
Perilaku Ibu dalam Perawatan Masa Nifas
Pendahuluan
Perawatan pada masa nifas merupakan aspek krusial dalam upaya menjaga kesehatan ibu setelah persalinan. Masa nifas, yaitu periode setelah melahirkan hingga tubuh ibu kembali ke kondisi pra-hamil, adalah fase adaptasi fisik dan emosional yang cukup berat. Jika perawatan kurang optimal, ibu berisiko tinggi mengalami komplikasi seperti infeksi, perdarahan, gangguan laktasi, atau masalah pada mobilitas dan psikologis. Oleh karena itu penting memahami secara mendalam bagaimana perilaku ibu dalam masa nifas, aspek hygienitas, perawatan payudara dan laktasi, hingga peran suami dan keluarga. Artikel ini bertujuan mendeskripsikan definisi, tujuan, perilaku ideal, faktor yang mempengaruhi, serta dampak dari perawatan masa nifas terhadap pemulihan ibu.
Definisi Perawatan Masa Nifas
Definisi secara umum
Secara umum, “masa nifas” atau “postpartum” merujuk pada periode setelah persalinan, sejak keluarnya plasenta, hingga organ reproduksi wanita kembali ke kondisi seperti sebelum kehamilan. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id] Masa ini meliputi fase pemulihan fisik maupun adaptasi psikologis bagi ibu. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-medan.ac.id]
Dalam konteks perawatan, “perawatan masa nifas” mencakup semua tindakan untuk mendukung pemulihan ibu: menjaga kebersihan, perawatan luka persalinan/perineum, perawatan payudara, nutrisi, mobilisasi, hingga dukungan emosional dan edukasi laktasi. [Lihat sumber Disini - wrhc-indonesia.com]
Definisi dalam KBBI
Menurut arti kata “perawatan” di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perawatan berarti upaya memelihara, memperbaiki, atau meningkatkan kondisi sehat suatu makhluk hidup atau benda, dalam hal ini tubuh ibu postpartum. Padu padan istilah “perawatan” dengan “masa nifas” menunjukkan proses pemeliharaan kesehatan dan pemulihan ibu setelah persalinan.
Definisi menurut para ahli
-
Menurut studi di Poltekkes Medan, masa nifas (postpartum) adalah periode sejak persalinan selesai sampai alat reproduksi kembali ke keadaan sebelum hamil, biasanya berlangsung sekitar enam minggu atau 42 hari. [Lihat sumber Disini - repository.poltekkes-medan.ac.id]
-
Dalam literatur kebidanan, disebut bahwa selama periode ini organ reproduksi mengalami involusi, yaitu proses kembalinya rahim dan sistem reproduksi ke ukuran dan fungsi sebelum kehamilan. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Studi lain menyebut masa nifas sebagai waktu penting bagi pemulihan fisik dan psikologis ibu serta adaptasi dengan bayi baru lahir dan keluarga. [Lihat sumber Disini - ukinstitute.org]
-
Lebih jauh, perawatan masa nifas didefinisikan sebagai tindakan lanjutan bagi wanita sesudah melahirkan, meliputi kebersihan, nutrisi, mobilisasi, pemantauan tanda bahaya, serta asuhan payudara/laktasi. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Pengertian dan Tujuan Perawatan Masa Nifas
Perawatan masa nifas merupakan upaya sistematis dan menyeluruh untuk mendampingi ibu dalam masa pemulihan pascapersalinan. Tujuan utamanya meliputi:
-
Memastikan involusi uterus (pemulihan rahim) dan organ reproduksi berjalan normal, sehingga risiko perdarahan atau komplikasi lain dapat dicegah. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Mencegah infeksi, baik pada luka persalinan/perineum, saluran kemih, maupun organ reproduksi, dengan menjaga kebersihan dan hygienitas. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Mendukung keberhasilan laktasi (ASI), melalui perawatan payudara dan edukasi menyusui, sehingga bayi mendapat nutrisi optimal. [Lihat sumber Disini - journal.aisyahuniversity.ac.id]
-
Membantu pemulihan fisik dan mobilitas, termasuk mempercepat pulihnya otot perineum, abdomen, dan mengurangi nyeri pascapersalinan melalui perawatan dan mobilisasi dini. [Lihat sumber Disini - journal.stikespemkabjombang.ac.id]
-
Memberi dukungan emosional, psikososial, dan edukasi kepada ibu dan keluarga agar transisi menjadi orang tua berjalan lebih sehat dan aman. [Lihat sumber Disini - ukinstitute.org]
Perilaku Higienitas Ibu Postpartum
Selama masa nifas, menjaga higienitas pribadi ibu adalah kunci utama untuk mencegah infeksi dan komplikasi. Beberapa aspek penting meliputi:
-
Mandi teratur minimal 1, 2 kali sehari, mengganti pakaian dan sprei, menjaga kebersihan lingkungan dan tempat tidur ibu. [Lihat sumber Disini - jak.ubr.ac.id]
-
Perawatan perineum dan vulva, terutama bagi ibu dengan luka jahitan persalinan, dengan bersih dari arah depan ke belakang, mengganti pembalut secara rutin, dan membasuh dengan air bersih/antiseptik bila perlu. [Lihat sumber Disini - jak.ubr.ac.id]
-
Mencuci tangan sebelum dan sesudah perawatan luka atau menyentuh area genital, serta menjaga kebersihan alat kebidanan/pembalut. [Lihat sumber Disini - wrhc-indonesia.com]
-
Memperhatikan tanda peringatan seperti demam, bau tidak sedap dari lochia (darah nifas), pembengkakan, nyeri berlebihan, yang bisa menunjukkan infeksi. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Pentingnya pengetahuan dan edukasi sejak masa kehamilan, agar ibu siap menjaga kebersihan diri sejak awal masa nifas. [Lihat sumber Disini - jak.ubr.ac.id]
Penelitian di RS PKU Muhammadiyah menunjukkan bahwa perawatan higienitas dengan asuhan kebidanan mendukung involusi uterus normal dan kondisi fisik ibu yang sehat. [Lihat sumber Disini - proceeding.unisayogya.ac.id]
Perawatan Payudara dan Laktasi
Perawatan payudara dan dukungan laktasi menjadi bagian vital dari perawatan masa nifas, terutama untuk mendukung ASI eksklusif dan kesehatan ibu-bayi. Aspek-aspek penting meliputi:
-
Memulai perawatan payudara sejak masa kehamilan agar puting tidak keras atau kering, sebagai persiapan laktasi. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Setelah melahirkan, melakukan breast care atau pijat payudara, bisa juga dengan teknik pijat oksitosin, untuk merangsang kontraksi otot mioepitel dan produksi ASI. [Lihat sumber Disini - journals.umkt.ac.id]
-
Membersihkan payudara dan puting dengan benar serta menjaga kebersihan tangan sebelum menyusui, agar mencegah infeksi dan saluran ASI tersumbat. [Lihat sumber Disini - journal.aisyahuniversity.ac.id]
-
Memberi edukasi kepada ibu mengenai teknik menyusui, posisi menyusui yang benar, serta pentingnya menyusui tepat waktu untuk merangsang produksi susu. [Lihat sumber Disini - journal.aisyahuniversity.ac.id]
-
Monitoring apakah ASI keluar, menilai apakah ibu nyaman menyusui, apakah ada nyeri, sumbatan, atau mastitis, serta memberikan intervensi bila diperlukan. Penelitian di RSUD Taman Husada Bontang menunjukkan bahwa breast care dan pijat oksitosin berperan dalam memperlancar ASI. [Lihat sumber Disini - journals.umkt.ac.id]
Dengan perawatan payudara yang baik, tingkat keberhasilan menyusui eksklusif meningkat, yang selanjutnya berdampak positif pada kesehatan ibu dan bayi. [Lihat sumber Disini - journal.aisyahuniversity.ac.id]
Tanda Bahaya Masa Nifas dan Penanganannya
Selama masa nifas, ibu perlu waspada terhadap gejala atau tanda bahaya yang bisa mengindikasikan komplikasi serius. Beberapa tanda bahaya dan penanganannya:
-
Perdarahan abnormal atau perdarahan yang tidak berhenti → bila terjadi, segera cari pertolongan medis untuk deteksi atonia uteri atau robekan. Pada perawatan masa nifas, deteksi dini perdarahan merupakan bagian dari tujuan perawatan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Infeksi (endometritis, mastitis, infeksi perineum, saluran kemih) → gejala bisa berupa demam, demam panggul, bau tidak sedap dari lochia, keluarnya cairan berbau, nyeri panggul atau rongga perut, kemerahan, pembengkakan. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id] Perawatan higienitas dan perineum/pijat payudara harus dilakukan dengan benar dan konsisten. [Lihat sumber Disini - jak.ubr.ac.id]
-
Luka jahitan perineum yang tidak sembuh atau nyeri berkepanjangan → perlu perawatan luka, pembersihan, antiseptik, dan mobilisasi sesuai rekomendasi bidan/tenaga kesehatan. [Lihat sumber Disini - journal.stikespemkabjombang.ac.id]
-
Gangguan laktasi, misalnya ASI tidak keluar, sumbatan saluran ASI, nyeri payudara, mastitis, → harus segera dilakukan intervensi perawatan payudara, pijat, edukasi menyusui, konsultasi ke tenaga medis. [Lihat sumber Disini - journals.umkt.ac.id]
-
Masalah psikologis atau depresi postpartum, bisa muncul jika ibu tidak mendapat dukungan keluarga/lingkungan, beban perawatan, stres, kurang tidur, lelah. Penelitian menunjukkan bahwa peran keluarga dan suami berpengaruh besar dalam mencegah depresi postpartum. [Lihat sumber Disini - ukinstitute.org]
Penanganannya harus melibatkan edukasi ibu dan keluarga, kunjungan/pengawasan postpartum, serta asuhan kebidanan komprehensif sesuai protokol. [Lihat sumber Disini - wrhc-indonesia.com]
Peran Suami dan Keluarga dalam Perawatan Postpartum
Peran suami dan keluarga sangat krusial dalam mendukung ibu melewati masa nifas dengan sehat, bukan hanya dari aspek fisik tapi juga emosional dan psikososial. Beberapa poin utama:
-
Memberikan dukungan emosional: menemani ibu, memberi semangat, membantu ibu beradaptasi dengan kondisi pascapersalinan, mengurangi stres dan kelelahan. [Lihat sumber Disini - ukinstitute.org]
-
Membantu perawatan praktis: membantu ibu dalam kebersihan, perawatan luka, perawatan bayi, memfasilitasi mobilisasi ibu, mendukung ibu menyusui, sehingga beban perawatan tidak sepenuhnya ditanggung ibu. [Lihat sumber Disini - ukinstitute.org]
-
Edukasi dan konseling pasangan/keluarga: kampanye asuhan masa nifas yang melibatkan suami/keluarga terbukti meningkatkan partisipasi dan pemahaman akan pentingnya perawatan postpartum. [Lihat sumber Disini - ukinstitute.org]
-
Memantau kondisi ibu dan bayi pasca pulang, membantu mendeteksi bila ada tanda bahaya dan mendampingi ibu mendapat perawatan medis jika diperlukan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Dengan peran aktif suami/keluarga, ibu cenderung menjalani masa nifas dengan lebih aman, nyaman, dan kemungkinan komplikasi bisa lebih diminimalisir.
Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Perawatan
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi seberapa baik ibu melakukan perawatan masa nifas antara lain:
-
Pengetahuan dan edukasi tentang pentingnya perawatan nifas (kebersihan, perawatan luka, laktasi, nutrisi, mobilisasi). Jika ibu dan keluarga mendapat edukasi baik, sejak kehamilan, kemungkinan besar perilaku perawatan lebih baik. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Dukungan keluarga/lingkungan, terutama kehadiran suami atau anggota keluarga yang membantu ibu pasca persalinan. Tanpa dukungan, ibu bisa kewalahan dan mengabaikan perawatan penting. [Lihat sumber Disini - ukinstitute.org]
-
Kebiasaan, budaya, dan agama, di beberapa komunitas ada praktik tradisional pascapersalinan yang bisa mendukung atau justru menghambat perawatan modern. [Lihat sumber Disini - jurnal.uimedan.ac.id]
-
Akses ke tenaga kesehatan dan layanan postpartum, seperti kunjungan nifas di puskesmas/RS, konseling laktasi, pemantauan luka atau komplikasi, penting agar perawatan dilakukan dengan benar. [Lihat sumber Disini - proceeding.unisayogya.ac.id]
-
Kondisi fisik dan kesehatan ibu, misalnya ibu dengan luka perineum, episiotomi, kelelahan, anemia, malnutrisi, butuh perhatian ekstra agar perawatan optimal. [Lihat sumber Disini - jurnal.uui.ac.id]
Dampak Perilaku Perawatan terhadap Pemulihan Ibu
Perilaku perawatan yang baik selama masa nifas berdampak positif pada pemulihan ibu secara multidimensional:
-
Menurunkan risiko infeksi postpartum, penelitian di Puskesmas Penjaringan I Jakarta menunjukkan bahwa perawatan masa nifas secara teratur berpengaruh signifikan terhadap menurunnya insiden infeksi. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Memastikan involusi uterus dan pemulihan organ reproduksi normal sehingga mengurangi risiko perdarahan abnormal atau komplikasi pascapersalinan. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
-
Mendukung keberhasilan laktasi dan ASI eksklusif, yang berpengaruh pada kesehatan bayi dan ibu, serta mempercepat pemulihan fisik ibu melalui stimulasi hormon dan ikatan ibu-anak. [Lihat sumber Disini - journal.aisyahuniversity.ac.id]
-
Mempercepat pemulihan luka perineum/jahitan, mengurangi rasa nyeri, memperbaiki mobilitas, dan membantu ibu kembali ke aktivitas normal secara lebih cepat. [Lihat sumber Disini - jurnal.karyakesehatan.ac.id]
-
Mendukung kesejahteraan psikososial: dengan dukungan keluarga dan perawatan baik, ibu merasa lebih nyaman, aman, dan stabil emosinya, mengurangi risiko stres atau depresi postpartum. [Lihat sumber Disini - ukinstitute.org]
Sebaliknya, jika perawatan diabaikan, risiko komplikasi, infeksi, gangguan laktasi, nyeri berkepanjangan, luka tak sembuh, atau masalah psikologis akan meningkat. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Kesimpulan
Perawatan masa nifas adalah rangkaian tindakan penting mulai dari menjaga kebersihan, perawatan perineum, perawatan payudara dan laktasi, nutrisi, mobilisasi, hingga dukungan emosional dan pendidikan kesehatan bagi ibu serta keluarga. Dengan perawatan yang tepat dan konsisten, didukung oleh pengetahuan, akses layanan kesehatan, serta peran aktif suami/keluarga, ibu dapat menjalani masa postpartum dengan pemulihan optimal. Sebaliknya, pengabaian terhadap perawatan meningkatkan risiko komplikasi serius, yang dapat membahayakan kesehatan ibu dan bayi. Oleh karena itu, asuhan kebidanan dan edukasi tentang perawatan masa nifas harus menjadi prioritas dalam upaya menurunkan morbiditas dan mortalitas postpartum.