
Dampak Stres terhadap Pola Konsumsi Remaja
Pendahuluan
Remaja adalah fase transisi yang ditandai oleh perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang pesat. Masa ini sering menjadi periode penuh tekanan karena tuntutan akademik, tekanan teman sebaya, dan pencarian identitas diri. Tekanan-tekana seperti ini dapat memicu stres, yaitu gangguan mental dan emosional akibat respons terhadap faktor dari luar yang mengakibatkan ketegangan psikologis (KBBI) [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id].
Stres yang berkepanjangan tidak hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga dapat memengaruhi pola konsumsi makanan remaja. Misalnya, beberapa remaja menjalankan emotional eating, mengonsumsi makanan sebagai respons terhadap emosi, bukan karena rasa lapar fisik, yang berkontribusi terhadap konsumsi makanan tinggi gula dan lemak yang tidak sehat [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org].
Artikel ini menjelaskan hubungan antara stres dan pola konsumsi remaja, sumber stres utama yang dialami remaja, perubahan pola makan akibat stres, hubungan stres dan emotional eating, dampaknya terhadap status gizi, dan strategi mengelola stres agar remaja tetap sehat.
Definisi Dampak Stres terhadap Pola Konsumsi Remaja
Definisi Dampak Stres terhadap Pola Konsumsi Remaja Secara Umum
Secara umum, stres adalah respons fisiologis dan psikologis tubuh terhadap tuntutan yang menuntut adaptasi, yang seringkali melibatkan pengalaman ketegangan, tekanan emosional, atau perubahan yang signifikan dalam kehidupan individu. Ketika remaja mengalami stres, sistem tubuh (termasuk hormon seperti kortisol) dapat berubah, yang berpotensi memengaruhi nafsu makan dan pilihan makanan mereka [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id].
Definisi Stres dalam KBBI
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stres adalah “gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar; ketegangan” [Lihat sumber Disini - kbbi.web.id].
Definisi Dampak Stres terhadap Pola Konsumsi Remaja Menurut Para Ahli
Para ahli psikologi dan gizi menjelaskan hubungan stres dan pola konsumsi sebagai berikut:
-
Deborah C. Hill & kolega (2018), Menyatakan stres dapat mempengaruhi perilaku makan pada anak dan remaja, menunjukkan bahwa orang yang mengalami stres dapat makan lebih banyak (termasuk makanan tidak sehat) atau sebaliknya mengurangi asupan makanan tergantung pada reaksi individu terhadap stres [Lihat sumber Disini - eprints.whiterose.ac.uk].
-
Nurfazlinda Md Shah et al. (2023), Menemukan korelasi positif antara kadar stres yang dirasakan dan konsumsi makanan (termasuk kecenderungan emotional overeating) pada remaja Malaysia, terutama di kalangan urban dan perempuan [Lihat sumber Disini - nature.com].
-
Penelitian dari Universitas Airlangga (2021), Menemukan bahwa stres akademik (sebuah bentuk stres) pada remaja berkorelasi dengan perilaku emotional eating, serta makan makanan cepat saji, makanan manis, produk olahan, dan minuman manis sebagai respons terhadap stres [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id].
-
Analisis review oleh OConnor et al. (2018), Dalam meta-analisis, stres berhubungan dengan peningkatan makan tidak sehat di kalangan anak dan remaja, terutama makanan tinggi energi (energi-dense foods) yang umumnya rendah nutrisi [Lihat sumber Disini - eprints.whiterose.ac.uk].
Sumber Stres pada Remaja
Remaja menghadapi potensi sumber stres yang berbeda dari orang dewasa. Sumber-sumber stres paling umum meliputi:
1. Stres Akademik
Stres yang berkaitan dengan tuntutan sekolah seperti ujian, tugas berat, dan ekspektasi pencapaian sering menjadi beban psikologis signifikan bagi remaja. Penelitian di SMAN 6 Surabaya menemukan bahwa sekitar hampir separuh siswa mengalami tingkat stres akademik menengah, yang dikaitkan dengan perilaku emotional eating [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id].
2. Tekanan Sosial dan Pergaulan
Sosialisasi, penerimaan teman sebaya, dan pencarian identitas diri dapat menjadi sumber stres emosional. Remaja yang mengalami tekanan untuk “cocok dengan lingkungan” dapat merasa cemas atau tertekan, yang berdampak pada pola makan mereka, misalnya makan berlebih sebagai bentuk coping mekanisme.
3. Harapan Orang Tua dan Diri Sendiri
Harapan tinggi dari keluarga dan diri sendiri untuk berprestasi dapat menciptakan rasa takut gagal. Rasa takut ini, bila tidak dikelola dengan baik, memicu respons stres yang kemudian berpengaruh pada pola makan remaja.
4. Perubahan Fisik dan Psikologis
Perubahan hormonal, pencarian identitas, dan meningkatnya tuntutan kemandirian selama masa remaja juga dapat menjadi penyebab stres yang memicu perubahan perilaku makan.
Perubahan Pola Makan akibat Stres
Stres dapat mengubah perilaku konsumsi remaja dengan cara:
1. Emotional Eating
Emotional eating adalah modus makan yang dipicu oleh emosi ketimbang lapar fisiologis, sering terjadi pada respon stres negatif atau kecemasan. Hal ini telah ditemukan dalam berbagai studi yang menunjukkan bahwa remaja dengan stres lebih cenderung makan untuk meredakan perasaan negatif, termasuk konsumsi makanan manis, tinggi lemak, atau makanan cepat saji [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org].
2. Meningkatnya Nafsu untuk Makanan Tinggi Energi
Beberapa jurnal menunjukkan bahwa stres berhubungan dengan konsumsi lebih tinggi dari makanan manis dan tinggi lemak, sementara asupan buah dan sayur cenderung menurun [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov].
3. Penurunan Nafsu Makan
Tidak semua remaja mengalami peningkatan makan. Ada juga sebagian yang mengalami under-eating (mengurangi asupan makanan) ketika stres, sebagaimana ditemukan pada penelitian di Surabaya yang menunjukkan kecenderungan tersebut pada sebagian siswa [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkesgorontalo.ac.id].
4. Kebiasaan Makan Tidak Teratur
Stres kronis dapat mengganggu jadwal makan teratur, yang mendorong remaja melewatkan sarapan atau makan besar, lalu menggantinya dengan camilan tidak sehat yang tinggi energi.
Hubungan Stres dengan Emotional Eating
Emotional eating merupakan salah satu bentuk perilaku makan yang dipengaruhi stres.
Emotional Eating sebagai Mekanisme Koping
Stres memicu respons fisiologis dan emosional yang kemudian mendorong remaja mencari “pelampiasan” melalui makanan. Emotional eating sering menjadi cara sementara untuk mengatasi perasaan negatif atau ketegangan emosional [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org].
Penelitian Empiris
Studi kuantitatif melaporkan hubungan signifikan antara tingkat stres dan emotional eating, di mana stres akademik berkaitan dengan perilaku makan berlebih yang tidak sehat pada remaja. Temuan ini menunjukkan bahwa remaja yang stres cenderung makan lebih banyak makanan cepat saji, makanan manis, dan minuman manis sebagai respons terhadap stres tersebut [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id].
Selain itu, correlational research juga menunjukkan variabilitas: beberapa remaja mengalami emotional under-eating ketika stres, sementara yang lain cenderung makan berlebihan, tergantung faktor individu dan konteks stresnya [Lihat sumber Disini - jurnal.poltekkesgorontalo.ac.id].
Dampak Jangka Panjang pada Pola Makan
Kebiasaan makan yang disebabkan oleh emotional eating dapat menjadi pola yang stabil jika tidak dikendalikan dengan baik, berpotensi membentuk pola konsumsi yang tidak sehat sepanjang kehidupan.
Dampak Pola Konsumsi terhadap Status Gizi
Perubahan pola makan remaja akibat stres bukan hanya fenomena sementara, tetapi punya konsekuensi nyata terhadap status gizi:
1. Risiko Overweight/Obesitas
Pola emotional eating yang berulang dapat mendorong peningkatan konsumsi makanan tinggi energi, gula, dan lemak, yang berkorelasi dengan peningkatan indeks massa tubuh (BMI) dan risiko obesitas di kemudian hari.
2. Risiko Gizi Tidak Seimbang
Makan tidak teratur dan memilih makanan cepat saji dapat menyebabkan asupan mikronutrien penting berkurang, sementara asupan energi berlebihan tetap tinggi, yang menyebabkan gizi kurang seimbang.
3. Status Gizi Remaja
Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan hubungan antara stres, emotional eating, dan status gizi. Misalnya, jurnal menemukan bahwa emotional eating dan stres memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi remaja, baik dalam indikasi gizi kurang maupun gizi lebih [Lihat sumber Disini - journal.ipb.ac.id].
Strategi Mengelola Stres dan Pola Makan
Agar remaja tetap sehat secara fisik dan mental, penting menerapkan strategi pengelolaan stres dan pola makan:
1. Pendidikan dan Kesadaran Keluarga
Orang tua dan pendidik perlu memahami hubungan antara stres dan pola makan, serta mengajarkan remaja teknik relaksasi, manajemen waktu, dan strategi emosional sehat untuk mengurangi dorongan makan yang tidak perlu.
2. Dukungan Psikososial
Menyediakan konseling dan dukungan psikologis di sekolah dapat membantu mengurangi beban stres akademik dan emosional remaja.
3. Promosi Pola Makan Seimbang
Mendorong remaja untuk makan teratur dengan makanan seimbang kaya sayur, buah, protein, dan karbohidrat kompleks dapat memperbaiki respons tubuh terhadap stres.
4. Aktivitas Fisik dan Hobi Sehat
Olah raga teratur dan pengembangan hobi dapat menjadi alternatif sehat untuk mengatasi stres daripada terfokus pada makanan.
Kesimpulan
Stres berperan sebagai faktor penting yang dapat mengubah pola konsumsi remaja, melalui proses yang melibatkan respons fisiologis dan emosional yang memicu emotional eating dan perilaku makan tidak sehat lainnya. Emotional eating sering tercatat sebagai respons terhadap stres akademik maupun stres sosial, di mana remaja cenderung memilih makanan tinggi gula dan lemak sebagai bentuk coping mekanisme.
Selain itu, stres juga dapat berdampak pada pengurangan nafsu makan bagi beberapa individu, menunjukkan bahwa hubungan antara stres dan pola konsumsi bersifat individual dan kompleks. Perubahan pola makan yang dipicu oleh stres ini berpotensi memengaruhi status gizi remaja baik dalam bentuk risiko obesitas maupun pola makan tidak seimbang yang berujung pada kualitas gizi yang buruk.
Pengelolaan stres yang efektif, melalui dukungan keluarga dan pendidikan, promosi pola makan sehat, serta strategi psikososial, dapat membantu remaja mengembangkan pola konsumsi yang lebih sehat dan memperbaiki kesehatan jangka panjang mereka.