain:
-
Tingkat pendidikan ibu: Ibu dengan pendidikan lebih tinggi cenderung lebih mudah menerima informasi terkait perawatan payudara. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
-
Akses informasi / edukasi kesehatan / penyuluhan oleh tenaga kesehatan atau media: Pendidikan kesehatan, penyuluhan atau konseling sangat berpengaruh dalam meningkatkan pengetahuan ibu tentang perawatan payudara. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
-
Pengalaman kehamilan / laktasi sebelumnya (gravida/ para status), ibu yang sudah pernah menyusui (multigravida) kemungkinan punya pengetahuan atau pengalaman dibanding ibu primigravida. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
-
Lingkungan sosial dan budaya keluarga / komunitas, apakah perawatan payudara dianggap penting di lingkungan sekitar, apakah ada mitos, kebiasaan, atau dukungan sosial. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-bhm.ac.id]
-
Motivasi dan minat ibu terhadap menyusui (breastfeeding intention/interest), ibu dengan minat tinggi dalam menyusui cenderung lebih giat mempelajari dan menerapkan perawatan payudara. [Lihat sumber Disini - thejhsc.org]
Faktor-faktor ini penting diperhatikan oleh tenaga kesehatan dan penyuluh laktasi ketika merancang intervensi edukasi supaya lebih efektif.
Peran Tenaga Kesehatan dalam Edukasi
Tenaga kesehatan, bidan, perawat, konselor laktasi, memiliki peran penting dalam menyampaikan edukasi perawatan payudara yang benar kepada ibu hamil dan nifas.
-
Melalui penyuluhan/praktek langsung: Memberikan demonstrasi pijat payudara, kompres, cara menjaga kebersihan, dan teknik penyusuan yang tepat. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
-
Memberi panduan sejak masa kehamilan: Edukasi sejak trimester III membantu ibu mempersiapkan payudara agar siap menyusui. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-bhm.ac.id]
-
Memonitor dan mengikuti ibu postpartum: Mengevaluasi pengetahuan dan praktik perawatan serta memberikan dukungan lanjutan agar ibu konsisten. [Lihat sumber Disini - prosidingmhm.mitrahusada.ac.id]
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa intervensi edukasi oleh petugas kesehatan secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu dalam perawatan payudara. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
Hambatan dalam Melakukan Perawatan Payudara
Meski manfaatnya banyak, tidak sedikit ibu yang menghadapi hambatan dalam melakukan perawatan dengan benar, antara lain:
-
Kurangnya pengetahuan atau edukasi: Banyak ibu yang belum memperoleh informasi yang tepat mengenai cara dan pentingnya perawatan payudara. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
-
Mitos, kepercayaan budaya, atau kebiasaan yang keliru, misalnya anggapan bahwa pijat atau “main-main” payudara bisa berbahaya, sehingga ibu enggan melakukannya. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-bhm.ac.id]
-
Rendahnya motivasi atau minat ibu untuk menyusui, tanpa motivasi, ibu mungkin menunda atau tidak konsisten melakukan perawatan. [Lihat sumber Disini - thejhsc.org]
-
Kesibukan, kurang waktu, atau kondisi ibu postpartum (kelelahan, stres, kurang tidur), ini bisa membuat ibu sulit rutin melakukan pijat, kompres, atau menjaga kebersihan optimal. (Meski tidak semua penelitian mengeksplorasi faktor ini secara khusus, kondisi postpartum secara umum dikenal rentan terhadap hambatan praktis.)
-
Kurangnya dukungan lingkungan, suami, keluarga, atau komunitas bisa berpengaruh ke semangat ibu melakukan perawatan. (Dinyatakan secara implisit dalam literatur faktor sosial budaya.) [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-bhm.ac.id]
Mengatasi hambatan ini memerlukan pendekatan edukatif, motivasional, serta dukungan sosial dari keluarga dan tenaga kesehatan.
Pengaruh Perawatan terhadap Produksi ASI
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perawatan payudara berpengaruh positif terhadap produksi dan kelancaran ASI:
-
Dalam penelitian oleh Anshari dkk. (2023), pijatan payudara dan kebersihan disertai asupan nutrisi mempengaruhi peningkatan produksi ASI pada ibu postpartum. [Lihat sumber Disini - jurnal.umsu.ac.id]
-
Studi di 2025 menunjukkan bahwa intervensi perawatan payudara pada ibu nifas mampu mengurangi insiden “breast milk engorgement / dams” dan mendukung aliran ASI yang lebih baik. [Lihat sumber Disini - omnijournal.id]
-
Penelitian lain menunjukkan bahwa ibu dengan pengetahuan dan praktik perawatan payudara yang baik cenderung mengalami kelancaran produksi ASI, dibandingkan yang kurang. [Lihat sumber Disini - jurnal.itkesmusidrap.ac.id]
-
Selain itu, perawatan payudara juga mendukung keberhasilan menyusui eksklusif dengan meningkatkan kenyamanan ibu saat menyusui, mencegah puting lecet, mastitis, atau penyumbatan, faktor yang sering menyebabkan ibu berhenti menyusui. [Lihat sumber Disini - ocs.unism.ac.id]
Dengan demikian, perawatan payudara bukan sekadar aspek fisik, tetapi juga strategi penting dalam menjaga supply ASI dan keberlangsungan menyusui.
Hubungan Pengetahuan dengan Keberhasilan Menyusui
Pengetahuan ibu tentang perawatan payudara berkorelasi kuat dengan keberhasilan menyusui, baik dari segi kualitas maupun kuantitas ASI:
-
Penelitian oleh Rezeki dkk. (2025) menunjukkan bahwa peningkatan pengetahuan melalui edukasi berdampak pada keberhasilan menyusui. [Lihat sumber Disini - prosidingmhm.mitrahusada.ac.id]
-
Hasil penelitian di 2025 menunjukkan bahwa program edukasi perawatan payudara meningkatkan pengetahuan ibu hamil trimester III dan berpotensi meningkatkan keberhasilan menyusui. [Lihat sumber Disini - jurnal.akperdharmawacana.ac.id]
-
Studi terhadap ibu nifas primipara menunjukkan bahwa sebagian besar responden dengan pemahaman baik tentang perawatan payudara cenderung lebih siap dan mampu menyusui dengan lancar. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
Dengan demikian, upaya meningkatkan pengetahuan ibu melalui edukasi, oleh tenaga kesehatan atau program penyuluhan, merupakan langkah strategis dalam meningkatkan angka keberhasilan menyusui, terutama menyusui eksklusif.
Perbandingan Pengetahuan antara Ibu Primigravida dan Multigravida
Beberapa penelitian menunjukkan perbedaan dalam pengetahuan dan praktik perawatan payudara antara ibu yang baru pertama kali hamil/melahirkan (primigravida / primipara) dan ibu yang sudah pernah melahirkan (multigravida / multipara):
-
Dalam studi oleh Yolanda dkk. (2021), sebagian besar ibu primipara sudah memiliki pengetahuan baik mengenai definisi dan tujuan perawatan payudara; namun tingkat pengetahuan terkait teknik pijat dan waktu melakukan perawatan relatif lebih rendah dibanding aspek teori. [Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]
-
Di sisi lain, ibu multigravida cenderung memiliki pengalaman praktis lebih baik karena pernah menyusui sebelumnya, hal ini bisa meningkatkan keterampilan dalam perawatan payudara, serta pemahaman terhadap manfaat dan cara melakukannya. Beberapa literatur (misalnya dalam tinjauan oleh Rahmaniah, 2023) menunjukkan bahwa motivasi dan pengalaman menyusui sebelumnya mendukung praktik perawatan payudara yang konsisten. [Lihat sumber Disini - ocs.unism.ac.id]
Namun, tidak semua studi membedakan hasil secara eksplisit antara primigravida dan multigravida, ini menunjukkan perlunya penelitian lebih lanjut untuk membandingkan secara sistematis.
Dampak Kurangnya Perawatan Payudara terhadap Laktasi
Jika perawatan payudara diabaikan atau dilakukan dengan tidak benar, beberapa dampak negatif dapat terjadi:
-
Risiko pembendungan ASI / engorgement (payudara sangat penuh, keras, sulit dikeluarkan ASI) meningkat. [Lihat sumber Disini - omnijournal.id]
-
Kemungkinan infeksi payudara / mastitis, karena saluran susu tersumbat atau kebersihan puting yang buruk, meningkat. [Lihat sumber Disini - jurnal.itkesmusidrap.ac.id]
-
Puting susu bisa lecet, sakit, retak, membuat ibu merasa tidak nyaman atau nyeri saat menyusui, yang pada akhirnya membuat ibu mungkin berhenti menyusui lebih awal. (Misalnya, fenomena “cracked nipple”) [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Produksi atau aliran ASI bisa terganggu, saluran susu tersumbat, stimulasi kelenjar payudara kurang optimal, sehingga ASI bisa sedikit atau tidak lancar, berdampak pada bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif. [Lihat sumber Disini - pakdosen.unhas.ac.id]
-
Risiko kegagalan menyusui eksklusif atau berhenti menyusui lebih awal meningkat. [Lihat sumber Disini - ocs.unism.ac.id]
Dengan demikian, kurangnya perawatan payudara bukan sekadar kelalaian kecil, dampaknya bisa serius bagi kesehatan ibu dan bayi serta keberhasilan laktasi.
Kesimpulan
Pengetahuan ibu tentang perawatan payudara merupakan fondasi penting bagi keberhasilan laktasi, produksi ASI yang optimal, serta pencegahan masalah seperti mastitis, bendungan ASI, dan keluhan payudara lainnya. Perawatan yang benar, meliputi kebersihan, pijat, kompres, pemeriksaan rutin, sebaiknya dilakukan sejak masa kehamilan dan dilanjutkan hingga masa laktasi. Faktor, faktor seperti pendidikan, akses informasi/ edukasi, pengalaman kehamilan/laktasi, motivasi, dan dukungan lingkungan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan praktik ibu. Peran tenaga kesehatan sangat krusial dalam memberikan edukasi dan dukungan agar ibu mampu menerapkan perawatan secara tepat. Kurangnya perhatian terhadap perawatan payudara dapat membawa dampak negatif signifikan pada produksi ASI dan keberlanjutan menyusui. Oleh karena itu, edukasi dan advokasi perawatan payudara harus menjadi bagian integratif dari program kehamilan, nifas, dan laktasi agar kesehatan ibu dan bayi terjaga optimal.