Terakhir diperbarui: 21 December 2025

Citation (APA Style):
Davacom. (2025, 21 December). Risiko Gangguan Integritas Kulit: Pencegahan dan Pengendalian. SumberAjar. Retrieved 14 January 2026, from https://sumberajar.com/kamus/risiko-gangguan-integritas-kulit-pencegahan-dan-pengendalian  

Kamu menggunakan Mendeley? Add entry manual di sini.

Risiko Gangguan Integritas Kulit: Pencegahan dan Pengendalian - SumberAjar.com

Risiko Gangguan Integritas Kulit: Pencegahan dan Pengendalian

Pendahuluan

Kulit merupakan organ terbesar dan terluar pada tubuh manusia yang berfungsi sebagai penghalang utama terhadap ancaman eksternal seperti mikroorganisme, cedera mekanik, serta kehilangan cairan tubuh. Ketika integritas kulit terganggu, hal ini tidak hanya menciptakan luka atau kerusakan jaringan, tetapi juga membuka peluang terjadinya infeksi, komplikasi sistemik, dan memperburuk kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Gangguan integritas kulit sering terjadi pada populasi dengan mobilitas terbatas, penyakit kronis seperti diabetes mellitus, maupun pada individu lanjut usia karena berbagai faktor risiko intrinsik dan ekstrinsik yang saling berinteraksi. Fenomena ini menjadi salah satu fokus utama dalam praktik keperawatan karena berdampak langsung terhadap kualitas hidup pasien dan beban biaya kesehatan.

Gangguan integritas kulit bukan sekadar masalah estetik, melainkan suatu kondisi medis yang memerlukan penilaian risiko, pencegahan yang tepat, serta intervensi klinis yang terstruktur. Pendekatan keperawatan yang holistik terhadap masalah ini mencakup penilaian komprehensif, edukasi pasien dan keluarga, serta perawatan kulit yang konsisten untuk meminimalkan kejadian luka baru atau mempercepat proses penyembuhan luka yang telah terjadi.


Definisi Risiko Gangguan Integritas Kulit

Definisi Risiko Gangguan Integritas Kulit Secara Umum

Risiko gangguan integritas kulit merujuk pada keadaan di mana seseorang belum menunjukkan kerusakan pada kulit maupun jaringan di bawahnya, tetapi memiliki kemungkinan tinggi untuk mengalami kerusakan tersebut bila faktor risiko yang ada tidak ditangani. Pada situasi ini, tubuh masih mempertahankan kontinuitas struktur kulit, tetapi sejumlah kondisi seperti penurunan mobilitas, perubahan sirkulasi, dan kelembaban abnormal akan meningkatkan kerentanan terhadap cedera kulit dan ulkus. Penilaian awal terhadap risiko ini merupakan langkah penting dalam asuhan keperawatan untuk mencegah kejadian gangguan yang lebih serius nantinya.[Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

Definisi Risiko Gangguan Integritas Kulit dalam KBBI

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tidak memuat istilah medis spesifik “risiko gangguan integritas kulit”. Namun, istilah “integritas” secara umum berarti keutuhan atau kesatuan sesuatu, sedangkan “kulit” adalah lapisan luar tubuh manusia yang membatasi antara organ dalam dengan lingkungan luar. Secara istilah difahami bahwa risiko gangguan integritas kulit adalah potensi terjadinya gangguan keutuhan kulit akibat paparan faktor internal dan eksternal yang belum menyebabkan kerusakan nyata.

Definisi Risiko Gangguan Integritas Kulit Menurut Para Ahli

  1. Menurut Carpenito, risiko gangguan integritas kulit adalah keadaan di mana seseorang memiliki kemungkinan mengalami kerusakan epidermis atau dermis sebelum terjadi perubahan nyata pada kulit itu sendiri.[Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

  2. Tim Pokja DPP PPNI menyatakan bahwa gangguan integritas kulit merupakan kerusakan pada lapisan epidermis dan/atau dermis yang dapat meluas ke jaringan lebih dalam.[Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

  3. Menurut NANDA International, “altered skin integrity” (gangguan integritas kulit) didefinisikan sebagai perubahan struktur kulit sampai tingkat yang memengaruhi fungsinya sebagai penghalang fisik, menunjukkan potensi untuk cedera atau kerusakan lebih lanjut.[Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]

  4. Dalam tinjauan umum keperawatan, integritas kulit diartikan sebagai keutuhan fungsi dan struktur kulit yang utuh tanpa adanya cedera atau luka yang signifikan.[Lihat sumber Disini - jurnal.unw.ac.id]


Faktor Risiko Gangguan Integritas Kulit

Gangguan integritas kulit tidak terjadi tiba-tiba, melainkan sering kali merupakan hasil dari kombinasi faktor risiko yang memperlemah ketahanan kulit terhadap cedera. Berikut faktor risiko utama yang dikemukakan dalam studi akademik dan praktik keperawatan:

  1. Perubahan Sirkulasi

    Perubahan aliran darah yang buruk seperti pada pasien dengan diabetes mellitus atau penyakit vaskular mengurangi nutrisi dan oksigen yang mencapai jaringan kulit, memperlambat penyembuhan luka dan meningkatkan kerentanan terhadap lesi kulit.[Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

  2. Penurunan Mobilitas dan Immobility

    Pasien yang tidak mampu mengubah posisi sendiri, seperti pasien tirah baring, memiliki risiko tinggi mengalami luka tekan (pressure ulcer) akibat tekanan berkepanjangan pada area tonjolan tulang.[Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]

  3. Kelembaban Kulit yang Tidak Normal

    Kelembaban berlebih dari keringat berlebihan, inkontinensia, atau kelembaban lingkungan yang tinggi dapat menyebabkan kulit menjadi lebih rentan terhadap macerasi dan kerusakan.[Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

  4. Status Nutrisi Tidak Optimal

    Kekurangan nutrisi, termasuk protein, vitamin, dan mineral, memengaruhi sintesis kolagen dan regenerasi sel kulit, sehingga memperlambat penyembuhan dan meningkatkan risiko cedera.[Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

  5. Faktor Mekanis dan Gesekan

    Tekanan langsung, gesekan, serta tekanan geser antara kulit dan permukaan keras merupakan faktor mekanik yang umum memicu kerusakan kulit terutama pada pasien dengan mobilitas terganggu.[Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

  6. Faktor Lingkungan dan Eksternal

    Paparan terhadap suhu ekstrem, zat iritan kimia, atau peralatan medis yang tidak tepat dapat melemahkan lapisan pelindung kulit.[Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

  7. Proses Penuaan

    Lansia sering menunjukkan penurunan elastisitas kulit, penurunan hidrasi, dan perubahan fisiologis kulit lainnya, yang semuanya meningkatkan risiko terjadinya cedera kulit.[Lihat sumber Disini - lib.ui.ac.id]


Dampak Kerusakan Integritas Kulit

Gangguan integritas kulit membawa konsekuensi yang signifikan terhadap kondisi kesehatan individu. Dampak ini tidak terbatas pada perubahan fisik lokal, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup dan sistemik pasien:

  1. Peningkatan Risiko Infeksi

    Kulit yang rusak tidak lagi efektif sebagai penghalang terhadap mikroba patogen, sehingga infeksi lokal maupun sistemik dapat terjadi lebih mudah.[Lihat sumber Disini - pubmed.ncbi.nlm.nih.gov]

  2. Nyeri Akut dan Tidak Nyaman

    Kerusakan pada kulit sering kali menimbulkan sensasi nyeri dan ketidaknyamanan yang signifikan, mempengaruhi mobilitas dan aktivitas harian pasien.[Lihat sumber Disini - jurnal.ustb.ac.id]

  3. Perlambatan Penyembuhan Luka

    Faktor risiko seperti malnutrisi, penyakit kronis, dan sirkulasi buruk memperlambat proses regenerasi jaringan kulit sehingga memperlama waktu penyembuhan luka.[Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  4. Meningkatnya Lama Perawatan dan Biaya Kesehatan

    Perawatan luka, terutama pada kasus luka tekan atau ulkus diabetik, membutuhkan intervensi yang intensif dan berkelanjutan, sehingga meningkatkan biaya perawatan di fasilitas kesehatan.[Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]

  5. Gangguan Psikososial

    Kehadiran luka atau cedera kulit yang berulang dapat memengaruhi kesehatan mental pasien, termasuk ansietas, rendah diri, dan depresi akibat perubahan penampilan dan mobilitas yang terbatas.[Lihat sumber Disini - jurnal.globalhealthsciencegroup.com]


Penilaian Risiko Gangguan Integritas Kulit

Penilaian risiko merupakan langkah krusial dalam praktik keperawatan untuk mengidentifikasi pasien yang berpotensi mengalami gangguan integritas kulit sebelum cedera nyata terjadi. Beberapa alat dan indikator yang digunakan secara luas meliputi:

  1. Skala Braden

    Skala ini merupakan alat penilaian yang mengevaluasi enam faktor risiko, sensasi persepsi, kelembaban kulit, aktivitas, mobilitas, nutrisi, dan gesekan/tekanan, untuk memprediksi kemungkinan terjadinya luka tekan pada pasien. Semakin rendah skor Braden, semakin tinggi risiko terjadinya gangguan integritas kulit.[Lihat sumber Disini - en.wikipedia.org]

  2. Observasi Klinis

    Melibatkan pemeriksaan visual kulit untuk tanda awal seperti kemerahan yang tidak hilang, perubahan elastisitas, serta area kulit yang lembab atau kering secara abnormal.[Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  3. Riwayat Klinis dan Kondisi Penyerta

    Pasien dengan diabetes mellitus, gangguan sirkulasi, malnutrisi, atau imobilitas jangka panjang harus dinilai lebih cepat dan sering untuk mendeteksi risiko awal gangguan kulit.[Lihat sumber Disini - publikasi.unitri.ac.id]


Upaya Pencegahan Gangguan Integritas Kulit

Pencegahan adalah strategi utama untuk mempertahankan keutuhan kulit. Tindakan pencegahan yang efektif mencakup pendekatan holistik di lingkungan klinis dan komunitas:

  1. Perawatan Kulit yang Tepat dan Konsisten

    Pembersihan kulit secara teratur dengan pH seimbang dan penggunaan lapisan pelindung/topikal yang sesuai dapat membantu melindungi kulit dari iritasi dan kekeringan.[Lihat sumber Disini - journals.cambridgemedia.com.au]

  2. Reposisi Pasien Secara Berkala

    Pada pasien dengan mobilitas terbatas, mengubah posisi tubuh setiap 2 jam sangat penting untuk mengurangi tekanan pada area rentan seperti tumit dan tulang ekor.[Lihat sumber Disini - ojs.poltekkes-malang.ac.id]

  3. Nutrisi dan Hidrasi yang Adekuat

    Asupan gizi yang baik, terutama protein, vitamin C, dan mineral, mendukung proses sintesis kolagen dan regenerasi kulit, sehingga membantu mencegah kerusakan.[Lihat sumber Disini - eprints.poltekkesjogja.ac.id]

  4. Penggunaan Alat Bantu dan Permukaan Khusus

    Matras khusus, padding untuk tonjolan tulang, serta alat bantu mobilisasi dapat mengurangi tekanan mekanik pada kulit.[Lihat sumber Disini - journals.cambridgemedia.com.au]

  5. Edukasi Pasien dan Keluarga

    Memberikan informasi terkait teknik pencegahan luka, perubahan posisi, tanda awal gangguan kulit, dan pentingnya perawatan kulit yang baik akan meningkatkan partisipasi pasien dalam pencegahan.[Lihat sumber Disini - jurnal.ustb.ac.id]


Peran Perawat dalam Pengendalian Integritas Kulit

Perawat memainkan peran sentral dalam mencegah, mengidentifikasi, serta mengelola gangguan integritas kulit melalui pendekatan yang sistematis, terencana, dan berbasis bukti:

  1. Pengkajian Awal dan Berkelanjutan

    Perawat harus melakukan penilaian risiko kulit secara komprehensif sejak penerimaan pasien dan mengulangi evaluasi sesuai perubahan kondisi pasien.[Lihat sumber Disini - sciencedirect.com]

  2. Perencanaan Asuhan yang Terarah

    Berdasarkan hasil penilaian, perawat menyusun rencana perawatan individual yang mencakup langkah pencegahan, intervensi kulit, dan pemantauan berkala.[Lihat sumber Disini - ojs.poltekkes-malang.ac.id]

  3. Implementasi Intervensi Keperawatan

    Intervensi seperti pembersihan kulit, penggunaan agen pelindung topikal, repositioning pasien, serta koordinasi dengan tim multidisipliner adalah tanggung jawab perawat dalam pengendalian gangguan kulit.[Lihat sumber Disini - jurnal.untan.ac.id]

  4. Monitoring dan Evaluasi

    Perawat menilai respons pasien terhadap intervensi, termasuk perubahan skor risiko, kondisi kulit, serta tanda penyembuhan atau komplikasi, sehingga dapat mengatur ulang rencana perawatan jika diperlukan.[Lihat sumber Disini - ojs.poltekkes-malang.ac.id]


Kesimpulan

Risiko gangguan integritas kulit merupakan suatu kondisi dimana individu memiliki kemungkinan besar mengalami kerusakan kulit dan jaringan jika faktor-faktor risiko seperti mobilitas terbatas, perubahan sirkulasi, kelembaban abnormal, serta status nutrisi yang buruk tidak ditangani secara optimal. Penilaian risiko secara teratur, pencegahan yang berbasis bukti, serta intervensi perawatan kulit yang tepat sangat penting untuk mempertahankan keutuhan kulit, mencegah terjadinya luka tekan dan infeksi, serta meminimalkan dampak negatif pada kualitas hidup pasien. Perawat memiliki peran penting dalam mengidentifikasi, mengendalikan, dan melakukan edukasi yang mendukung upaya pencegahan serta pengelolaan gangguan integritas kulit secara efektif.

Artikel ini ditulis dan disunting oleh tim redaksi SumberAjar.com berdasarkan referensi akademik Indonesia.

Pertanyaan Umum (FAQ)

Risiko gangguan integritas kulit adalah kondisi di mana seseorang memiliki potensi tinggi mengalami kerusakan keutuhan kulit akibat faktor tertentu, meskipun belum terjadi luka atau kerusakan nyata pada jaringan kulit.

Faktor risiko gangguan integritas kulit meliputi penurunan mobilitas, gangguan sirkulasi darah, kelembaban berlebih, status nutrisi yang buruk, tekanan dan gesekan, proses penuaan, serta penyakit kronis seperti diabetes mellitus.

Gangguan integritas kulit perlu dicegah karena dapat meningkatkan risiko infeksi, menimbulkan nyeri, memperlambat penyembuhan luka, memperpanjang masa perawatan, serta menurunkan kualitas hidup pasien.

Penilaian risiko gangguan integritas kulit dilakukan melalui pemeriksaan kondisi kulit, riwayat penyakit, status nutrisi, tingkat mobilitas, serta penggunaan alat bantu seperti Skala Braden untuk mengidentifikasi risiko luka tekan.

Perawat berperan dalam melakukan pengkajian risiko, merencanakan dan melaksanakan intervensi pencegahan, memberikan perawatan kulit, melakukan reposisi pasien, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga.

Upaya pencegahan meliputi perawatan kulit yang tepat, menjaga kebersihan dan kelembaban kulit, reposisi pasien secara berkala, pemenuhan nutrisi dan cairan yang adekuat, serta penggunaan alat bantu untuk mengurangi tekanan.

⬇
Home
Kamus
Cite Halaman Ini
Geser dari kiri untuk membuka artikel Relevan.
Geser dari kanan untuk artikel terbaru.
Jangan tampilkan teks ini lagi
Artikel Relevan
Kerusakan Integritas Kulit: Indikator dan Pencegahannya Kerusakan Integritas Kulit: Indikator dan Pencegahannya Risiko Gangguan Integritas Kulit Risiko Gangguan Integritas Kulit Kerusakan Integritas Kulit: Konsep, Indikator Klinis, dan Pencegahan Kerusakan Integritas Kulit: Konsep, Indikator Klinis, dan Pencegahan Pengaruh Gizi Mikronutrien terhadap Kesehatan Kulit Pengaruh Gizi Mikronutrien terhadap Kesehatan Kulit Luka Dekubitus: Tingkatan dan Pencegahannya Luka Dekubitus: Tingkatan dan Pencegahannya Integritas Akademik: Pengertian, Prinsip, dan Contohnya Integritas Akademik: Pengertian, Prinsip, dan Contohnya Prinsip Integritas Ilmiah dalam Penulisan Riset Prinsip Integritas Ilmiah dalam Penulisan Riset Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Pengetahuan Ibu tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Ketidaknyamanan Fisik: Jenis dan Penanganan Ketidaknyamanan Fisik: Jenis dan Penanganan Luka Dekubitus: Tingkatan, Faktor Risiko, dan Pencegahan Luka Dekubitus: Tingkatan, Faktor Risiko, dan Pencegahan Gangguan Integritas Mukosa Oral: Konsep, Implikasi, dan Perawatan Gangguan Integritas Mukosa Oral: Konsep, Implikasi, dan Perawatan Pengendalian Variabel dalam Riset Eksperimen Pengendalian Variabel dalam Riset Eksperimen Kangaroo Mother Care: Konsep, Manfaat Neonatal, dan Penerapan Kangaroo Mother Care: Konsep, Manfaat Neonatal, dan Penerapan Hubungan Kurangnya Paparan Matahari dengan Defisiensi Vitamin D Hubungan Kurangnya Paparan Matahari dengan Defisiensi Vitamin D Pencegahan Penyakit Akibat Kerja Pencegahan Penyakit Akibat Kerja Inisiasi Menyusu Dini: Konsep, Manfaat, dan Praktik Pelaksanaan Inisiasi Menyusu Dini: Konsep, Manfaat, dan Praktik Pelaksanaan Perubahan Pola Sirkulasi: Definisi dan Faktor Risiko Perubahan Pola Sirkulasi: Definisi dan Faktor Risiko Gangguan Integritas Mukosa Oral Gangguan Integritas Mukosa Oral Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit Pengetahuan tentang Inisiasi Menyusu Dini Pengetahuan tentang Inisiasi Menyusu Dini
Artikel Terbaru
Memuat artikel terbaru…