
Pengelolaan Stres Pasien
Pendahuluan
Stres adalah fenomena yang hampir tak terelakkan dalam konteks perawatan kesehatan, terutama bagi pasien yang menghadapi penyakit, pengobatan, atau pemulihan. Dalam konteks medis, stres bukan sekadar “perasaan tertekan”, melainkan bisa mempengaruhi kondisi fisik, mental, dan respons biologis tubuh secara kompleks. Oleh karena itu, penting bagi tenaga kesehatan, termasuk perawat, untuk memahami konsep stres, penyebab, dampaknya, serta strategi pengelolaannya agar pasien memperoleh perawatan optimal dan kualitas hidup yang lebih baik. Artikel ini membahas secara mendalam “Pengelolaan Stres Pasien”, mulai dari definisi stres, faktor penyebab, dampak, teknik penilaian, strategi manajemen, peran perawat, hingga contoh kasus.
Definisi Stres dalam Konteks Medis
Definisi Stres Secara Umum
Stres umumnya dipahami sebagai kondisi ketegangan fisik, emosional, dan mental yang muncul sebagai respons terhadap tuntutan atau tekanan dari lingkungan, situasi, maupun beban internal. [Lihat sumber Disini - ejournal.umm.ac.id]
Menurut perspektif biologis/psikofisiologis, stres bisa dipandang sebagai reaksi tubuh terhadap perubahan atau tekanan, baik yang bersifat fisik maupun psikologis, yang mengganggu keseimbangan tubuh (homeostasis). [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Stres dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stres diartikan sebagai “gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar.” [Lihat sumber Disini - repository.uinfasbengkulu.ac.id]
Definisi ini menekankan aspek emosional dan mental, bahwa stres bukan hanya soal fisik, tetapi berkaitan dengan tekanan eksternal yang mempengaruhi kondisi psikologis seseorang.
Definisi Stres Menurut Para Ahli
Berikut definisi stres menurut beberapa ahli/peneliti:
-
Hans Selye mendefinisikan stres sebagai “respons non-spesifik tubuh terhadap setiap tuntutan” (nonspecific response of the body to any demand). [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Beberapa ahli keperawatan menjelaskan stres sebagai respon terhadap tuntutan hidup yang melampaui kemampuan adaptasi individu, ditandai dengan gejala somatik (fisik) dan psikis. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Perspektif biopsikososial menekankan bahwa stres adalah interaksi antara tuntutan dari lingkungan (stressor) dan sumber daya psikososial individu, yaitu ketika tuntutan melebihi kapasitas adaptasi individu, akan muncul perubahan psikologis dan biologis. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
-
Definisi lain menyatakan stres sebagai kondisi ketegangan emosional dan tekanan yang dialami seseorang ketika merasa bahwa tuntutan yang dihadapi melebihi kemampuannya untuk mengatasinya. [Lihat sumber Disini - managingstress.com]
Faktor Penyebab Stres pada Pasien
Stres pada pasien bisa muncul dari berbagai aspek, fisik, psikologis, sosial, maupun lingkungan perawatan. Berikut faktor-faktor umum yang sering dijumpai:
-
Penyakit atau kondisi kesehatan, diagnosis penyakit, nyeri, ketidakpastian prognosa, efek samping pengobatan, rawat inap, prosedur invasif, atau perawatan jangka panjang. Hal ini menimbulkan rasa cemas, takut, ketidaknyamanan fisik, dan ketidakpastian.
-
Perubahan peran dan harapan, misalnya kehilangan kemandirian, perubahan rutinitas, kehilangan pekerjaan, atau beban keluarga, yang menyebabkan tekanan emosional dan beban adaptasi.
-
Isolasi sosial / lingkungan perawatan, berada di lingkungan rumah sakit atau fasilitas kesehatan, jauh dari keluarga, kurangnya dukungan sosial, atau lingkungan yang asing.
-
Stressor psikososial, kekhawatiran terhadap masa depan, ketidakpastian, stres finansial, stigma sosial, ketidakmampuan memenuhi tuntutan peran. Dalam literatur keperawatan, stres juga dikaitkan dengan tekanan psikososial dari lingkungan dan perawatan. [Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]
-
Kurang kemampuan coping atau adaptasi, ketika pasien merasa tidak memiliki sumber daya (fisik, emosional, sosial) untuk menghadapi stresor, maka risiko stres meningkat. [Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]
Dampak Stres terhadap Fisiologis dan Psikologis
Stres, terutama jika berkepanjangan, memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan fisik dan mental pasien.
Dampak Fisiologis
-
Aktivasi sistem saraf simpatik dan sumbu neuroendokrin (misalnya sumbu HPA, hipotalamus, pituitari, adrenal) yang memicu pelepasan hormon stres seperti adrenalin dan kortikosteroid. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Peningkatan detak jantung, tekanan darah, pernapasan cepat, sebagai bagian dari respons “fight or flight.” [Lihat sumber Disini - stress.org]
-
Jika stres menjadi kronis: risiko penyakit kardiovaskular, hipertensi, gangguan metabolik (misalnya obesitas, diabetes), gangguan sistem imun, serta manifestasi fisik lain seperti gangguan tidur, masalah pencernaan, dan kelelahan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Wear-and-tear pada tubuh akibat aktivasi stres berulang, konsep ini dikenal sebagai Allostatic load, yang menggambarkan beban fisiologis jangka panjang akibat stres kronis. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Dampak Psikologis dan Perilaku
-
Gangguan emosi: kecemasan, ketakutan, perasaan kewalahan, depresi, perubahan mood. [Lihat sumber Disini - medicalnewstoday.com]
-
Perubahan perilaku: penurunan motivasi, gangguan tidur (insomnia), penurunan minat aktivitas, isolasi sosial. Sebuah penelitian menunjukkan hubungan antara tingkat stres dan insomnia pada mahasiswa. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikes-ibnusina.ac.id]
-
Penurunan kualitas hidup: stres dapat mengganggu pemulihan, menghambat proses penyembuhan, menurunkan kepatuhan terhadap pengobatan, serta memperparah rasa sakit atau gejala penyakit. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Risiko gangguan mental jangka panjang: stres kronis dapat memicu gangguan psikologis atau memperburuk kondisi psikiatrik yang sudah ada. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Teknik Penilaian Tingkat Stres
Menilai seberapa besar tingkat stres pada pasien penting agar intervensi bisa tepat sasaran. Beberapa metode penilaian yang umum digunakan:
-
Kuesioner / skala subjektif, misalnya skala persepsi stres, skala psikologis, atau kuisioner yang dirancang khusus untuk populasi pasien. Ini membantu mengukur persepsi pasien terhadap stres, kecemasan, dan beban psikologis. [Lihat sumber Disini - e-journals.unmul.ac.id]
-
Penilaian fisik / klinis, memeriksa tanda vital, gejala somatik, keluhan fisik seperti nyeri, gangguan tidur, kelelahan, gangguan pencernaan, yang bisa mengindikasikan stres fisiologis.
-
Metode objektif berbasis fisiologi, dalam penelitian modern, digunakan sensor wearable untuk mengukur variabel seperti detak jantung, variabilitas detak jantung (HRV), galvanic skin response, hingga data kontekstual lingkungan, untuk mendeteksi stres secara real-time. [Lihat sumber Disini - arxiv.org]
-
Pemantauan jangka panjang, karena stres bisa bersifat kronis, penilaian berkala sangat penting, baik melalui kuesioner maupun monitoring fisiologis, supaya ada gambaran dinamis tentang perubahan stres dari waktu ke waktu.
Strategi Pengelolaan Stres
Mengelola stres secara efektif memerlukan pendekatan multimodal, kombinasi antara intervensi psikologis, edukasi, relaksasi, dan dukungan sosial / profesional. Beberapa strategi umum:
-
Relaksasi dan teknik manajemen stres, seperti pernapasan dalam/teratur, relaksasi otot progresif, meditasi, mindfulness, aktivitas ringan yang menyenangkan (jalan, hobi, rekreasi), sebagai upaya mengurangi aktivasi fisiologis stres. Banyak panduan kesehatan menyarankan perubahan gaya hidup, tidur cukup, olahraga teratur, pola makan sehat, sebagai bagian dari manajemen stres. [Lihat sumber Disini - medicalnewstoday.com]
-
Edukasi kepada pasien dan keluarga, memberikan informasi mengenai stres, dampaknya pada kesehatan, bagaimana mengenali gejala stres, serta strategi koping yang sehat. Ini membantu meningkatkan pemahaman dan kesiapan pasien/familia.
-
Konseling dan dukungan psikososial, jika stres signifikan, mengakomodasi intervensi psikologis atau konseling bisa membantu pasien mengelola emosi, adaptasi terhadap penyakit, serta beban psikologis. [Lihat sumber Disini - researchgate.net]
-
Pendekatan interdisipliner / kolaboratif, melibatkan dokter, perawat, psikolog, keluarga, untuk merancang rencana perawatan komprehensif yang tidak hanya fokus pada penyakit, tapi juga kesehatan mental dan kualitas hidup.
-
Pemantauan dan evaluasi berkala, untuk menilai efektivitas intervensi dan menyesuaikan strategi sesuai perubahan kondisi pasien.
Peran Perawat dalam Menurunkan Stres Pasien
Perawat memegang peran penting dalam mengidentifikasi, mengelola, dan mendampingi pasien yang mengalami stres. Berikut peran-peran kunci:
-
Pengamatan dan deteksi dini, perawat dapat mengenali tanda-tanda stres fisik maupun psikologis pasien (misalnya perubahan mood, keluhan somatik, gangguan tidur) serta merekam dalam catatan keperawatan.
-
Memberikan edukasi, menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang apa itu stres, bagaimana stres dapat mempengaruhi kesehatan, serta strategi koping dan relaksasi yang bisa dilakukan.
-
Mendampingi dan memberikan konseling dasar, membantu pasien mengekspresikan kekhawatiran, rasa takut, dan ketidakpastian; memberikan dukungan emosional; membantu dalam teknik relaksasi sederhana.
-
Koordinasi dengan tim kesehatan lain, bila diperlukan, merujuk pasien ke psikolog/psikiater, melakukan kolaborasi dengan dokter dan tenaga kesehatan lain supaya perawatan komprehensif (fisik + psikologis).
-
Evaluasi dan tindak lanjut, memonitor perkembangan stres, respons terhadap intervensi, dan menyesuaikan perawatan secara berkala agar pasien mencapai stabilitas fisik dan mental.
Contoh Kasus Pengelolaan Stres
Misalnya, seorang pasien lansia dirawat di rumah sakit karena penyakit kronis (misalnya gagal ginjal), pasien menunjukkan tanda kecemasan tinggi, kesulitan tidur, ketakutan terhadap prosedur, dan rasa putus asa.
Setelah dilakukan assessment awal oleh perawat, meliputi wawancara, observasi fisik, serta penggunaan kuesioner stres, ditemukan bahwa pasien merasa beban berat akibat penyakit, takut akan masa depan, dan kurang dukungan sosial.
Perawat kemudian:
-
Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyakit, proses perawatan, serta pentingnya manajemen stres.
-
Melatih pasien teknik pernapasan & relaksasi ringan sebelum tidur, membantu menurunkan kecemasan dan memperbaiki tidur.
-
Melibatkan keluarga untuk mendampingi pasien, memberikan dukungan emosional dan sosial.
-
Bila diperlukan, koordinasi dengan psikolog/psikiater untuk konseling lebih intensif.
-
Monitoring berkala kondisi fisik dan psikologis, mengevaluasi apakah ada perubahan, perbaikan kualitas tidur, penurunan kecemasan, peningkatan kepatuhan pengobatan.
Hasilnya: pasien melaporkan kecemasan berkurang, kualitas tidur membaik, dan lebih kooperatif terhadap perawatan, menunjukkan stres lebih terkelola dan mendukung proses penyembuhan.
Kesimpulan
Stres pada pasien, baik yang bersifat fisik maupun psikologis, merupakan fenomena kompleks yang dapat mempengaruhi proses penyembuhan, kualitas hidup, dan hasil perawatan. Oleh karena itu, pemahaman tentang definisi stres, faktor penyebab, dampak, serta metode penilaian sangat penting bagi tenaga kesehatan. Strategi pengelolaan stres yang efektif meliputi relaksasi, edukasi, konseling, dukungan sosial, dan intervensi kolaboratif. Perawat memiliki peran sentral dalam identifikasi stres, pendampingan pasien, edukasi, serta koordinasi perawatan. Dengan pendekatan komprehensif, stres dapat dikendalikan, sehingga pasien memiliki peluang lebih baik untuk pulih, serta mencapai kesejahteraan fisik dan mental.