Terakhir diperbarui: 16 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 16 December). Perilaku Seksual Berisiko. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/perilaku-seksual-berisiko  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Perilaku Seksual Berisiko - SumberAjar.com

Perilaku Seksual Berisiko

Pendahuluan

Perilaku seksual berisiko merupakan fenomena penting dalam kesehatan masyarakat, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda. Seiring perubahan sosial dan akses informasi yang semakin mudah lewat internet dan media sosial, remaja kini lebih mudah terpapar konten dan norma yang dapat memicu tindakan seksual sebelum kesiapan psikologis dan edukasi kesehatan yang memadai. Hal ini berdampak pada peningkatan risiko penularan infeksi menular seksual, kehamilan tidak diinginkan, serta masalah kesehatan reproduksi jangka panjang. Kajian perilaku seksual berisiko menjadi penting untuk memahami kenapa fenomena ini terjadi, faktor-faktor yang memengaruhinya, serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat dan bagaimana pendekatan edukasi dapat menjadi solusi efektif dalam pencegahannya.


Definisi Perilaku Seksual Berisiko

Definisi Perilaku Seksual Berisiko Secara Umum

Perilaku seksual berisiko secara umum merujuk pada pola tindakan dan kegiatan seksual yang dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mengalami konsekuensi negatif terkait kesehatan seksual dan reproduksi. Ini termasuk aktivitas seksual tanpa perlindungan seperti tidak menggunakan kondom, berhubungan seksual pada usia dini, bergonta-ganti pasangan, serta perilaku yang mungkin terkait dengan penyalahgunaan zat yang menurunkan kontrol dalam melakukan hubungan seksual. Istilah ini sering digunakan dalam studi kesehatan remaja dan dewasa muda karena kelompok usia ini memiliki kecenderungan lebih besar untuk melakukan eksperimen seksual tanpa pemahaman yang kuat mengenai risiko kesehatan yang terlibat. Studi dalam literatur kesehatan menyatakan perilaku tersebut meningkatkan kemungkinan terkena infeksi menular seksual (IMS), HIV/AIDS, kehamilan yang tidak diinginkan, serta komplikasi kesehatan lainnya. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Definisi Perilaku Seksual Berisiko dalam KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah “seksual” berkaitan dengan seks atau hubungan antara jenis kelamin. Walaupun kamus ini tidak secara eksplisit mendefinisikan frasa “perilaku seksual berisiko”, definisi jenjang kata “seksual” membantu memahami konteks dasar istilah tersebut sebagai segala sesuatu yang berkenaan dengan seksualitas. Kata ini mencakup tindakan atau ekspresi yang berkaitan dengan hasrat dan reproduksi. Berdasarkan penjelasan dalam litelatur konseptual, perilaku seksual berisiko dapat dipahami sebagai tindakan berhubungan seks yang meningkatkan peluang terkena penyakit menular seksual atau kehamilan yang tidak diinginkan. [Lihat sumber Disini - repository.uinjkt.ac.id]

Definisi Perilaku Seksual Berisiko Menurut Para Ahli

  1. Aynalem et al. (2022): Menurut penelitian yang dipublikasikan, perilaku seksual berisiko merupakan perilaku yang dapat meningkatkan kerentanan individu terhadap masalah kesehatan seksual dan reproduktif, termasuk melakukan hubungan seksual pada usia muda, memiliki banyak pasangan seksual, serta berhubungan tanpa proteksi kondom atau saat berada di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Tekletsadik et al. (2021): Definisi yang sejalan menyatakan bahwa perilaku seksual berisiko mencakup tindakan yang dapat meningkatkan risiko tertular infeksi menular seksual (IMS) dan kemungkinan kehamilan yang tidak diinginkan, dengan penekanan khusus pada perilaku seperti hubungan seksual tanpa atau dengan penggunaan kondom yang tidak konsisten dan multiple partner. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  3. Workneh et al. (2024): Perilaku ini juga didefinisikan sebagai kegiatan seksual yang membuat individu lebih rentan terhadap masalah kesehatan seksual dan reproduktif, termasuk IMS, kehamilan, dan komplikasi lain, serta faktor penyertainya seperti penggunaan zat adiktif dan paparan terhadap konten pornografi yang tidak sesuai. [Lihat sumber Disini - bmcwomenshealth.biomedcentral.com]

  4. Ozdemir (2025): Secara umum, perilaku seksual berisiko diartikan sebagai peningkatan risiko tertular IMS dan kehamilan yang tidak diinginkan karena kegiatan seksual tanpa perlindungan atau tanpa pemahaman yang tepat mengenai konsekuensi kesehatan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Pengertian dan Bentuk Perilaku Seksual Berisiko

Perilaku seksual berisiko umumnya mencakup sejumlah tindakan yang secara signifikan meningkatkan kemungkinan kontak terhadap konsekuensi negatif kesehatan seksual. Bentuk-bentuk yang sering dibahas dalam literatur kesehatan antara lain: hubungan seksual tanpa perlindungan seperti tanpa kondom, memulai aktivitas seksual pada usia dini, bergonta-ganti pasangan, melakukan hubungan seks di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan, serta keterlibatan dalam kerja seks komersial atau perilaku seksual eksplicit lain yang tidak disertai langkah-langkah pencegahan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

Remaja dan dewasa muda cenderung memiliki kecenderungan lebih besar untuk terlibat dalam perilaku tersebut karena tahap perkembangan psikososial mereka yang sedang mencari identitas, keingintahuan tinggi, serta kurangnya pengalaman dan edukasi kesehatan seksual yang memadai. Sebagai contoh, seks tanpa kondom atau penggunaan proteksi yang tidak konsisten merupakan salah satu bentuk perilaku seksual berisiko yang paling sering dikaitkan dengan kasus IMS dan kehamilan tidak diinginkan di kalangan remaja. [Lihat sumber Disini - bmcwomenshealth.biomedcentral.com]

Faktor lain yang termasuk perilaku berisiko adalah hubungan intim yang dilakukan tanpa pemahaman penuh mengenai status kesehatan pasangan dan risiko kesehatan reproduksi yang terkait. Perilaku seperti ini menjadi perhatian utama dalam banyak penelitian kesehatan karena implikasinya terhadap peningkatan angka HIV/AIDS dan IMS lain di populasi muda. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]


Faktor Individu dan Lingkungan yang Mempengaruhi

Perilaku seksual berisiko tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks yang berasal dari tingkat individu maupun lingkungan sosial di sekitarnya.

  1. Faktor Individu:

    • Pengetahuan dan Edukasi Reproduksi: Remaja dengan tingkat pengetahuan rendah tentang kesehatan reproduksi cenderung lebih rentan melakukan tindakan seksual tanpa proteksi atau memahami risiko yang terkait dengan IMS dan kehamilan. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi dengan perilaku seksual yang aman atau berisiko. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]

    • Usia dan Tahap Perkembangan: Perubahan hormonal dan psikologis saat masa remaja seringkali meningkatkan rasa ingin tahu dan dorongan seksual, sehingga mereka lebih mungkin terlibat dalam perilaku seksual tanpa kesiapan emosional dan pengetahuan yang cukup tentang risiko. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]

    • Paparan Media dan Pornografi: Paparan terhadap konten seksual di media sosial atau sumber lain bisa memengaruhi persepsi dan keputusan remaja dalam berperilaku seksual. Paparan ini sering dikaitkan dengan perilaku berisiko yang lebih tinggi. [Lihat sumber Disini - journal.lppm-stikesfa.ac.id]

  2. Faktor Lingkungan:

    • Peran Orang Tua dan Keluarga: Komunikasi terbuka dengan orang tua tentang seksualitas dan nilai-nilai keluarga seringkali menjadi faktor pelindung terhadap perilaku seksual berisiko. Sebaliknya, kurangnya diskusi dan dukungan dari keluarga dapat meningkatkan kerentanan remaja terhadap perilaku tersebut. [Lihat sumber Disini - thejhpb.com]

    • Pengaruh Teman Sebaya: Tekanan teman sebaya atau norma sosial kelompok sebaya dapat mendorong remaja untuk terlibat dalam perilaku seksual berisiko terutama jika perilaku tersebut dianggap “normal” atau menguntungkan status sosial di kelompoknya. [Lihat sumber Disini - ojs.akbidbibogor.ac.id]

    • Lingkungan Sosial dan Budaya: Norma budaya yang permisif atau kurangnya pendidikan kesehatan seksual di sekolah dan komunitas juga dapat turut mendorong perilaku seksual yang berisiko. Lingkungan sosial yang mendukung kebebasan seksual tanpa edukasi sadar risiko memengaruhi tingkat keterlibatan dalam tindakan berisiko tersebut. [Lihat sumber Disini - journal.ugm.ac.id]


Dampak Perilaku Seksual Berisiko terhadap Kesehatan

Perilaku seksual berisiko memiliki dampak signifikan terhadap kesehatan individu, terutama pada remaja dan dewasa muda.

  1. Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV/AIDS: Seksual tanpa proteksi secara konsisten merupakan faktor utama penularan IMS seperti gonore, klamidia, hepatitis B, maupun HIV/AIDS. Ketika seseorang tidak menggunakan kondom atau proteksi lain, risiko infeksi meningkat secara signifikan. [Lihat sumber Disini - pmc.ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Kehamilan yang Tidak Diinginkan: Remaja yang melakukan hubungan seksual tanpa perencanaan dan perlindungan memiliki tingkat kehamilan tidak diinginkan yang lebih tinggi. Kehamilan dini dapat meningkatkan risiko komplikasi kesehatan bagi ibu dan anak, termasuk mortalitas ibu serta efek negatif jangka panjang. [Lihat sumber Disini - bmcwomenshealth.biomedcentral.com]

  3. Komplikasi Reproduksi: Risiko penyakit lain seperti infertilitas atau komplikasi reproduksi lain dapat meningkat akibat IMS yang tidak ditangani dengan baik. Infeksi HPV (Human Papillomavirus) juga terkait dengan kanker serviks dan kondisi kesehatan kronis lainnya. [Lihat sumber Disini - bmcwomenshealth.biomedcentral.com]

  4. Dampak Psikososial: Perilaku seksual berisiko dapat menimbulkan stres psikologis, stigma sosial, trauma emosional, serta gangguan mental karena konsekuensi seksual yang tidak direncanakan. Hal ini juga sering terkait dengan penurunan prestasi akademik serta masalah hubungan interpersonal. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]


Hubungan Pengetahuan dengan Perilaku Seksual

Pengetahuan yang baik tentang kesehatan reproduksi dan risiko seksual memiliki korelasi penting dengan perilaku seksual yang aman.

Penelitian menunjukkan bahwa remaja yang memiliki pemahaman yang lebih baik tentang kesehatan reproduksi cenderung melakukan tindakan pencegahan seperti penggunaan kondom dan penundaan hubungan seksual, dibandingkan dengan mereka yang kurang memiliki edukasi kesehatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikeskesosi.ac.id]

Selain itu, penelitian lain juga menemukan adanya korelasi positif antara pengetahuan tentang risiko seksual dan perilaku seksual yang lebih sadar akan konsekuensi hambatan kesehatan. Edukasi yang efektif nampaknya tidak hanya meningkatkan pengetahuan tetapi juga membentuk sikap dan keterampilan yang diperlukan untuk membuat keputusan seksual yang aman. [Lihat sumber Disini - jurnalinterest.com]


Upaya Pencegahan melalui Edukasi Kesehatan

Upaya pencegahan perilaku seksual berisiko melalui edukasi kesehatan merupakan strategi penting dalam menurunkan prevalensi tindakan tersebut.

  1. Edukasi Reproduksi di Sekolah: Integrasi materi pendidikan kesehatan reproduksi dalam kurikulum sekolah dapat membantu remaja memahami anatomi, proses reproduksi, serta risiko yang terkait dengan perilaku seksual. Pendekatan edukatif ini menekankan pada penggunaan proteksi, komunikasi asertif, dan penundaan hubungan seksual sampai kesiapan emosional dan fisik terpenuhi.

  2. Konseling dan Pendampingan Keluarga: Pendekatan yang melibatkan keluarga, terutama keterbukaan dan komunikasi orang tua dengan anak tentang kesehatan seksual, terbukti menjadi intervensi pelindung terhadap perilaku seksual yang berisiko. Keluarga yang mendukung pendidikan seks berbasis nilai dan informasi medis yang benar dapat membantu mengurangi efek norma sosial yang berlawanan. [Lihat sumber Disini - thejhpb.com]

  3. Program Promosi Kesehatan Masyarakat: Komunitas dan penyedia layanan kesehatan juga memiliki peran penting dalam menyediakan informasi yang akurat tentang pencegahan IMS dan perilaku berisiko melalui layanan kesehatan remaja, kampanye media, serta konsultasi kesehatan remaja yang mudah diakses.

  4. Pendekatan Peer Education: Strategi pendidikan sebaya di mana remaja terlatih menjadi fasilitator untuk menyampaikan informasi kesehatan seksual dapat membantu menjangkau kelompok yang lebih luas dan menciptakan norma sosial yang mendukung perilaku seksual sehat. [Lihat sumber Disini - journal2.stikeskendal.ac.id]


Kesimpulan

Perilaku seksual berisiko bukan hanya aksi fisik semata, tetapi merupakan hasil interaksi kompleks antara pengetahuan, sikap individu, dan lingkungan sosial yang melingkupi remaja dan dewasa muda. Dilihat dari konsekuensi kesehatan yang serius seperti IMS, HIV/AIDS, kehamilan tidak diinginkan serta dampak psikososial lain, memahami perilaku seksual berisiko menjadi urgensi dalam konteks kesehatan masyarakat. Edukasi yang tepat dan komprehensif tentang kesehatan reproduksi, dukungan keluarga serta strategi komunikasi yang efektif terbukti memiliki peran signifikan dalam mengurangi kecenderungan perilaku berisiko ini. Dengan pendekatan holistik yang melibatkan keluarga, sekolah, serta komunitas, masyarakat dapat bergerak menuju penurunan prevalensi perilaku seksual berisiko dan meningkatkan kesehatan reproduksi generasi muda secara keseluruhan.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Perilaku seksual berisiko adalah tindakan atau aktivitas seksual yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya dampak negatif terhadap kesehatan, seperti infeksi menular seksual, HIV/AIDS, dan kehamilan yang tidak diinginkan.

Contoh perilaku seksual berisiko meliputi hubungan seksual tanpa kondom, bergonta-ganti pasangan seksual, memulai aktivitas seksual pada usia dini, serta melakukan hubungan seksual di bawah pengaruh alkohol atau obat-obatan.

Remaja rentan melakukan perilaku seksual berisiko karena faktor perkembangan psikologis, rasa ingin tahu yang tinggi, pengaruh teman sebaya, paparan media, serta kurangnya pengetahuan dan edukasi kesehatan reproduksi yang memadai.

Dampak perilaku seksual berisiko antara lain meningkatnya risiko infeksi menular seksual, HIV/AIDS, kehamilan tidak diinginkan, komplikasi kesehatan reproduksi, serta dampak psikologis dan sosial seperti stres dan stigma.

Pengetahuan yang baik tentang kesehatan reproduksi dan risiko seksual dapat membentuk sikap dan perilaku seksual yang lebih aman, seperti penggunaan alat kontrasepsi dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Upaya pencegahan meliputi edukasi kesehatan reproduksi di sekolah, komunikasi terbuka dalam keluarga, program promosi kesehatan masyarakat, serta pendekatan pendidikan sebaya untuk meningkatkan kesadaran dan perilaku seksual yang sehat.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Gangguan Pola Seksualitas: Pengertian dan Dampaknya Gangguan Pola Seksualitas: Pengertian dan Dampaknya Gangguan Pola Seksualitas: Konsep, Dampak Psikososial, dan Pendekatan Gangguan Pola Seksualitas: Konsep, Dampak Psikososial, dan Pendekatan Sikap Remaja terhadap Seks Pra Nikah Sikap Remaja terhadap Seks Pra Nikah Perilaku Berisiko Penularan HIV Perilaku Berisiko Penularan HIV Edukasi Kesehatan Reproduksi Edukasi Kesehatan Reproduksi Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi Pengetahuan Remaja tentang Kesehatan Reproduksi Kehamilan Remaja: Konsep, Risiko Kesehatan, dan Pencegahan Kehamilan Remaja: Konsep, Risiko Kesehatan, dan Pencegahan Faktor Risiko Kehamilan Remaja Faktor Risiko Kehamilan Remaja Pencegahan HIV/AIDS Pencegahan HIV/AIDS Theory of Planned Behavior: Konsep, Sikap, dan Niat Berperilaku Sehat Theory of Planned Behavior: Konsep, Sikap, dan Niat Berperilaku Sehat Pergaulan Remaja: Konsep dan Kontrol Sosial Pergaulan Remaja: Konsep dan Kontrol Sosial Kesehatan Remaja Kesehatan Remaja Persepsi Remaja Putri terhadap Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi Rutin Persepsi Remaja Putri terhadap Pemeriksaan Kesehatan Reproduksi Rutin Literasi Kesehatan Reproduksi Masyarakat Literasi Kesehatan Reproduksi Masyarakat Faktor yang Mempengaruhi Ketuban Pecah Dini Faktor yang Mempengaruhi Ketuban Pecah Dini Perilaku Hidup Sehat pada Remaja Perilaku Hidup Sehat pada Remaja Faktor Perilaku dalam Penyakit Kronis Faktor Perilaku dalam Penyakit Kronis Perubahan Perilaku Kesehatan Perubahan Perilaku Kesehatan Risiko Kekerasan pada Pasien Gangguan Mental Risiko Kekerasan pada Pasien Gangguan Mental Perilaku Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukan Identitas Perilaku Sosial Remaja: Konsep dan Pembentukan Identitas
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…