
Theory of Planned Behavior: Konsep, Sikap, dan Niat Berperilaku Sehat
Pendahuluan
Perubahan perilaku kesehatan merupakan kunci dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat secara menyeluruh. Banyak individu gagal menerapkan perilaku sehat meskipun sudah diberikan informasi kesehatan, karena berbagai faktor psikologis dan sosial yang memengaruhi keputusan dan niat mereka untuk bertindak. Salah satu kerangka teori yang paling sering digunakan untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku manusia terkait kesehatan adalah Theory of Planned Behavior (TPB). Teori ini digunakan dalam penelitian perilaku kesehatan, seperti niat ibu dalam pemberian ASI eksklusif, kepatuhan terhadap pengobatan, hingga partisipasi dalam perilaku pencegahan penyakit tertentu, menunjukkan bahwa pemahaman mendalam tentang konstruksi niat dan perilaku adalah hal penting dalam merancang intervensi promosi kesehatan yang efektif. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Theory of Planned Behavior: Konsep, Sikap, dan Niat Berperilaku Sehat
Definisi Theory of Planned Behavior Secara Umum
Theory of Planned Behavior (TPB) merupakan sebuah teori dalam psikologi sosial yang dirancang untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku manusia melalui hubungan antara keyakinan, sikap, norma subjektif, kontrol perilaku yang dipersepsikan, niat (intention) dan perilaku itu sendiri. Teori ini dikembangkan dari Theory of Reasoned Action (TRA) oleh Icek Ajzen dengan menambahkan komponen perceived behavioral control (kontrol perilaku yang dipersepsikan) agar lebih cocok diterapkan pada perilaku yang tidak sepenuhnya berada di bawah kendali individu. Menurut teori ini, niat adalah determinan langsung dari perilaku, sedangkan sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan persepsi kontrol berkontribusi terhadap pembentukan niat tersebut. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Definisi Theory of Planned Behavior dalam KBBI
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak memiliki entri langsung untuk Theory of Planned Behavior sebagai istilah psikologi sosial atau perilaku kesehatan, namun istilah tersebut dapat dijelaskan melalui arti kata per katanya: Theory berarti “sebuah sistem atau kumpulan konsep yang saling berkaitan untuk menjelaskan suatu fenomena”, Planned berarti “direncanakan”, dan Behavior berarti “perilaku”. Dengan demikian, TPB secara bebas dapat dimaknai sebagai teori yang menjelaskan perilaku yang direncanakan oleh individu berdasarkan sejumlah faktor psikologis dan sosial.
Definisi Theory of Planned Behavior Menurut Para Ahli
-
Icek Ajzen (1991) menjelaskan bahwa TPB merupakan sebuah kerangka teoritis yang menyatakan bahwa perilaku diprediksi oleh niat individu, dan niat ini dipengaruhi oleh sikap terhadap perilaku, norma subjektif, serta kontrol perilaku yang dipersepsikan. [Lihat sumber Disini - people.umass.edu]
-
Paul dan rekan (2023) menyatakan bahwa TPB melihat perilaku sebagai hasil dari keyakinan individu terkait perilaku itu sendiri yang memengaruhi sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku, dimana konstruksi ini kemudian menentukan niat untuk melakukan tindakan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
-
Waham Lestari et al. (2023) dalam kajian edukasi berbasis TPB menegaskan bahwa pendidikan yang mengacu pada TPB pada akhirnya dapat meningkatkan pengetahuan, sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku individu untuk mencegah perilaku berisiko. [Lihat sumber Disini - forikes-ejournal.com]
-
Marisa dan Bratajaya (2024) dalam studi aplikatif terhadap ASI eksklusif mendapati bahwa sikap dan kontrol perilaku persepsian berkorelasi signifikan dengan niat ibu dalam memberi ASI eksklusif, meskipun norma subjektif pada penelitian ini tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. [Lihat sumber Disini - journal.lppm-stikesfa.ac.id]
Peran Sikap terhadap Perilaku Kesehatan
Sikap dalam konteks TPB merujuk pada evaluasi individu mengenai apakah melakukan suatu perilaku dianggap positif atau negatif. Sikap dibentuk berdasarkan keyakinan tentang konsekuensi dari perilaku tertentu dan penilaian terhadap konsekuensi tersebut. Semakin positif sikap seseorang terhadap perilaku sehat, semakin besar kemungkinan ia memiliki niat kuat untuk melakukan perilaku tersebut. Dalam penelitian kesehatan, sikap sering kali menjadi prediktor utama niat. Sebagai contoh, penelitian oleh Wikamorys (Universitas Airlangga) mengenai niat pasien untuk menjalani operasi katarak menunjukkan bahwa sikap adalah variabel dominan yang mempengaruhi niat pasien untuk menjalani tindakan kesehatan tersebut. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Dalam konteks pemberian ASI eksklusif, studi Marisa & Bratajaya juga menunjukkan bahwa ibu yang memiliki sikap positif terhadap pemberian ASI eksklusif memiliki niat yang lebih kuat untuk melakukannya di masa depan. [Lihat sumber Disini - journal.lppm-stikesfa.ac.id]
Sikap juga berperan penting dalam intervensi promosi kesehatan karena dapat diubah melalui edukasi, informasi yang tepat, serta pengalaman langsung yang memperkuat keyakinan individu bahwa perilaku tertentu membawa manfaat signifikan bagi kesehatan mereka.
Norma Subjektif dalam Pembentukan Niat
Norma subjektif adalah persepsi individu tentang tekanan sosial atau ekspektasi dari orang-orang penting di sekitarnya, seperti keluarga, teman, atau figur otoritas, terhadap perilaku tertentu. Dalam TPB, norma subjektif memengaruhi niat individu untuk melakukan suatu perilaku karena perilaku yang dianggap didukung atau diharapkan oleh lingkungan sosial cenderung memiliki tingkat penerimaan lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Dalam sejumlah penelitian perilaku kesehatan, norma subjektif terbukti menjadi faktor signifikan dalam pembentukan niat. Misalnya, dalam studi tentang perilaku orang tua dalam pencegahan stunting anak, norma subjektif memengaruhi motivasi orang tua untuk menerapkan perilaku pencegahan stunting pada anak mereka. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
Namun demikian, pengaruh norma subjektif tidak selalu konsisten di setiap konteks. Dalam studi pemberian ASI eksklusif, norma subjektif tidak berkorelasi signifikan dengan niat ibu dalam memberikan ASI eksklusif, meskipun variabel tersebut tetap menjadi pertimbangan penting dalam kerangka TPB. [Lihat sumber Disini - journal.lppm-stikesfa.ac.id]
Norma subjektif penting dipahami dalam desain intervensi kesehatan karena strategi promosi yang efektif sering kali perlu melibatkan penguatan dukungan sosial serta lingkungan yang mendorong perilaku sehat.
Kontrol Perilaku yang Dipersepsikan
Kontrol perilaku yang dipersepsikan (perceived behavioral control) merujuk pada sejauh mana individu merasa mampu, memiliki kesempatan dan sumber daya yang cukup untuk melakukan perilaku yang dimaksud. Ini mencerminkan persepsi tentang kemudahan atau kesulitan dalam pelaksanaan perilaku. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Faktor ini penting karena tidak semua perilaku sepenuhnya berada di bawah kontrol individu; misalnya, seseorang mungkin memiliki niat kuat untuk berolahraga secara rutin, tetapi keterbatasan waktu, fasilitas, atau kondisi kesehatan dapat menghambat realisasi perilaku tersebut.
Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa kontrol perilaku yang dipersepsikan juga memengaruhi niat secara signifikan. Dalam banyak studi kesehatan, individu dengan tingkat kontrol yang lebih tinggi terhadap perilaku mereka cenderung memiliki niat yang lebih tinggi untuk melakukan perilaku sehat, seperti yang ditunjukkan pada penelitian sarapan pagi di kalangan mahasiswa dan dalam penelitian pemberian ASI eksklusif oleh ibu. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Intervensi kesehatan yang berfokus pada peningkatan kontrol yang dipersepsikan dapat mencakup pelatihan keterampilan, peningkatan akses layanan kesehatan, serta dukungan sumber daya yang relevan bagi individu.
Hubungan Niat dan Perilaku Kesehatan
Dalam TPB, niat adalah prediktor langsung dari perilaku. Niat merupakan manifestasi dari motivasi individu yang mencerminkan sejauh mana seseorang siap untuk melakukan suatu perilaku. Teori ini berasumsi bahwa semakin kuat niat seseorang untuk melakukan perilaku sehat, semakin besar kemungkinan perilaku tersebut akan dilakukan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Meta-analisis dalam domain perilaku kesehatan menunjukkan bahwa niat memang merupakan penentu utama dalam pelaksanaan perilaku nyata, meskipun hubungan ini dapat dipengaruhi oleh sejauh mana individu mengendalikan perilaku tersebut dalam kehidupan nyata. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]
Dalam berbagai penelitian kesehatan, niat yang terbentuk melalui sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang dipersepsikan menjadi landasan untuk menjelaskan partisipasi dalam perilaku pencegahan penyakit, perilaku vaksinasi, serta perilaku nutrisi dan olahraga. [Lihat sumber Disini - jems.ink]
Aplikasi Theory of Planned Behavior dalam Promosi Kesehatan
TPB telah diterapkan dalam berbagai konteks promosi kesehatan dengan hasil yang signifikan dalam memahami dan meningkatkan perilaku sehat masyarakat.
Dalam edukasi berbasis TPB untuk pencegahan perilaku seksual berisiko pada remaja, strategi edukatif yang difokuskan pada perubahan sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku dilaporkan dapat meningkatkan pengetahuan dan perilaku positif remaja. [Lihat sumber Disini - forikes-ejournal.com]
Begitu pula dalam program peningkatan niat ibu memberikan ASI eksklusif, penggunaan instrumen TPB membantu mengidentifikasi area di mana intervensi kesehatan dapat menargetkan sikap dan persepsi kontrol untuk memperkuat niat ibu dalam memberikan ASI eksklusif sesuai rekomendasi kesehatan. [Lihat sumber Disini - journal.lppm-stikesfa.ac.id]
Dalam studi lain, TPB digunakan untuk memahami perilaku sarapan pagi mahasiswa, pencegahan stunting pada anak, hingga kepatuhan pasien terhadap terapi kesehatan tertentu; semua menunjukkan bahwa variabel TPB, sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku, berkontribusi pada pembentukan niat dan perilaku yang lebih sehat. [Lihat sumber Disini - e-journal.unair.ac.id]
Kesimpulan
Theory of Planned Behavior adalah kerangka teoritis yang kuat untuk memahami bagaimana sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang dipersepsikan memengaruhi niat individu untuk melakukan perilaku kesehatan tertentu. Dengan niat sebagai mediator utama menuju perilaku aktual, TPB membantu peneliti dan praktisi promosi kesehatan untuk mendesain intervensi yang lebih efektif dalam mengubah perilaku masyarakat. Banyak penelitian empiris dalam beberapa tahun terakhir sudah menerapkan TPB dalam konteks kesehatan, mulai dari pemberian ASI eksklusif, pencegahan perilaku seksual berisiko, hingga adopsi kebiasaan hidup sehat lainnya, yang menunjukkan relevansi teori ini dalam praktik promosi kesehatan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]