
Luka Dekubitus: Tingkatan dan Pencegahannya
Pendahuluan
Luka dekubitus, sering juga disebut luka tekan, pressure ulcer, atau pressure injury, merupakan permasalahan kesehatan yang serius, terutama pada pasien dengan mobilitas terbatas atau tirah baring. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan ketidaknyamanan fisik, tetapi juga meningkatkan risiko infeksi, memperpanjang masa rawat inap, dan bahkan bisa memperberat kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Oleh karena itu, memahami definisi, penyebab, tingkatan, dampak serta strategi pencegahan luka dekubitus sangat penting bagi tenaga kesehatan dan keluarga pasien. Artikel ini akan membahas secara mendalam pengertian luka dekubitus, faktor risiko, klasifikasi berdasarkan tingkatan, dampaknya terhadap pasien, cara menilai risiko (termasuk pemanfaatan skala penilaian), strategi pencegahan, serta contoh perawatan luka dekubitus berdasarkan bukti terkini.
Definisi Luka Dekubitus
Definisi Luka Dekubitus Secara Umum
Luka dekubitus adalah cedera lokal pada kulit dan/atau jaringan di bawah kulit yang umumnya terjadi di atas area penonjolan tulang (bony prominence), sebagai akibat tekanan, gesekan, atau kombinasi tekanan dan gesekan secara terus-menerus serta berkepanjangan. [Lihat sumber Disini - mayoclinic.org]
Luka ini bisa terjadi ketika suplai darah ke jaringan terganggu akibat tekanan eksternal dan/atau gaya gesek, sehingga jaringan tidak menerima oksigen dan zat nutrisi dengan cukup, akhirnya terjadi kerusakan, nekrosis, atau kematian sel jaringan. [Lihat sumber Disini - jurnal.fk.untad.ac.id]
Definisi Luka Dekubitus dalam KBBI
Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), istilah “dekubitus” berasal dari bahasa Latin decumbere yang berarti “berbaring.” Maka “luka dekubitus” menggambarkan luka atau cedera akibat berbaring terlalu lama. Istilah ini kemudian digunakan dalam dunia kesehatan untuk menunjukkan luka tekan yang muncul pada pasien dengan imobilisasi jangka panjang. Beberapa literatur keperawatan di Indonesia menyebut luka dekubitus sebagai “luka tekan.” [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
Definisi Luka Dekubitus Menurut Para Ahli
Berikut beberapa definisi luka dekubitus dari para ahli / literatur:
-
Menurut Putri & Pujiastuti (2023), pada penelitian mereka tentang pasien ICU, luka dekubitus dijelaskan sebagai “kerusakan terlokalisir pada kulit dan/atau jaringan di bawahnya” yang terjadi pada pasien dengan mobilitas terbatas/tirah baring. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbethesda.ac.id]
-
Menurut penelitian dari Universitas (2023) tentang ulkus dekubitus, luka ini dijelaskan sebagai cedera pada jaringan akibat kompresi jaringan lunak di atas penonjolan tulang dan tekanan terus-menerus dari luar. [Lihat sumber Disini - jurnal.fk.untad.ac.id]
-
Menurut definisi dalam panduan keperawatan internasional (2023), cedera tekanan (pressure injury) didefinisikan sebagai kerusakan pada kulit, jaringan di bawahnya, atau membran mukosa, sebagai akibat tekanan yang intens, berkepanjangan, atau keduanya, serta dapat melibatkan gaya shear (gesekan/peregangan kulit). [Lihat sumber Disini - aafp.org]
-
Menurut tinjauan literatur keperawatan Indonesia, luka tekan/dekubitus merupakan cedera integritas kulit yang dapat muncul karena kombinasi faktor: tekanan, gesekan, kelembapan, dan durasi imobilisasi, terutama pada area tulang. [Lihat sumber Disini - ejournal.medistra.ac.id]
Dengan demikian, secara ilmiah luka dekubitus didefinisikan sebagai kerusakan kulit dan/atau jaringan di bawahnya akibat tekanan, gesekan, dan/atau kelembapan berkepanjangan, terutama terjadi di area tubuh yang menonjol tulangnya dan pada individu dengan mobilitas terbatas.
Penyebab dan Faktor Risiko Terjadinya Dekubitus
Luka dekubitus muncul karena kombinasi beberapa faktor yang saling memperkuat. Faktor penyebab dan risiko meliputi:
-
Tekanan terus-menerus pada area tubuh tertentu: Tekanan eksternal dari tempat tidur, kursi, atau permukaan lain terhadap area tubuh yang menonjol (seperti tumit, bokong, tulang belakang, bahu) menyebabkan aliran darah di area tersebut menurun, sehingga jaringan tidak mendapat oksigen dan nutrisi yang cukup. Jika tidak diatasi, hal ini memicu kerusakan jaringan. [Lihat sumber Disini - mayoclinic.org]
-
Gaya gesekan dan shear (peregangan kulit): Selain tekanan, gesekan kulit terhadap permukaan keras atau pergeseran tubuh secara perlahan juga bisa merusak kulit, terutama ketika kulit lembab atau pada kulit yang rapuh. [Lihat sumber Disini - aafp.org]
-
Imobilisasi atau mobilitas terbatas: Pasien yang tirah baring lama, pasien di ICU, pasien stroke, atau kondisi lain yang membatasi gerak sangat rentan terkena luka dekubitus. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Kondisi kesehatan dan sirkulasi darah buruk: Penyakit yang mempengaruhi suplai darah (misalnya gangguan vaskular, diabetes) dapat meningkatkan risiko karena jaringan lebih mudah mengalami iskemia. [Lihat sumber Disini - mayoclinic.org]
-
Kelembapan dan kelembutan kulit / kebersihan serta perawatan kulit yang kurang baik: Kulit yang lembab, misalnya akibat inkontinensia urine atau feses, meningkatkan risiko iritasi, gesekan, dan kerusakan kulit. [Lihat sumber Disini - ejournal.medistra.ac.id]
-
Usia lanjut: Kulit rentan menipis dan sirkulasi darah mungkin menurun, membuat lansia lebih rawan terhadap tekanan / dekubitus. [Lihat sumber Disini - healthdirect.gov.au]
-
Status nutrisi dan hidrasi buruk: Kekurangan protein, vitamin, atau hidrasi dapat mengurangi ketahanan kulit dan jaringan, sehingga mempermudah terjadinya kerusakan. [Lihat sumber Disini - mayoclinic.org]
Faktor-faktor ini sering terjadi bersamaan, terutama pada pasien rawat inap lama, sehingga memperbesar risiko munculnya luka dekubitus.
Tingkatan Luka Dekubitus (Stage 1, 4 dan lainnya)
Sistem klasifikasi luka dekubitus umum digunakan untuk menentukan kedalaman dan luas kerusakan, sehingga membantu dalam penilaian, intervensi dan tindak lanjut.
Menurut sistem yang banyak dipakai berdasarkan pedoman National Pressure Injury Advisory Panel (NPIAP) / European Pressure Ulcer Advisory Panel (EPUAP), luka tekan (pressure injury) dikategorikan dalam beberapa tingkatan sesuai tingkat keparahannya. [Lihat sumber Disini - epuap.org]
Berikut tingkatan utamanya:
-
Stage I, Kulit masih utuh, tetapi ada perubahan warna (misalnya kemerahan pada kulit cerah, atau warna gelap/ungu pada kulit berpigmen), dan area tersebut tidak memutih (non-blanchable) bila ditekan. Bisa disertai rasa hangat, lembut atau agak keras dibanding jaringan sekitarnya. [Lihat sumber Disini - aafp.org]
-
Stage II, Terjadi kerusakan epidermis dan/atau dermis: kulit tergores atau terbuka dangkal (seperti lecet, lepuhan atau luka superfisial) menyerupai lecet atau melepuh. Kerusakan ini lebih dari sekadar kulit merah, tetapi belum sampai ke jaringan lemak subkutan. [Lihat sumber Disini - healthline.com]
-
Stage III, Luka lebih dalam: kerusakan melibatkan epidermis, dermis, dan mungkin jaringan lemak di bawah kulit (subkutis), tetapi otot dan tulang belum terkena. Bisa muncul lubang yang lebih besar, dengan kemungkinan cairan, jaringan mati (nekrosis), dan risiko infeksi meningkat. [Lihat sumber Disini - healthline.com]
-
Stage IV, Kerusakan berat dan dalam: luka menembus sampai otot, tendon, ligament, atau bahkan tulang. Risiko komplikasi serius seperti infeksi, osteomielitis, bahkan sepsis sangat tinggi. [Lihat sumber Disini - healthline.com]
-
Deep Tissue Injury (SDTI / suspected deep tissue injury), Kulit bisa tetap utuh, namun ada area dengan perubahan warna (ungu / keunguan / kemerahan), blister/bula berisi darah, atau sensasi nyeri/padat/empuk pada jaringan di bawah kulit, ini menunjukkan kerusakan jaringan dalam yang belum jelas terlihat di permukaan. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Unstageable / Unclassified Pressure Injury, Kadang sulit menentukan stage jika ada jaringan mati (eschar) atau nanah yang menutupi dasar luka; butuh debridement dulu untuk menilai kedalaman luka. [Lihat sumber Disini - aafp.org]
Penting diingat bahwa luka tidak selalu “berurutan” dari stage I ke IV, bisa langsung muncul luka parah jika tekanan berat dan durasinya cukup lama, atau kondisi yang mempercepat kerusakan jaringan (seperti sirkulasi buruk, kelembapan tinggi, dsb). [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
Dampak Luka Dekubitus terhadap Kesehatan Pasien
Luka dekubitus bukan sekadar masalah kulit, dampaknya bisa serius, antara lain:
-
Risiko infeksi: luka terbuka terutama pada stage III/IV bisa menjadi pintu masuk bakteri, menyebabkan infeksi lokal, abses, bahkan infeksi sistemik seperti sepsis. [Lihat sumber Disini - medlineplus.gov]
-
Nyeri dan ketidaknyamanan: luka dan tekanan pada jaringan sangat menyakitkan, memperburuk kualitas hidup pasien, mengganggu tidur, mobilisasi, dan perawatan.
-
Perpanjangan masa rawat inap dan biaya perawatan meningkat: pasien dengan luka dekubitus biasanya butuh perawatan luka lebih intensif, dressing rutin, kemungkinan intervensi medis, membebani fasilitas kesehatan maupun keluarga.
-
Kerusakan jaringan mendalam, gangguan fungsi tubuh: jika sampai otot, tendon, tulang, bisa terjadi gangguan fungsi, amputasi, atau cacat permanen.
-
Risiko komplikasi jangka panjang: termasuk ulkus kronik, jaringan parut, penurunan mobilitas, beban psikologis, dan menurunnya kualitas hidup. Dalam beberapa kasus berat, bisa meningkatkan risiko kematian. [Lihat sumber Disini - ejurnal.politeknikpratama.ac.id]
Penilaian Risiko Dekubitus (Skala Braden & Alat Penilaian Lainnya)
Untuk mencegah munculnya luka dekubitus, langkah awal penting adalah menilai risiko, siapa yang berisiko tinggi dan memerlukan perhatian ekstra.
Salah satu instrumen yang umum dipakai adalah Skala Braden, yang mempertimbangkan beberapa aspek seperti persepsi sensori, kelembapan, mobilitas, aktivitas, nutrisi, dan gesekan/peregangan kulit. [Lihat sumber Disini - jurnal.stikesbethesda.ac.id]
Selain Braden, ada pula skala lain (sejarah, kondisi umum pasien, status nutrisi, imobilisasi, kelembapan kulit, komorbiditas) sebagai bagian dari penilaian risiko, sesuai pedoman pencegahan luka tekan. [Lihat sumber Disini - ahrq.gov]
Penilaian risiko hendaknya dilakukan rutin, terutama pada pasien rawat inap jangka panjang, lansia, pasien ICU, atau pasien dengan mobilitas terbatas, agar intervensi pencegahan bisa diterapkan sedini mungkin.
Strategi Pencegahan Dekubitus
Pencegahan luka dekubitus jauh lebih baik dan lebih efisien daripada pengobatan setelah luka terjadi. Berikut beberapa strategi utama berdasarkan bukti dan literatur keperawatan modern:
-
Repositioning / alih posisi secara berkala, Memindahkan posisi pasien secara rutin (misalnya setiap 1, 2 jam jika tirah baring, atau lebih sering sesuai kebutuhan), untuk mengurangi tekanan pada area rentan. [Lihat sumber Disini - nursetogether.com]
-
Menggunakan permukaan penyangga khusus, Kasur, matras, bantal, atau cushion dengan bahan viskoelastik / foam yang dapat mendistribusikan tekanan lebih merata, sehingga mengurangi beban pada area tulang penonjol. [Lihat sumber Disini - ncbi.nlm.nih.gov]
-
Perawatan kulit dan kelembapan kulit, Menjaga kulit tetap bersih, kering, dan terhidrasi; bila diperlukan gunakan pelembap, krim pelindung atau minyak pelembab. Ini membantu menjaga integritas kulit dan menurunkan risiko iritasi, gesekan, serta kerusakan kulit. [Lihat sumber Disini - jurnal.unimus.ac.id]
-
Perawatan nutrisi dan hidrasi optimal, Pastikan pasien mendapat asupan nutrisi cukup (protein, vitamin, mineral) dan hidrasi memadai, untuk mendukung regenerasi dan kesehatan kulit serta jaringan. [Lihat sumber Disini - mayoclinic.org]
-
Mobilisasi dini bila memungkinkan, Meski sebagian pasien imobilisasi, upaya mobilisasi ringan, pergantian posisi, atau latihan rentang gerak (passive/active range of motion) bisa membantu sirkulasi dan mencegah stagnasi darah. [Lihat sumber Disini - journal.universitaspahlawan.ac.id]
-
Edukasi perawat, keluarga/pengasuh, dan tim perawatan, Pengetahuan dan sikap yang baik terhadap pencegahan luka tekan sangat penting: misalnya pemahaman tentang repositioning, perawatan kulit, deteksi dini tanda awal. [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Intervensi tambahan, pijat atau massage + pelembap, Beberapa penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa penggunaan pijat effleurage dengan minyak (misalnya minyak zaitun atau minyak kelapa murni / VCO) pada area berisiko dapat membantu menjaga kelembapan kulit, mengurangi gesekan, dan menurunkan risiko luka tekan. [Lihat sumber Disini - jurnal-ppni.org]
Contoh Perawatan Luka Dekubitus
Berikut beberapa contoh perawatan luka dekubitus berdasarkan tingkat keparahan dan literatur ilmiah di Indonesia maupun internasional:
-
Untuk luka ringan / area berisiko (tanpa luka terbuka): repositioning rutin + permukaan penyangga + perawatan kulit + pelembap / minyak (misalnya minyak zaitun atau VCO) + menjaga nutrisi & hidrasi. Pendekatan ini termasuk dalam program pencegahan intervensi keperawatan. [Lihat sumber Disini - jurnal.unimus.ac.id]
-
Untuk luka terbuka / ulkus (stage II ke atas): perawatan luka dengan dressing yang sesuai (film, gauze, gel, foam, hidrogel, atau dressing modern), menjaga kelembapan luka, proteksi terhadap tekanan lanjutan, serta pemantauan infeksi. [Lihat sumber Disini - medlineplus.gov]
-
Debridement bila ada jaringan mati / nekrosis (tergantung indikasi medis), bersama perawatan medis lanjutan di fasilitas kesehatan (terutama untuk stage III / IV). [Lihat sumber Disini - ejurnalmalahayati.ac.id]
-
Kombinasi intervensi: repositioning + perawatan kulit + dressings + pencegahan kelembapan + nutrisi + edukasi keluarga/pengasuh; hal ini menunjukkan efektivitas terbaik dalam mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. [Lihat sumber Disini - nice.org.uk]
Kesimpulan
Luka dekubitus adalah cedera serius pada kulit dan jaringan di bawahnya akibat tekanan, gesekan, dan/atau kelembapan berkepanjangan, umumnya terjadi pada pasien dengan mobilitas terbatas atau imobilisasi jangka panjang. Pemahaman mengenai definisi, penyebab, faktor risiko, dan klasifikasi luka sangat penting untuk melakukan pencegahan dan intervensi secara tepat. Penilaian risiko, seperti dengan Skala Braden, serta strategi pencegahan yang meliputi repositioning, penggunaan permukaan penyangga, perawatan kulit, nutrisi, mobilisasi, dan edukasi, terbukti efektif mengurangi kejadian dekubitus. Jika luka telah terjadi, perawatan yang tepat (dressing, debridement, proteksi tekanan, perawatan luka, nutrisi) dapat membantu penyembuhan dan mencegah komplikasi serius. Oleh karena itu, upaya pencegahan sejak dini sangat dianjurkan untuk melindungi pasien dari dampak negatif dekubitus.