
Perilaku Berisiko Penularan HIV
Pendahuluan
Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius secara global dan juga di Indonesia. HIV tidak hanya menjadi persoalan medis, tetapi juga berdampak pada aspek sosial, ekonomi, dan psikologis individu serta masyarakat luas. Virus ini melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia sehingga membuat penderitanya rentan terhadap berbagai penyakit lain yang dapat mengancam nyawa. Penularan HIV dapat terjadi melalui berbagai perilaku yang berisiko tinggi, termasuk hubungan seksual tanpa pelindung dan penggunaan jarum suntik yang terkontaminasi. Pemahaman tentang perilaku berisiko penularan HIV menjadi krusial untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan infeksi ini secara efektif.
Definisi Perilaku Berisiko Penularan HIV
Definisi Perilaku Berisiko Penularan HIV Secara Umum
Perilaku berisiko penularan HIV merujuk pada tindakan atau kebiasaan yang secara signifikan meningkatkan kemungkinan seseorang terinfeksi HIV melalui kontak dengan cairan tubuh yang terinfeksi. HIV sendiri adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia dan dapat menyebabkan penurunan kemampuan tubuh dalam melawan infeksi dan penyakit lain. Virus ini biasanya ditularkan melalui cairan tubuh seperti darah, cairan semen, cairan vagina, dan ASI dari individu yang positif HIV. Ketika seseorang melakukan hubungan seksual tanpa pengaman dengan pasangan yang terinfeksi atau berbagi jarum suntik yang terkontaminasi, risiko penularan HIV meningkat drastis. [Lihat sumber Disini - alodokter.com]
Definisi Perilaku Berisiko Penularan HIV dalam KBBI
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “perilaku” didefinisikan sebagai segala bentuk tindakan yang mencerminkan kegiatan, respons atau tanggapan seseorang terhadap sesuatu. Sementara itu, “berisiko” mengacu pada kondisi yang memiliki kemungkinan mengalami bahaya atau kerugian. Dengan demikian, perilaku berisiko penularan HIV dapat diartikan secara terminologis sebagai tindakan yang memungkinkan terjadinya penyebaran virus HIV yang berbahaya bagi kesehatan individu maupun masyarakat luas. (Catatan: KBBI online tidak menyediakan istilah perilaku berisiko penularan HIV secara spesifik, tetapi definisi umum perilaku dan berisiko dapat digabungkan untuk memahami konteks istilah ini.)
Definisi Perilaku Berisiko Penularan HIV Menurut Para Ahli
-
Menurut Rini (2025), perilaku berisiko penularan HIV mencakup hubungan seksual tanpa kondom, sering berganti pasangan seksual, dan tindakan lain yang membuat kontak langsung dengan cairan tubuh terinfeksi sehingga meningkatkan kemungkinan HIV ditularkan antar individu. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]
-
Marlino et al. (2025) menyatakan bahwa tingkat pengetahuan, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang rendah dapat memicu individu melakukan tindakan berisiko tinggi tertular HIV, seperti kurangnya penggunaan pengaman saat berhubungan seksual. [Lihat sumber Disini - ejurnal.politeknikpratama.ac.id]
-
Artikel systematic review oleh peneliti internasional menemukan bahwa perilaku seksual berisiko tanpa pengaman, seperti sering berganti pasangan seksual, merupakan determinan penting terjadinya penularan HIV pada beragam kelompok populasi. [Lihat sumber Disini - journals.sagepub.com]
-
Sebuah studi di Gorontalo menemukan bahwa perilaku seks dengan sesama jenis (MSM) merupakan salah satu faktor risiko tinggi yang sangat berkorelasi dengan kejadian HIV di antara laki-laki dewasa. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
Jenis Perilaku Berisiko Penularan HIV
Jenis-jenis perilaku yang secara ilmiah dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan terjadinya penularan HIV sangat beragam, namun beberapa di antaranya telah banyak dinyatakan dalam penelitian epidemiologi dan laporan kesehatan masyarakat.
Hubungan Seksual Tanpa Pengaman
Salah satu perilaku risiko tertinggi adalah melakukan hubungan seksual vaginal, anal, atau oral tanpa penggunaan kondom atau alat pengaman lainnya dengan pasangan yang status HIV-nya tidak diketahui atau positif. Hubungan tanpa pengaman ini memungkinkan pertukaran cairan tubuh seperti semen atau cairan vagina yang dapat mengandung virus, sehingga meningkatkan peluang penularan virus dari satu individu ke individu lain. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]
Sering Berganti Pasangan Seksual
Kelompok individu yang sering berganti pasangan seksual juga menunjukkan risiko yang lebih tinggi tertular HIV karena paparan terhadap berbagai profil risiko pasangan. Semakin banyak pasangan, semakin besar kemungkinan salah satunya mungkin positif HIV dan tidak menyadarinya. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesdam4dip.ac.id]
Penggunaan Jarum Suntik yang Tidak Steril
Berbagi jarum suntik, terutama di kalangan pengguna narkoba suntik (penasun), telah diidentifikasi sebagai faktor signifikan dalam penularan HIV karena darah yang terkontaminasi masuk langsung ke aliran darah individu lain. [Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]
Perilaku Seksual di Kelompok Risiko Tinggi
Beberapa populasi, seperti lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL atau MSM), pekerja seks komersial dan kliennya, serta individu lain yang berada dalam kelompok risiko tinggi, memiliki prevalensi perilaku berisiko yang meningkat dibanding populasi umum. Studi di Gorontalo menegaskan hubungan kuat antara perilaku LSL dan kejadian HIV di kalangan laki-laki. [Lihat sumber Disini - jurnal.unismuhpalu.ac.id]
Praktik Berisiko Lainnya
Selain itu, sikap terhadap risiko juga dapat ikut memengaruhi perilaku berisiko, seperti minimnya persepsi terhadap pentingnya penggunaan pengaman saat berhubungan seksual atau kurangnya pemahaman terhadap cara penularan HIV yang benar. Studi menunjukkan kurangnya pemahaman tentang risiko HIV sering berkaitan dengan peningkatan perilaku berisiko seksual. [Lihat sumber Disini - journalstih.amsir.ac.id]
Faktor Sosial dan Lingkungan
Perilaku berisiko penularan HIV tidak terjadi dalam ruang hampa; masyarakat dan lingkungan sosial sangat memengaruhi individu dalam mengambil keputusan berisiko tersebut.
Tingkat Pendidikan dan Pengetahuan
Rendahnya tingkat pendidikan umum atau pendidikan kesehatan memberikan kontribusi pada rendahnya pemahaman tentang HIV dan konsekuensi dari perilaku berisiko. Penelitian menunjukkan bahwa rendahnya tingkat pengetahuan HIV menyebabkan seseorang kurang menyadari pentingnya pencegahan dan praktik aman, seperti penggunaan kondom atau tidak berbagi jarum suntik. [Lihat sumber Disini - proceeding.unisayogya.ac.id]
Norma Sosial dan Dukungan Teman Sebaya
Norma dan tekanan dari kelompok teman sebaya dapat mendorong individu, terutama remaja, melakukan praktik berisiko tinggi tanpa mempertimbangkan konsekuensinya. Temuan dalam studi di Cilacap menunjukkan hubungan signifikan antara dukungan teman sebaya, pengetahuan, dan perilaku berisiko HIV di kalangan remaja. [Lihat sumber Disini - koloni.or.id]
Stigma dan Diskriminasi
Stigma masyarakat terhadap orang dengan HIV/AIDS juga dapat menjadi faktor yang menyulitkan pencegahan HIV. Ketika stigma tinggi, individu cenderung takut mencari informasi atau layanan pencegahan, sehingga tetap mempertahankan perilaku berisiko akibat kurangnya dukungan sosial dan akses informasi yang benar. [Lihat sumber Disini - media.neliti.com]
Akses Layanan Kesehatan
Lingkungan di mana akses terhadap layanan kesehatan, termasuk tes HIV, konseling, dan distribusi kondom, terbatas juga memungkinkan perilaku berisiko tetap tinggi karena individu kurang terpapar program pencegahan efektif.
Tingkat Pengetahuan tentang Risiko HIV
Pengetahuan individu tentang HIV sangat berpengaruh terhadap perilaku mereka terkait risiko penularan. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa rendahnya pemahaman terhadap cara penularan dan pencegahan HIV berkorelasi dengan tingginya perilaku berisiko.
Penelitian di sejumlah wilayah menunjukkan bahwa banyak remaja yang belum memahami pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dan menghindari perilaku seksual bebas sebagai langkah pencegahan HIV. [Lihat sumber Disini - proceeding.unisayogya.ac.id]
Selain itu, studi lain mencatat bahwa kurangnya pengetahuan dan sikap negatif terkait HIV mempengaruhi tindakan pencegahan dan perilaku berisiko di kalangan remaja. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Dampak Perilaku Berisiko terhadap Kesehatan
Perilaku berisiko penularan HIV memiliki dampak luas tidak hanya pada sistem imun individu yang tertular, tetapi juga pada masyarakat dan sistem pelayanan kesehatan. Individu yang tertular HIV dapat mengalami penurunan imunitas yang signifikan, membuatnya rentan terhadap infeksi oportunistik dan komplikasi penyakit lainnya yang dapat berujung pada kondisi AIDS jika tidak ditangani secara tepat.
Selain dampak klinis, infeksi HIV juga berdampak pada kehidupan sosial individu, seperti stigma, kehilangan produktivitas kerja, serta tekanan ekonomi karena biaya pengobatan yang harus ditanggung jangka panjang.
Strategi Perubahan Perilaku Berisiko
Upaya mengurangi perilaku berisiko penularan HIV memerlukan pendekatan multi-dimensi yang mencakup pendidikan, pemberdayaan masyarakat, dan akses layanan kesehatan yang lebih baik.
Edukasi Kesehatan dan Peningkatan Pengetahuan
Program edukasi yang menargetkan remaja dan kelompok berisiko tinggi dapat meningkatkan pengetahuan tentang HIV, cara penularan, dan tindakan pencegahan efektif seperti penggunaan kondom serta berhenti berbagi jarum suntik.
Konseling dan Pengujian HIV
Layanan konseling dan tes HIV yang mudah diakses dapat membantu individu memahami status kesehatan mereka, sehingga dapat mengambil langkah pencegahan lebih dini serta mengurangi praktik berisiko.
Perubahan Norma Sosial
Intervensi yang melibatkan pemimpin komunitas dan pelibatan teman sebaya dapat membantu menciptakan norma sosial yang lebih mendukung praktik aman serta mengurangi tekanan sosial untuk berperilaku berisiko.
Kesimpulan
Perilaku berisiko penularan HIV mencakup berbagai tindakan yang secara signifikan meningkatkan peluang transmisi virus, seperti hubungan seksual tanpa pengaman dan penggunaan jarum suntik yang tidak steril. Faktor sosial dan lingkungan seperti rendahnya tingkat pengetahuan, norma teman sebaya, stigma, serta keterbatasan akses layanan kesehatan turut mendorong perilaku tersebut. Dampaknya tidak hanya dirasakan secara klinis oleh individu tertular, tetapi juga memengaruhi dinamika sosial dan ekonomi di masyarakat. Oleh karena itu, strategi perubahan perilaku berisiko perlu dilakukan melalui edukasi kesehatan, peningkatan akses layanan tes dan konseling HIV, serta perubahan norma sosial untuk menciptakan lingkungan yang mendukung praktik hidup aman dan pencegahan HIV yang efektif.